My Charming Boss

My Charming Boss
Penerus yang hadir


__ADS_3

"bagaimana? bagaimana Arin?" deru nafas yang terengah tidak ia pedulikan, Kakek bertanya dengan tidak sabarnya kepada bi Yaya


"masih di dalam tuan" jawab bi Yaya menunduk


"bagaimana bisa cucuku pingsan? apa kalian tidak menjaganya? apa saja pekerjaan kalian? aku hanya meninggalkan mansion sekejap dan kejadian ini bisa terjadi?" tanyanya dengan nada suara yang meninggi


"maaf tuan besar, nyonya.. nyonya muda.. tadi sedang memindahkan tanaman di pot bunga.. um.. dihalaman belakang"


"tapi saat mencium aroma cake yang sedang dipanggang.. nyonya.. nyonya.. ia kembali masuk ke dalam, dan saya menunggu di luar halaman. Tapi.. sesaat saya teringat bahwa sarung tangan untuk mengangkat kue tidak ada.. maka saya menyusul nyonya masuk"


"lalu?? teruskan bicaramu itu" pinta Kakek geram mendengar suara lambat bi Yaya


Sedikit tersentak bi Yaya mengangguk dan melanjutkan bicaranya


"saat saya masuk, saya lihat.. um.. nyonya sudah tergeletak di lantai tuan dengan lengan kiri yang tergores pecahan kaca beling vas bunga"


Terlihat Kakek mengusap wajahnya kasar


"sungguh tuan besar, saya tidak tahu kenapa begitu.. pada awalnya semuanya terlihat baik. Saat melihat nyonya pun saya terkejut beliau sudah tidak sadarkan diri" lanjut bibi


"hm.. aku mengerti, kembalilah pulang dan bawa pakaian ganti untuk Arin. Aku akan menemaninya" ucap Kakek yang kini mendudukan bokongnya di kursi tunggu depan IGD


"iyaa, permisi tuan" pamit bi yaya


"hm.." Kakek mengangguk pelan dengan wajah yang menghadap ke arah lantai


"maaf tuan besar, bagaimana dengan tuan muda Kana?" tanya Ricky sang asisten


Kakek segera mendongak menatap wajah asistennya itu. Segera Kakek merogoh saku celana dasarnya mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Arkana


Beberapa menit Kakek mencoba menghubungi Arkana, namun tidak kunjung juga tersambung.. nomor ponsel Arkana tetap tidak aktif


"oh ya tuhan.. pedalaman mana yang ia masuki sehingga sinyal saja tidak terjangkau" gumam Kakek kesal


Ceklek


Pintu ruang IGD terbuka, datanglah suster yang menghampiri mereka


"bagaimana cucuku?" tanya Kakek mendekat pada suster


"keadaan pasien membaik, tuan bisa bicara dengan dokter diruangan. Mungkin yang lain bisa mengurus kamar rawat inap dan administrasi secepatnya" ucap suster


"Ricky kau urus semuanya, aku akan menemui dokter" ucap Kakek


"tentu tuan" jawab Ricky lalu berlalu pergi


"silahkan, sebelah sini tuan" ucap suster yang mempersilahkan Kakek masuk lebih dulu ke ruangan pribadi dokter


"silahkan masuk" ucap sang suster membuka pintu ruangan


"ah tuan Henri.. silahkan duduk" sapa sang dokter seraya berjabat tangan dengan Kakek


"suster boleh kembali dan tolong urus dengan baik seluruh keperluan nyonya Farhin" ucapnya pada sang suster


"baik dokter, permisi" ucapnya dengan menutup pintu ruangan


"bagaimana cucuku Candra?" tanyanya dengan tidak sabar


"ah ya.. tidak perlu cemas tuan Selmer semuanya baik-baik saja. Nyonya Farhin memang sedikit kelelahan, sepertinya kegiatannya terlalu diforsir akhir-akhir ini. Keteraturan makanannya juga harus selalu terjaga.. bagaimana pun istirahat yang cukup sangat diperlukan pada saat kondisi seperti ini. Mengkonsumsi vitamin yang cukup, menu makanan yang sehat, buah-buahan, olahraga yang teratur, serta keadaan hati yang baik.. tentu sangat berpengaruh untuk kesahatan dirinya, terutama pada janin yang ada dikandungannya saat ini. Jadi sebaiknya kontrol semuanya dengan baik dan seimbang" jelasnya


Kakek telihat diam mencerna kembali apa yang barusan diucapkan dokter pribadi keluarganya ini


"tuan Selmer?" panggilnya kembali


"ah ya.. maaf dokter Candra, tadi barusan kau bilang janin?" Kakek memastikan telinganya tidak terganggu


"cucuku?" tanyanya pelan


"maaf tuan Selmer.. anda belum tahu?" tanyanya kaget


"ah maafkan aku sungguh, ini kabar yang sungguh baik tuan Selmer. Selamat kalau begitu.. selamat atas cucu menantu anda yang saat ini sedang mengandung tuan" jelasnya dengan sumringah


Deg..


