My Boss Samuel

My Boss Samuel
51. Hampir Keceplosan


__ADS_3

Halloo... Selamat siang dan selamat beraktivitas.


Terimakasih yang sudah sabar menunggu Sam sama Adelia ya..


Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya!!


Share apalagi boleh bwangeet!!


Happy reading !!


##


“Kemana bibir Louhan lo? Kok udah nggak ada?” Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Mas Angga itu langsung menodongku saat aku berjalan menuju mejaku.


“Louhan nya mati, Mas. Kayaknya kurang air deh.” Jawabku asal.


Aku mendengar suara tawa dari Mbak Sari dan Rizal. Mereka memang bisanya hanya tertawa, menertawakan dan menggosipkan. Ah... Biarlah.


“Wah, gagal dong. Usaha pendekatan lo sama Pak Arief?” Aku menatap Mbak Sari dengan mata melotot. Memang sial! Jangan sampai gara-gara mulut emak satu itu nantinya malah menimbulkan gosip satu kantor.


Rizal tertawa. “Del ... Sumpah ya. Dari pada elo sama Pak Arief mending sama gue deh. Setidaknya yang lebih muda dan tampan kayak gue.” Manusia apalagi itu. Percaya dirinya sudah tingkat dewa banget.


Aku mendengus. “Gue nggak mau sama lo, dan gue juga nggak mau sama Pak Arief. Ingat, gue nggak DOYAN!!” Ucapku penuh penekanan.


Sialnya, bukannya mengangguk paham. Tapi mereka malah semakin tertawa.


“Terus lo mau sama siapa?” kali ini aku kembali menatap Mas Angga.


“Ya jelas gue maunya sama ...” mataku berputar ke arah pintu lift yang sedang terbuka. Nah, itu orang yang aku inginkan. Aku tak menyadari diriku yang mulai bengong menatap Sam keluar dari lift. “Sam.” gumamku pelan.


“APA??!” Teriak Mbak Sari dan Rizal bersamaan.


Aku langsung menyadari apa yang baru saja aku katakan. Secepatnya aku harus mengalihkan perhatian supaya suasana tak menjadi semakin heboh.


“M-maksud gue ada Pak Sam, goblook!” kataku sembari melirik ke arah Sam.


“Ah, gue nggak percaya! Wah ... Parah lo, Del.” Mbak Sari menggeleng-gelengkan kepalanya ke arahku. “Selera lo emang nggak ada duanya.”


“B-bukan gitu maksud gue.” Aku berusaha menyanggah ucapan mereka sebelum Sam semakin dekat.


Gawat kalau sampai Sam sampai ikutan nimbrung.


“Tega banget sih lo, Del. Gue bisa apa kalo harus saingan sama Pak Sam.” Rizal menepuk-nepuk dadanya sendiri seakan memberitahukan kesakitan yang ia rasakan saat ini.


Aku hanya bisa mengibas-ngibaskan tanganku ke arah mereka. Hingga akhirnya aku mendengar Sam menyapa kami.


Bangsaat! Feeling ku benar-benar nggak enak setelah ini.


“Kenapa? Kok tadi saya dengar kalian menyebut nama saya.” Sam bertanya dengan polosnya. Mampuus sudah riwayatku.


“Begini Sam ...” Mas Angga angkat bicara.


Rizal segera berdiri. “Stop, Mas! Biar gue aja yang jelasin ke Pak Sam.” Rizal mengelus dadanya lagi. “Gue sebagai orang yang tersakiti. Dengan besar hati gue akan mengatakan ke Pak Sam.”


Ya Allah! Pakai drama segala itu orang. Kalau saja aku sedang tak berusaha menjaga image di depan Sam. Saat ini juga pasti aku sudah mengamuk ke Rizal.


“Kenapa?” Sam semakin penasaran.


“Nggak apa-apa, Pak. Jangan dengarkan Rizal.” Seruku.


“Del ... Setelah ini lo harusnya terima kasih sama gue.” Aku menatap Rizal dengan alis berkerut. Bicara apalagi sih dia, aku musnahkan sekarang juga dosa apa tidak sih.


“OGAH!” Sengak ku.


Rizal malah menatapku dengan raut jenaka. “Pak ... Tadi Adelia bilang~”


“RIZAAL!” Aku berlari ke arah Rizal lalu menarik tubuhnya agar menjauh dari Sam.

__ADS_1


Bukannya aku berlebihan. Tetapi, hanya saja pikiran Sam itu susah di tebak. Dia selalu membuat keputusan sendiri, dia juga punya jalan pikirannya sendiri. Takutnya, setelah mendengar ucapan dari Rizal. Nanti Sam malah akan membuat kesimpulan sendiri.


Aku pernah bilang kalau hubunganku dan dia harus di sembunyikan untuk saat ini. Aku hanya takut setelah ini Sam akan berpikir kalau aku plin-plan, aku yang melanggar perjanjian yang sudah ku buat sendiri, aku yang tak bisa jaga rahasiaku sendiri. Dan yang lebih parahnya ... Aku takut kalau Sam malah marah.


