My Boss Samuel

My Boss Samuel
125. Tujuh Bulanan


__ADS_3

Hallo semua?? Apa bakar??


Maaf ya sudah buat kalian menunggu dan kangen aku ... Uupps, kangen Adel dan Sam.


Tetap tinggalkan Like, Vote dan Komen !


Di share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Dulu aku sering kali tak percaya jika orang berkata masa kehamilan itu akan terasa sangat cepat sekali. Dan kini aku baru menyadarinya, usia kehamilanku sudah memasuki bulan ke tujuh. Di bandingkan dengan saat aku berjuang mendapatkan kehamilan ini dan masa hamilnya memang sangatlah berbeda, bagiku memang terasa lebih cepat.


Bayiku sudah tujuh berusia tujuh bulan di dalam perutku, dan dua bulan lagi aku dan Sam akan bertemu dengan malaikat kecil kami ini. Aku sangat menikmati masa-masa ini.


Saat ini di rumahku sedang di adakan acara tujuh bulanan ku. Sesuai rencana jauh-jauh hari, awalnya akan diadakan upacara adat tujuh bulanan atau orang Jawa biasa menyebutnya 'mitoni'. Aku dan Sam dengan senang mengikuti tata cara adat yang harus kami jalani satu persatu. Dan ini sungguh ... Menyenangkan.


Dan melelahkan juga pastinya.


Yang paling aku sukai adalah, ketika aku dan Sam menjalani prosesi siraman, dan ketika aku harus mencoba tujuh kebaya berturut-turut di hadapan para tamu dan secara kompak mereka akan mengatakan cocok di saat aku mengganti kebaya yang ke tujuh kalinya.


“Del.” Aku menoleh kepada Sam yang kini tengah melangkah ke arahku dengan membawa sepiring buah-buahan. Aku tengah duduk di sofa dan Sam berjalan menghampiriku.


Hari ini Sam terlihat sangat tampan dengan mengenakan baju koko berwarna putih, dan juga peci yang sekarang sudah ia lepas. Aku juga mengenakan gamis berwarna putih dan pasmina yang ku gunakan sebagai penutup kepala. Kami duduk di teras karena acara pengajian baru saja selesai. Bunda Eliza mengundang sejumlah anak yatim dari panti asuhan dan beberapa orang yang kurang mampu dalam acara pengajian tujuh bulanan ku ini.


“Kamu lapar?” aku menatap Sam yang tengah mengunyah buah semangka.


“Nggak. Cuma pengen makan buah aja.” Sam tersenyum manis lalu menyuapi aku dengan sepotong buah.


“Besok jadwal kontrol jam berapa?” aku bertanya sambil merebahkan kepalaku di bahunya.


Sejak hamil, kontrol kehamilan memang menjadi kewajiban. Dan tugas Sam untuk mengantar menemaniku untuk bertemu dokter, karena aku tidak mau jika yang menemaniku bukan suamiku sendiri.


Sam berkata kalau aku mulai manja sejak hamil. Tapi dia sama sekali tidak keberatan dan dia justru menyukainya.


“Jam tiga sore. Dokter Lala bilang jangan telat lagi loh.” Ucap Sam.


Aku terkekeh, merasa tidak bersalah. Minggu lalu Sam sudah membuat janji dengan dokter Lala, tapi sayangnya aku tertidur dan marah saat Sam membangunkan ku. Terpaksa Sam membatalkan janji dengan dokter Lala dan saat membuat janji kembali, dokter Lala mengingatkan untuk jangan datang terlambat lagi.


“Habisnya aku ngantuk.” Ujar ku sambil tersenyum.


“Kamu mah ngantuk terus. Tiap hari juga ngantuk.”


Aku kembali tertawa. Mengusap perutku lembut dan gerakan ku ini membuat tangan Sam ikut terulur untuk mengusap perutku juga, perut yang sudah sangat membuncit. Anak kami langsung bergerak begitu merasakan tangan Sam yang membelainya.


“Dia aktif.” Sam berjongkok di depan perutku, mengusapnya dengan gerakan lembut. “Halo, sayang. Kamu lagi apa?” terlihat konyol, tapi aku menyukai saat di mana Sam mengajak anak kamu bicara. Seolah paham dengan apa yang Sam katakan, dia membalasnya dengan menendang perutku.

__ADS_1


Aku terkikik geli saat merasakan tendangan-tendangan kuat dari dalam.


“Dia kalau ada kamu gerak terus, kalau berdua sama aku aja, dia males-malesan.” Cibir ku.


Sam tertawa. “Artinya dia sayang sama aku.”


“Terus dia nggak sayang sama aku, begitu maksud kamu?” mataku langsung melotot ke arahnya.


“Ya sayang kamu juga. Tapi kamu nya ngambekkan banget.”


“Kamu tuh nyebelin!” ujar ku sambil mencubit lengan Sam. Dia baru hendak membuka mulut untuk menjawab. Tapi aku segera menyela. “Awas kalau kamu bilang aku juga nyebelin. Nggak bakal aku kasih jatah kamu nanti!”


Tawa Sam pecah, aku menatapnya dengan kening berkerut.


“Iya, kamu nggak nyebelin kok.” Ujar Sam lembut.


“Tapi?” Aku meliriknya tajam.


“Nggak ada tapi.”


“Terus kenapa bilangnya nggak ikhlas?” entah kenapa melihat wajah Sam yang masih saja tersenyum itu membuatku semakin curiga.


