
Pagi hari telah datang menyapa dengan suasana embun pagi yang sejuk. Juga sepasang pengantin baru yang masih nyaman dengan pelukan hangat dari sang pasangan
Terlihat senyuman itu mengembang saat menatap mata lucu yang biasanya mengerjap menatapnya, namun kini sedang tertutup karena sedang nyenyak dalam tidurnya. Dengan begitu nyamannya.. istrinya itu menyembunyikan dirinya kedalam pelukannya, lalu muncul senyum menyeringai dari sudut bibirnya
Muach
Muach
Berkali-kali Gama mengecup kepala Mona bahkan pada wajahnya, namun istrinya itu tidak merasa terganggu. Malah saat Gama membenarkan posisi tubuhnya dan bergerak memberi jarak, Mona terlihat mendekat padanya hingga pelukan tersebut tidak terlepas darinya
'ya ampun, istriku ini apa begini dia tidur?' pikir Gama geleng-geleng
Dengan gemasnya ia merubah kecupan pada wajahnya Mona menjadi ciuman yang sebenarnya pada bibir lembut istrinya itu,
'haha sepertinya si putri tidur ini mulai terganggu dalam tidur nyenyaknya'
Namun sedetik kemudian,
"aakkkkk"
Mona terduduk dan memekik saat mendapati Gama yang kini mendekap erat dirinya
"apa yang Kakak lakukan? Kk Gama menciumku?"
"apa.. apa Kk Gama?' pikirnya panik melihat penampilannya yang hanya menggunakan lingerie juga Gama yang tampak polos dibagian atasnya
"what's wrong?" kaget Gama saat Mona mendorong tubuhnya menjauh
'Mona?' pikirnya buntu melihat tingkah laku istrinya
Sedangkan perempuan itu mengatur nafasnya pelan, seraya merefresh ingatannya yang perlahan muncul pada ijab kabul mereka dan malam pertama..
'malam pertama?' pikirnya seraya menatap Gama yang menunggu reaksi dirinya
Kini wajahnya malu memerah mengingat kejadian semalam
"honey?" panggil Gama pelan melihat Mona yang hanya terdiam
Ia mengerjapkan matanya kembali. Tanpa ragu dengan cepat Mona melompat kembali memeluk Gama dan masuk kembali kedalam dekapan suaminya itu,
"kak..." gumamnya pelan hampir berbisik memeluk dengan erat tubuh kekar itu dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gama
Gama mengernyit bingung dengan apa yang terjadi
"Mona?"
"sorry.. aku tadi dorong kakak"
"kenapa?" tanya Gama bingung, dan melepas pelukan Mona perlahan menatap jelas raut wajah itu
Mona mengerjapkan mata indahnya lagi
'oh ya ampun honey, aku ingin memakanmu lagi jika seperti ini' ucapnya dalam hati
"ekhm" Gama membuyarkan pikirannya sendiri
'ih gimana juga bisa begitu, dasar Mona bodoh' rutuk Mona menahan malu dalam hati
"Mon" belum selesai Gama bicara, tiba2 saja Mona memeluknya kembali
"aku lupa kalo udah nikah sama kakak" jawabnya benar-benar malu, bahkan kini ia menyembunyikan wajahnya dari pandangan gama
'what? lupa?' pikir gama
"aku pikir Kakak masuk ke dalam kamarku dan melakukan.." ucapnya berhenti, ia ragu mengatakannya
"hm??" tanya Gama yang lucu dengan istrinya ini, padahal istrinya itu dokter tapi bicara tentang hal seperti ini saja ia malu
"ya.. ya.. itu um.. memperkosaku" ucapnya hampir berbisik
__ADS_1
"apaa?" pekik Gama memegang pundak Mona, ia kini mendapti wajah Mona yang tersenyum menatapnya dengan begitu manis tanpa berdosa
'astaga pikirannya luar biasa'
"sorry kak, kakak tiba-tiba menciumku aku kan jadi kaget. Nyawaku belum terkumpul, jadi tidak ingat" jawab Mona yang memasang wajah melas
"istriku ini tidak mau bangun, jadi kupikir begitu saja membangunkanmu"
"kakak kan tahu aku sering bangun telat, di london waktu itu juga" ucapnya dengan senyum ala iklan pasta gigi
"baiklah.. tak apa, itu akan menjadi kebiasaanmu" jawab Gama mengelus tangan Mona yang ia genggam
"kebiasaan?"
