
Menyusuri jalan-jalan dikota saat sore hari terasa menyenangkan apalagi saat ini aku berjalan bersama mona, tentu lebih seru. Di pinggiran jalan terdapat gedung-gedung pertokoan yang banyak menjual berbagai macam barang juga jasa, sore hari ini terlihat semakin ramai. Banyak orang yang bercengkrama satu sama lain dengan teman, saudara, anak juga keluarga lainnya
Bersama mona aku mampir ke satu toko ke toko yang lain, melihat-lihat pernak pernik, memasuki toko karpet, meminta di lukis wajah pada salah satu pengrajin yang ada, hingga kami berhenti dan tertarik untuk masuk dan melihat toko yang ada di ujung gedung "toko antik dank je"
"mon lihat toko itu dulu yuk" tunjukku pada toko itu
"hah? barusan kita udah liat rin barang pecah belah di toko sebelumnya itu rin " tunjuknya pada toko diseberang kami berdiri
Lalu aku menarik mona untuk melihat toko yang aku maksud "bukan yang itu mon, tapi yang di sebelah sana. Itu toko antik mon, ayoo" jelasku padanya
Dia mengikuti langkahku "Oh iyaya, boleh deh aku juga penasaran isinya jual apa ya hehe"
"yah barang antiklah, masa mie ayam" gumamku
"nyaut aja sih rin" aku terkekeh, kupikir dia tidak dengar
"abis ini kita makan mie ayam digerobak depan ya kelihatannya enak tuh, abis yang beli rame rin"
"iyiya" sampailah kami didepan toko
Ku dorong pintu depan toko, tokonya terlihat sudah lama tetapi tetap bersih dan barang-barangnya juga tetap terjaga. "sepi sekali dimana yang jaga ya" ucapku dalam hati
"rin kenapa tidak ada yang jaga" tanyanya yang masih menggandeng tanganku
Aku menggelengkan kepala "mungkin sedang di belakang, kita lihat-lihat dulu aja mon"
Mataku langsung mengarah ke arah kotak kecil berisi cincin yang sudah lama begitu terlihat sederhana tetapi tetap cantik dan tidak terkesan berlebihan sepertinya cincin yang berharga
Kupanggil mona "mon sini, lihat deh cincinnya cantik ya"
Mona menghampiri dan mengikuti arah mataku "mana?" tanyanya
"itu" tunjukku
"Hmm, itu perhiasan emas putih yang dibuat bersamaan dengan sentuhan perak murni" jawab seseorang yang mengagetkan kami "selamat datang.., sudah jarang sekali toko ini tidak dikunjungi pelanggan hanya beberapa pelanggan saja" ia tersenyum menyapa
"apa yang membuat kedua gadis cantik ini datang untuk berkunjung?"
"hm ini teman saya arin kek dia bilang pengen lihat-lihat" mona mendorongku mendekati meja kaca didepan kami
"iy..iya kek hanya melihat lihat" aku takut kalau dia marah karena hanya melihat. Aku tidak punya uang kalau harus beli barang, mana lagi orang bilang barang antik itu berharga tinggi
Dia tersenyum "perkenalkan nama kakek henri selmer, panggil saja kakek hen arin. Arin namamu?" tanyanya
"iyya kek perkenalkan arin" sahutku
"saya mona kek" berganti denganku untuk berjabat tangan dengan kakek
__ADS_1
Kakek hen mengangguk dan tersenyum
"hm kamu suka cincin ini rin??"
Aku kaget, bagaimana ini aku tidak punya uang "suka kek cincinnya cantik" tenggorokanku tercekat
"kalau mau ambil saja" kakek membuka meja kaca yang ada dihadapan kami
"hmm... mungkin arin nanti kembali lagi saja ke sini kek"
Kakek langsung memotong pembicaraanku "kenapa harus menunggu nanti?, ambil saja sekarang" lalu diletakkannya box cincin di atas meja
"maaf kek, arin tadi berniat melihat dulu"
aku melihat mona dan mencegah mona untuk bicara. Aku tau kalau mona ingin membayar cincinnya, tapi aku tidak bisa membiarkan mona membayarnya
"ehmm.. kalau sekarang arin belum punya uang, maaf yaa kek mungkin nanti saja" ucapku merasa bersalah harusnya aku tadi tidak masuk
"kakek tidak suruh kamu bayar, ini kakek berikan percuma untuk kamu" dia tersenyum padaku
Aku bingung, bagaimana mungkin cincin ini mahal bukan?