“Aku ikhlas.” Sam menatapku serius.


“Kok kelihatannya enggak?”


•••


Acara baru benar-benar selesai pukul tujuh malam. Dan aku sudah sangat lelah, ketika aku hendak masuk ke kamar aku mendengar Raffael berteriak memanggilku. Aku menoleh dan betapa terkejutnya aku ketika melihat Raffael membawa dua kucing yang sangat lucu. Ingin sekali aku mengacak-acak bulu dan wajah kucing itu. Tapi aku langsung mengurungkan niatku, ketika Sam datang dan memasang wajah serius.


“Kamu jangan pegang kucing dulu, Del.” Ujar Sam padaku.


“Kenapa?” tanyaku bingung.


“Iya kenapa?” dan sepertinya Raffael ikut kebingungan juga.


Sam memijat pangkal hidungnya lalu menatap ke arah Raffael. “Kata dokter ibu hamil tidak boleh terlalu dekat dengan hewan-hewan liar terlebih dahulu.”


“Loh, tapi kucing ini nggak liar kok, ini kucing gue. Kucing gue ini bersih, sehat dan terawat. Lo nggak percaya sama gue?” Raffael terlihat tak terima dengan perkataan Sam.


“Iya Sam, lagian itu kucingnya lucu banget, aku pengen melihara mereka.” Aku memasang wajah memohon ke arah Sam.


Saat ini Raffael membawa dua kucing yang masing-masing berwarna abu-abu dan putih, abu. Kedua kucing itu sangatlah lucu. Aku terus menatap Sam sambil memegangi lengannya.


“Tapi, Del. Kata dokter ...”


“Gue yang bakal memastikan perawatan kucing ini, gue yang bakal jamin kalau kucing ini nggak bakalan membahayakan Adelia sama calon ponakan gue.” Kesannya saat ini aku dan Raffael benar-benar seperti dua orang bocah yang tengah merengek kepada ayahnya agar di izinkan untuk memelihara kucing tersebut.

__ADS_1


“Lo tega gue harus balikin kucing gue ini ke rumah lagi. Kasihan mereka, Brother.” Raffael mengangkat kedua kucing tersebut ke arah Sam, dan otomatis kedua kucing itu langsung mengeong.


Sam terlihat beberapa kali menatapku kemudian menatap Raffael secara bergantian, lalu tatapan terakhirnya jatuh ke dua kucing lucu yang kini masih di gendong Raffael, sebelum akhirnya dia mengangguk pelan sebagai jawaban. Dan tentu hal tersebut membuatku sangat senang.


•••


Aku hendak melangkah masuk ke dalam kamar mandi, namun tiba-tiba Sam memeluk tubuhku dari belakang.


“Sam.” Panggilku saat bibirnya mulai mengecupi leherku.


“Hm.” Sam hanya bergumam, dan tangannya semakin bergerak membelai perut dan pahaku yang masih tertutup pakaian ini.


“Aku mau mandi dulu, Sam.” Ujar ku berusaha melepaskan tubuhku dari pelukan Sam.


Namun dengan cepat Sam kembali menarik ku dan langsung meraup bibirku ke dalam ciumannya. Dia mengecupi bibirku pelan dan lembut, menjilat nya lalu menggigit bibir bawahku agar mulutku terbuka dan lidahnya bisa menyusup masuk.


Tangan Sam mulai bergerak membelai punggungku dan menurunkan resleting gamis yang masih aku gunakan saat ini, yang kebetulan ada di belakang.


“Mandi bareng.” Ujar Sam di sela-sela ciumannya.


Belum sempat aku menjawab namun Sam sudah kembali meraup bibirku, mencecap dan melumaat nya dengan penuh damba. Aku mendongak ketika ciumannya kini beralih ke daguku. Aku meremas rambut belakangnya ketika Sam menggigit kecil leherku.


“Iya.” Ucapku dengan nafas terengah.


Sam kembali mencium bibirku lagi sambil tersenyum, lalu segera membopong tubuhku ketika dia berhasil menurunkan pakaianku hingga jatuh ke lantai. Aku tahu kalau tubuhku saat ini pasti mengalami kenaikan berat badan yang cukup banyak akibat kehamilan ini, tapi tampaknya Sam tidak pernah mengeluh soal itu. Dia masih kuat menggendongku. Memang tidak banyak perubahan pada tubuhku, tapi yang pasti perut buncit ini yang berhasil menambah berat badanku.


Sam menurunkan aku ketika kami sampai di dalam kamar mandi. Dia terus saja mengecupi bibirku tanpa henti, dan kini tangannya mulai bergerak melepaskan bra dan juga celana dalamku. Ciumannya beralih ke puncak dadaku hingga membuatku terkesiap. Untungnya aku mengalungkan tanganku di leher Sam dan Sam juga memegangi tubuhku agar aku tidak oleng karena ulahnya.


“Di bawah shower apa bathub?” tanya Sam. Bibirnya masih terus bermain-main di puncak dadaku secara bergantian.


Aku menggigit bibir bawahku. “Dua-duanya.”


Sam tersenyum setelah mendengar ucapanku. Dia segera berjongkok di depanku lalu mengecup perutku dengan lembut. “Daddy jenguk kamu ya, sayang.”


Sam kembali berdiri lalu mengecup bibirku dan membawaku masuk ke dalam bathub.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TO BE CONTINUED....


__ADS_2