
Cahaya matahari yang cerah telah masuk melalui celah kaca besar yang sebagiannya tertutup gorden putih. Juga udara kamar yang sejuk seakan mendukung dua orang yang semakin nyaman untuk terus memejamkan mata, padahal jam telah menunjukkan pukul 10 pagi. Waktu tidur mereka terbilang singkat, wajar saja jika mereka masih nyenyak terlelap.. setelah subuh mereka melanjutkan aktivitasnya kembali
Senyum manis terpancar indah terukir diwajah arkana, sudah 15 menit yang lalu ia bangun lebih dulu dan memilih diam memandang wajah polos istrinya dengan rambut yang terlihat acak-acakan. Dengan lembut ia mengelus sayang pucuk kepala arin, sesekali ia menekan pipi chubby istrinya berkali-kali
'kamu menggemaskan sekali' tawa arkana yang menghentikan menjahili arin
Terlihat istri chubbynya itu menggerakkan bibirnya merasa terganggu akan tingkah jahil suaminya itu, kini matanya bergerak mengerjap pelan membiasakan cahaya yang mulai masuk ke dalam matanya
"hhumm.." ia menghembuskan nafasnya seraya meregangkan tubuhnya. Wajahnya yang polos khas bangun tidur itu refleks menoleh kearah telapak tangan yang sedari tadi mengganggu tidurnya
"selamat pagi istriku" sapa arkana tersenyum manis lalu mencium dahi arin
Arin tersenyum malu melihat arkana yang begitu dekat dengannya
"hei jawab dulu gadis lolaku"
Sedetik kemudian arkana bergerak menahan tubuhnya dengan lengan sisi sebelah kirinya menghadap pada arin yang tetap berbaring
"ah bukan.. sekarang statusnya berbeda, sekarang sudah jadi wanita seutuhnya" ucapnya mengedipkan sebelah matanya menggoda arin
Semburat rona merah menyeruak di pipi chubbynya, bibirnya tersungging penuh dengan mata yang masih tetap ia pejamkan. Arkana tertawa lepas melihat ekspresi arin, membuatnya menarik pelan istrinya agar mendekat padanya.. tak henti-hentinya ia menciumi seluruh wajah istrinya itu membuat sang empunya merasa semakin malu setengah mati
Saat ini ia hanya menggunakan gaun tidur mini miliknya tadi malam, sehingga membuat pergerakannya menjadi kaku dengan kedua tangannya yang menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya menyisahkan hanya kepalanya saja
Karena gemas arkana menggelitik arin yang mulai melepaskan pertahanan selimutnya, canda tawa menyeruak di seantero ruangan kamar mereka
"hahah mas udah.. arin geli" jawabnya yang berusaha mendorong dada arkana namun sia-sia, karena suaminya itu semakin memeluk dirinya
"jawab dulu sayang"
Cup
Cup
Arkana memberondong arin dengan ciuman kembali dengan bertubi-tubi
"haha iya iya arin jawab.. apa.. apa pertanyaannya?" tanyanya dengan masih cekikikan
Arkana yang masih memeluk istrinya dari samping itu berhenti sejenak lalu memutar istrinya untuk menghadap pada dirinya
"kamu...."
Tawa arin menggelegar semakin kencang melihat wajah arkana yang menatap lekat dirinya
"morning menjelang siang mas" ucapnya lembut dengan memasang senyum terbaik
Arkana diam tanpa ekspresi, membuat arin mengendurkan senyumnya dengan menelan ludahnya gugup
"arin..."
"akkkkh" pekik arin ketika suaminya itu membuat tubuhnya tertarik ke punggung layaknya membawa karung beras.. kemudian dengan mudahnya arkana merebahkan dirinya nya kembali ke ranjang, dan sepersekian detik tanpa disadari suaminya itu tepat berada diatasnya.. mengungkung dirinya dengan cepat
Arkana menatap wajah kaget arin yang terlihat begitu lucu, tanpa babibu lagi ia mendekat pada wajah istrinya itu dan memberikan morning kiss dengan begitu lembut. Membuat sang istri yang belum siap membelalak dan mendorong dada arkana,
"haaaahh" arin berusaha meraup banyaknya oksigen
Arkana yang melihat wajah panik arin kemudian terkekeh.. ia memberikan waktu sejenak untuk istrinya bernafas. Lalu mengulangi lagi aksinya, namun
Krukkk..
