
Happy Sunday all...
Semoga harinya menyenangkan.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Aku tidak pernah menyangka kalau waktu akan berjalan dengan begitu cepatnya. Setiap detik, menit, jam dan hari yang aku lalui terasa begitu cepat. Rasanya seperti baru kemarin aku dan Sam berpacaran, lamaran dan menikah tapi ... Tak terasa sekarang kami sudah menjalani kehidupan sebagai sepasang suami istri sudah hampir satu tahun.
Hampir satu tahun. Dan kini aku yakin itu bukanlah waktu yang singkat sebenarnya. Jika aku pikir, selama itu kami berdua sudah melalui banyak sekali hal bersama dalam membina rumah tangga.
Tapi perlahan, rumah tangga yang aku pikir baik-baik saja terasa mulai ada yang 'kosong'. Aku dan Sam baik-baik saja. Dia masih menjadi suami yang begitu memujaku , tidak pernah mengomentari tindakanku, selalu melakukan yang terbaik bagiku.
Tidak ada yang berubah darinya, dia masih tetap menjadi yang sempurna.
Dan aku mulai merasa menjadi istri yang tak sempurna. Aku mulai merasa ada sesuatu hal yang terasa hilang, tapi aku tidak tahu itu apa.
Sam terlihat semakin sibuk, terlebih PT. FASHION NOVA kini menambah beberapa cabang perusahaan baru. Dan Sam selalu berhasil menarik beberapa buyer dan investor besar ke dalam perusahaannya. Tak jarang dia sampai beberapa kali lembur hingga tengah malam, sedangkan aku mulai sibuk dengan kegiatan menjadi dosen yang mulai ku sukai.
“Kamu lembur lagi?” aku mengapit ponsel di telinga menggunakan bahu sambil membereskan kertas-kertas Quis Mahasiswa.
“Iya.” Sam menjawab singkat, sepertinya dia tengah sibuk membaca laporan.
“Jadi nanti malam aku makan sendiri lagi dong?”
Sam diam sejenak. “Kalau nggak, kamu ke rumah Mama aja nanti aku jemput di sana.”
Aku menghela nafas, menatap kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Aku mulai bosan selalu melarikan diri ke rumah Mama setiap kali Sam lembur. Dan yang membuatku kesal, dia baru akan menjemputku tengah malam. Di saat aku sudah mulai menyerah akan kantuk yang melanda.
“Aku di rumah aja.” Ujarku pelan sambil duduk di kursi.
“Nggak apa-apa?” di bertanya datar.
Aku menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Mau bagaimana lagi? Percuma juga mengunjunginya di kantor, aku hanya akan mati kebosanan menunggunya menyelesaikan pekerjaan yang tak ada habisnya.
“Ya udah, nanti kalau sudah sampai rumah kabarin aku.”
“Oke.” Aku menutup panggilan dan menatap layar ponselku lama. Foto yang menjadi wallpaper ku adalah foto Sam yang tengah tertidur, foto ini aku ambil saat kami berdua mengunjungi rumah Papa Carlisle, di London.
Aku menengadah, mulai merindukan masa-masa dimana aku bisa bersantai bersama Sam tanpa memikirkan pekerjaan.
__ADS_1
Tapi semakin perusahaannya maju dan berkembang pesat, waktunya bersamaku semakin berkurang.
Niatku berhenti bekerja dulu adalah ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengannya. Tapi ternyata, malah Sam sendiri yang sepertinya terlalu larut dalam pekerjaan dan melupakan bahwa dia juga butuh istirahat.
Sejak dulu aku tahu Sam itu maniak kerja, semua pekerjaan harus dia selesaikan secara perfect dan tepat waktu. Tapi beberapa bulan belakangan ini hal itu mulai menggangguku. Aku merindukan saat dimana berdebat dengannya, saat dia memarahiku atas sesuatu yang sepele, atau bahkan aku juga merindukan kecemburuannya yang kekanakan.
Tapi kini semua benar-benar terasa hambar dan monoton.
“Belum pulang, Del?” aku mendongak dan menemukan Mas Arlan tengah menatapku.
