
Ia terus menatap perempuan tersebut dan arkana.. seolah ingin tetap berada di sana dan tidak akan melewatkan pertunjukan yang ada di depan matanya
Pandangannya yang menatap lekat pada dua orang di depannya itu tidak mampu ia alihkan, hingga membuat menggenangnya cairan di pelupuk mata cantiknya
Dari kejauhan mona memandang arin yang sedang berdiri diam di pinggiran lorong keluar dari toilet
'ngeliatin siapa sih arin?' gumamnya seraya mengikuti pandangan arin.. dan membuatnya menghampiri arin
"eh rin, ngapain??" tanya mona
Seketika kesadaran arin mulai kembali saat mona menepuk pundaknya, dengan pelan arin mengubah pandangannya pada mona
Raut wajah sedihnya tidak mampu ia tutupi di hadapan mona
"rin.. ada apa? kamu" belum sempat mona bertanya arin sudah berjalan dengan cepat keluar dari restoran
'arin nangis?? kenapa?' pikirnya dengan bingung
Tanpa berbasa-basi lagi mona berlari kecil menyusul arin yang sudah hilang dari pandangannya
Mona keluar dari restoran dan menyapu pandangannya mencari dimana arin berada..
Hingga ia menemukan bahwa ternyata sahabat baiknya itu terlihat sedang menunduk dalam dan duduk dengan sendirinya di bawah penerangan lampu halte bus depan seberang restoran
'sebenernya ada apa sih denganmu??'
'tiba-tiba udah begini aja'
Lalu mona berjalan dan duduk di samping arin, ia menghela nafasnya dan memperhatikan sahabatnya itu
"kamu ngapain di sini?" tanya mona
"aku nggak tahu harus nunggu kamu dimana mon?, aku juga nggak tahu kamu parkir mobil di mana.. jadi aku putuskan menunggu bus di sini, karena mungkin kamu bakal pulang, karena aku main pergi aja keluar restoran" ucapnya dengan pelan dan tercekat karena menahan tangis
Namun mona diam saja dengan tetap memandang arin, karena tidak ada sahutan dari mona akhirnya membuat ia mendongak menatap mona yang ada di sampingnya
"mon.." lirihnya
Dengan cepat mona menarik arin dan memeluknya.. sedangkan arin tidak bisa menahan air matanya lagi, ia meluapkan perasaannya di pelukan mona
"shutttt.. dasar cengeng"
"berhenti dulu dong nangisnya" mona melepaskan pelukannya
"ayo ikut.." ucapnya berdiri menggenggam tangan arin
Sedangkan arin sudah menyeka air matanya dan lebih tenang dari sebelumnya, rasanya pelukan sahabat sungguh sangat berarti membuat suasana hatinya menjadi lebih baik
"mau kemana mon?" tanyanya
__ADS_1
"udah jangan banyak tanya.. ayo, nanti bilang sama ibu kamu tidur di apartemen aku aja. Jangan pulang, tuh mata keadaan begitu" ucap mona
Dengan pelan arin mengikuti langkah mona dan menggangguk mengiyakan ucapan mona
"tapi besok aku kerja mon" ucapnya
"one setku masih banyak kok buat kerja, nggak perlu ambil pusing" jawab mona
Mona mengajak arin untuk pergi dari restoran, sejak saat arin memasuki mobil ia tidak berhentinya menangis.. mona mengemudikan mobilnya menuju taman danau yang pernah mereka kunjungi sebelumnya, mona berpikir arin akan lebih merasa tenang jika mereka bercerita disini
"kita ke sini mon?" tanya arin menyeka air matanya
"hm.. yuk turun" ajak mona
"kita mau" sebelum arin bicara mona telah memotong pembicaraan arin
"bentar, kita pesen makanan dulu.. emang nggak laper?" tanya mona
Arin tersenyum memperlihatkan giginya "hehe maaf ya mon, kita nggak jadi makan deh tadi" ucapnya
"pokoknya harus cerita aja semuanya.. semua rin" ucapnya
