My Boss Samuel

My Boss Samuel
94. Latihan Katanya?


__ADS_3

Happy Weekend all....


Semoga menjadi hari yang menyenangkan.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya !!


Di share apalagi boleh syekalee.


Happy reading !!


##


Aku mencoba menguasai diri. Tenang, pikirkan hal-hal yang menyenangkan seperti menonton kartun Spongebob, atau menonton acara komedi, atau ... Atau apa saja selain memikirkan berduaan dengan Sam di apartemennya!


Tubuhku sudah panas dingin rasanya.


Dan siaalnya, perjalanan menuju apartemen Sam terasa cepat karena jalanan tidak terlalu macet. Untuk pertama kali aku mengutuk kelancaran lalu lintas kota Jakarta. Ayolah, aku butuh kemacetan saat ini, sama halnya dengan otakku yang mengalami kemacetan berpikir.


“Jangan terlalu tegang, aku nggak akan menyakiti kamu.” Bisik nya padaku setelah mobil berhenti di basement apartemennya. Aku hanya menatapnya dengan tatapan memelas dan hal itu malah membuat Sam tertawa. “Rileks, Adelia.” Ledeknya melihat wajahku yang kaku.


Kami memasuki lift, dan lagi-lagi rasanya lift itu berjalan cepat dan langsung menuju unit apartemen Sam berada.


“Kamu mau makan apa?” Sam membuka aplikasi delivery makanan di ponselnya.


“Apa aja.” Jawabku pelan.


Dia menoleh, membimbingku masuk ke dalam apartemen. Meraih kepalaku dan mengusap rambutku. “Masakan western, korea? Atau mau nasi padang?” tawarnya sambil menutup pintu.


Memikirkan rendang memang sangat menggoda dan membuat cacing perutku meronta-ronta, tapi aku sudah tidak memiliki selera makan karena perutku terasa mulas dan melilit gugup.


“Apa aja, terserah kamu.”


“Ya sudah, kalau gitu sana mandi.” Dia mendorongku masuk lebih jauh ke dalam apartemennya, karena aku tak kunjung bergerak akhirnya dia menarik tanganku menuju kamar mandi dalam kamarnya.


Memasuki kamar yang sering kali membuat khilaf ini semakin membuatku gugup. Aku segera melangkah menuju dinding kaca samping balkon. Apa tidak ada tangga darurat di sini yang bisa membawaku kabur tanpa ketahuan?


Apa ada yang punya nomor ponsel Batman? Spiderman? Wonder Woman? Ultraman? Aku butuh bantuan! Atau pinjamkan aku kekuatan Spiderman agar aku bisa merayap di dinding.


“Jangan loncat. Kamu bisa mati.” Kekeh nya saat aku berdiri di dinding kaca yang tidak tertutup tirai.


“Hahaha, lucu sekali, Sam!” ujar ku sambil tertawa garing ketika menatap Sam.


Sam mendekat dan berdiri di belakangku. Kedua lengannya memeluk perutku erat, dia menunduk, mengecup bahuku yang masih di lapisi oleh pakaian kerja.


“Mau mandi?” tanyanya sambil berbisik. Dan aku hanya mengangguk karena tiba-tiba suaraku hilang entah kemana. “Ayolah, mana Adelia yang berani menggodaku seperti beberapa saat yang lalu. Sekarang kembali bersembunyi, heh?” godanya sambil menggigit pelan daun telingaku.


Aku memukul lengannya sebal. Enak saja siapa sih yang menggodanya? Akal-akalan aja nih setan kampret. Sam terkekeh dan memelukku lebih erat.


“Aku udah telepon orang tuamu dan bilang kalau kamu tidak pulang malam ini.”


Aku membalikkan tubuh segera lalu mendongak. “Kamu pasti bercanda! Kamu pakai alasan apa memangnya?”


Sam tersenyum miring. “Rahasia.” Bisiknya lalu menunduk dan mengecup bibirku. Tangannya juga bergerak melepas kancing kemeja teratasku.


“Sam.” Aku menghentikan tangannya karena gugup.

