
Hari berlalu begitu lambat bagi mona, menunggu satu minggu membuatnya semakin serba salah. Menentang keputusan gama rasanya juga tidak benar, hingga membuatnya harus sabar menunggu
Kini hari yang ditunggunya tiba juga, rasanya hatinya hari ini begitu cerah dan bersinar. Ia bangun lebih pagi kali ini, menyiapkan semua pakaian yang akan ia bawa kembali ke indonesia. Ia tersenyum saat mengemas pakaian ke dalam koper, mengingat jika pada saat pertama datang ke mansion ini ia tak membawa apa pun, kecuali pakaian yang ada di tubuhnya dan tas yang ia bawa
"mona" ketuk gama di pintu kamar mona
"ya sebentar" mona menghentikan pekerjaannya dan menyahut seraya berjalan membuka pintu "iya kk?"
Gama memajukan sedikit kepalanya melihat ke dalam, membuat mona mundur mempersilakan gama masuk
"aku sedang berkemas, um.. semua pakaian yang kk belikan" ucap mona tertawa kecil dan kembali melipat pakaian masuk ke dalam kopernya
"tentu saja pilihanku begitu cocok untukmu" ucap gama terkekeh
"mon.."
"ya?" tanpa menoleh pada gama
"ada yang ingin aku bicarakan dulu sebelum kita pergi" ucapnya mulai serius
Mona menoleh dan duduk di ujung tempat tidur, dan menghadap pada gama yang duduk di sofa
"kakak ingin membicarakan apa?" tanyanya
"tentang tantemu dan bandot brengsek yang berusaha mencelakaimu"
Raut wajah yang tampak sumringah itu berubah menjadi mengernyit bingung, banyak pertanyaan yang mulai muncul dalam kepalanya
"aku sudah membereskan mereka" ucap gama
"aku tidak mengerti kk" ucap mona
"mona, sebenarnya aku mengetahui dirimu sebelum kau bercerita semuanya" ucapnya seraya melihat reaksi mona
Sedangkan mona hanya diam mendengarkan segala ucapan yang keluar dari mulut gama
"aku saudara sepupu dari arkana" lanjutnya
Mona masih diam
"aku mengetahui semuanya dari arkana, dia mempercayakan dirimu untuk tinggal di sini sementara.. ia sedikit khawatir karena arin selalu mencemaskan dirimu"
"arin?"
"sahabatmu?" tanya gama balik
'jadi...' pikirannya menerawang
"sejak kapan kk?" tanya mona
"dari hari ke dua kau ada disini, arkana melacak sinyal nomormu yang sedang aktif melakukan video call dengan arin. Hingga ia menemukan bahwa ternyata kau ada di mansion keluarga kami"
"saat aku bilang ingin menelepon temanku?"
Gama mengangguk dan mona tersenyum berarti
'jadi kk gama baik padaku karena aku sahabat arin? sahabat calon istri sepupunya?'
'kenapa rasanya aku begitu kecewa?' pikirnya
"mon.. are you okay?"
__ADS_1
Mona mengangguk memaksakan senyumnya
"dan masalah tantemu.. dia sudah kk urus"
"maksudnya?"
"setelah kau menceritakan semuanya pada arin, arkana langsung menghubungiku. Kk sudah membereskan semuanya, tidak perlu takut lagi bandot brengsek itu akan mencarimu atau apa pun itu.. juga tantemu itu ia juga sudah pergi ke luar kota dan tidak akan berani mengganggumu lagi"
"apa yang kk lakukan?"
"yang seharusnya dilakukan, jangan banyak bertanya lagi. Sekarang jangan risau, cemas, atau takut lagi.. tersenyumlah dengan lebar dan tanpa beban, apalagi sahabatmu akan menikah dan kita akan segera pulang ke indonesia" ucap gama tersenyum
'pulang?' mona bersedih dalam hati
"terima kasih karena kk memberikan tumpangan padaku, memperlakukan diriku dengan baik" ucap mona
"bukankah sudah seharusnya?" potong gama
Mona menyunggingkan senyumnya
'sudah seharusnya membantu orang, apalagi arkana dengan jelas memintanya' pikir mona sedih
Gama tersenyum penuh dan beranjak mendekati mona dan mengusap lembut kepala mona
"kembalilah berkemas, kita akan pergi setelah sarapan dan semuanya beres"
'kk kenapa sikapmu seperti ini?' protesnya dalam hati
"iy.. ya" jawab mona
Gama menyipitkan matanya menatap mona yang sepertinya menahan sesuatu
"kenapa? kau mau bicara sesuatu?"
Selama beberapa jam, hampir seharian mereka melakukan penerbangan pulang ke indonesia. Dengan wajah sumringah vivi tak sabar ingin segera sampai juga mona yang bersemangat akan kembali ke apartemen miliknya, bertemu arin dan menjalankan aktivitas biasanya
"kk akan berpisah dengan kami?"
Mona tersenyum menggelengkan kepalanya "tentu saja tidak, besok hari aku akan menemui arin.. kita pergi bersama?"