"iyyaiya mon" jawabnya seraya berjalan ke arah gerobak mie ayam
"pak kita pesen mie ayam pangsitnya ya dua porsi, boleh nanti dianterin ke sana pak?" tunjuk mona di kursi taman menghadap ke arah danau
Pedagangnya mengangguk "boleh.. ditunggu ya neng"
Mona berjalan duluan yang diikuti oleh arin "haus kan lama sih nangisnya.. ayo duduk"
Mereka berdiam diri menatap danau tenang yang dihiasi beberapa lampu lampu penerang danau
"suasana disini kalo malam enak juga ya mon" ucap arin menatap danau di depannya
"hm.. cocok buat penghilang penat kan?" tanya mona
Dengan pelan arin menghela nafasnya
"sebenarnya ada apa rin??" tanya mona yang tanpa melihat arin
"maaf neng.. ini mie ayam pangsitnya" ucap pak pedagang
"terima kasih ya pak" ucap mona mengambil dua mangkuk mie sedangkan arin mengambil dua air mineral di atas mampan "ini uangnya pak" diberikan mona
"terima kasih neng"
"sama-sama pak" jawab mona
Dengan santainya arin dan mona menyantap mie ayam di hadapan mereka
__ADS_1
"mon.." ucap arin
"hm??"
"maaf ya kalo aku nggak cerita sama kamu" ucapnya dengan mata berkaca-kaca
"duh nanti aja nangisnya.. dari tadi juga udah banyak di mobil kan" goda mona
"monaaaa.."
"aku tahu kok rin.. nggak usah di perjelas, sekarang mau cerita atau nggak nih?" tanya mona
Arin mengangguk "mon sebenarnya tadi aku.. hm.. liat mas arka lagi makan sama perempuan di restoran itu" ucapnya lirih
Mona mengangkat alisnya "ha?? mas?.. yang kemarin?, bos kamu? arkana itu?" tanyanya dengan mata melotot
Arin hanya mengangguk seraya mengunyah makanannya
"udah berapa jauh hubungan kamu sama tuh orang, pake panggil mas segala?, nggak cerita-cerita lagi.. nggak nganggep aku temen lagi"
"ya maaf mon, aku pikir kamu ngeledek nanti.. akunya cuma gr doang" ucapnya manyun
"ih gemes deh.. sekarang cerita"
"hm.."
"cerita dari kapan itu panggilan mas bisa ada?" tanya mona
Arin menceritakan semuanya dari awal pada mona, bagaimana bisa memanggilnya mas, hubungan mereka yang sepertinya semakin dekat, bagaimana mereka pergi bersama menonton pertunjukan sirkus dan bagaimana saja interaksi mereka sampai mendetail
"arin... yang bener aja? kalian udah punya hubungan nih?, kamu ini kekasihnya tuan muda yang ditakuti itu?"
Arin menggelengkan kepalanya "aku nggak bilang gitu.. lagian mas arka itu charming kok nggak menakutkan" jawabnya
"oh god.. charming?? barusan juga nangis" ucapnya pelan seakan tidak terdengar
"oke gini mungkin kalian belum resmi punya hubungan, tapi hal itu bener-bener menunjukkan kalo si arkana itu punya perasaan lebih sama kamu rin, dia suka sama kamu.. bos kamu yang jutek itu deketin kamu, cinta tuh ma kamu. Masa iya masih mikir gr? dah jelas gitu kok" ucap mona menggelengkan kepalanya
"apa mungkin mon? lalu yang tadi aku lihat?" tanyanya dengan wajah harap cemas
"mungkin salah paham kali.." jawabnya santai
"mon? kalau aku cuma jadi mainannya gimana?" tanya arin menatap mona lekat menunggu jawaban dari temannya itu
"eh dari mana tuh pikiran?" tanya mona
"ya mungkin aja kan, mas arka itu ganteng, punya segalanya, pasti cewek-cewek banyak yang deketin dia kan mon?" tanya arin yang memikirkan omongan yogi
"gini-gini kita selidikin aja gimana?" tanya mona
__ADS_1
"ha? maksudnya??" tanya arin bingung
Next episode,,