
Holla semua... Balik lagi..
Sekali lagi Maaf banget ya...Diriku hanya bisa UP sehari sekali. Nikmatin aja ya... Selow, biar hepii..
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Biar makin semangat nulisnya..
Happy reading !!
##
Aku turun dari taksi dengan perasaan bahagia. Sebelumnya aku tadi sempat berbelanja bahan makanan terlebih dahulu di minimarket. Aku segera berjalan masuk dengan membawa sebuah kantong plastik berukuran sedang.
Aku berdiri di depan pintu sembari tersenyum dan setelah bunyi beep terdengar aku segera masuk dan menutup pintunya kembali.
Ya ... Tempat ini, tempat yang beberapa hari lalu aku datangi tampaknya masih terlihat sama. Masih begitu rapi dan bersih. Dengan percaya diri aku langsung melangkah masuk menuju dapur lalu aku membongkar semua bahan makanan yang tadinya aku beli ke atas meja makan.
Hari ini aku sengaja tak memberi tahu Sam kalau aku mampir ke apartemennya. Tadi saat jam pulang aku langsung meluncur begitu saja sebelum Sam keluar dari ruangannya. Dan sepertinya hari ini Sam ada sedikit lembur dengan Pak Arief.
Aku segera melanjutkan aktivitasku untuk menyiapkan bumbu-bumbu dari masakan yang ingin aku masak. Rencananya aku ingin memasak Ayam Rica-Rica Kemangi yang pedasnya di jamin endul. Kata Mama aku paling jago kalau di suruh membuat masakkan yang pedas-pedas, karena pedasnya pasti bikin nagih.
“Eh, tapi Sam suka pedas apa enggak ya? Duh ... Begoo banget gue. Jadi pacar nggak peka banget sama selera makanan cowoknya.” Aku menghentikan aktivitas mengulek bumbuku. “Ah, pasti suka lah. Orang mulutnya aja kalo ngomong kadang pedasnya minta ampun.” Aku hanya tertawa lalu melanjutkan kegiatanku.
Aku menyalakan kompor dan membawa bumbu halus yang sudah aku buat tadi ke dekat penggorengan. Setelah itu ku tumis hingga harumnya menyeruak. Lalu ku masukkan ayam dan ku masak hingga matang. Tak lupa aku pun harus mengoreksi rasanya terlebih dahulu sebelum aku hidangkan ke Sam. Malu lah kalau tidak enak, bisa di coret dari daftar calon istri. Haha.
Aku lalu mematikan kompor dan berjalan ke lemari pendingin milik Sam. Niatnya mau mencari penyedap untuk tambahan masakanku. Aku membungkukkan badanku guna mencari-cari dimana letak penyedap itu berada. Sampai aku tak menyadari kalau Sam sudah pulang.
Aku masih sibuk membungkuk sampai aku menemukan penyedap yang aku cari. Tetapi, saat itu juga aku merasakan sebuah tangan dingin bergerak menyentuh pahaku. Aku baru menyadari kalau hari ini aku memakai rok yang pendek pasti rokku akan sedikit terangkat dalam posisiku saat ini.
Tangan itu bergerak lembut, membuat gerakkan pola abstrak yang seketika mampu membuat tubuhku merinding. Kini tangan itu bergerak makin ke atas menyentuh bokongku lalu meremasnya perlahan. Aku segera membenarkan posisi berdiriku dan membalikkan badan ke belakang.
“Sam ...”
Pria itu langsung memelukku begitu saja lalu menyerukan wajahnya ke leherku. Aku mencoba mendorong bahunya karena geli tetapi Sam malah semakin mendorongku mundur hingga pinggangku menatap meja set kitchen.
“I miss you.” ucap Sam setelah sedetik kemudian ia mendaratkan sebuah kecupan di bibirku.
“Sam aku sedang masak.” Dia tak menggubris ucapanku sama sekali. Dan hal tersebut berhasil membuatku menggerutu dalam hati.
Sam menciumku dengan sangat pelan dan lembut hingga membuat jantungku langsung bergetar hebat. Kecupannya selalu ia mulai dari ujung bibirku hingga terus ke tengah di sertai dengan gigitan-gigitan kecil. Aku semakin tenggelam ke dalam ciuman yang Sam berikan. Tangannya mulai menekan tengkukku lalu membelainya naik dan turun secara perlahan.
Aku hanya bisa mengusap-usap lengan berotot milik Sam dan sesekali aku juga meremasnya ketika Sam mulai menggigit bibirku. Aku membuka mulutku untuk mempersilahkan lidah Sam masuk menjelajah seluruh rongga mulutku. Lidah kami saling mengunci dan bertukar saliva satu sama lain.
__ADS_1
Sam melepaskan ciumannya lalu mengangkat tubuhku hingga aku terduduk di atas meja set kitchen. Ia menarik tengkukku lalu membenamkan wajahnya ke leherku, membuatku mendongak dan meremas rambutnya. Ciumannya semakin naik ke daguku, menggigit kecil di bagian sana.
“Sam ... Emmhh ...” aku tak kuasa menahan eranganku.
Sam semakin memelukku erat hingga benar-benar tak ada sisa jarak di antara kita. Ciumannya kembali lagi ke bibirku menggigitnya lalu memasukkan lidahnya. Aku merasakan tangan Sam mulai bergerak membelai pahaku. Mengusapnya lembut dan sensual hingga aku tak kuasa menahan desahan di sela-sela ciumanku.
Sam benar-benar pandai membuatku melayang. Saat aku merasakan tangan Sam mulai bergerak naik dan menyelusup masuk di balik kemeja kerja yang ku gunakan, aku segera menarik diriku dari ciuman Sam.
