
"apa sudah sangat lapar?" tanya arkana yang masih tetap duduk di kursi kebesarannya
"ha? tidak.. tidak begitu lapar" jawab arin
Bagaimana mau lapar? sedangkan pikiran dan jantung arin saat ini sedang tidak baik
Arkana diam saja tidak menanggapi jawaban dari arin, kemudian arkana menelepon sekretarisnya. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu
"permisi tuan"
"makanan apa yang akan dipesan?" tanya laura
"kamu ingin pesan apa?" tanya arkana pada arin
Arin tersenyum mengangkat kotak makan siang yang ia bawa "saya membawa bekal makan siang tuan" jawabnya
'kenapa senyumnya begitu manis' ucapnya dalam hati
"ehm.. baiklah kau pesankan seperti biasa saja laura"
"baik tuan, saya permisi" kemudian laura keluar dan menutup pintu
Arkana tetap melanjutkan kegiatannya, seraya memperhatikan arin secara diam-diam. Ia tersenyum saat melihat arin yang sibuk memandangi satu persatu barang yang ada di ruangannya
Hingga arin menoleh pada arkana, namun arkana dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali pada laptopnya
'kenapa dia sangat menawan? bukan hanya tampan saja, tuan arkana juga terlihat pintar dan keren saat sedang fokus hehe'
'tapi kenapa banyak yang takut padanya?'
'hm sebenarnya pada saat pertama melihatnya aku juga sedikit takut padanya, apalagi saat wajahnya berekspresi datar dan menatap orang lain.. huff tubuhku rasanya kaku'
"sudah puas memandangiku?" tanya arkana yang sudah memandang arin
"hm" jawab arin "um.. tidak tuan saya tidak melakukannya" elak arin
"benarkah?"
"iyy..ya" jawab arin
"baiklah kali ini aku maafkan kau berbohong, tapi tidak dilain waktu"
Tok..tok..
__ADS_1
"permisi tuan.. ini makan siangnya tuan, nona" ucap office girl yang sudah berumur sedikit tua
Arkana hanya mengangguk seraya berjalan menghampiri arin dan duduk di depan sofa tempat arin duduk
Melihat arkana hanya mengangguk dengan inisiatif ia menyapa bu lis "terima kasih bu lis" ucap arin
OG itu tersenyum pada arin "sama-sama non arin, saya permisi tuan nona" lalu kembali meninggalkan ruangan
"kamu mengenalnya?" tanya arkana
Arin mengangguk "iya bu lis pernah tidak sengaja menumpahkan kopi saat akan ia bawakan untuk karyawan lain"
"menumpahkan kopi padamu?" tanya arkana
Arin mengangguk
"kau diam saja?"
Lagi-lagi arin hanya mengangguk
"baiklah nanti akan ku berikan dia sanksi atau ku pecat saja" ucap arkana santai
"jangan tuan" arin sedikit menaikkan nada bicaranya
"maaf..maksud saya, um.. jangan lakukan apapun pada bu lis tuan" arin mengatur nafasnya kembali, ia mulai takut melihat arkana diam
Arkana menaikkan alis matanya
"apa masalahnya?" tanya arkana
"semua keputusan ada padaku bukan?" tanyanya seraya berdiri dari sofa yang ia duduki
Dengan perasaan tidak enaknya pada bu lis, arin dengan refleks menggenggam lengan arkana yang akan pergi dari sofa
"kumohon jangan" namun saat arah mata arkana menatap tangannya, dengan cepat arin melepaskan genggaman tangannya
"maaf.. saya tidak bermaksud tuan" arin kembali mendongak melihat arkana "ini juga salah saya yang tidak melihat keadaan sekitar, tolong jangan salahkan bu lis" ucapnya
'apa yang ada dipikirannya? dia pikir aku benar akan memecat OG itu?, kenapa jadi dia yang sedih? gadis lolaku ini' pikirnya
"aku ingin pergi ke toilet, apa kau juga ingin ikut?" tanya arkana dengan memainkan alis matanya
"ha? tidak tuan, silahkan" ucap arin menggelengkan kepalanya
__ADS_1
'kenapa wajahnya lucu sekali dengan ekspresi seperti itu haha, tidak pernah terlihat sebelumnya' arin terkekeh
Mereka terlihat hanya diam tidak berbicara dan fokus pada makan siang mereka. Sejujurnya di dalam hati arin, ia tidak begitu menyukai makanan di depannya ini
Entah apa namanya, namun porsi makanan itu sangat sedikit pikirnya. Namun arin juga tidak dapat mengeluh pada arkana bukan?
Saat mereka akan makan siang, arkana sudah mengambil alih makan siang arin dan menukarnya dengan miliknya. Dengan mengalah pada tuannya maka arin mengikhlaskan makan siangnya untuk arkana
Setelah makan arin membereskan meja, piring bekas makannya dan menutup kotak makan yang kini habis tak bersisa dimakan oleh arkana
"tidak perlu repot arin, akan ada OG/ OB yang akan membersihkannya" ucap arkana yang memperhatikan arin dari kursi kebesarannya
Arin tersenyum "tidak masalah tuan, hanya sedikit saja.. lagi pula hanya bekas makan kita"
'kita?' tanya arkana dalam hati
'aku suka sebutan itu, kita' arkana tersenyum seraya menatap arin, namun hanya beberapa detik karena arin sudah membereskan semuanya dan hendak berbicara padanya
"tuan, saya permisi ingin kembali ke ruangan saya" ucap arin
Arkana menghela nafas "hm baiklah"
"terima kasih tuan, saya.."
"nanti setelah bekerja pulang denganku" ucap arkana memotong perkataan arin
"tapi tuan, saya terbiasa menunggu bus saja" jawab arin
"tapi aku memaksa"
"hm itu.."
"jangan membuat alasan arin, sudah ku katakan bukan aku tidak akan membiarkanmu berbohong lagi" ucap arkana
Arin tetap berusaha "bukankah akan menjadi masalah jika karyawan lain melihat, um.. maksudnya akan ada pembicaraan yang tidak-tidak nan.."
"aku akan menunggumu di parkiran mobil, nanti tomi akan mengantarmu padaku" lagi-lagi arkana memotong pembicaraan arin
"waktu istirahat sebentar lagi habis, kamu boleh kembali ke ruanganmu" ucap arkana
Arin sudah bingung harus bagaimana, karena merasa tidak bisa mendebat arkana akhirnya arin mengalah, arin menundukkan tubuhnya "saya permisi tuan" ucapnya
Ia berpikir lihat saja nanti bagaimana, apa ia akan pergi pulang bersama arkana atau tidak
__ADS_1
Next episode,,