__ADS_1


Dia terlihat berbeda sekali malam ini. Jauh lebih sensual dan ... menakutkan. Tapi seperti pria dengan feromon yang mematikan. Setiap tindakannya mampu membuat darahku mengalir lebih cepat menuju kepala, membuatku pusing nyaris tumbang.


Sam melepaskan dua kancing teratasku lalu tangannya turun untuk memeluk pinggangku. Napasku memburu saat tangannya membelai punggungku dengan lembut. Kedua tanganku berada di dadanya, telapak tanganku mampu merasakan detak jantung Sam yang menggila, sama halnya dengan detak jantungku yang terus bergemuruh hebat di dalam sana. Apa dia benar-benar sudah di selimuti kabut gairah saat ini?


Sam menunduk, ibu jarinya menyentuh bibir bawahku agar terbuka lalu bibirnya menekanku di sana. Menghisapnya lembut pada awalnya lalu berubah menjadi lumaatan dalam pada akhirnya. Aku mengalungkan kedua tanganku di leher Sam dan kedua tangannya mendekapku erat, tanpa ada jarak.


Ciuman kami baru berhenti saat ponsel Sam berdering, Sam menjauhkan wajahnya dengan napas terengah. Mengecupku sekali lagi, lalu melepaskan pelukannya secara hati-hati.


Sam merogoh saku celananya. “Makanan datang. Kamu mandi ya.” Ujarnya menjauh setelah membawaku duduk di tepi ranjang.


Astaga! Otakku mendidih. Dan aku benar-benar butuh mandi air dingin. Mandi air es sekalian kalau perlu. Aku berguling-guling sejenak di atas ranjang sambil terus menggerutu sebelum akhirnya melesat mandi.


••


Dengan handuk membelit tubuh, aku keluar dari kamar mandi. Aku berdiri bingung di sana. Kenapa bodohku permanen sekali sih? Aku harus memakai apa? Lagi-lagi aku lupa kalau aku sudah tidak punya baju di apartemen Sam. Terpaksa aku harus memakai kemeja Sam lagi. Aku ingin menangis dan menjerit sekeras mungkin.


Asgdtdjtink faaak!!


“Del?” pintu tiba-tiba terbuka dan membuatku nyaris meloncat. Untung saja aku sudah mengenakan pakaian.


“Ngagetin aja sih, Sam!” ujarku sambil mengeringkan rambut.


Sam meraih handuk di tanganku dan mulai mengeringkan rambut panjangku.


Aku berdehem. “Aku nggak niat menggoda ya, aku nggak ada baju di sini, kalo kamu lupa!” ujarku sebelum Sam mengatakan hal yang tidak ingin aku dengar lagi.


Sam hanya terkekeh. “Nanti kita beli ya?” dia menatapku sambil tersenyum. “Makanannya mulai dingin. Tolong panasin, aku mau mandi.” Ujarnya lalu membuka kemejanya begitu saja di depanku.


“Sam!” aku melemparnya dengan handuk saat dia hanya tertawa lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Untung saja dia tidak membuka celananya juga.


Ternyata Sam memesan makanan Korea yang lebih nikmat jika di santap dalam kondisi hangat. Tepat setelah aku selesai menghangatkan makanan dia keluar dari kamar dengan rambut basah, mengenakan celana training panjang berwarna abu dan kaos hitam.


“Nggak apa-apa kan kalo kita makan ini?” dia melangkah menuju lemari pendingin, membawa sebotol air dingin dan sekaleng bir non alkohol. Meletakannya di atas meja makan lalu dia duduk di sana.


“Tapi apa porsinya nggak kebanyakan?”


Sam tertawa, meraih sumpit. “Aku lapar.” Ujarnya mulai menyantap makanan. Dan kalimat itu berhasil membuatku bungkam.


“Aku kenyang banget.” Aku bersandar di sofa sambil bersila.


Tanpa aku sadari ternyata aku lapar juga, buktinya makanan kami tak tersisa sedikitpun. Mungkin ini efek kesal jadi tidak berasa kalau sudah makan banyak.