"hm.. kebiasan bangun terlambat karena harus begadang seperti tadi malam" bisiknya
Blushh
Pipi Mona memerah hingga ke bagian daun telinga, membuat Gama kini terkekeh dan memulai aksinya.. ia bahkan tidak melepaskan istrinya untuk menjauh darinya seharian penuh ini
________________
Krukk krukk
Sejenak ia menghembuskan nafasnya menatap langit-langit kamar. Kepalanya menoleh melirik pada sang suami yang kini tertidur pulas. Padahal tadi ia sudah sangat banyak makan malam, dan sekarang perutnya kembali berdendang minta diisi. Dan karena laparnya itu kini tidurnya menjadi tidak nyenyak dan terbangun di tengah malam karena rasa lapar yang semakin menjadi
"sayang.. kamu laper ya? kita cari makan ya didapur" ucapnya pelan seraya mengelus si jabang bayi yang masih didalam perut
"Mas" panggil Arin pelan
"Mas Arka" ucapnya pelan menyenggol lengan Arkana
'Mas Arka keknya pules banget'
'ya sudahlah aku masak sendiri saja' pikir Arin menjadi tidak tega jika harus membangunkan suaminya
Perlahan ia duduk sekejap diranjang, memandang Arkana yang masih tidur dan sama sekali tidak terganggu dengan pergerakannya
"mungkin karena masih ada cahaya dari stand lamp, jadi tidak terlalu gelap"
"ah atau jangan-jangan karena ada kamu yang jagain mama. Duh anak mama.. pemberaninya" ucapnya terkekeh mendengar penuturan dirinya yang sebentar lagi akan dipanggil mama
Sembari berjalan Arin terus mengelus perutnya dan mengajak anaknya yang masih di dalam perut dengan terus bicara. Kini kakinya melangkah menuju pada lemari es dan mencari bahan makanan yang bisa ia makan, matanya berbinar melihat nugget beku ada disana. Dengan cepat ia mengeluarkan nugget dan menyiapkan penggorengan untuk menggoreng nugget, sembari menunggu minyak panas kini Arin mengeluarkan saos dan mayonais sebagai cocolan
"umm.. enaknya aroma nugget ini"
"yummy.. mama aku udah nggak kuat mau makan, perutnya udah demo" ucapnya dengan cekikikan sendiri
'haha ada-ada saja' pikirnya dengan kelakuannya sendiri
"Arin" panggil Arkana dari sudut bagian pembatas dapur
"ahh" ia meringis perih
Arin yang sedang membalik gorengan nuggetnya menjadi kaget dan membuat sedikit bagian lengannya terkena percikan minyak panas
"sayang" dengan cepat Arkana menghampiri dirinya dan menangkap tangannya
"sini.. aliri air bersih" ucap Arkana menggiring Arin pada wastafel
"mas itu nuggetnya gosong" ucap Arin menoleh pada wajan
"biarkan saja"
Arin mengerutkan dahinya, lalu melepaskan tangan Arkana. Ia kembali mendekat pada wajan dan mengangkat nugget yang ia syukuri ternyata tidak hangus
"alhamdulillah tidak hangus" gumamnya
"lihat lenganmu terkena minyak panas, masih sempat mengurusi nugget itu" geram Arkana dengan istrinya yang tidak mempedulikan lengannya sendiri
__ADS_1
Namun berbeda dengan sang ibu hamil, ia merasa Arkana kini sedang membentaknya dengan marah. Melihat suaminya begitu Arin memilih diam dan meletakkan nugget ke dalam piring yang telah ia siapkan. Saat ia hendak bertanya apakah suaminya itu juga mau nuggetnya dan akan ia gorengkan kembali, ia malah melihat Arkana kini lebih dulu membalikan badan keluar meninggalkan dapur. Meninggalkan dirinya dengan satu piring nugget yang tersaji
Ia bergerak mematikan kompor yang masih menyala dan melangkahkan kakinya menuju meja makan. Bahkan rasa lapar yang ia rasakan kini hilang begitu saja saat melihat sang suami berlalu meninggalkan dapur
'rasanya sudah tidak lapar'
'tapi anakku?'
