
Hai hai balik lagi...
Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya!!
Share juga boleh...
Happy reading yaayy!!
##
Aku meletakkan tas ke atas meja dengan pandangan terus menatap ke arah pintu ruangan Sam. Ya, tepat di sana ada Sam dan seorang wanita tengah berbincang. Dan yang membuatku heran, aku sama sekali tidak mengenal wanita itu.
Jangan-jangan makhluk asing tuh. Alien!
“Ssstt ...” Mbak Sari mencolekku dari belakang. “Tuh cewek dari tadi ganjen banget.” Aku langsung kembali menatap wanita yang sedang berbicara di hadapan Sam. “Ngobrol udah dari tadi lho, Del. Nggak ada niat udahan apa tuh orang.”
Aku semakin mencondongkan tubuhku ke arah Mbak Sari. “Memangnya siapa dia?”
“Kayaknya sih dia anak baru divisi pemasaran. Gue juga baru lihat ini.” Sahut Mbak Sari.
Aku hanya menangguk-anggukan kepalaku seraya terus menatap ke arah Sam. Dan sialnya, dia sama sekali tak memperdulikan tatapanku. Mungkin saking asyiknya ngobrol dengan wanita.
“Kalo begitu saya permisi ya, Pak. Nanti saya ke sini lagi.” Akhirnya percakapan itu di akhiri dengan ucapan pamit dari sang wanita. Dih ... Pake senyum sok manis lagi.
“Iya, silahkan.” Balas Sam datar.
Aku terus menatap kepergian wanita tersebut hingga menghilang di balik pintu lift. Sebenarnya ada sejuta tanya yang ingin ku tanyakan ke Sam. Tapi, melihat situasi dan kondisinya aku harus sedikit bersabar terlebih dahulu.
“Rizal dan Tiwi, jangan lupa jadwal hari ini, ya.” Ucap Sam kemudian.
“Siap, Pak. Di kasih tugas tambahan juga siap kok.” Tanpa permisi Rizal langsung melayangkan sentilan ke dahi Tiwi.
“Enak aja tugas tambahan.” Gerutu Rizal.
“Ih, apaan sih Mas Rizal. Sakit tau.” Ucap Tiwi setengah merengek. Lalu Rizal dengan cepat menarik lengan Tiwi sebelum anak itu mengatakan hal yang tak masuk akal lainnya.
Kini hanya tersisa aku, Mbak Sari dan Mas Angga di ruangan ini.
“Angga sama Sari, cepat selesaikan tugas yang kemarin. Dan, Adelia ini tugas buat kamu.” Kata Sam sembari menyerahkan sebuah file padaku.
Aku menerimanya dengan wajah sedikit cemberut. Bukan apa-apa sih. Tapi rasanya kesal aja lihat pacar di ajak ketawa-ketawa sama wanita lain. Hah! Tapi, aku nggak boleh begini. Nanti Sam kira aku terlalu cemburuan lagi.
“Adelia, ini harus selesai dalam waktu tiga hari. Karena file ini sudah di kejar-kejar sama ... siapa namanya tadi ya?” Sam tampak mengingat-ingat sesuatu.
“Mana saya tahu. Ngapain tanya saya?” Tanpa sengaja aku menjawabnya dengan nada ketus.
Sam mengerutkan dahinya ke arahku. “Saya nggak nanya, Del. Saya hanya berusaha mengingat.” Sadar dengan apa yang ku ucapkan, aku hanya bisa mendengus. Karena Mas Angga dan Mbak Sari sudah siaga menatapku dengan penuh tanda tanya.
“Kok tumben sih, Sam. Kita di kejar-kejar sama divisi lain?” Tanya Mbak Sari.
__ADS_1
Aku langsung memutar mataku ke arah Mbak Sari. Dari wajahnya kelihatan sekali penuh dengan keingin tahuan. Ya, ayo Mbak Sari wakili perasaanku.
“Oh ... Saya baru ingat. Itu tadi Mira dari divisi pemasaran, dia anak baru.” Sam terlihat manggut-manggut. “Harusnya barang yang ini sudah siap di pasarkan minggu depan. Saya kira nggak perlu ada promosi karena modelnya mirip dengan yang kemarin. Nggak tahunya, di minta.”
Jadi, namanya Mira. Kok aku kesel ya dengar namanya?
“Tolong di selesaikan dengan baik ya, Del.” Kata Sam sebelum masuk ke dalam ruangannya.
Aku, Mbak Sari dan Mas Angga seketika langsung heboh begitu pintu ruangan Sam tertutup.
“Oh, anak baru, pantesan gue baru lihat ini.” Kata Mas Angga.
“Iya, Ngga ... Mana kayaknya ganjen banget lagi. Dan yang paling gue sebel mukannya dia biasa aja. Tapi sok kecantikan.” Mbak Sari mulai nyinyir.
“Nah ... Setuju gue, Mbak.” Ucapku semangat ke arah Mbak Sari.
“Gue heran, deh. Kenapa wanita selalu sewot hanya dengan melihat penampilan seseorang?” Aku menatap ke arah Mas Angga dengan raut tidak suka. “Nggak semua pria menilai perempuan dari rupanya lho ... Ingat!” kata Mas Angga membenarkan. Dan ucapannya berhasil membuatku bertambah kesal.
“Jadi menurut lo nggak apa gitu, kalo cewek tadi ganjen sama Pak Sam?” Tanyaku.
“Ya, kalo Sam suka nggak apa-apa lah. Lagian Sam juga belum ada pacar, kan.” Hah ... Yang di depanmu ini pacarnya. Astaga, inginku menjerit dalam hati.
