
Arkana menggeleng perlahan, bagaimana mungkin perempuan kecil yang di sebutnya akan menggerogoti harta kakeknya itu ialah gadis lolanya sendiri dan dengan bodohnya ia menggebu menuding sang kakek menyukai seorang gadis yang lebih cocok menjadi cucunya
'cheesecake buatan arin, yaa pantas saja rasanya tidak asing.. aku mencobanya pertama kali saat kakek membawanya'
'oh sayang.. kau pandai mencuri hati seseorang, aku harap hanya kakek saja yang berada dekat denganmu selama ini' ucapnya dalam hati
"sekarang apa yang berada di kepalamu?" tanya kakek
Arkana tersadar dan menggelengkan kepalanya "bagaimana ricky?" ucapnya beralih dari kakek
"nona berada di kota lain tuan," jelas ricky
"ahliku mendapat sinyal gps nona, ia perlu memastikan dengan akurat titik tempat nona berada"
"baiklah kita bergerak," ucap arkana yang begitu menggebu
"jarak dari tempat yang terdeteksi lumayan jauh tuan, sepertinya mereka merencanakannya dengan baik tuan, kita harus bergerak menyusul mereka dengan cepat. Sekarang juga.. guna memperkecil resiko yang mungkin saja bisa menyakiti nona" jelas ricky
"kita pergi sekarang.. kau dan gama ikut bersamaku" titah arkana pada ricky
"kana, jangan gegabah" ucap kakek
Arkana mengangguk "kana akan membawa cucu menantu kakek kembali dengan selamat" ucapnya
'ya tuhan, kumohon bantu kana menemukan arin kesayanganku.. jangan biarkan cucu menantuku mengalami hal buruk' doa kakek dalam hati
"hubungi yang lain gama," ucap arkana yang berjalan keluar dari mension
Kini mereka pergi meninggalkan kota, mengikuti arah gps yang mengarahkan mereka kepada keberadaan arin, dengan ricky yang tetap fokus mengikuti arah titik, gama yang menyebar informasi kepada orang-orang untuk mencari tahu kemungkinan mengapa arin berada disana.. atau mungkin ada lawan bisnis arkana yang dengan berani mengusik kehidupan arkana
Sedangkan arkana sendiri memegang kendali atas mobil yang ia kendarai, ricky atau gama terlalu lambat membawa kendaraan. Sehingga arkana memutuskan melajukan kendaraannya sendiri
"apa?.. ada apa ricky?" tanya arkana yang melihat ricky dengan wajah gusar
"sepertinya titik dimana nona berasal bergerak tuan.." jawab ricky
"apa mereka mengetahui jika kita menuju kesana?" tanya gama
"pengkhianatan" teriak arkana memukul kemudinya "siapa yang kau hubungi gama?" tanya arkana memandang gama dengan mata yang merah
"hanya leo, tomi, dan juga bram" ucap gama berpikir
"kali ini diam dan jangan hubungi siapa pun," titahnya
"hm.." jawab gama
'mereka begitu menantang diriku heh.. lihat dan tunggu' gumamnya
__ADS_1
"ambil jalan kanan di depan tuan" ucap ricky yang membuat arkana kembali fokus pada kemudinya
"kana kau ingin mati hah??" teriak gama saat arkana melajukan mobil dengan kecepatan tinggi,
Berbeda dengan ricky yang hanya diam dan tidak memprotes tindakan tuannya itu, sedangkan arkana juga tidak menanggapi teriakan dari gama.. ia melajukan kendaraannya dengan penuh konsentrasi
'huffftt.. aku bisa mati dibuatnya begini, lagi pula anak buah siapa yang berani berkhianat?' tanyanya dalam hati
"kita akan menunggu dari jalan yang akan mereka lewati, dan menutup akses jalan yang mungkin akan mereka lalui.. jika bagus kita bisa menghadang kendaraan yang membawa nona" jelas ricky dengan sedikit berteriak
"hm.. kita akan menghadang mereka" ucap arkana
Sepanjang jalan arkana hanya mendengarkan arahan dari pada ricky, namun tidak lama kemudian terdengar suara tembakan yang mengarah ke arah mobilnya
Dor..
Dor..
Tarr..