Aku tersenyum. “Baru mau pulang, Mas.” Ujarku sambil kembali membereskan kertas-kertas yang akan aku bawa pulang untuk ku periksa di rumah.
“Hari ini sibuk ya.” Selama hampir satu tahun ini aku banyak belajar dari Mas Arlan, dia baik dan tidak membosankan. Selalu asyik di ajak bertukar pikiran dan bercerita. Dan dia juga merupakan dosen termuda di sini yang belum menikah di antara semua dosen laki-laki, bisa di bilang Mas Arlan cukup manis orangnya.
“Iya nih, Mas, masuk trisemester emang udah mulai sibuk. Ngajar berapa kelas hari ini, Mas?” aku bertanya sambil memasukkan kertas-kertas itu ke dalam sebuah map.
“Empat, dan ini juga ada jadwal bimbingan juga dengan mahasiswa.” Mas Arlan tersenyum padaku. “Minggu depan kamu jadi ikut pelatihan di Bogor?”
Ah iya, aku baru ingat. Minggu depan aku harus mengikuti pelatihan selama tiga hari di Bogor dengan rekan sesama dosen, dan aku belum sempat memberitahu hal ini kepada Sam. Ya, setiap hari saja dia pulang tengah malam dan berangkat pagi-pagi sekali.
“Del, kok bengong?”
“Eh?” aku menoleh dan menyengir pada Mas Arlan. “Lagi capek, Mas. Aku duluan ya.”
Mas Arlan mengangguk saat aku pamit padanya, dengan langkah lesu aku berjalan menuju parkiran khusus dosen di kampus mewah ini. Oh iya ... Ada satu hal kan yang belum aku ceritakan pada kalian. Kata mahasiswa-mahasiswa di sini aku adalah dosen yang paling cantik di kampus ini. Bahkan kalau bukan istri dari seorang konglomerat di negeri ini, mereka pasti tidak percaya kalau aku sudah menikah dan berstatus sebagai istri orang.
Maka tak jarang jika aku tengah berjalan di antara gerombolan mahasiswa, mereka akan bersikap sok ramah padaku. Untung aku baik kan ya jadi aku senyumin aja.
Aku melangkah masuk ke rumah. Rumah terasa sepi, selalu seperti ini. Walaupun ada tiga asisten ART yang tinggal di sini, tapi mereka juga sedang beristirahat setelah seharian mengurus rumah. Aku melangkah dan duduk di ruang keluarga. Merasakan kesunyian rumah yang mulai terasa akrab denganku.
“Ibu baru pulang?” aku menoleh dan menemukan Bibi Asih membawakan segelas air untukku.
“Iya, Bi, makasih.” Aku meraih gelas itu dan menenggak habis isinya.
“Mau di masakin apa malam ini, Bu?”
Aku diam sejenak, lalu menggeleng. Tidak ada selera makan lagi. Aku hanya ingin mandi dan tidur sepanjang malam ini. Aku juga tidak berniat menunggu Sam pulang kerja karena entah jam berapa dia nanti akan pulang.
“Nggak usah, nanti saya masak sendiri aja.” Aku melangkah menuju kamar dan mulai melepaskan satu persatu pakaian, berdiri di depan kaca besar yang ada di kamar mandi dan menatap pantulan diriku sendiri.
Terlihat lelah dan juga tidak bersemangat. Aku menghembuskan nafas panjang, lalu melangkah menuju bilik shower dan memulai ritual mandiku dan berharap hari ini perasaanku akan jauh lebih baik.
•••
Aku merasakan kecupan di kening dan setetes air menetes di wajahku. Aku membuka mata dan menemukan Sam duduk di tepi ranjang masih mengenakan handuk yang melilit pinggangnya.
“Hai.” Sapanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku ikut tersenyum, meraih tangannya yang dingin dan menggenggamnya erat. “Hai, baru pulang?”
Sam mengangguk, merangkak naik ke atas ranjang dan menyusup masuk ke dalam selimut. Lalu melepaskan handuk dan melemparnya ke lantai.