Ada desahan kecil yang keluar dari bibir Sam saat ciuman kami terlepas. Nafasku dan nafasnya saling terengah berebut pasokan udara untuk saling mengisi paru-paru kami.
Sam memejamkan matanya sesaat lalu menatapku. “Maaf ... kalo aku selalu nggak bisa mengontrol diriku saat berada dekat denganmu.”
Aku hanya tersenyum. “Iya, Sam. Maafin aku juga.” Tentu aku juga merasakan seperti yang Sam rasakan. Mungkin terlalu banyak setan yang singgah di dalam tubuh Sam jadinya ya begini.
“Maaf juga karena aku marah sama kamu.” Kini tangan Sam sudah mengusap pipiku. Lalu turun ke bibirku.
“Semua ini juga gara-gara aku. Aku sudah keterlaluan hingga membuat kamu jadi begini.” Aku mengusap perban yang masih menempel di pelipis kanan Sam. “Kamu sudah makan?” tanyaku untuk menghilangkan suasana panas yang baru saja kami lakukan.
Sam masih memainkan ibu jarinya di bibir bawahku. Membukanya dengan ibu jarinya lalu mendaratkan ciuman lagi ke bibirku. Aku segera mengarahkan cubitan keras ke perutnya sehingga Sam melepaskan ciumannya.
Sam menggeleng. “Belum.”
“Kebetulan aku masak buat kamu.” Aku segera turun dari meja set kitchen lalu kembali menyalakan kompor untuk menambahkan bumbu penyedap. Untungnya tadi aku sempat mematikan kompor. Bayangkan saja kalau tidak.
Sam benar-benar berbahaya. Walaupun di luar dia terkesan dingin dan cuek. Namun, kalau sudah berdua seperti ini sangat berbahaya. Banyak sekali kejadian yang hampir berujung khilaf begitu ia menyentuhku.
“Enggak kok. Justru aku lebih suka makanan yang pedas dan gurih di bandingkan yang manis. Karena ... Manisnya sudah di kamu semua.” Ujarnya sedikit gombal.
Aku mengernyit ke arah Sam. “Gombal banget, sih! Sejak kapan Sam bisa ngegombal begitu.” Aku menuang Rica-Rica ayamku ke dalam mangkok. “Terus kalo memang manisnya ada di aku, berarti pedasnya di kamu dong.”
Aku tertawa sembari berjalan ke meja makan. “Pantesan mulutmu kalo ngomong pedasnya suka kelewatan ... Aahhk!” Aku segera melotot ke arah Sam karena dia tiba-tiba mencubit pinggangku.
“Berarti kita sweet couple dong. Kamu manis aku pedas.” Sam meringis menampilkan deretan giginya yang rapi itu ke arahku. Ya Tuhan ... Kembalikan Sam seperti sedia kala. Sumpah dia tidak cocok sekali ngegombal seperti itu.
Akhirnya kami melanjutkan acara dengan makan bersama. Wajah Sam tampak memerah akibat Rica-Rica Ayam pedas yang aku buat ini. Aku hanya tersenyum sembari melihatnya makan.
“Sam ...”
“Hm.” gumam Sam di sela aktivitas makannya.
“Luka mu masih sakit, kah?” Aku menatap ke arah luka di wajahnya.
Sam menaikkan alisnya lalu menatapku. “Ini ...” aku mengangguk. “Sudah nggak sakit. Paling masih bekas aja lukanya.”
__ADS_1
“Um ... Kalo sampai membekas jangan lupa kamu obatin ya biar hilang.” Aku meringis ke arahnya.
“Memangnya kenapa?” tanya Sam penasaran.
“Kata Tiwi kalo luka itu sampai mengurangi ketampanan kamu. Dia bakalan nggak mau maafin aku.” Aku mengatakan apa yang Tiwi katakan padaku tempo lalu. Bahkan bukan hanya Tiwi saja, mungkin semua fans Sam di kantor pasti akan membenciku kalau sampai tahu akulah dalang di balik lecetnya wajah Sam.
Aku tidak akan sanggup membayangkannya.
Sam malah terkekeh. “Ada-ada aja. Biarin aja nggak usah di pedulikan.”
“Loh, kok gitu sih!” Protesku tak terima.
“Kenapa? Kan itu Tiwi, bukan kamu, kan.” Sam menatapku dengan sebelah alis terangkat.
“I-iya, sih. Tapi, kalo bisa ya jangan. Aku nggak mau kalo Tiwi beneran marah sama aku.” Kataku dengan wajah cemberut.
“Berarti kamu juga nggak terima kalo luka ini nggak bisa hilang.” Kata Sam dengan nada menggoda.
Sialaan! Dia sengaja memancingku. Boleh nggak kalau langsung aku peluk lalu aku cium? Gemas banget lihat Sam menggodaku seperti itu. Jelas saja aku juga nggak terima. Gengsi saja aku tuh kalau mau mengakui di depan Sam.
“E-nggak tuh. Aku biasa aja.” Tukasku datar.
“Ya udah biarin aja begini.” Kata Sam cuek. Dasar tak peka. Mungkin kepekaan Sam itu hanya untuk beberapa hal saja.
“Ja ... ngan.” Aku langsung meringis ke arahnya lalu menggaruk kepalaku. Duh, kelepasan kan mulutku.
Sam tersenyum. “Jangan apa?” godanya.
Aku berdehem sesaat. “Ya jangan. Jangan pokoknya.” Kataku pelan, pelan sekali entah Sam bisa mendengarnya apa tidak.
Sam tertawa pelan, lalu ia melipat kedua tangannya ke atas meja dan tersenyum ke arahku. “Iya ...” aku menaikkan alisku ke arah Sam sehingga membuat dirinya tersenyum lagi.
“Iya sayang.”
.
.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continued...