My Charming Boss

My Charming Boss
Kepanikan seisi mansion


__ADS_3

Sejak pagi hingga kini Arin terus menempel pada Arkana, bahkan saat berkemas pakaian Arin tetap meminta Arkana menemaninya. Semakin dekat waktu Arkana akan berangkat semakin cengeng pula istrinya itu, bagaimana tidak? perempuan itu menangis tanpa suara sejak tadi


Jujur saja Arkana menjadi serba salah, ia ingin menenangkan istrinya itu tetapi ia juga tidak ingin jika Arin akan tetap menahannya dan semakin berat untuk pergi


"sayang, mas pergi ya.. mau anter sampe halaman depan?" tanya Arkana


Arin mengangguk lalu berjalan yang seraya didalam dekapan Arkana


Saat mereka menuruni tangga kini mata Kakek menatap tanya pada cucu menantunya itu, terlihat mata sembab dengan wajah yang sekarang semakin pucat dari malam tadi


"Arin.." panggil kakek


Arkana tersenyum memeluk pinggang istrinya, dan sekejap mencium pelipis mata Arin


"tak apa kek, hanya sedih melepas suaminya ke luar kota" goda Arkana melihat Kakek mengkhawatirkan istrinya


Arin berusaha menampilkan senyuman di bibir manisnya. Sejak pagi memang ia tak bersemangat, bahkan wajahnya yang biasa cerah kini sedikit terlihat mendung, wajah pucat semalam pun bukannya hilang malah bertambah jelas


Kakek berusaha menahan diri untuk tidak bertanya langsung pada cucu menantunya itu, tapi sekarang melihat Arin dengan mata memerah sembab membuat Kakek tak tahan untuk tak bersuara


"tak apa sayang, jangan terlalu cemas Kakek kan ada disini bersamamu" ucapnya mengelus kepala Arin, hingga membuat perempuan itu menolehkan wajahnya dan berpindah menjadi memeluk Kakek


Tangisnya pecah saat Kakek menyapanya, ia sungguh sedih saat Arkana akan pergi. Entah mengapa akhir-akhir ini hatinya tidak tenang jika berjauhan dengan suaminya.. rasanya ia begitu khawatir sesuatu akan terjadi pada Arkana


"hiks.. Kakek.. hiks.."


'ya tuhan..' Arkana kehilangan kata melihat Arin menangis tersedu-sedu di pelukan sang Kakek


"shuttt.. tak apa sayang, suamimu hanya sebentar disana" ucap Kakek mengelus rambut panjang Arin yang tergerai


"hiks.."


Melihat Arin yang tidak berhenti, membuat Kakek merangkul Arin untuk duduk di sofa. Dengan segera pula bi Yaya membawakan air putih untuk nyonya mudanya. Kakek memberikan isyarat agar Arkana segeralah biacara bahwa sudah waktunya ia harus berangkat pergi


"sayang.."


Namun Arin masih menengelamkan kepalanya di dada Kakek


"aku harus pergi.. waktunya sudah mepet" ucap Arkana yang melihat pada Kakek yang menganggukkan kepala, menyuruhnya agar segera pergi


"mas mencintaimu, muach" ciumnya di atas kepala istrinya


Namun baru dua langkah Arkana melangkah Arin segera beranjak melepas pelukan kakek, dan segera menghamburkan pelukannya pada Arkana


"Arin.. hiks.. mas.. harus telpon, harus.. tidak boleh telat. Harus video call.. saat akan tidur, Arin.. tidak bisa tidur kalo mas tidak ada" ucapanya yang semakin mengecil terdengar


Arkana menyunggingkan sudut bibirnya, "iya sayang.. muach, keinginanmu adalah perintah nyonya Arkana Selmer" jawabnya tersenyum menyentil hidung mungil Arin


"hm.. Arin tidak mau mas telat mengabari.. pokokny.. ponsel mas harus selalu aktif" ucapnya memberondong dengan mengatur nafasnya kembali


'kenapa istriku sekarang bersikap cerewet?' pikirnya geleng-geleng


"permisi tuan" ucap Tomi


"yaya tunggulah di mobil" jawab Arkana


"baiklah.. baiklah sekarang sudah hampir terlambat, ingat jangan lupa jadwal makanmu dan jangan terlalu lelah. Acara Gama dan Mona tidak lama lagi" ucapnya agar Arin lebih memikirkan acara sahabatnya nanti


Arin mengangguk paham, ia berusaha agar tidak cengeng lagi. Arkana harus segera pergi.. bagaimana pun sikapnya tidak dibenarkan jika terus menghalangi pekerjaan suaminya


"mas hati-hati" pekiknya yang kini dirangkul Kakek di depan mansion


"tentu.. Kek jaga cucu menantu kesayangan Kakek" ucap Arkana


Ia melambaikan tangan pada mobil Arkana yang kini perlahan meninggalkan manison. Kini tangisnya pecah kembali saat mobil yang membawa Arkana menghilang


"sayang.."