"hiks.. kamu masih laper ya sayang.. kita makan ya hiks" dielusnya lembut sang jabang bayi yang berada di dalam perutnya
Kini ia makan dengan air mata yang mengalir di pipinya, dengan sulit ia menelan nugget yang ia kunyah
Cup
Ia mengecup pipi kanan istrinya yang sedang menangis tersedu
"kenapa menangis hm?" dipeluknya arin dari belakang seraya mengelus lembut kepala sang istri
Arin membalikan badannya dan berdiri memeluk Arkana dengan tiba-tiba
"hiks.. Mas jahat, kenapa tinggalin Arin sendirian hiks"
"hei?" tanyanya bingung
"hiks.. Arin"
"shuttt tenang dulu sayang, lihat kamu ngomongnya sampe ngos-ngosan begitu" ucap Arkana menyeka air mata dan keringat di dahi Arin. Digenggamnya tangan Arin lalu ia bawa istrinya itu duduk di pangkuannya
"okay.. sekarang bicara yang pelan" ucapnya membawa rambut Arin ke belakang telinganya
"Arin minta maaf karena bandel nggak ikut ucapan Mas Arka, tapi tangan Arin nggak apa-apa kok. Babynya laper mas mau makan. Kan kasihan kalau masih di dalam perut saja sudah makan makanan gosong" ucapnya lirih didalam ceruk leher Arkana
Arkana tersenyum mendengar ucapan sang istri
"its okay mas tahu"
"kenapa mas pergi?" tanyanya melepas pelukannya dan menatap Arkana
"kamu ini" dicubitnya gemas hidung Arin
"tangan ini juga harus diperhatikan sayang, babynya akan marah dengan papanya karena membiarkan tangan mamanya melepuh seperti ini" jawab Arkana yang membuka salep aloevera
Arin tersenyum penuh menatap perlakukan suaminya yang begitu manis
"kenapa nggak bangunin Mas kalo laper? kan bisa pesen makanan dari aplikasi online" ucap Arkana yang kini sedang mengoleskan gel kepada kulit yang terkena percikan minyak panas
"Arin udah bangunin Mas Arka tadi, tapi Mas tidurnya pules. Arin nggak tega bangunin Mas, jadi Arin kedapur saja sendiri" jawabnya menatap wajah sang suami yang selesai mengoleskan gelnya
Laki-laki itu menangkup pipi sang istri yang chubby, lalu mengecup sekejap bibirnya
"sayang.. maaf ya Mas nggak bangun, jadi buat tanganmu begini"
Arin tersenyum menggeleng
"bukan salah Mas.. tak apa, Arin lebih seneng begini"
"seneng begini?"
Ia mengangguk pasti "Arin seneng Mas khawatir tentang Arin"
"iya jelas pasti khawatir"
"Mas.. Arinnya laper, babynya juga udah nunggu nuggetnya sampe ke perut"
"haha anak papa udah nunggu lama ya, maaf ya sayang papa kan mesra-mesraan dulu sama mama" jawab Arkana mengelus perut Arin
Arin tertawa kecil "tapi makannya disuapin papa ya" pinta Arin
"dengan senang hati istriku and babynya papa"
__ADS_1
Dengan lahap mereka makan bersama, bercanda dan melakukan hal manis lainnya dimalam ini dengan sepring nugget di meja makan
Next episode,,