My Boss Samuel

My Boss Samuel
88. Dilema


__ADS_3

Sebenarnya sinyalku masih jelek,


Tapi aku tetap update hloo...


Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!


Di share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Ada kalanya manusia berada di dalam fase memilih. Ketika kita di hadapkan dengan dua pilihan yang terasa sangat berat dan tidak mungkin untuk memilih salah satunya. Tapi ... Bukankah jalan hidup memang seperti itu. Ada yang mengatakan kalau hidup itu adalah sebuah pilihan. Pilihan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, yang pasti dan tidak pasti dan masih banyak lainnya.


Aku duduk menatap langit pagi, menikmati kehangatan yang baru saja di pantul kan oleh sang mentari.


Ada yang berbeda pagi ini, entah kenapa kepalaku di penuhi dengan pergulatan yang entah sejak kapan menyerang ku.


Apakah sudah tiba giliran ku berada di fase memilih?


“Tumben banget sabtu kerja? Apa sudah mulai lembur-lembur lagi?” tanya Mama di sela-sela aktivitas sarapan kami.


“Jangan-jangan Cuma alesan kerja aja, Ma. Eh kenyataannya ngelayap.” Imbuh Vino.


“Dasar bocah!” aku melotot ke arah Vino. “Perasaan baru sebulan kemarin hari sabtu libur terus, biasanya kan juga lembur.” Kataku.


“Iya lembur tapi juga nggak pernah ada di rumah.” Ucapan Mama seketika berhasil mencuri perhatianku.


Apa ini sindiran keras ya? Mengingat kalau memang hari liburku kemarin selalu aku habiskan bersama Sam, ya lebih tepatnya sih Sam yang memaksaku untuk menghabiskan liburan bersamanya dan juga keluarganya.


Papa langsung memukul lengan Mama. “Nyamuk itu lho, Ma, sampai darahnya di hisap banyak begitu kok nggak kerasa sih.” Mama dan Papa saling lirik.


Aku tahu maksud Papa sebenarnya seperti apa, Papa hanya tidak ingin aku kepikiran dengan perkataan Mama. Aku tahu kalau Mama itu memang suka asal bicara jadi aku juga tidak terlalu memikirkannya hanya saja ... Merasa tersindir banget.


“Mungkin Mama harus diet, Pa.” Kata Vino yang langsung mendapat satu pukulan dari Mama.


•••


Aku melihat Mbak Sari dan Tiwi sudah datang lebih awal dan mereka sudah sibuk ngerumpi. Aku berjalan melewati meja Mas Angga dan melirik meja Rizal yang masih sama-sama kosong.


“Kemana nih dua pria tangguh?” kataku dengan nada lebay.


Tiwi tersenyum. “Kayaknya sih masih di luar gue tadi ketemu kok.”


Aku hanya mengangguk-angguk lalu duduk di kursi ku ikut nimbrung dengan obrolan Mbak Sari dan Tiwi. Beberapa menit kemudian pintu lift terbuka dan terlihat Rizal, Mas Angga dan Rio keluar dari sana.


“Lah, bocah itu kenapa ikut masuk?” pekik Mbak Sari.


“Gue lupa, Mbak. Gue udah terlanjur berangkat sampai sini.” Ucap Rio dengan wajah melas.


Rizal langsung merangkul pundak Rio. “Tenang aja nanti gue yang bakalan bilang ke Bos kalau lo lupa, santai aja dan gue jamin lo bakal tetap di bayar.”


“Memang lo Bos nya?” tanyaku yang langsung membuat wajah Rizal bingung.


Padahal setahuku anak magang itu di bebaskan dari tanggung jawab lembur sebelum dia benar-benar sudah habis masa magangnya. Duh, sepertinya Rio memang keturunan Rizal.


Sudah hampir jam sembilan tetapi batang hidung Sam belum muncul di ruangan ini. Lalu aku membuka ponsel dan tak ada satupun pesan masuk dari Sam. Kemana dia?


“Bos nggak berangkat ya?” akhirnya ada yang mewakili suaraku juga. Rizal terlihat celingak-celinguk menatap jam lalu ke pintu lift. “Jam segini belum kelihatan.”


“Ada perlu kali.” Sahut Mbak Sari.


“Perlu apa?” jelas aku langsung penasaran dong.


“Ya elah, gue kan Cuma menduga-duga gue juga nggak tahu kali. Eh, tapi kok lo kelihatan penasaran banget sih, Del.” Mbak Sari memberi tatapan curiga ke arahku. “Kalau lo ada hati sama Sam semua udah terlambat, Del. Lo nggak lupa kan kalo Sam sudah tunangan.”


“Kita senasib, Mbak, sama-sama masuk ke barisan patah hati dengan Pak Sam.” Sahut Tiwi.