"maaf kek, hiks.. Arin terlalu berlebihan yaa?" tanyanya seraya tertawa kecil


"haha tak apa, ayo kita masuk.. kamu mesti istirahat hm?"


Arin mengangguk setuju, ia menyadari bahwa dirinya membutuhkan istirahat


Malam pun tiba, kini Kakek menunggu Arin di ruang makan. Untuk makan malam bersama, namun Arin sejak tadi belum keluar dari kamar. Kakek bertanya pada bi Yaya, apa yang dilakukan cucu menantunya itu kini sehingga belum muncul untuk makan malam

__ADS_1


'apa cucuku sedang galau karena cucu cerewet itu pergi? hm..'


"tuan besar, nyonya muda masih tertidur" lapor bi Yaya


"tidur?"


"iya tuan besar"


"ah.. sepertinya dia memang sedang galau" gumam Kakek


"panggilkan Arin bi, bangunkan dan bilang Kakek menunggunya di meja makan. Tidak baik dia melewatkan makan malamnya" ucap Kakek di kursi makan seraya memainkan gadgetnya


"baik tuan" ucapnya lalu berlalu ke kamar tuan mudanya


Tok tok tok


"permisi nyonya" ucapnya mengetuk pintu, lalu ia membuka perlahan pintu karena Arin tak kunjung membukanya


Perlahan ia mendekati Arin yang masih pulas tertidur di ranjangnya yang empuk


"nyonya.." ucapnya pelan mendekati Arin


Ia kembali memanggil seraya menyenggol lengan Arin


"eughh" lenguhnya lalu membuka matanya perlahan


"maaf nyonya, tuan besar menunggu nyonya muda untuk makan malam di bawah"


"ahh?"


"ya tuhan bii, Arin ketiduran.. ini.. ini jam berapa?" tanyanya yang segera duduk mencari ponselnya


"sudah jam tujuh malam nyonya"


"astaga.. ya ampun, bisa-bisanya aku ketiduran. Baiklah sebentar bi" jawabnya bergegas ke dalam kamar mandi dan mencuci wajahnya


'pulas sekali tidurku' pikirnya menatap dirinya di cermin


"Kakek" panggilnya seraya berlari kecil menghampiri Kakek


"hei.."


"tak apa, apa sudah baikan?" tanya Kakek


"hm.. Arin lebih segar setelah hibernasi panjang" ucapnya terkekeh


"haha baiklah setelah berhibernasi pasti perlu asupan makananan yang banyak" jawab Kakek yang tentu disetujui Arin


________________


Keesokan harinya, Arin kembali murung. Terakhir Arkana menghubunginya tadi malam, saat akan tidur. Namun hingga siang ini tidak ada telpon atau video call bahkan sekedar pesan yang masuk


"Arin?"


"ya kek?" sahutnya yang sedang duduk diam di halaman belakang


"Kakek akan pergi ke mansion Kakek Genta, apa kau ingin ikut?"


Arin menggeleng "Kakek saja, Arin sepertinya di mansion saja" ucapnya


"benar? tidak ingin ikut?" Kakek memastikan


"hm.."


"baiklah, mungkin Kakek akan kembali sore nanti. Jangan terlalu sedih Kana belum menghubungi, mungkin ia sedang berusaha agar urusan disana cepat selesai dan cepat kembali"


"iya kek"


"lebih baik isi kegiatan dengan hal positif, jadi tidak bosan dan berpikir macam-macam" ucap Kakek


"hmm, Kakek bersenang-senanglah" jawab Arin tersenyum penuh


"baiklah Kakek pergi ya.. Assalamualaikum" ucapnya mengelus kepala Arin


"waaalaikumsalam kek"

__ADS_1


Kini ia menghabiskan waktunya di dalam mansion, dan menuruti saran Kakek, seraya membuat cake strawberry dan menunggu cake matang di oven kini Arin lalu menata bunga-bunga cantik di vas bunga untuk setiap ruangan


"permisi nyonya muda?"