“Dan aku masih kelaparan.” Gumamnya memegangi bungkus snack keripik kentang. Mulai kesurupan jin gentong lagi kayaknya dia.


“Kenapa kamu ngikutin aku?” aku melipat kedua tanganku tepat di depan kamar Sam.


“Loh, kan ini kamar ku kalau kamu lupa.” Sam ikut melipat kedua tangannya. “Bukannya kita pernah tidur bersama juga sebelumnya.”


Aku hampir tersedak mendengar penjelasan Sam. Hm, rasanya ingin kusiram wajahnya dengan air cucian piring!


Aku hanya merengut masam dan pergi menuju balkon kamar, berdiri di sana untuk mencari udara segar. Langit kota Jakarta terlihat mendung malam ini, apakah akan turun hujan malam ini? Ah apakah ini sudah memasuki musim penghujan? Ah bodo amatlah.


“Kamu keberatan tidur denganku?” Sam tiba-tiba memelukku dari belakang.


Aku hanya mengangkat bahu pasrah.

__ADS_1


Sam kembali mengecup bahuku. Lalu dia membalikkan tubuhku agar menatapnya. “Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan melanjutkan. Tapi kalau kamu sudah mengizinkan, aku nggak akan berhenti begitu saja.” Sam menunduk kembali meraup bibirku dalam sebuah ciuman.


Dan efek itu kembali, rasanya mandi air dinginku tadi sia-sia karena saat ini gairah itu kembali muncul ke permukaan membuatku gerah dan juga kepanasan. Sam menyadari itu, dia mendekapku lebih erat.


Aku tidak tahu bagaimana bisa sampai di sini, tapi aku sudah terduduk di atas ranjang dengan Sam yang berdiri di depanku.


Matanya menatapku lekat, pada pahaku yang terpampang jelas di hadapannya. Sam menunduk, mengecup ujung hidungku.


“You’re so beautiful.” Bisiknya dan kalimat sederhana itu mampu membuatku merona hingga ke ujung kaki.


Sam mendorongku pelan hingga aku berbaring, dia menahan tubuhnya dengan kedua tangan. Aku tidak mampu memikirkan apapun lagi. Bahkan saat jemarinya bergerak untuk membuka kancing kemeja yang kugunakan, aku hanya mampu terpaku, terlarut dalam gairah.


Aku hanya berbalut pakaian dalam dan menatap Sam yang kini mulai melepas kaosnya, kaos tersebut berhasil lolos dari ujung kepalanya.


“Adelia ...” jemarinya menyentuh bibir bawahku. Aku menyentuh jemarinya yang terasa dingin. Sam menunduk, mengecup keningku lembut dan lama.


Lalu dia menjauh dariku dengan napas memburu. Sam berbaring di sampingku yang masih diam. Dia meraih jemariku dan mengecupnya satu persatu. Sam tampak mencoba mengendalikan diri.


“Tidak malam ini, Del. Aku masih bisa menunggu, sebentar lagi.” Ujarnya menyelimuti tubuhku yang berbalut pakaian dalam. “Tidurlah. Jangan terlalu tegang begini.” Dia terkekeh serak.


Dalam keadaan begini masih sempat-sempatnya dia menggodaku?


Aku melongo, lalu menoleh padanya.


“Kenapa? Kamu mau melanjutkan?” dia tersenyum miring.


Aku memukul perutnya yang keras itu lalu memeluk selimut lebih erat, tanpa mengatakan apapun, aku membelakanginya sambil memeluk guling.


Sam terkekeh, mendekapku dari belakang dan mencium punggungku sesekali.


“Kita anggap saja tadi itu latihan untuk foreplay.” Ujarnya serak.


Aku menyikut rusuknya. “Latihan kok tiap ada kesempatan!” pekikku kesal.


“Memangnya kamu mau setiap hari?” godanya yang membuatku semakin kesal.


Sam masih tertawa, dengan posisi dia memelukku dari belakang, Sam akhirnya tertidur tak lama kemudian. Dan lagi-lagi telapak tangan setan kampret itu menangkup sebelah dadaku dengan santainya.


Aish! Dasar devil!


.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....

__ADS_1



__ADS_2