Mereka ini kenapa sih? Lucu banget deh bicaranya kan aku jadi ingin tertawa, ha-ha.

__ADS_1


“Gue nggak akan sempat masuk ke barisan nggak berguna itu, Wi.” Tukas ku.


“Ya udah emang paling bener lo sama gue aja deh, Del.” Rizal dengan percaya dirinya tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya ke arahku.


Apaan lagi itu. “Dan gue juga enggak sempat mikir buat sama elo, bambang!” aku mengerucutkan bibir ke arah Rizal.


“Wah, ngenes parah nasib lo, Mas. Emangnya sudah di tolak berapa kali?” akhirnya Rio ikut berkomentar.


Mas Angga mendengus. “Jangan di tanya, kalau misalkan di kantor ini ada nominasi pria pantang menyerah walau sudah di tolak ribuan kali. Gue jamin piala Rizal udah bisa menuhin satu lemari.” Aku dan yang lainnya kompak tertawa karena ucapan Mas Angga.


Tiba-tiba di tengah bercandaan kami Sam akhirnya muncul juga. Tapi ... Dia terlihat rapi sekali dengan balutan setelan jas kerjanya. Bukannya ini hari lembur ya?


“Maaf saya terlambat.” Sam membuka suaranya terlebih dahulu sebelum salah satu dari anak buah keponya ini memberi pertanyaan.


Sekarang Sam sudah pintar cari antisipasi ya?


“Habis dari mana, Pak, hari lembur kok tetap kelihatan rapi banget?” tanya Rizal.


“Wah, wah jangan-jangan ...” semua mata tertuju ke arah Mas Angga, dia memasang wajah jenakanya ke arah Sam lalu ke arah kami. “Jangan-jangan habis dari KUA ya, Sam.”


“HAH?!” semua kompak histeris termasuk aku.


Bagaimana mau ke KUA kalau mempelai wanitanya saja masih di sini kok. Ehem!


Sam tersenyum tipis. “Kamu kok nggak sabar sekali sih, Ngga, ingin lihat saya nikah.”


Aku hampir saja tertawa mendengar perkataan Sam. Kenapa hari ini dia pintar sekali menanggapi omongan anak buahnya yang sama sekali tidak jelas ini sih. Padahal aku sempat berpikir kalau Sam akan lebih memilih untuk marah dari pada menanggapi pembicaraan ini.


“Jelas lah, Pak, makan gratis i'am coming!” seru Rizal yang langsung membuat semuanya tertawa.


Mas Angga mendengus. “Lo ngomong buat diri lo sendiri kali.” Tukas Mas Angga.


Aku masih tertawa lalu tanpa sengaja aku melihat Sam melirik ke arahku. Dia tersenyum tipis sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangannya. Hm ... Lega sudah rasanya akhirnya senyum itu bisa aku lihat juga.


•••


Jam masih menunjuk di angka jam sebelas siang. Sam tadi memberitahu kalau lembur hari ini hanya sampai jam satu siang. Dan gara-gara perubahan jam tersebut aku dan teman-temanku harus ikhlas kehilangan jam istirahat kami.


Sepuluh menit yang lalu Tiwi dan Rio di paksa oleh Mas Angga dan Mbak Sari untuk membeli camilan di luar kantor. Lumayan kan tidak makan tapi ada camilan.


Sudah sejak tadi Mas Angga, Mbak Sari dan Rizal saling melempar candaan karena berhasil mengerjai Tiwi dan Rio. Tapi, aku lebih memilih diam dan fokus pada layar komputer ku. Bukan untuk melanjutkan pekerjaan, maap ni ya aku juga tidak serajin itu kok apalagi ini hanya hari lembur.


“Del ...”


Aku seperti mendengar suara memanggilku tetapi aku masih diam tak menggubrisnya sama sekali.


“Aww!!” pekik ku ketika Rizal mencubit hidungku. “Lo kenapa sih?” aku langsung cemberut ke arah Rizal.


Rizal mencibir menirukan gaya ucapan ku baru saja. “Lo yang kenapa dari tadi bengong aja, kenapa sih?”


“Hah! Emang gue bengong.” Aku menatap Rizal dengan kedua alis terangkat.


“Ck, kayaknya besok-besok kita harus rekam aja deh kalau Adel lagi bengong. Biar dia percaya.” Ucap Rizal dia masih berdiri di depan mejaku.


“Lo lagi mikirin sesuatu ya?” kini aku menoleh ke arah Mbak Sari, dia sudah mencondongkan tubuhnya ke dapan dengan tatapan serius.


Duh, jadi grogi nih berasa jadi pusat perhatian banget.


“Ah, enggak kok gue nggak mikirin apa-apa.” Elak ku.