Ingat! Pikiran Sam itu tak bisa di tebak.


“Sudahlah, Zal. Tutup mulut lo! Jangan fitnah orang sembarangan, dosa.” Omelku ke Rizal.


“Gue nggak fitnah kok. Ya kan?” Rizal berusaha mencari pembelaan dan sialnya Mbak Sari dan Mas Angga langsung mengangguk.


Faakk!!


“Jadi ada masalah apa?” tanya Sam lagi. “Eh, tunggu dulu. Tiwi kemana?”


“Tiwi sakit, Sam.” Jawab Mbak Sari singkat. Dan Sam hanya meng-oh-kan.


Ini kesempatanku untuk mengalihkan pembicaraan. “Pak ini sudah waktunya jam kerja kan?”


Sam melirik jam tangannya. “Iya.”


“Ok! Kalau begitu selamat bekerja. Ayo kerja! Jangan ngrecokkin orang terus.” Kataku sembari melotot ke arah Rizal.


“Ya sudah, selamat bekerja.” Sam mulai melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Dan hal tersebut berhasil membuatku bernafas lega.


Aku pun juga segera berjalan kembali ke mejaku. Namun langkahku seketika berhenti ketika aku mendengar Rizal berteriak.


“Pak Sam! Adelia katanya suka sama Bapak.” Aku segera membalik langkahku. Dan ku lihat Mbak Sari dan Mas Angga sudah saling tertawa di tempatnya masing-masing.


Dan kini pandanganku jatuh ke Sam. Dia juga menghentikan langkahnya dan menatap ke arahku. Gawat! Mulut Rizal memang butuh di kasih pelajaran.


##


Jam dua siang Sam memanggilku ke ruangannya. Dan hal tersebut berhasil membuatku waspada. Bisa jadi kejadian pagi tadi masih membuat Sam kepikiran.


“Ciyeee, yang mau berduaan sama Bos.” Aku segera melotot ke arah Rizal.


Kupingku sudah terasa panas sekali. “Memang susah ya, punya temen mulutnya bangke semua!” aku segera berdiri dan berjalan ke ruangan Sam. Mengabaikan Mbak Sari, Rizal dan Mas Angga yang tengah menertawakanku.


“Pak.” Aku masuk ke ruangan Sam lalu menutup pintunya.


“Itu berkas yang saya minta?” Tanya Sam datar. Dia terkadang memang sangat profesional sekali dalam bekerja. Bahkan kadang sampai membuatku lupa dengan status hubungan kami.


“Iya.” Aku berjalan mendekati mejanya lalu meletakkan berkas itu ke hadapan Sam.


“Saya mau kamu jelaskan ke saya.” Aku sedikit bingung. Perasaan biasanya Sam tidak pernah meminta penjelasan setiap meminta laporan dari anak buahnya. “Sini.”


Sam mengisyaratkan agar aku mendekat ke arahnya tepatnya ke sampingnya. Entah kenapa hanya dengan berdekatan dengan Sam seperti ini mampu membuatku berdebar tak karuan.


Aku pun mendekat. Sam terlihat meletakkan sebuah remote kecil ke atas mejanya. Lalu ia kembali menatapku dan menyuruhku untuk melakukan perintah sesuai permintaannya.


Aku mengambil berkas dari meja Sam. “Jadi ini begini, Pak ...”


“Kamu benar bilang ke Rizal kalo kamu suka denganku.” Aku terpaksa menghentikan ucapan ku saat mendengar perkataan Sam.


Jadi sebenarnya dia mau mendengar penjelasan ku tentang masalah pekerjaan atau masalah dengan Rizal pagi tadi? Hah ... Aku menghirup nafas panjang sebelum menjawab ucapan Sam.


“Rizal Cuma salah paham. Bukan begitu maksudku tadi.” Ujarku pelan.


“Tapi kan kita memang berhubungan. Berarti kamu memang suka denganku, kan?” aku memutar wajahku ke arah Sam. Dan ternyata dia sudah menatapku sejak tadi. Aku langsung dapat merasakan sesuatu yang bergejolak dalam dadaku.


“Iya, tapi aku nggak bermaksud bicara sama Rizal seperti itu.” Jelasku lagi.


“Kenapa? Berarti kamu nggak mau mengakui perasaan kamu.” Aku hanya menatap Sam dengan alis berkerut.


Sikap Sam sungguh di luar dari dugaan ku pagi tadi. Dan benar kan kalau Sam itu susah sekali di tebak.


“Bukan begitu. Mana mungkin aku mengakui di depan Rizal dan yang lainnya.” Aku mulai malas menanggapinya.

__ADS_1


“Kenapa?” ada tidak pertanyaan selain kenapa. Kesel juga lama-lama.


“Loh ... Memangnya kamu nggak marah kalau aku keceplosan tentang hubungan kita. Aku kan pernah bilang kalau mereka nggak boleh tau soal hubungan kita.” Aku mencoba menjelaskan ke Sam. Dan kini posisiku sudah sepenuhnya menghadap Sam.