Krukkk..
Suara perut arin berbunyi sehingga membuat kegiatan yang mereka lakukan terhenti. Arkana tersenyum lalu mengecup pipi chubby istrinya
"oh istriku lapar hm?"
__ADS_1
"ini sudah hampir siang, kita lanjutkan nanti saja.. ingin mandi terlebih dulu atau makan sarapan yang sudah terlambat?" tanya arkana mengusap bibir arin
"hei.. kenapa diam? masih merindukanku?" goda arkana
Membuat arin tersenyum, dan arkana mengerutkan dahinya
"hihi arin pikir mas arka kesel tadi" ucapnya
"nggak sayang.. malah kalo kamu nggak tahu apa pertanyaannya, kita akan lanjutkan kegiatan tadi malam" jawabnya yang kini mengurai rambut arin
Arin menggelengkan kepalanya "arin mau mandi dulu baru makan" jawabnya cepat
Membuat arkana terkekeh
"baiklah nyonya muda selmer" dengan cepat ia membuka seluruh selimut arin dan menggendong istrinya menuju kamar mandi. Ia sungguh malu, membuat pikirannya kembali melayang mengingat kejadian subuh tadi..
[Flashback on]
Ia begitu terkejut mendapati wajah arkana tepat berada dihadapan wajahnya. Sesaat ia kembali mengingat kejadian semalam yang mereka lakukan
Hingga membuat wajahnya memerah malu
'mas arka suami aku?'
'ini bukan mimpi?' tanyanya dalam hati tersenyum cerah
Bahkan suaminya itu erat memeluk dirinya didalam selimut, masih bisa ia rasakan bahwa mereka sama-sama polos. Membuat arin memerah memejamkan matanya, rasanya ia begitu sangat malu.. bagaimana membangunkan suaminya ini? mengingat waktu subuh akan tiba. Mereka sudah harus mandi terlebih dahulu dan membersihkan diri
"mas" dengan pelan ia memberanikan diri untuk membangunkan arkana
"ehkm.. mas" ucapnya kembali mencoba membangunkan arkana, bahkan ia tidak berani menggerakkan tubuhnya.. ia hanya menggerakkan tangannya untuk mencoba menyentuh lengan arkana
"mas arka" ulangnya
'mas arka bener-bener tampan' pikirnya
Sedangkan suaminya itu semakin mempererat pelukannya.. membuat arin menjadi kaku
"ma.. mas.. ini sudah.." ia menelan ludahnya sulit "akan subuh" lanjutnya gugup
Arkana menggeleng pelan
"sayang.. kamu seperti nyata" gumamnya dengan menghirup aroma rambut arin, lalu berhenti sejenak berpikir lalu membuka matanya lebar memandang arin
"muach.. muach.. sayang.. istriku.. arin" ucapnya memeluk arin tanpa berniat melepaskan
"mas subuhnya?"
Dikecupnya dahi arin "baiklah.. ayo kita mandi" senyumnya terbit
Membuat arin mematung seketika, bagaimana mungkin ia duduk atau berdiri pergi? ia tidak mengenakan apapun saat ini, hanya selimut menutupi seluruh tubuhnya dengan genggaman tangannya yang begitu erat
Arkana yang mengerti akan sikap arin hanya tersenyum geli, kemudian ia mengulurkan tangannya menjangkau nakas untuk mengambil handuk. Arin pun mengalihkan pandangannya saat arkana akan berdiri.. ia memilih bergerak untuk duduk dan berdiri melilitkan selimutnya, namun saat akan berdiri
"akkh.." ia meringis karena menggerakkan kakinya dan merasakan perih
Tanpa ia sadari, kini suaminya itu berdiri dihadapannya dengan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. Ia berjongkok di depan arin yang duduk membiarkan kakinya menyentuh lantai
"apa sangat perih?" tanyanya menggenggam tangan kiri arin
Namun istrinya itu tersenyum malu mendengar pertanyaan dirinya
"bukankah sudah sewajarnya?" tanyanya kembali dengan wajah memerah, namun arkana tidak menjawabnya
"mas" pekiknya refleks
__ADS_1
Arin sontak memejamkan matanya saat arkana membuka selimut yang menutupi tubuhnya, dengan cepat pula suaminya itu menggendong tubuhnya melesat masuk ke dalam kamar mandi
"sayang.. aku suami kamu" bisiknya, membuat istrinya itu menenggelamkan wajahnya di dada arkana
[Flashback off]
Arin kembali membenamkan wajahnya di dada arkana, walau penampilan mereka kini hanya mengenakan gaun tidur yang begitu terbuka dan arkana yang hanya memakai boxer ditubuhnya.. tetap saja ia begitu canggung dengan keadaan ini
_______________
Saat ini mereka sedang makan siang bersama, pengantin baru itu memutuskan untuk makan siang sekalian.. dan makan buah-buah sebelum makan siang
"nanti bagaimana? mau tinggal dirumah faidhan atau di mansion?" tanya kakek
"faidhan bagaimana?" tanya kakek
"aku tidak masalah kek.. pilihan ada pada mereka. Aku juga tidak melarang arin dan arkana jika ingin menginap sesekali di rumah" jawabnya
"yaya.. kau benar, kana?"
