
"kenapa sih neng??" tanya mona
"ha? enggak" jawab arin menggeleng
"yee pake acara rahasia-rahasiaan" ucapnya mendengus seraya mengemas kue ke dalam box
Ibu yang berjalan berlalu melewati mereka pun ikut bicara "itu mon.. udah beberapa hari masnya nggak dateng" ucap ibu menggoda arin
Arin hanya cemberut mendengar ibu menggoda dirinya
"ck.. ck.. bucin" ucap mona terkekeh
Ibu tersenyum menggelengkan kepalanya kembali ke dalam dapur
"siapa sih.. nggak mon, aku itu lagi mikir nanti mau ketemu sama orang di caffe" jelas arin
"sama siapa? cowok? bilang nggak ama arkana?" tanya mona mendelik
"aku udah kirim pesen sama mas arka, tapi belum ada balasan" ucap arin yang masih sibuk menata kue dalam box
"hm.. mau jam berapa kesana?" tanya mona
"rencananya sih sore ini"
"kerja aja kamu nggak di kasih izin sama arkana, ini mau pergi. Emang mau ketemu siapa sih rin?"
"sama orang yang mau jual motornya mon, kemarin aku ada lihat di sosmed kalo dia jual motor second.. kelihatannya masih bagus kok, dia bilang akunya bisa nggak hari ini. Jadi ya kita sepakat janjian di cafe deket taman.. nanti temenin ya mon?" tanya arin
"hm.. untung nggak ada jadwal shift hari ini" ucapnya mengangguk
"nanti jadi rin lihat motornya?" tanya ibu yang kini ikut duduk menata kue kering
"jadi bu, insyaallah nanti arin ditemenin sama mona"
"ya udah sekalian ya anterin lima box putri salju ke rumahnya ibu rt ya" ucap ibu
"mona bawa satu box kecil ya bu putri saljunya" pinta mona seraya menampilkan gigi putihnya
"iya boleh, kemas sendiri ya" ucap ibu
Sejak tadi arin mencoba menghubungi arkana, namun hingga kini arkana tidak membalas pesannya. Bahkan nomor arkana kini berada di luar jangkauan..
Kini arin dan mona sedang duduk manis menunggu orang yang akan menjual motornya,
"yakin rin janjiannya disini? kok belum muncul ya tuh orang?" tanya mona mengedarkan pandangannya mencari orang dengan kemeja navy dan topi putih di kepalanya
Arin menggeleng "aku nggak tahu mon, orangnya jadi atau nggak.."
"permisi"
__ADS_1
Saut seseorang yang datang menghampiri arin dan mona. Mona menyipitkan matanya dalam
'nih orang.. bilang tadi pake kemeja navy topi putih. Lah ini? preman??' pikir mona
"arin??" tanyanya
Arin mengangguk "pak doni?"
"ya.. silahkan duduk" jawabnya
Mona menatap arin, begitu pula dengan arin
'bukannya kita ya yang harusnya bilang begitu' pikir mona
"um ada yang ingin dipesan terlebih dulu pak?" tanya arin ramah
"oh cantik jangan seperti itu, apa aku kelihatan tua?.. aku ini masih muda" ucapnya mendekatkan dirinya menggoda arin, beruntungnya ada meja yang memisahkan jarak mereka
"hufft hari begitu panas.. mungkin orange juice terasa enak ditenggorokan" ucapnya
Arin mengangguk dan tersenyum canggung.. lalu memesan apa yang diinginkan pria dengan penampilan urakan itu
"bagaimana dengan motornya pak?, saya pikir lebih baik kita lihat sekarang" ucap mona to the point
"ada di rumahku, kalian bawa uangnya?" tanyanya
"aku membawa fotonya saja" jawabnya
"maaf pak, jika begitu mungkin kita bisa atur waktu kembali nanti saat bapak membawa motornya" ucap arin pelan
"kalian ingin mempermainkanku ha?" bentaknya berdiri seraya menggebrak meja
Seperti di tabu.. jantung arin dan mona berpacu dengan kencang melihat laki-laki itu berlaku kasar. Refleks mona menarik arin berdiri dan sedikit menjauh dari meja yang memisahkan mereka
"perempuan sialan" teriaknya menggema "kau ingin mengubah kesepakatan?"