Vivi mengangguk senang "baiklah, nanti vivi menemui kk di apartemen"
"okay.. aku menunggumu besok"
"kk.. aku pamit pulang ke apartemenku, thanks for all" ucapnya tersenyum
"biar ku antar"
"tak apa kk, aku"
"tidak ada penolakan" ucap gama yang merebut koper milik mona "driver sudah menunggu" lanjutnya
Setelah gama dan vivi mengantarnya sampai ke apartemen miliknya, lalu mona melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift menuju lantai tujuannya
"dokter mona?" sapa seorang tetangga apartemennya saat ia keluar dari lift
Mona tersenyum
"sudah lama tidak melihat dokter cantik ini?" ucapnya melihat mona membawa serta koper disampingnya
"apa kabar bibi? iyaa kebetulan ada beberapa hal yang harus ku urus" jawab mona ramah
__ADS_1
"baik kabarku baik.. oh ya beberapa hari yang lalu ada surat untukmu. Tanyakanlah nanti di resepsionis" ucapnya
"benarkah? ah ya baiklah nanti akan ku tanyakan pada resepsionis. Terima kasih informasinya bibi"
"iya sama-sama cantik"
"kalau begitu aku permisi masuk"
"ya ya silahkan istirahat, kau pasti lelah" jawabnya
Mona memasuki apartemennya, melangkahkan kakinya masuk ke ruang tengah
"astaga.. aku merindukan sofaku yang empuk ini" ucapnya berbaring telentang menatap langit-langit, matanya menyapu pada ruangan tengah kecilnya itu dan beberapa kemeja juga jas putihnya hingga high heels yang masih bertengger di lantai apartemennya
Krukkkk.. krukk..
"perutku, ya ampun huff.. baiklah masak mie instan saja, pilihan paling cepat dan efisien. Sebelumnya mari ambil pakaian ini.. juga ini" gumamnya bergerak membereskan pakaiannya dan meletakkan high heels di lemari sepatunya
"ah aku tidak tahan dengan keringat lengket ini, perut bertahanlah.. mengalah dengan seluruh tubuh" lanjutnya menggiring koper ke dalam kamar
Malam panjang dilewati mona dengan tidur pulas di kasurnya, hingga hari kini telah berganti dengan sejuknya pagi yang indah
Ceklek..
"kk.." pekik vivi dengan menenteng paper bag berisi makanan
"vivi bawakan sarapan" lanjutnya mengarahkannya pada mona membuat mona meraihnya
"mari masuk, maaf apartemennya tidak terlalu besar"
"vi aku kaget kamu bilang sudah di jalan, kupikir kita akan pergi siang hari" lanjutnya berjalan lebih dulu, ia berjalan ke meja makan meletakkan bungkusan makanan yang vivi bawa
Gama yang baru saja selesai menelepon ikut masuk dan menutup pintu, ia mengerutkan alis matanya seraya tersenyum lucu melihat penampilan mona
'sungguh lucu.. dia semakin menggemaskan' ucap gama dalam hati
Perempuan itu masih menggunakan sandal bulu tebal dengan daster pendek bergambar gajah kecil juga bandana penghalang rambut serta wajah yang putih karena masker yang menutupi wajahnya
'benar-benar gadis kecil' pikir gama
Vivi menoleh pada gama yang tersenyum lucu melihat penampilan mona, ia menaikkan bahunya acuh lalu memilih diam dan duduk disofa
'dasar' pikirnya menggelengkan kepalanya seraya mencari chanel tv yang bagus
"pagi.. mau aku bantu?" ucap gama tersenyum tepat di samping mona, terlihat gadis itu terkejut dengan kehadiran gama
"kk disini?"
"kau pikir? tentu saja, tidak mungkin hanya menemani anak kecil itu" jawabnya
Dengan santainya ia merangkul mona dan mencium kepala mona
"belum mandi?" tanya gama dengan santai
"aromamu masih bau bantal" goda gama mengerlingkan mata
Mona mengerjap kehabisan kata, membuat gama mencubit gemas hidung kecil itu
"mandilah.. biar aku siapkan" ucap gama santai dan mengambil beberapa piring untuk mereka sarapan
Glek.. mona menelan ludahnya payah, hingga membuat dirinya menurut dan mandi
__ADS_1
Setelah ia mandi mona menghampiri kakak beradik itu, mereka lalu sarapan bersama dan setelahnya pergi menuju rumah arin dimana ia tinggal sekarang. Mona begitu senang dan bahagia bisa bercengkerama kembali dengan arin, ibu dan juga kk faidhan yang baru ia temui hari ini.. rasanya mereka benar-benar keluarganya. Tak hanya arin yang merasa baru memiliki kk tapi rasanya ia juga, bagaimana tidak? sikap faidhan sungguh baik padanya dan memperlakukannya seperti adik.. mencerminkan seorang kakak yang baik dan ramah, walau sikapnya itu lebih kaku dari arkana. Tapi membuatnya merasa santai dan nyaman tanpa rasa canggung berlebih di saat pertemuan pertama
Next episode,,