Aku kira keputusan untuk menyembunyikan status kita adalah pilihan yang terbaik. Ternyata kok malah bikin makan hati begini ya?
##
“Kamu kenapa sih?” ini yang aku lupakan. Pria itu makhluk paling tidak peka di muka bumi ini. Rasanya percuma kalau aku menahan kesal seorang diri.
“Nggak apa-apa.” Jawabku singkat. Sam menaikkan satu alisnya dan berhenti tepat di depanku. Sedangkan aku masih saja berusaha memasang wajah kesal, berharap dia bisa peka begitu.
“Sini ...” Sam menggandeng tanganku, “nanti di kiranya aku pelayan Restoran lagi. Kalo kita jalannya depan belakang.” Ia kembali berjalan mencari meja yang sekiranya cocok dan nyaman.
Setelah duduk dan memesan Sam kembali memperhatikan raut wajahku yang sejak tadi sengaja ku buat cemberut ini. Tapi, tetap saja dia belum paham juga apa penyebab aku menjadi begini.
“Kamu lagi nggak enak badan?” Tanya Sam.
“Enggak, tuh.”
“Terus kenapa?” Dari tadi tanyanya begitu terus. Hah... Tambah kesel juga aku nanti.
“Kesel aja.” Jawabku asal. Sam sempat bingung dengan menautkan kedua alisnya ke arahku. Namun sebelum dia berbicara aku sudah menyambung kalimatku kembali. “Menurut kamu ... Cewek tadi cantik, gak?”
“Terima kasih.” Ucap Sam pada pelayan. “Cewek siapa?” Sam kembali tersenyum saat pelayan tersebut pergi.
Aku berdecak kesal. “Ish! Yang tadi pagi. Yang kata kamu namanya Mira tadi.” Kataku sedikit sensi.
“Kenapa tanya begitu? Pada dasarnya semua wanita itu cantik, Del. Tergantung dari segi apa kita melihatnya.” Ujar Sam santai sembari memulai menyantap makan malamnya.
Tentu saja itu semakin membuatku kesal. Aku segera mengambil garpu dan pisau yang ada di sebelah piringku. Lalu aku mengiris potongan Tenderloin steak ku dengan sedikit emosi. Hasilnya, benturan antara pisau dan piringku langsung menghasilkan suara yang cukup nyaring.
__ADS_1
Sadar dengan apa yang aku perbuat. Lalu aku kembali meletakkan pisau dan garpuku ke atas piring steak ku. Aku menatap Sam lalu menopang dagu dengan kedua tanganku.
“Kan aku tanyanya ke kamu. Jadi, aku ingin dengar jawaban dari segi penglihatan kamu.” Rasanya sudah dongkol sekali diriku. Kalo tidak ingat ini di Restoran sudah pasti aku langsung menggunakan suara hingga tingkat delapan oktaf.
“Cantik.” Mataku seketika terbelalak ke arah Sam. Ini sudah sangat membuat dadaku bergemuruh, aku tak tahan lagi. Aku sudah meremas-meras kedua tanganku dengan penuh emosi. Sebelum akhirnya Sam kembali bersuara. “Tapi, jauh lebih cantik kamu dari segi mana pun.”
Excusme!! Aku sudah emosi lho ini ... Masa segampang itu Sam kampret meluluhkan hatiku kembali.
Aku berdehem pelan. “Apa? Kamu tadi bilang apa?”
Sam terlihat tersenyum tipis di sela-sela aktivitas makannya. Lalu dengan cepat ia menaruh garpu dan pisaunya ke atas piring. Setelah itu ia menopang dagunya dan menatap ke arahku. Persis dengan yang ku lakukan saat ini.
“I said, you most beautiful ... more than everything.”
Tubuhku yang tadinya menegang kini serasa melemas setelah mendengar ucapan dari mulut Sam. Mulutnya benar-benar pandai sekali membuatku senam jantung. Aku berusaha menahan diriku dengan menggigit bibir bawahku.
“Bohong.” Ucapku seraya kembali melanjutkan aktivitas makanku. Sebenarnya aku setengah mati menahan bibir agar tak tersenyum. Maka dari itu, aku mengalihkannya dengan makanan. Semoga saja semu di wajahku juga tak begitu terlihat.
“Jadi ... Kamu nggak suka kalo aku jujur?” Sam masih masih menatapku.
“Ya, bukanya begitu. Tapi, bisa aja kan kamu bohong.” Ucapku.
Sam tersenyum, kini tangannya sudah tidak lagi menopang dagunya. Ia sedikit menggeser piringnya ke depan lalu melipat kedua tangannya ke atas meja.
“Nggak masalah kalo kamu berpikir aku bohong.” Sam semakin mencondongkan tubuhnya ke arahku. “Karena aku akan selalu punya sejuta cara untuk membuat kamu percaya denganku, Adelia Rinjani.”
Ah ... Nggak asyik kan kalo aku pingsan sekarang? Ya ampun, apa yang ada di dalam kepala dan ucapan Sam memang benar-benar tak terduga. Kayaknya besok-besok aku butuh konsultasi dengan dokter Spesialis jantung.
Mulutnya itu...
Aku butuh waktu untuk menormalkan detak jantungku kembali!
.
.
.
.
.
To be continued...
##
Sam memang bikin gemes deh. Kalo aku jadi Adelia, wah... Langsung ku sambar dia dengan pelukan.. wkwkwk..
Jangan lupa Vote dan like nya ya!!
__ADS_1