My Charming Boss

My Charming Boss
81. Untuk kamu


__ADS_3

Arkana yang melihat arin masih diam menatap jalanan membuatnya berpikir untuk mengajak arin pergi melihat pameran dan bermacam kuliner khas turkey yang ingin dikunjungi oleh gadisnya itu bersama temannya mona. Berhubung mona tidak ada kabar maka ia yang akan mengajak kesayangannya ini pergi


Arin merasa jika arkana mengemudi bukan menuju pulang


"mas ini kita bukan pulang?"


"iya.. kita pergi melihat pameran kuliner turkey itu"


"ha?"


"tidak ingin pergi bersamaku?"


Arin mengerjapkan matanya melihat wajah arkana yang berekspresi cemberut 'matanya begitu lucu' ucap arin dalam hati seraya tersenyum


"kenapa tertawa? tidak mau?"


Arin yang masih tersenyum menggelengkan kepalanya pada arkana "nggak"


"ya sudah kala.."


"nggak nolak maksudnya" kali ini ia memperlihatkan giginya rapat


"kamu yaa dah jahil banget sekarang" cubitnya gemas hidung kecil arin


Kini tibalah mereka disini, pameran kuliner turkey. Tidak hanya makanan yang ada.. tapi hiasan, pernak-pernik lampu gantung, karpet khas turkey dengan harga fantastis dari buatan pabrik atau asli hand made, dan juga beragam makanan yang ada, seperti kebab, roti simit, kofte, dll


"mas.. itu baklava" tunjuk arin pada salah satu booth


"kamu mau?"


"iya.. ayo" matanya berbinar menggenggam tangan arkana tanpa sadar, sedangkan arkana tersenyum manis menatap arin yang berjalan lebih dulu darinya


"permisi bu.. saya mau dua potong baklavanya" ucap arin


"satu saja" ucap arkana mengganti pesanan arin


"satu potong?"


"iya"


Diberikannya pesanan arin "ini nona"


"terima kasih"


"mas kenapa nggak mau?"


"siapa bilang nggak mau hm?"


"tapi tadi kam.."


"kita duduk disana dulu ya" rangkul arkana di pinggang arin


Arkana mengajak arin duduk di kursi yang memang telah disiapkan disana untuk makan para pengunjung


"kamu bener nggak mau mas? Ini enak.."


"siapa yang nggak mau sayang.. kita berbagi ya?"


"berbagi?"


"iyaa.. sayang ini sangat manis dengan madunya, cacahan kacang pistachio dengan phyllo pastry yang bikin teksturnya kaya. Akan lebih baik kalo makanan manis seperti ini kita makan bersama"


"kamu tahu mas?"


Arkana tersenyum "pernah makan, ada beberapa kali" ucapnya seraya memegang sendok berisi potongan kecil yang kini siap masuk ke dalam mulut arin


"aaa..." ucap arkana hendak menyuapi arin


"ini??"


"ayo,"


"amm" arin menerima suapan arkana

__ADS_1


"enak??"


Arin mengangguk tersenyum, lalu melotot


"hm? kenapa aku nggak boleh minta?"


"bu..kan itu.. maksudnya sendoknya bekas aku kan, kamu.."


"emang kenapa sih? nggak apa-apa kan kalo akunya minta" ucap arkana memainkan alis matanya menggoda arin


"tapi kata orang berarti"


Arkana mengulum senyum saat arin menghentikan ucapannya "berarti apa?" tanya arkana gemas melihat pipi chubby arin kini memerah merona


"um.. itu baklavanya enak"


"haha kamu tuh"


"ini akk lagi.. sisanya buat mas" ucapnya mengulurkan tangannya kembali dan arin kembali menerimanya


"arin mau cari minum dulu mas tunggu" belum selesai arin bicara arkana telah berdiri mengulurkan tangannya agar arin menyambutnya


"kita cari bareng"


"hm.. iyaa"


Niat arin membeli air mineral, namun tatapannya teralihkan dengan booth ice cream yang begitu menarik perhatiannya


"mas kita beli ice cream disana yuk" tunjuk arin


"beli ice cream lain saja ya"


"kenapa mas? itu ice cream khas turki.. beda dari ice cream lain"


'ah itu penjual akan membuatku kesal'


"boleh ya mas, arin pengen" pintanya penuh


"baiklah"


"tuan, saya mau ice creamnya.." arin menghentikan ucapannya kemudian menoleh menatap arkana yang tersenyum lebar menahan tawa.. ia paham mengapa arin menoleh padanya


Jika memakan baklava tadi satu sendok bersama sudah membuat arin malu setengah mati, maka arin tidak bisa membayangkan bagaimana memakan ice cream satu cone bersama


"kamu saja" ucap arkana


"beneran?"


"hm.. kalo aku mau, minta punya kamu saja sedikit" ucapnya tersenyum menggoda arin


"mas.."