"rencananya kita akan tiga hari di hotel dulu, setelah itu pindah ke mansion kakek" jawab arkana lalu meneguk air putih di gelasnya
"istriku tidak ingin kakek kesayangannya tinggal sendiri dan kesepian.. sebagai bahan pertimbangan ibu juga tidak tinggal sendiri dan bersama faidhan bukan?" lanjutnya
"hm.. ibu bisa tinggal bersamaku, mulai minggu depan pula ibu akan sibuk dengan toko kue ibu yang baru" jawab faidhan tersenyum melihat arin dan ibu yang sumringah
Ibu tersenyum lebar pada arin"nanti kita desain bareng toko kuenya"
Membuat arin mengangguk antusias
"haha pilihan kakek tentu tidak pernah salah bukan? cucu menantuku ini sungguh sangat perhatian. Bayangkan jika perempuan lain yang menjadi cucu menantuku.. ya tuhan.. dia akan menjauhkan laki-laki tua merepotkan seperti kakek ini dengan suaminya" lantas kakek bicara dengan menggelengkan kepalanya
"naudzubillah kakek.. insyaallah putri kecilnya ibu tidak akan seperti itu kek" timpal ibu
"tentu saja karena yang pertama mengenal arin itu diriku.. beruntungnya mereka berjodoh" kakek terkekeh
"arin sudah anggap kakek hen kakek arin sendiri qsejak kenal kakek di toko antik.. jadi tidak ada pengaruhnya dengan mas arka, sebelumnya juga arin tidak tahu kalau kakek hen kakeknya mas arka"
"haha benar, kau tahu kana.. saat dia bilang menyukai seseorang di kantornya bekerja, hati kakek benar-benar tak karuan. Kakek tidak terima jika ada laki-laki lain mendapatkan hati calon cucu menantuku. Tapi beruntungnya mona bilang bahwa arin menyukai CEO kaku haha sungguh lucu bukan?"
Arkana menyipitkan matanya menatap arin yang duduk disampingnya, membuat arin meneruskan makannya berusaha menghiraukan arkana yang kini sudah menggodanya dengan bisikan-bisikan jahilnya
"siang kakek" sapa vivi yang baru menampakkan batang hidungnya dan mencium pipi kanan kakek
"siang pengantin baru, semuanya.." ucapnya tersenyum dan memilih duduk di samping ibu
"dari mana saja?" tanya gama yang duduk di samping faidhan
"biasa kk, vivi video call dengan teman.. oh ya minggu depan vivi harus pulang mengurus kesiapan wisuda" jawabnya
Gama menganggukkan kepalanya
"ibu vivi mau sambal itu, apa namanya? vivi lupa" tanyanya
"sambal matha" jawab ibu mengambilkannya untuk vivi
"vivi akan menetap disana atau kembali dengan kakek genta dan bunda?" tanya kakek hen
Perempuan energik itu menggelengkan kepalanya "bunda sering pulang ke indonesia kek, lagian vivi maunya disini saja. Vivi akan bujuk bunda dan kakek ta untuk menetap disini" jawabnya yang mulai mengunyah
"kalo bunda ketemu ibu pasti bunda setuju.. bunda sama ibu bisa temenan. Iya kan bu?" tanyanya
Ibu mengangguk "tentu saja, ibu akan punya saudara baru"
Next episode,,
__ADS_1