"ya bi?"


"itu pesanan nyonya sudah sampai"


"ah, sudah datang?"


"iya nona"


"baiklah.. ayo bi, bantu Arin sebentar ya?" ajaknya ke halaman depan


Kini disinilah mereka, di halaman belakang mansion. Nyonya mudanya itu membeli pohon bunga matahari dan tanaman kaktus untuk di tanam di mansion, ia juga membeli beberapa pot bunga untuk dipindahkan tanaman tersebut dari poly bag


Saat ini terik siang cukup terbilang panas, namun nyonya mudanya itu tidak mempedulikan rasa panasnya siang.. walau mereka berteduh di gazebo tetap saja udara yang panas membuat keringat kini mengalir dari dahi Arin. Namun karena semangat dengan tanaman yang ia hendak tanam, nyonyanya itu tidak begitu peduli dengan panasnya terik. Sesekali ia menyeka keringatnya


"eummm.. bibi cium aromanya?" tanya Arin tersenyum penuh


"ah iya, sepertinya cake strawbery nyonya sudah matang"


"bibi benar, baiklah Arin lihat dulu kedalam ya" ucapnya lalu bergegas masuk ke dalam mansion


"iya nya.."


"harumnya cake buatan nyonya muda, beruntungnya punya nyonya muda baik seperti nyonya muda Arin" gumamnya seraya bersenandung kecil


Saat di pertengahan menuju dapur tiba-tiba ia merasakan pusing seketika


'duh kenapa gelap ya' ucapnya dalam hati seraya memegang kepalanya dengan melangkah pelan menjangkau meja buffet


"ya allah.." gumamnya merasakan pusing bertambah,


Perlahan lama kelamaan penglihatannya mulai kabur dan buram. Pegangan tangan yang ia gengam di meja buffet kini lepas secara perlahan, tak sengaja sikunya menyenggol vas bunga yang baru saja ia letakkan tadi


'ah tadi belum di letakkan sarung tangan untuk mengambil cake di oven, nyonya pasti sibuk mencari' pikirnya kemudian beranjak melepaskan sekop kecil tanah dipot, namun saat akan beranjak ia mendengar suara pecahan kaca terdengar nyaring


Prang..


'apa itu' pikirnya berlarian dengan cepat melihat asal suara


"astaga nyonya..." pekik bi Yaya yang melihat Arin


Kini nyonya mudanya telah tergeletak dilantai, bahkan suara bi Yaya yang berteriak histeris sempat Arin dengar walau hanya beberapa detik. Dan setelahnya ia tidak tahu apa yang terjadi


"nyonya.. ya allah nyonya muda"


"tolong.." pekiknya membuat asisten rumah tangga yang lain seketika panik berhambur menghampiri teriakan bi Yaya


"panggilankan jaja, cepat.. kita bawa nyonya ke rumah sakit. Telpon tuan besar, cepat.. cepat" paniknya


"ayo.. bantu mengangkat nyonya" ucap bi Yaya pada beberapa ART perempuan disana


Kini mereka berada di mobil, menuju rumah sakit. Tangan bi Yaya gemetar saat memegang telpon menunggu jawaban panggilan dari tuan besarnya


📞 "ya hallo?"


📞 "tuan besar.., maaf nyonya muda.. nyonya muda pingsan di mansion. Saat ini kami sedang berada di jalan menuju rumah sakit" jelas bi Yaya walau tersendat, ia terus memandangi nyonya mudanya yang kini berada di atas pangkuannya


📞 "apa? bagiamana bisa? ya allah.."


📞 "kalian.. kalian.. sekarang menuju rumah sakit?"


📞 "ya tuan besar" jawab bi Yaya


📞 "temani Arin selalu, tunggu aku tiba disana. Cepat minta tangani cucu menantuku setiba disana.. Mengerti!"


📞 "baik tuan"


Tut


Seketika itu Kakek mematikan sambungannya


"ya tuhan.. ku mohon jaga nyonya muda, semoga ia tidak apa-apa" doa bi Yaya

__ADS_1


"cepat jaja" ucap bi Yaya pada sang driver


Next episode,,


__ADS_2