
Kini ibu juga sudah mengetahui kabar arin setelah arkana dan kakek datang menjelaskan semuanya, ia begitu syok dan pingsan saat melihat kondisi arin yang begitu mengkhawatirkan
Beruntung ada mona yang menemani ibu dan memberikan pengertian padanya, sehingga membuat ibu menjadi lebih tenang dari sebelumnya
Sudah enam hari arin terlelap dan tidak kunjung membuka mata.. begitu pula dengan tubuhnya yang tidak memberikan respon, setiap harinya pula arkana menemani arin. Sedangkan kini gama yang mengurus semua permasalahan di perusahaan, arkana hanya akan datang jika itu bersifat sangat penting dan mengharuskan dirinya ada
Saat ini arkana duduk di kursi kebesarannya di hadapan karyawan lainnya.. di wajahnya kini terlihat sedikit bulu-bulu halus yang mengisyaratkan dirinya tidak begitu mempedulikan penampilannya
Suasana meeting menjadi diam saat mendengar ponsel miliknya yang berbunyi, akhir-akhir hatinya ini tidak baik, pikirannya dipenuhi wajah arin sehingga walau dirinya berada di perusahaan namun hati dan pikirannya ada di rumah sakit, bersama dengan arin
"tuan, ponsel anda" ucap tomi pelan menyadarkan lamunan arkana yang semakin menjauh
"iya" jawab arkana menjawab seseorang yang telah menghubungi dirinya
Tiba-tiba saja arkana berdiri dan keluar ruangan meeting, gama yang bingung pun hanya mengangguk pada tomi, mengisyaratkan bahwa ia akan mengurus semuanya disini. Dengan cepat pula tomi permisi.. lalu berlari menyusul arkana
'sayang.. ku mohon, tetap bersamaku' tangis arkana yang kini mengalir di pipinya
Mereka berlarian saat memasuki rumah sakit, arkana begitu panik mendapati kabar arin yang semakin memburuk, detak jantung arin terus melemah sejak tadi pagi
Dengan nafas yang memburu arkana menghampiri ibu, kakek, dan mona yang berada di depan ruangan rawat arin dimana saat ini dokter masih berada di dalam ruangan
"bagaimana arin??" tanyanya panik
Ceklek..
Arkana menoleh dan menghampiri dokter yang baru saja keluar ruangan
"apa yang terjadi? kenapa? kenapa dengan arin?"
"tuan, pasien sama sekali tidak menunjukkan respon positif.. dan semakin hari kondisinya terus menurun" jelasnya
Dengan geram arkana menarik kerah sang dokter
"apa yang kau lakukan ha?, kau bilang kau dokter? lakukan pekerjaanmu dengan baik" teriak arkana
"jika tidak, maka aku akan menuntut mahal semuanya" ancam arkana
Bersamaan dengan itu bram datang bersama dengan olla dan bella
"nak jangan seperti ini" ucap ibu yang sedari tadi meneteskan air matanya seraya menahan lengan arkana agar menjauh dari dokter
"om ganteng" ucap bella memanggil dirinya
Arkana menoleh melihat bella dan memundurkan langkahnya kemudian
Dokter pun menganggukkan kepalanya pada ibu mengisyaratkan bahwa ia memahami kondisi perasaan arkana saat ini
Tanpa menghiraukan orang-orang arkana masuk ke dalam ruangan arin
__ADS_1
"sayang.." digenggamnya jari-jemari arin masuk ke dalam genggaman tangannya
"bangunlah... ini sudah hampir satu minggu, dan kamu tidak kunjung membukakan matamu" ucap arkana mengusap lembut pipi chubby arin
"apa kau tidak merindukan mas?" tanyanya
Arkana tahu, mata arin memang menutup rapat tetapi telinga gadisnya itu pasti setia mendengar semua ucapan dirinya
"kamu tahu, aku kesepian sayang.. ayo kita pergi ke karnaval kejut lagi, kita mengambil banyak foto disana"
Sedangkan gama yang sedari tadi mengintip perlakuan arkana kemudian membuka pintu ruang rawat, arkana menoleh pada gama kemudian menghapus air mata yang kini mengalir di pipinya
"maafkan aku adikku tersayang" ucap gama tiba-tiba
Arkana menatap bingung gama
"ada yang ingin aku sampaikan" lanjutnya
