
"kana..." panggil kakek saat arkana berlalu di hadapannya
"ya?"
"bagaimana perusahaan?" tanya kakek
"baik kek" jawab kana dengan raut wajah lelahnya
"sebegitu lelahnya kamu?"
"hm.." jawab arkana yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa samping kakek
"ck.. lemah" goda kakek
Arkana hanya diam tidak menjawab kakek
"yaya baiklah, kau lelah kakek tahu.. lalu bagaimana dengan gama? dimana cucu nakal itu?" tanya kakek "dan rencanamu?"
"gama sedang pergi mengurus bukti bersama bram.. hanya menunggu kabar dari mereka berdua kek" ucap kana
"lalu?"
"aku akan membuka pintu neraka untuk ayah dan anak itu saat tepat merayakan anniversary perusahaan" jawab kana
"good boy, kau memang cucu kakek.." tepuk kakek di lengan arkana
"apa kau sudah makan malam?"
Arkana menggeleng
"pergilah makan, ini sudah hampir tengah malam.. tidak baik membiarkan perut kosong saat tidur" ucap kakek
"no, aku tidak ingin menimbun lemak" jawabnya
"ck.." kakek menggelengkan kepala mendengar ucapan arkana
"gadisku tidak akan menyukainya kek.." ucapnya kemudian beranjak hendak berdiri
"baiklah kana naik, selamat malam" lanjutnya
"hm.. malam" jawabnya
"gadis mana yang tertarik dengannya, laki-laki cerewet" gumam kakek
__ADS_1
"aku mendengarnya kek" pekik arkana yang sudah berjalan pergi
"tentu saja.. bukankah telingamu berfungsi dengan baik" ucap kakek santai
"oh.. bi yaya tolong bawakan susu low fat ke kamar" pintanya kepada bi yaya yang sedang mengambil cangkir teh kosong milik kakek
"baik tuan muda" jawab bi yaya
Hari ini arkana akan bertemu dengan bram untuk mengetahui perkembangan mengenai tuan triadma, sudah beberapa hari ini juga arkana sibuk bolak balik pergi ke luar kota dan kembali ke perusahaan. Begitu pula dengan gadis lolanya, arkana juga tidak sempat bertemu bahkan walau hanya untuk menyapa..
'sungguh rindu melihat senyumnya'
'hm.. gadis ini, apa yang dilakukannya sekarang?' ucapnya dalam hati seraya tersenyum menatap lekat foto arin dan dirinya saat mereka ada di wahana karnaval malam
[Flashback on]
"mas kita foto disana yuk" tunjuk arin pada box foto yang ada disana
"foto?" tanya arkana
Arin mengangguk antusias "untuk kenang-kenangan.. mau ya??" ajak arin
Melihat mata arin begitu berbinar arkana tidak mampu menolak keinginan gadis lolanya itu "hm.. baiklah" ucap arkana
Sebelumnya arin pernah berfoto box bersama dengan mona, saat mereka masih menggunakan seragam putih abu-abu.. maka dari itu arin berani mengajak arkana, ia juga terlihat begitu antusias.. rasanya sudah sangat lama sekali ia pernah foto box
"haha kamunya lucu mas, dan yang ini kenapa kamu melihat ke arahku" ucapnya tertawa melihat ekspresi datar arkana yang melihat ke arah kamera
Tidak hanya arin yang tertawa, tapi arkana juga. Tawa arin begitu menular pada arkana, mereka tertawa lucu saat memperhatikan macam-macam ekspresi mereka di dalam foto
[Flashback off]
Arkana menarik senyumnya lebar saat ia mengingat kembali raut wajah arin saat tertawa, namun ingatan arkana terhenti saat terdengar pintu ruangannya diketuk
Tok.. Tok..
Ceklek
Tomi, gama dan juga bram melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan arkana
Arkana mendongak melihat mereka, seraya menyimpan foto dirinya dan arin masuk kembali ke dalam dompet
"bagaimana perkembangannya?" tanya arkana
__ADS_1
"sudahku dapatkan buktinya, juga beberapa saksi yang memberatkan tuan triadma" ucap bram yang mendudukkan dirinya di sofa
Arkana menghela nafasnya lega "apakah benar?" tanya arkana memastikan
"semuanya valid kana" ucap gama
"saya sudah menyimpan semua bukti tuan, saya juga sudah mengutus bawahan untuk memastikan tuan triadma tidak mencium rencana kita juga memastikan bahwa pihaknya tidak bisa membuat alibi baru atau menyangkal semua bukti yang ada" jelas tomi
"wah.. aku tidak mengira jika kalian sudah bergerak secepat ini, kerja bagus" ucap arkana
"dan jangan lupakan bayaranku" ucap gama menyela
"ck.. dasar"
"haha bukankah hal itu setimpal" lanjut gama
"ku harap kalian tidak gegabah untuk bahagia saat kenyataan belum nyata terlihat" ucap bram serius
"aku tidak akan membiarkannya lolos bram" ucap arkana
"kau lupa kana, lawanku tidak bisa menjangkau diriku tapi mereka bisa menjangkau juga memanfaatkan olla dan juga bella dalam masalahku.. mereka tahu jika istri dan putri kecilku merupakan hal yang berharga bagiku, yang bisa mereka jadikan senjata untuk melawanku" ucap bram
Arkana menutup mulutnya rapat mendengar ucapan bram, yang dikatakan bram benar jika lawannya membutuhkan senjata untuk melawannya tentu dengan menusuk dirinya dari belakang bukan tepat di wajahnya
"tuan bram benar tuan" ucap tomi dan gama hanya mengangguk setuju dengan tetap mendengarkan bram
"kau mesti ingat kana, lawanku mampu berklamufase dan menjadi orang terdekatku.. orang yang bekerja denganku kana. Mereka adalah pion untuk memantau orang terdekatku, lalu meracuni pikiran istriku.. yaa kekhawatiran olla membuat orang lain mudah untuk mengecohnya sehingga berhasil membuatku yang menjadi terpengaruh, walau tidak bertahan lama karena kau datang saat itu" jelas bram pada arkana
"jelas hal itu merupakan taktik lawan untuk menjatuhkan dirimu, karena kehilangan mereka membuatmu tidak bisa bangkit walau hanya untuk berpikir" ucap gama menanggapi bram
Bram mengangguk "karena mereka pikir cintakulah yang menjadi kendali atas diriku"
Arkana memandang orang yang ada di hadapannya dengan beribu hal yang melintas di benaknya
"bagaimana dengan arin?" tanya gama pada arkana
"hal itu tidak akan terjadi" jawab arkana menggeleng karena mengeti maksud dari gama
"kita tetap harus waspada dan berhati-hati tuan.. segala sesuatu bisa terjadi, bahkan hal yang lebih buruk dan tak pernah terlintas di dalam benak kita. Baik itu berkaitan dengan nona arin atau pun tidak" ucap tomi
Arkana menegang mendengar ucapan mereka yang mengarah pada gadisnya "tomi jaga ketat arin, aku tidak ingin hal buruk akan berdampak pada arin.. kerahkan anak buahmu untuk memantau semua aktivitas dan kegiatan arin" ucap arkana tegas
"tentu tuan" jawab tomi yang beranjak bergerak pergi meninggalkan ruangan
__ADS_1
Next episode,,