Aku tersenyum, menyusup masuk ke dalam pelukannya dan membiarkan dia menciumi wajahku. Lalu ciumannya sampai ke bibirku, terasa hangat dan lembut, aku membiarkan Sam mencium bibirku dalam lumataan yang menuntut. Tangannya mulai menyusup ke dalam piyama yang aku kenakan. Meraba perutku dan naik ke atas menangkup salah satu payudaraa ku.
“Emmh.” Erangku tertahan di dalam ciumannya. Aku benar-benar tak bisa menolak sentuhannya.
Tak butuh waktu lama bagi Sam untuk melepas piyama yang aku kenakan. Dia kembali mencium bibirku, kemudian turun ke leherku. Salah satu tangan tangannya bahkan sudah bermain-main dan mengusap pahaku dengan gerakan sensual. Membuat nafasku semakin terputus-putus.
Dan nafasku nyaris tertahan ketika salah satu jarinya mulai menyusup masuk ke dalamku. Dadaku membusung dan dengan cepat Sam melumaat puncak payudaraa ku. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil meremas rambut belakang Sam, menikmati setiap sentuhan yang ia berikan.
Ketika pelepasan itu hampir datang, Sam segera menarik jarinya lalu dengan cepat menghujamkan dirinya ke dalamku. Aku mulai meremas sprei dengan kuat ketika Sam mulai bergerak liar di dalamku, menarik lalu menghujam dalam satu gerakan cepat.
“I love you, Adelia.” Ujarnya sambil bergerak menarik diri lalu kembali menghujam lebih dalam.
Bibir kami kembali menyatu, sementara Sam terus bergerak liar di dalam sana. Aku selalu menyukai saat di mana kami menyatu dan dia bergerak tak terkendali. Hanya saat itulah aku melihat Sam yang sebenarnya. Sam yang benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya karena hasrat.
Aku menyukai dirinya yang seperti itu.
Sam semakin bergerak lebih cepat, lebih kuat dan dalam ketika pelepasan itu hampir datang. Lalu kami mengerang bersama dengan tubuh yang bergetar. Nafas kami terengah-engah saling berebut oksigen.
“Tidur ya.” Dia mengecup bibirku lalu mulai menarik selimut. Hanya berselang beberapa menit, aku mendengarkan Sam sudah mendengkus halus. Sedangkan aku sendiri sudah tidak bisa memejamkan mata.
Mataku menatap nyalang pada langit-langit kamar.
Tidak ada lagi acara mengobrol, bercanda dan bermain game bersama yang ada di ponsel Sam setelah bercinta. Belakangan ini, setiap kali selesai bercinta Sam akan langsung tertidur begitu saja. Meninggalkan aku yang mulai merasa bosan sendirian. Sudah banyak yang mulai hilang dari rutinitas kami. Aku semakin merasa ada yang 'kosong' di dalam hidupku.
Aku dan Sam juga tak lagi menggebu-gebu seperti saat kamu hendak menikah dan di awal-awal pernikahan. Menggebu-gebu bukan dalam artian bercinta. Kalau soal urusan ranjang, kami masih sama hyper dan maniaknya. Tapi menggebu-gebu yang aku maksud tentang kebersamaan. Dulu, sebisa mungkin Sam ingin menghabiskan waktu denganku. Tapi kini, dia terlihat baik-baik saja dengan kesibukannya.
Aku tidak ingin berpikiran sempit. Tapi entah kenapa, setiap kali aku memikirkan hal ini, seolah ada sebuah kesimpulan yang masuk ke dalam benakku. Bahwa rasa menggebu-gebu itu datang karena belum memiliki, namun ketika apa yang di inginkan sudah di miliki atau tercapai, tidak ada lagi tantangan dan semua terasa begitu hambar dan datar.
Aku menghadapkan tubuhku menatap Sam, dia terlihat nyenyak dalam tidurnya. Aku meringkuk di dadanya, memeluknya erat dan mulai memejamkan mata.
Kami masih baik-baik saja bukan?
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TO BE CONTINUED....