"apa yang kau bicarakan? sampaikan apa?" tanya arkana penasaran
Gama menoleh pada arkana, lalu menatap arin kembali "rin, kana sebenarnya.. dia" gama menggantung ucapannya "arin.. sebaiknya kau tinggalkan kana"
"apa yang kau bicarakan?" bentak arkana
Di luar ruangan kakek mengajak ibu, olla dan bella untuk pergi melihat taman, membiarkan arkana menjaga arin. Sedangkan bram dan tomi yang berada di luar ruangan tersentak kaget mendengar bentakan arkana.. pun dengan sigap mereka memasuki ruangan, lalu mereka menarik arkana yang akan menghajar gama
"apa yang terjadi?" tanya bram menahan arkana sekuat mungkin
"tutup mulutmu" teriak arkana yang kini berusaha terlepas dari bram
Sedangkan bram mulai memahami maksud dari gama yang berbicara demikian 'kumohon meresponlah arin' ucap bram dalam hati
"percaya padaku arin, kau melihat kana bersama dengan seorang perempuan bukan? namanya hana.. kana sangat menyukai hana, kau tahu kenapa? karena dia lebih seksi darimu" seloroh gama menahan jijik saat menyanjung perempuan ular tersebut
Sedangkan bram terus menahan arkana yang kini dibantu oleh tomi dengan menahan lengan arkana
"keluar.. aku bilang keluar gama"
"kau tahu selama kau sakit apa yang dilakukan arkana dengan perempuan itu? arkana mengajak hana berkencan arin.."
"mereka berkencan arin, berkencan" ucap gama menekan kata kencan pada arin
Terlihat dari ujung mata arin, ia meneteskan air matanya dan menggerakkan telunjuk kanannya,
"lihat.. nona menggerakkan jari telunjuknya" ucap tomi
Tanpa menghiraukan ucapan gama, arkana menekan tombol agar dokter dan perawat datang secepat mungkin
"sayang.." panggil arkana pelan
__ADS_1
"tolong tunggu di luar tuan-tuan, silahkan" ucap perawat kemudian yang telah masuk bersama dengan dokter
Arkana menatap nanar ke dalam ruangan arin
'ya tuhan kumohon.. pulihkan arinku' gumamnya
Hingga tidak lama kemudian dokter keluar dengan senyum ramah
"syukurlah pasien sudah kembali sadar, kini pasien hanya perlu recovery.."
"bisakah saya masuk?" tanya arkana
"silahkan.. lebih baik satu persatu, saya permisi" jawabnya kemudian
"terima kasih dokter" ucap bram dengan arkana yang berlalu masuk ke dalam ruangan
Arkana tersenyum melihat arin yang kini menatap dirinya, ia menghampiri gadis cantik yang sangat ia rindukan
Arkana duduk dan menggenggam tangan arin dan mengelusnya lembut "sayang"
"minum" ucapnya begitu pelan
"minum? iya.. ini minum, mas bantu" ucapnya seraya mengarahkan sedotan untuk memudahkan arin minum
"sudah?" tanya arkana
Arin mengangguk, lalu meneteskan air matanya
Arkana mengusap lembut air mata arin yang mengalir "ada yang sakit? mas panggilkan dokter.. sebentar" ucapnya hendak beranjak
"itu benar mas?" tanya arin yang membuat arkana kembali duduk
"mas tidak mencintai arin? mas bohong?" ucapnya tertahan
"sayang.. jangan dengarkan gama, dia hanya bicara saja. Dia sengaja berucap begitu, supaya kamu mendengarkan ucapannya dan kembali cepat sadar. Kamu pasti bangun karena cemburu" arkana mencubit gemas hidung arin
Arkana yang awalnya kesal dengan gama, seketika paham dengan maksud tujuan gama yang berlaku seperti tadi
"percaya sayang, mas hanya mencintai gadis lola ini" ucap arkana pelan seraya mengecup mesra arin
Arin tersenyum malu dengan pipi yang sudah merona
"aku merindukan warna ini" ucap arkana mengelus lembut pipi arin
"sayang.. jangan membuat aku menjadi ketakutan lagi, kamu tidur begitu lama.. mas takut kehilangan kamu" ucapnya seraya menggenggam jari-jemari arin
Arin tersenyum memandang arkana
"setelah ini kamu harus banyak makan hm.. lihat, dimana pipi chubby yang begitu mengemaskan" ucap arkana terus-terusan
__ADS_1
Next episode,,