Deg..

__ADS_1


'mengandung?' pikirnya


"ya allah.. masyaallah.. cucu menantuku hamil? dia hamil?" tanya Kakek yang kini meneteskan air mata harunya


"berita yang begitu membahagiakan untuk keluarga tuan, selamat atas hadirnya penerus keluarga Selmer" jawabnya


"terima kasih dokter Candra kau memberikan kabar yang begitu membahagiakan" ucap Kakek yang tidak bisa menyembunyikan air mata bahagianya


"aku hanya menyampaikan kabar baik, dan ya tuan anda bisa kembali memeriksa keadaan ibu dan bayinya di dokter spesialis kandungan. Untuk mengetahui usia kandungan nyonya muda Selmer dan juga pemeriksaan rutin untuk kesehatannya dan juga bayinya" jelas dokter Candra


"tentu.. tentu dokter candra, terima kasih"


"sama-sama tuan" jawabnya turur bahagia atas kabar kehamilan Arin


Kakek tertawa bahagia bersama dokter candra, ia begitu senang bukan kepalang. Ini berita baik dan ia tunggu sejak lama, tiga puluh satu tahun terakhir kali ia mendengar suara pertama tangisan bayi di rumahnya. Kini ia begitu bersyukur.. setelah Arkana cucunya, kini ia akan mendengar suara bayi mungil lagi. Yaa anak dari cucu kecilnya dulu yang kini telah bertransformasi menjadi seorang laki-laki dewasa yang telah mampu memberikannya penerus Selmer. Beruntungnya ia mendapatkan Arin, perempuan sederhana nan baik hati sebagai istri cucunya yang akan melahirkan penerus-penerus dengan nama belakang dirinya kelak


Kini Kakek keluar ruangan dokter dengan wajah sumringah,


"tuan" panggil Ricky melihat Kakek keluar dengan berlinangan air mata


"Ricky.. ya tuhanku, aku.. aku kehilangan kata"


'apa yang terjadi? bagaimana keadaan nyonya muda?' pikirnya


"Ricky.. cucu menantuku"


"ah telpon Kana, cepat telpon Kana.. anak itu harus segera pulang" ucap Kakek cepat menghapus air matanya yang sempat membasahi pipi


"tetapi ponsel tuan muda belum juga aktif tuan"


"argg.. cucuku itu"


"aku akan menghubungi tomi tuan" ucapnya


"yaa ya.. otakku mendadak tidak bekerja, kenapa tidak sejak tadi" gerutunya seraya menelpon tomi


Tut.. Tut..


"tersambung" gumam Kakek dan diangguki Ricky


Arkana dan Tomi sedang meninjau proyek pembangunan yang akan mereka kerjakan. Jalanan tanah basah dan lengket menjadi kesulitan mereka dalam melangkah, membuat Tomi memanfaatkan waktu untuk berhenti sejenak dan memeriksa ponselnya.. karena sejak tadi getaran ponsel itu tidak juga berhenti


'tuan besar?'


Kini tak ada alasan bagi Tomi untuk tidak menjawabnya


📞 "hallo tuan besar?" jawab Tomi segera


📞 "dimana cucu cerewetku itu? apakah dia terus menyelam hingga tidak bisa mengaktifkan ponselnya?" tanya Kakek kesal


📞 "maaf tuan, ada kendala sedikit di lokasi proyek. Membuat kami berjalan sulit, sehingga tuan Kana tidak sengaja menjatuhkan ponselnya di genangan air hujan jalanan dengan tanah yang basah" jelas Tomi


📞 "baiklah, berikan ponselnya pada Kana" ucap Kakek


📞 "sebentar tuan"


Dengan langkah besar dan penuh kehati-hatian ia menyusul arkana yang sudah berada di depannya bersama clien lainnya


"maaf tuan" ucapnya mendekat


"ya?"


"tuan besar menelpon" ucap Tomi memegang ponselnya


'Arin pasti sangat memikirkanku, sejak pagi aku bahkan tak sempat menghubunginya' pikirnya yang sejak tadi menunda mengabari Arin


📞 "ya kek?" tanyanya mengambil alih ponsel Tomi dan sedikit menjauh dari para clien


📞 "oh ya tuhan Kana! harusnya kau menghubungi walau ponselmu rusak atau bahkan mati sekali pun" teriak Kakek membuat Arkana menjauhkan ponsel itu dari telinganya


📞 "maaf kek, kupikir saat makan siang aku akan menghubungi Arin menggunakan ponsel Tomi. Tapi ya aku lalai dan melupakan itu, bahkan kami baru makan siang di jam 2 ini" jelas Arkana pelan


📞 "lupakanlah, sekarang juga kau pulang. Istrimu kini masuk rumah sakit"