"haha iya sayang nggak, kamu saja"


Arin mengangguk "tuan, saya mau ice creamnya satu saja"


Dondurma, adalah ice cream khas turki yang begitu terkenal dengan cita rasanya yang tentu lezat dan tekstur kenyal juga elastis. Cara penjual memberikan ice cream kepada pelanggan juga begitu unik, mereka menjahili pelanggan dengan memberikan cone kosong atau bahkan atraksi lainnya. Banyak yang begitu kesal.. namun ada juga yang merasa terhibur, seperti arin. Ia begitu senang saat mendapatkan hiburan ramah dari sang penjual.. berbeda dengan arin, arkana terlihat kesal melihat penjual itu begitu senang menjahili arin yang terlihat tertawa dengan binar mata dan senyuman yang begitu manis


"mas kenapa?" tanya arin ketika mereka telah sampai dimobil


"tidak" jawab arkana jutek


"arin salah?"


"tidak"


'mas arka tidak mau bicara' pikir arin


"arin boleh ngomong nggak?"


"hm"


Arin menoleh melihat arkana menekuk wajahnya "terima kasih karena udah mau ajak arin ke pameran kuliner malam ini"

__ADS_1


Arkana menoleh melihat arin menatapnya lekat


'mungkin ia ingat temannya' pikir arkana


"aku seneng liat kamu seneng, masalah mona.. terus kita cari. Terus doakan juga semoga mona baik-baik saja dimana pun, hm.."


Arin tersenyum mengangguk


Arkana kembali memeluk arin mendekat padanya "aku kesel liat kamu kayaknya seneng banget sama itu penjual ice cream" ucap arkana tiba-tiba


'oh betenya karena itu' pikir arin cekikikan dalam hati


"penjualnya ramah mas, seru lagi" ucap arin jujur


"ckk" tekan arkana kesal


Arin mengulum senyum "bener mas.. orangnya juga seperti orang turki asli gante.."


"sayangggg.. berani kamu puji laki-laki lai.. "


"nggak.. arin nggak puji, kan cuma jahilin mas arka. Muka kamu lucu mas kalo berekspresi hihi" tawa arin


"dasar" arkana kembali memeluk arin mendekat padanya dan mengecup mesra kepala arin


'ya ampun ini gadis lola emang nggak pernah buat aku sebel lama'


_______________


"aduh neng geulies, kagak bisa hilang tuh ngebengong?"


Arin menghela nafas "al, menurut kamu aku gimana?"


Alika mengernyit dengan duduk menghadap arin "apaan?"


"yaa.. pendapat kamu tentang aku?"


"hufffff.. udah omongan orang mah nggak usah dipikirin, nggak ada pengaruhnya juga kan untuk kehidupan kita"


"aku jadi.."


"jadi bodoh karena sibuk mikirin pandangan dan omongan orang" potong alika yang kembali menatap komputer di mejanya


"allll.." ucapnya pelan


"iya bener dong, emang mereka bilang apa? bilang sama aku"


"um.. nggak secara langsung sih, tapi setelah aku dateng bareng sama mas arka.. cara mereka ngeliat aku.."


Alika menoleh dan menghadapkan tubuhnya menatap arin


"kalo mereka tahu hubungan kamu sama tuan arkana.. ya itu lebih bagus supaya mereka tau rin"


"emang kamu ganggu hubungan orang?, ngancurin rumah tangga orang lain?.. jawabnya TIDAK. Mereka cuma bisa komentar ini itu, lagian rin pro dan kontra itu ada.. sirik tu mereka bertahun-tahun kerja berkhayal tuan arkana kepincut, eh kagak taunya temen aku ini yang berhasil mendapatkan hati seorang singa garang haha" tawa alika menggoda yang seketika juga mengecil melihat wajah arin diam menatapnya


"bercanda rin"


"hm.. tapi al"


"ya ampun... denger, oke gini.. sekarang kenapa kamu yang jadi takut? kenapa dengan hubungan kamu sama tuan arkana? lalu apa masalahnya? hubungannya sama mereka?"


Arin menggelengkan kepalanya


"c'mon rin, kamu harusnya nggak down sama pandangan mereka ke kamu.. mental kamu juga mesti tangguh. Inget! banyak orang diluar sana yang mau menghancurkan tuan arkana, jangan sampe kamu jadi alat. Begitu juga dengan kamu rin.. banyak pelakor yang mau diposisi kamu, jangan kendor atuh neng geulies"


Alika mendelik


"ye.. malah natap, ntar suka berabe lagi"


Arin tersenyum lebar "makasih ya al udah buka pikiran aku yang mandek hihi"


"hm.. emang kudu di kasih wejangan dulu, di singgung masalah pelakor baru deh otaknya on haha" tawa alika


"ihh alikaaa" cemberut arin

__ADS_1


'seneng banget bisa punya temen baik kayak alika dan.. mona, hufff.. kira-kira kamu kemana mon?'


Next episode,,


__ADS_2