“Del, kita itu udah berteman lama jadi kalau salah satu dari kita ada yang bersikap aneh pasti langsung ke baca.” Terang Mas Angga.


Benar juga sih, selama ini mana ada sih yang bisa aku sembunyiin dari mereka kecuali hubunganku dengan Sam. Tunggu dulu berarti keahlian ku dan Sam dalam menyembunyikan status benar-benar hebat ya kalau sampai si biang kepo seperti mereka saja tidak tahu. Kok jadi bangga sama diri sendiri ya, Ck!


“Ah masa ke baca kayak gimana coba?” cibirku.


“Dih nggak percaya, di sini lo nih udah ada tulisannya.” Rizal menunjuk jidatnya sendiri. “Gue lagi mikirin Rizal.” Tawanya langsung menggelegar begitu saja.


Bukan hanya Rizal tetapi Mbak Sari dan Mas Angga juga langsung tertawa. Sabar aja deh punya teman yang otaknya bongkar pasang.

__ADS_1


“Sebenarnya gue ...” aku memasang wajah serius sehingga langsung membuat tawa mereka berhenti.


“Kenapa?” tanya mereka kompak.


“Kayaknya gue mau ... Resign aja deh.” Aku tak percaya kalau aku bisa mengatakan hal ini ke mereka semua.


“HAH?!” aku langsung kaget ketika mereka semua berteriak ke arahku.


“Ya Allah, Del, kenapa? Gue udah nggak kaget sih sebenarnya karena kan memang lo dari dulu udah pernah bahas soal resign tapi ... Lo serius kali ini.” Mbak Sari menatapku dengan raut tak percaya.


“Iya.” Jawabku singkat.


Entahlah rasanya hari ini aku hanya ingin membicarakan hal apa yang ingin aku katakan saja.


“Serius?” tanya Mas Angga.


Rizal langsung meletakkan kedua tangannya di tas mejaku dengan tatapan tak percaya. “Lo mau ngapain kalo resign, Del?”


Kalau dulu ketika aku di tanya alasan resign aku pasti akan langsung mengeluarkan ekspresi bingung, diam dan menjawab tidak tahu. Tetapi untuk hari ini aku mengeluarkan ekspresi yang berbeda.


Aku tersenyum ke arah Mbak Sari, Mas Angga dan yang terakhir ke arah Rizal. “Gue mau nikah.”


Hening.


Selama kurang lebih lima detik Mas Angga, Mbak Sari dan Rizal hanya diam sambil melempar pandangan. Lalu setelah itu mereka tertawa sampai terbahak-bahak bahkan sampai memukul meja.


Loh kenapa? Bukan kesurupan masal kan.


Rizal mencoba menghentikan tawanya lalu menatapku. “Del gue nggak tahu apa yang ada di otak lo sekarang. Tapi kalo lo beneran mau nikah gue siap kok jadi suami lo, gue nggak mau lo stres dan halu begini.” Dia kembali tertawa.


“Ya Allah, Del ... Lo udah depresi banget ya sama status jomblo lo.” Imbuh Mbak Sari.


“Banyak-banyak berdoa aja, Del, kalo memang beneran pengen nikah.” Tutur Mas Angga.


“Gue beneran!” seruku dengan wajah serius.


Tetapi ketiga temanku ini malah kembali tertawa sampai terbahak-bahak lagi. Apa aku benar-benar seperti orang halu apa ya di depan mereka? Memangnya kurang serius apa sih omonganku?


“Ssttt ...” Rizal mengangkat tangan lalu tawa mereka berhenti. “Lo kok lucu banget sih, Del. Lo kan jomblo mau nikah sama siapa?”


“Nah bener kata Rizal.” Sahut Mbak Sari.


“Lagian alasan lo sudah mainstream banget, Del. Banyak kan yang alasan nikah biar bisa keluar tapi kenyataannya enggak nikah tuh.” Imbuh Mas Angga.


“Tapi gue serius.” Kataku sungguh-sungguh dan lagi-lagi mereka kembali tertawa.


Rizal menatapku masih dengan tertawa. “Oke deh, perut gue udah sakit nih. Begini deh kalo lo beneran mau nikah gue ikhlas deh kasih amplop yang isinya full gaji ke elo.” Rizal menatapku. Mataku membulat penuh ke arah Rizal. “Kalo beneran nikah lho ya.”


Dan lagi-lagi mereka bertiga kembali tertawa terbahak-bahak. Seolah perkataan ku tadi memang benar-benar hanya kehaluan semata. Oh shiiit!!


Lihat lah wajah-wajah yang tengah tertawa bahagia itu, Ck. Aku tak sabar menunggu wajah itu berubah ketika ucapan ku benar-benar menjadi kenyataan.


.


.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....

__ADS_1



__ADS_2