Arin yang ditunjuk langsung semakin takut dan memeluk lengan mona "ti.. dak pa..k"
"kita pergi rin" ucap mona menggenggam tangan arin
"saya rasa kesepakatan batal, terima kasih atas waktunya" ucap mona cepat tanpa menunggu kembali tanggapan dari preman urakan ini
"hei" ucapnya seraya mencengkram lengan mona. Mona yang merasa sakit dilengannya kini bergetar takut melihat matanya memerah marah memandang mona
Bugg..
Dengan cepat mona menghantam tasnya ke arah laki-laki itu "cepet rin" teriak mona menarik arin seraya berlari meninggalkan cafe
Hush.... Hush..
__ADS_1
Mereka berlari menghilang secepat mungkin ke jalan lain, mona seakan lupa jika mobilnya masih terparkir di depan cafe
Arin menyeka keringatnya seraya bernafas lega, secara bersama mereka menoleh melihat satu sama lain
"hahaha" mereka tertawa terbahak-bahak
"dapet dimana sih tuh orang?" tanya mona mengatur nafasnya dan mendudukkan dirinya di pinggir trotoar jalan
Arin menggelengkan kepalanya tertawa "orang itu buat aku hampir lepas jantung" ucap arin yang sudah duduk disamping mona
"orang gilaakk.. main tarik aja tuh preman urakan. Jangan lagi deh rin.. capek banget lari-larian" ucap mona yang masih lucu mengingat mereka begitu ketakutan
"haha tapi kok lucu ya mon, dah lama nggak lari-larian.. jadi inget waktu kita lari gara-gara kamu nimpuk cowok ganjen di jalan sekolah" ingat arin tertawa
"iyaaya.. haha ampe kita hampir ketabrak ama abang es goyang, ketimpuk kan.. salah ndiri ganjen banget dia kira kita cabe-cabean" jawab mona terkekeh
"huff.. nanti kalo dah nikah kamunya jangan lupa yaa ma aku" lanjutnya
"siapa sih mon? aku juga nggak tahu kapan menikahnya, kamu kali yang duluin aku" jawab arin
"heh.. itu mas arkanya mau diambil orang?" goda mona
"ihhh, jangan mon" cemberut arin
"haha aku jadi kepikiran bisa nggak ya kita gila-gilaan begini, ngelakuin hal-hal gila yang nggak disengaja" ucapnya menatap kendaraan yang berlalu lalang
Arin menoleh pada mona yang sedari tadi memandang ke depan, dengan cepat arin memeluk mona dari samping "pastilah.. mungkin ke depannya bakal lebih seru" ucap arin tertawa kecil
"kamu temen terbaik aku mon, please kita jangan pisah lagi kek masih jaman kuliah dulu" ucapnya pelan
Mona yang mendengar arin menjadi terharu, ia begitu beruntung bisa mengenal perempuan manja nan baik hati ini
'aku nggak tahu kalo aku nggak kenal kamu rin, mungkin sampe sekarang aku nggak punya sahabat juga saudari kek kamu' pikir mona membalas pelukan arin
"eh malu kali... ini kita dijalanan" ucap mona kemudian
"biarin, kamu kan cewek"
"karena aku cewek orang mikirnya neh aneh" ucap mona melepaskan pelukan arin dan mengetuk pelan dahi arin "dah ah yuk" ucap mona berdiri seraya mengulurkan tangan pada arin
"mau kemana? ntar si preman urakannya masih ada" ucap arin bergidik
"tuh" tunjuk mona pada gerobak es cendol "mau nggak?"
Dengan wajah sumringah arin menyambut tangan mona
"pas banget buat ngilangin capek lari-larian" ucap arin tertawa kecil
Next episode,,
__ADS_1