“Aku nggak marah kok. Bukannya itu mau kamu, bukan aku.” Sahutnya cepat.


Hah? Aku langsung mengerutkan kedua alisku ke arah Sam, menatapnya dengan tatapan heran. Sia-sia sekali aksiku pagi tadi kalau akhirnya hanya begini.


Aku berniat ingin keluar dari ruangannya saat itu juga. Tetapi Sam langsung menarik tanganku hingga aku terjatuh ke belakang dan duduk di pangkuannya.


Seketika mataku langsung terbelalak ke arah Sam. Yang ada di pikiranku saat ini adalah di ruangan Sam ini ada CCTV dan selebihnya pintu ruangan ini tak terkunci. Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang masuk?


“Sam!” Aku berusaha berdiri dari pangkuan Sam. Tetapi sepertinya Sam tak akan membiarkan hal itu terjadi. “Ada CCTV dan pintu ruangan itu.” Aku menunjuk ke arah pintu ruangannya.


Sam hanya tersenyum dan itu membuatku keheranan. “Tenang saja CCTV nya sudah ku matikan dan pintu itu ... Sudah ku kunci secara otomatis dari tadi.”


Demi Jin penunggu kantor ini! Ternyata Sam senekat ini. Aku mulai berpikir kalau bukan hanya setan yang menempeli tubuhnya tetapi arwah orang gila juga ikut bersarang di tubuh Sam. Ini benar-benar melanggar peraturan dan sudah sangat keterlaluan.


Pandanganku jatuh ke remote kecil yang ia letakkan ke atas meja tadi. Sialan remote itu.


“Sam, lepasin aku.” Aku berusaha memberontak agar bisa berdiri kembali.


“Del ... Lebih baik kamu diam saja. Kalau kamu nggak ingin aku melakukan yang lebih dari ini.” Ujar Sam pelan tepat di telingaku.


Deg!


Jantungku terasa berhenti berdetak. Aku segera sadar dengan posisiku saat ini. Ya, aku berada tepat di pangkuan Sam, tepat di atasnya. Mungkin sebaiknya aku harus membatasi pergerakkan ku saat ini.


“Sampai kapan kita harus menyembunyikan hubungan kita, Del?” aku mencoba menghadap ke Sam dengan sangat perlahan. Sebisa mungkin apa yang aku lakukan itu tak akan menimbulkan gerakan sama sekali.


“Itu urusan nanti. Biar aku yang mencoba memberi tahu ke mereka. Sekarang, mending kamu lepasin aku dulu.” Aku hanya bisa meringis ke arah Sam.


Rasanya tekanan suhu di ruangan ini mendadak terasa panas sekali. Bahkan panasnya mulai menjalar ke seluruh tubuhku.


Sepertinya Sam tak menghiraukan ucapan ku sama sekali. Ia menyorot ku dengan tatapannya yang aku yakin mampu membuat seluruh wanita takluk dalam sorotan mata itu. Tangannya semakin merengkuh pinggangku supaya semakin mendekat dan mengikis jarak yang ada.


Siaal aku benar-benar tak mampu mengontrol diriku hanya karena di tatap Sam seperti itu. Dan bodohnya! Aku malah meletakkan kedua tanganku di pundak Sam. Aku semakin menundukkan wajahku saat tangan Sam mulai bergerak membelai pahaku. Hembusan nafas kami kini saling beradu semakin terasa berat ketika hidungku dan Sam saling bersentuhan.


Memang seberbahaya itu pesona yang Sam miliki. Aku sendiripun tak bisa memungkiri kebenaran hal tersebut.


##


“Nanti tolong di edit lagi bagian yang saya tandai.” Aku hanya menganggukkan kalimat yang Sam ucapkan. Aku keluar dari ruangan di ikuti Sam yang berjalan di belakangku. “Besok harus selesai, ya.”


“Baik, Pak.” Aku segera kembali ke mejaku.


“Oh ya, Sari sama Angga laporan kalian juga saya tunggu sekarang. Dan buat Rizal ... Berhubung Tiwi tidak berangkat. Mohon pengertiannya ya kalau kamu harus bekerja lebih ekstra.” Sam menatap Rizal.


“Yah, saya kira mau di kasih kelonggaran.” Celetuk Rizal.


“Kolor mau, Zal. Kolor gue di rumah banyak yang udah longgar noh.” Sahut Mas Angga yang langsung membuatku tertawa.


Aku segera melanjutkan pekerjaanku kembali. Namun sebelum itu, aku kembali melirik Sam yang masih berdiri di ambang pintu ruangannya. Aku hanya bisa tersenyum dalam hati.


Aku sengaja menyuruh Sam ikut keluar denganku dan itu harus. Alasannya tak lain dan tak bukan hanya untuk membuat Mbak Sari, Rizal dan juga Mas Angga terkecoh.


Coba bayangkan kalo aku keluar seorang diri setelah lebih dari tiga puluh menit berada di ruangan Sam? Mungkin saat ini aku sudah tak bisa bernafas lega seperti sekarang ini.


.


.


.


.


To Be Continued...

__ADS_1



__ADS_2