Beruntung kini mereka tidak sendiri, sejak tadi tomi dan beberapa bawahannya juga orang-orang leo sudah bergerak mengikuti mobil arkana. Lalu dengan sigap tomi dan juga bram memepet mobil arkana dari sisi samping
Sedangkan anak buah leo dan yang lainnya melakukan perlawanan terhadap lawan yang berada di kendaraan lain
"brengsek" gumam arkana
Suara ban mobil berdecit dengan jelas di hadapan mereka, dengan posisi samping.. dimana pintu mobil tersebut berhadapan langsung dengan mobil arkana
Mobil putih dengan kaca belakang yang kini terbuka dengan lebar, menampakkan seorang perempuan yang bersandar tak sadarkan diri di kursi penumpang belakang kemudi dengan kain penutup mulut yang menutupi sebagian wajah cantiknya
"arin.." gumam arkana pelan
Dengan emosi yang memuncak arkana membuka pintu mobil, dan berlari menuju gadisnya yang berada di dalam mobil tersebut
Namun dari arah belakang, datang sebuah mobil pick up yang melaju dengan kecepatan penuh mengarah ke arah mobil dimana arin berada.. dan
Darrr..
Mobil yang membawa arin terpelanting dengan hantaman yang begitu jauh dari tempatnya berada. Arkana terkejut melihat semuanya tepat di hadapannya..
"arinnn...." teriak arkana
Secepat mungkin ia berlari menggapai arin, kerasnya hantaman membuat mobil menjadi terbalik dan menyebabkan percikan api muncul dari bagian kap mobil..
Arkana panik dengan air mata yang sudah mengalir di kedua bagian pipinya
"sayang.. sayang" teriak arkana mengapai arin dari luar mobil, posisi arin yang tergeletak dan mobil yang sudah terbalik membuat arkana sedikit kesulitan untuk menarik tubuh arin keluar
__ADS_1
"tarik kana, cepat.." teriak gama disampingnya, gama bergerak menggeser posisinya lebih dekat pada arkana dan membantu arkana mengeluarkan arin dari mobil
Greep.. arkana kemudian mendapatkan gadisnya lalu merengkuh tubuh itu dengan begitu erat, dalam pelukannya arkana menangis seraya menciumi wajah arin dengan bertubi-tubi
"sayang.. dengar mas disini," ucapnya bergetar
Bersamaan dengan itu, gama menyeret tubuh arkana yang tetap memeluk arin untuk menjauh dari mobil tersebut
DUARRR
Ledakan mobil terdengar begitu kencang, juga dengan api yang menyambar dengan cepat dan menghanguskan mobil dengan seketika.. arkana menggeleng mengingat jika ia terlambat sedetik saja menyelamatkan gadisnya, maka ia akan menyesalinya seumur hidup. Kini sejengkal pun arkana tidak melepaskan pelukannya terhadap arin yang kini tetap berada di dalam pelukannya
"tomi,"
"tomi cepat siapkan mobil.. cepat tomi" teriak arkana
"aku dan ricky akan mengurus sisanya disini" ucap gama
Arkana mengangguk paham
"sayang... sayang bertahanlah" ucapnya mengelus lembut pipi chubby arin
"kumohon," isak arkana yang sudah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher arin
"kana, ayo" ucap bram yang sudah duduk disamping tomi yang kini memegang kemudi
Sepanjang perjalanan mereka ke rumah sakit arkana tidak mengalihkan pandangannya yang terus menatap wajah sembab milik arin, hatinya teriris melihat luka lebam disudut bibir yang kini terlihat begitu pucat, pipi chubby yang biasanya merona kini terlihat merah bekas tamparan tangan seseorang, lengan baju yang robek memperlihatkan goresan luka yang sebagian memenuhi lengan arin
"apa yang sudah mereka lakukan padamu sayang?" gumam arkana yang mengecup pelan punggung tangan arin
"jangan biarkan mereka lolos, aku tidak akan membiarkan mereka bebas setelah dengan berani menyakiti gadisku" ucap arkana yang sudah mengepalkan tangannya
"tentu tuan" ucap tomi
"kami akan mengurus semuanya kana," ucap bram kemudian
Dengan tergesa-gesa arkana memasuki ruangan UGD rumah sakit, ia meletakkan arin ke atas ranjang pasien
"tuan tolong tunggu diluar" ucap perawat yang kini sudah menutup gorden tempat ruangan arin
Dengan perasaan gusar dan penampilan yang kini semakin tidak karuan, arkana duduk menutup wajahnya dengan sesekali mengacak rambutnya sembarangan
"sebaiknya kau kabari kakek tomi, pasti saat ini kakek sedang mengkhawatirkan arin" ucap bram
Tomi mengangguk setuju "saya akan mengabari tuan besar" ucap tomi merogoh sakunya mengambil ponsel
"dan ya.. jangan lupa pinta pakaian baru pada bi yaya untuk arkana, setidaknya ia bisa sedikit lebih baik" lanjutnya
__ADS_1
Next episode,,