"tidak perlu kek, sungguh arin akan datang lagi nanti. Kakek tidak bisa memberinya dengan percuma pada arin"
"kamu suka cincinnya??"
"maka ambillah, kakek takut kalau cincinnya berada ditangan yang salah" seperti ada kekhawatiran di raut wajahnya
"apa cincinnya itu ada jinnya kek atau semacamnya, kenapa harus pada arin? apa arin orang yang tepat kek?" kali ini mona yang memburu kakek dengan banyak pertanyaan
Kakek tertawa kencang mendengar mona bicara, dan aku mulai merinding mendengar perkataan mona. Apa iya cincin itu ada penunggunya atau hal mistis lain?
"kau ini sangat lucu mona, bagaimana bisa hal seperti itu ada di kepalamu hahah" lagi-lagi kakek tertawa
Tapi aku dan mona tidak berkata apa pun atau berekspresi apa pun
"itu cincin mendiang istriku dahulu, cincin yang indah sangat serasi dengan istriku. Namun ia telah tiada, kakek percaya begitu melihatmu memandang damba pada cincin ini. Kakek harap kau bisa menjaga barang peninggalannya"
"kenapa pada arin kek, apa kakek tidak punya menantu atau cucu untuk mewarisi cincin ini?" mona bertanya
Kakek tersenyum mendengar perkataan mona
"maaf kek rasanya tidak pantas kalau arin yang menerima, bagaimana dengan keluarga kakek?" jawabku
"yaya kakek tahu, namun mungkin cincin ini sudah memilihmu untuk berjodoh dengannya" diletakkannya cincin itu padaku "terimalah arin, kau pantas mendapatkannya anggap sebagai hadiah pertemuan kakek padamu"
"tapi kek"
__ADS_1
Kakek memotong "sama-sama, jaga dengan baik" kakek tersenyum padaku
Kami terdiam sesaat bunyi ponsel kakek berdering
Tring..tring...
"hallo?"
"masih di toko, ada apa?"
"iyiya ini kakek sudah mau tutup, kau seakan perhatian pada kakek. Tapi tetap tidak menggubris perkataan kakek mengenai titisan ibu tirinya cinderella itu" kesalnya
"kau makin cerewet setiap harinya" tutupnya sambungan telepon itu secara sepihak, lalu memandang kami
"arin mona kakek minta maaf kakek harus pulang terlebih dahulu, cucu kakek sudah menghubungi. Kakek harus menutup toko dan pulang secepatnya"
"Iyaa kek tidak masalah" ucap mona
"kek... terima kasih cincinnya" aku tersenyum pada kakek
"mulai hari ini kalian berdua adalah cucuku, apakah keberatan??"
Aku menggeleng "terima kasih kek" jawabku dan mona bersama
"kalau begitu kami pamit kek, assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
Setelah kami keluar dari toko, terlihat ada beberapa laki-laki bebadan besar memasuki toko. Keluar bersama kakek, bukan bersama melainkan terlihat sedang mengawal kakek. Sepertinya kakek bukan orang biasa
Aku dan mona hanya memperhatikan kakek dari jauh, kami saling memandang
"sebenarnya kakek itu siapa ya mon? sepertinya bukan orang biasa"
"ia sih," mona berpikir "ah sudahlah kita jadi kan makan mie ayam?" tanyanya
"hah?" aku yang memandang kakek dari jauh teralihkan melihat mona
"udah nanti mikirnya, ayoo" dia menyeret ku pelan dengan tangan menggandeng
"iyaa sabar, aku juga laper kali mon. Emang kamu doang"
"abis ini cari batagor yok" mona berucap
"dasarrrr....... hahaha"
Kami bergandengan dan tertawa bersama
__ADS_1
Next episode,,