
"apa tidak masalah jika tuan yang membayar?" tanya arin
"hm jangan dipikirkan" ucap arkana lalu memerintahkan tomi untuk membayarnya
Arin mengangguk setuju
"terima kasih ya neng arin, ngomong-ngomong ini yang mana pacarnya neng?" goda pak de
"ah? ini.."
"permisi" ucap arkana memotong pembicaraan arin seraya menggandengnya pergi
"arin permisi pak de, assalamualaikum" ucap arin dengan cepat
Pak de hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku arkana "iya iya waalaikumsalam hati-hati di jalan" balas pak de
Saat mereka sudah sampai di mobil, arin hanya diam dan memasang wajah cemberut seraya membuang wajahnya menghadap keluar jendela
Karena merasa arin tidak baik-baik saja, arkana mulai berbicara "apa ada yang tertinggal?" tanya arkana
Arin menggelengkan kepalanya
Arkana mulai bingung dengan sikap arin, "apa ada masalah atau aku berbuat salah?" tanya arkana
Arin mulai menoleh ke arah arkana "tidak" jawabnya lalu menghela nafasnya
"hanya saja.. um" sebenarnya arin merasa takut tidak berani untuk bicara, tapi karena arkana sudah berbicara lebih dulu maka ia memberanikan diri
"apakah seharusnya tuan tidak seperti tadi?" tanya arin yang sudah menautkan jarinya
"seperti tadi?" tanya arkana
"saat pak de bertanya" jawab arin
Arkana mulai paham kemana arah pembicaraan arin "bertanya tentang?" tanyanya yang mulai menggoda arin
Arin terdiam saat arkana memandangnya "tentang itu.. yang tadi.. tentang.." jawabnya gugup
"pacarmu?" potong arkana
"hm.. maksudnya kenapa harus pergi begitu saja tanpa menjawab pak de dengan benar, rasanya seperti tidak sopan"
"kita bisa menjawabnya dengan baik, mungkin pak de merasa tersinggung saat kita langsung pergi tanpa menjawab pertanyaannya" lanjut arin
"aku adalah kekasihmu" jawab arkana
Arin terdiam kaku dan seketika merona saat mendengar pernyataan arkana, antara senang terkejut entahlah.. tapi semuanya lenyap seketika saat
__ADS_1
"kau ingin aku menjawabnya begitu?" tanya arkana yang menatap lekat wajah arin
Lagi-lagi arin terdiam, namun kali ini wajahnya tidak lagi merona namun berubah pucat saat mendengar kalimat arkana
Arin kemudian menggeleng
"maka lupakanlah, tidak per.."
Tiba-tiba dering ponselnya berdering, memotong pembicaraan mereka
"hm ada apa?" tanya arkana
..... "hehh, bukan urusanmu" tutupnya
Tut. sambungan telepon terputus, dan mobil juga sudah sampai di depan ruko
Sedari tadi arin sudah menundukkan kepalanya, ia berpikir arkana muak dan marah pada dirinya yang dengan lancang bicara seperti itu
sedangkan arkana yang sedari tadi menggoda arin mulai menyadari jika gadis di sampingnya ini tidak merasa begitu 'hm dasar gadis lola'
"kenapa diam?" tanya arkana
Dengan sadar arin mendongakkan kepalanya "saya permisi tuan, terima kasih" jawab arin
"tunggu.." cekal arkana menahan lengan arin saat arin akan membuka pintu
Dengan cepat arin menggeleng "tidak tuan, memang tidak seharusnya saya bicara seperti itu pada tuan.. maaf jika saya tidak sopan" jawab arin
arkana menghela nafas "hm.. maksudku itu tidak perlu di bahas, lagi pula tadi kamu sudah mengucapkan selamat tinggal bukan?, aku juga sudah permisi" ucap arkana
Arin baru paham bahwa arkana tidak marah padanya ataupun tersinggung dengan pembicaraannya, mungkin arkana hanya bergurau saja tadi dan tidak ingin membahasnya. Pikir arin
Arin tersenyum menatap arkana "iyaa" jawabnya singkat
'dia cepat sekali baiknya.. tidak marah-marah dan tetap tersenyum walau dia sempat merasa tidak nyaman dengan ucapanku'
"baiklah, sekarang pulanglah dan tidur dengan nyenyak" ucap arkana
"hm, sekali lagi terima kasih assalamualaikum..selamat malam" pamit arin
Saat arkana berlalu dari ruko dia terus berpikir tentang arin
'dia marah? tidak suka saat aku bicara begitu dengannya, dia kecewa karena aku bertanya?'
'apakah dia berharap aku benar mengatakan itu?'
'jika ia, itu artinya dia menyukaiku, mengharapkanku?' arkana berdialog dengan dirinya
__ADS_1
Ia tersenyum mengingat wajah arin yang merona
Setelah arin selesai membersihkan diri dan shalat isya arin keluar kamar untuk merebahkan dirinya di depan tv seraya bercengkrama dengan ibu
"ini dianter sama siapa sih tadi?" tanya ibu menggoda arin yang sudah duduk di depan depan tv
Arin duduk menghampiri ibu yang sedang bersantai "ibu.." jawab arin malu-malu
"haha sudah punya pacar ya anak gadis ibu?" goda ibu
"bukan bu, itu tadi bosnya arin tuan arkana" jelasnya
"ibu juga tidak masalah kalau kamu suka dengan tuan arkana itu" jahil ibu
"ah ibu mah melantur deh," jawab arin terkekeh
Ibu tertawa kecil saat melihat arin yang sepertinya tertarik dengan bosnya itu
________________
Pagi hari pun telah tiba, arin akan menjalani harinya dengan kesibukannya seperti biasanya..
"ya mon?" jawab arin di telpon
"hari ini bisa temenin aku rin?" tanya mona yang sepertinya menahan kesal
"kenapa mon?" tanya arin
"biasa.. masalah nenek sihir, kesel banget" mona menggerutu
"hm ya udah nanti kita ketemuan saja ya mon, setelah aku selesai kerja mungkin?" tanya arin
"hm aku tunggu di coffe shop depan kantor kamu ya??" tanya mona
"oke siap nyonya" jawab arin
"awas lama, kalo temen lagi bete harusnya dihibur. Jangan dibuat kesel" ucap mona
"jangan sensi gitu dong wkwk, ya udah deh.. bisa telat akunya mon" jawab arin
"iyye bye" tut.. mona sudah memutuskan sambungan telepon
Mona hanya tinggal sendiri di apartemennya, saat ke dua orang tuanya mona meninggal sepupu dari ibunya sangat mencampuri kehidupan mona
Mulai dari kehidupan mona yang tenang berubah menjadi layaknya seorang artis kontroversi, diawasi dan selalu menjadi hujatan netizen. Maka dari itu mona memilih untuk tinggal sendiri di apartemen, agar tidak terusik dengan pengaturan siapa pun. Termasuk tantenya si nenek lampir
Mona melakukan segala cara agar tantenya itu pergi jauh dari hidupnya, namun masih saja ia akan datang seperti jelangkung. Menyebalkan
__ADS_1
Next episode,,