Belum selesai Kakek menjelaskan, Arkana kini lebih dulu memotong ucapan Kakek

__ADS_1


📞 "rumah sakit? Arin masuk rumah sakit? apa yang terjadi kek? kenapa bisa?" kini volume suaranya membesar


📞 "istrimu pingsan Kana, dia"


'astaga Arinku'


📞 "baiklah.. baiklah kek Kana pulang sekarang" potongnya lalu mematikan sambungannya sepihak


Tanpa babibu lagi ia menghampiri semua rekan dan cliennya


"maaf tuan-tuan, tapi istriku saat ini masuk rumah sakit.. jadi aku harus pulang. Aku harap kalian memahami keadaanku" ucapnya tanpa bisa menutupi rasa panik dan khawatirnya


Tanpa menunggu jawaban dari mereka Arkana berlari di atas tanah basah itu dengan beberapa kali terjatuh, yang kemudian di susul Tomi yang menyempatkan ucapan maaf dan permisi dengan semua orang yang ada


"cepat Tomi" teriaknya masuk ke dalam mobil tanpa mempedulikan keadaannya yang kotor akibat jatuhnya ia di tanah basah tadi


Kini mereka membelah jalanan dengan cepat, beruntung keluarga Selmer memiliki privat jet yang bisa mereka gunakan apalagi jika keadaan terdesak seperti ini


"cepatlah tomi" sejak tadi tuan mudanya itu terus mengoceh meminta cepat sampai. Bahkan saat di mobil menuju bandara Arkana tidak berhenti menekannya untuk mengemudi dengan benar,


'oh kata-katanya itu.. padahal ia meminta mengebut dan memotong lampu merah'


Beruntung saat di atas pesawat tuannya itu berhenti mengoceh dan merubahnya dengan tidak berhenti memanjatkan doa untuk istrinya. Kini dengan tergesa-gesa tuannya itu masuk dan mencari ruangan rawat inap yang sebelumnya telah dikabari Kakeknya


Ceklek


"Kakek" ucapnya dengan penampilan begitu kacau juga nafas yang terengah-engah


Matanya menangkap fokus pada istrinya yang berbaring belum sadarkan diri


"kita bicara diluar" ucap Kakek menutup pintu kamar rawat Arin dan menggandeng lengan Arkana


"aku tidak mengabarinya.. istriku kini terbaring di rumah sakit. Kemarin bahkan ia melarangku untuk pergi, tapi aku mengabaikannya. Ya allah istriku Arin" lirihnya melihat Arin dari kaca kecil ruangan itu


"Kana.. tenanglah, lihat penampilanmu bahkan begitu buruk" ucap Kakek melihat penampilan Arkana dengan setelan jas bercorak lumpur


"aku bahkan tidak bisa memaafkan diriku kek, lihat? andai aku tidak pergi.. Arin tidak akan pingsan dan dilarikan ke rumah sakit" ia mmengacak rambutnya kesal pada diri sendiri


"Kakek punya kabar tentang Arin untukmu" ucap Kakek yang kembali berkaca-kaca


Seketika jantungnya bertabu kencang, 'apa yang terjadi dengan Arinnya'


"apa kek?" tanyanya tegang


Kakek tersenyum penuh dan menggenggam tangan Arkana


"Kakek jangan membuatku takut" ucap Arkana memohon, kini raut wajahnya telah kecau menerka apa yang terjadi


"tersenyumlah.. karena istrimu hamil" jawab Kakek yang berseri-seri


Seketika waktu dan nafasnya berhenti sejenak


1 detik


2 detik


3 detik


"Kakek? istriku.. istriku hamil?"


"benarkah kek?" tanyanya berkaca-kaca dengan senyuman manis di bibirnya


"ya allah.. "


"kek aku akan memiliki bayi.. anak-anak yang lucu dan sangat membanggakanku dan Arin kelaknya saat mereka dewasa" ucapnya begitu bersemangat


"ya.. kau akan menjadi ayah, papa, papi atau apapun panggilannya nanti untukmu. Kau akan menjadi orang tua cucuku sayang..dan Kakek? Kakek akan menjadi Kakek buyut" tawanya yang menular pada Ricky dan Tomi


'ah syukurlah.. alhamdulillah kabar baik, nyonya muda ternyata hamil' pikir Ricky yang sejak tadi belum tahu apa yang terjadi


'bahagianya keluarga ini, penerusnya kini telah hadir di perut nyonya muda' pikir Tomi yang ikut terharu senang mengingat kebaikan Arkana


Berapa lama ia ikut Arkana? sejak Tomi Sekolah Menengah Pertama. Dengan baiknya Arkana bersikap baik padanya, menyekolahkan dirinya dan membuat dirinya sama dengan anak lainnya. Anak panti asuhan ini diberikan tempat sebagai orang kepercayaan Arkana. Tentu kebahagiaan Arkana menjadi kebahagian pula bagi dirinya, begitu pula sebaliknya


Next episode,,

__ADS_1


__ADS_2