
"Kakek pulanglah kembali ke mansion, biar Kana yang menjaga Arin" ucapnya yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri
Setelah bersuka cita mendapatkan kabar bahagianya, dengan cepat arkana membersihkan diri karena tidak sabarnya mendekati dan melihat langsung keadaan istrinya
"yaya Kakek akan pulang setelah ini, sebentar lagi dokter Candra akan masuk memeriksa keadaan Arin" jawab Kakek yang masih merebahkan dirinya di sofa kamar tunggu
Tok.. Tok..
"permisi" ketuk suster
Ceklek
"ah dokter Candra?" Kakek berdiri menghampiri dokter menuju ranjang Arin. Begitu pula dengan Arkana, ia juga mendekat pada ranjang Arin
"permisi tuan Selmer.. saya periksa dulu keadaannya" ucapnya tersenyum ramah
"ah ya silahkan" jawab Kakek
Dengan tugasnya ia bergerak dengan cekatan memeriksa keadaan Arin kembali, mengecek tekanan darah perempuan yang tengah hamil itu
"apa ada masalah dokter? bagaimana dengan keadaan istriku?" tanya Arkana menggenggam tangan Arin
Dokter dengan rambut putih itu terlihat tersenyum hangat
"kondisinya baik Kana, tidak ada masalah. Istrimu hanya sedikit kelelahan.. dengan istirahat ia akan kembali pulih" jelasnya
"mengapa sejak tadi Arin belum juga sadar?" tanya Arkana yang masih khawatir
"ya itu normal.. aku sudah memberikan suntikan padanya, biarkan ia beristirahat penuh terlebih dahulu dengan baik. Setidaknya ia akan sadar malam nanti atau paling lama pagi harinya"
Arkana mengangguk paham
"dan ya tuan Selmer, Arkana.. kalian sebaiknya konsultasikan dengan dokter kandungan bagaimana keadaan Arin di esok hari. Untuk melihat usia juga kondisi perkembangan si bayi" tambahnya
"tentu, Kana yang akan mengatur semuanya," yang juga diangguki oleh Arkana
"terima kasih atas bantuanmu dokter Candra" ucap Kakek
"sama-sama tuan Selmer. Kalau begitu saya permisi" pamitnya berlalu bersama sang suster
"ah baiklah karena sudah selesai, Kakek tinggal kalian. Terus perhatikan istrimu, dengarkan dan penuhi segala keperluannya. Dan yaa pagi besok buatlah janji temu bersama dokter kandungan, kau bisa tanyakan dan konsultasikan kepada dokter Candra.. dokter kandungan mana yang kiranya baik untuk Arin dan bayi kalian" ucap Kakek
"tentu kek.. aku akan mengurusnya, Kakek jangan khawatir. Aku akan memilih dokter kandungan yang terbaik untuk istri dan anakku" jawab Kana tersenyum
"bagus, Kakek pulang dulu. Hubungi Kakek jika Arin atau kau membutuhkan sesuatu.. ingat.. jaga baik-baik cucu menantuku dan anaknya"
"iya kek.. pulang dan istirahatlah, seharian Kakek belum meluruskan pinggang" candanya
"dasar, semoga anakmu nanti tidak cerewet sepertimu" ucap Kakek beranjak
"itu juga dari Kakek" jawabnya terkekeh dan Kakek hanya mendengus seraya menepuk lengan Arkana
"assalamualaikum" Kakek keluar ruangan dan menutup pintu
"waalaikumsalam" jawab Arkana
Setelah Kakek pergi kini Arkana mengambil box makanan miliknya yang baru dibawakan bi Yaya dari mansion dan mendekat pada ranjang Arin. Ia tersenyum penuh menatap wajah Arin yang nyenyak di dalam tidur
"sayang.. mas makan dulu ya, tidur yang nyenyak istriku. Muach" dengan lembut ia mencium kening Arin
__ADS_1
"babynya papa.. temenin papa makan ya" senyumnya merekah
"eh?? tapi pasti kamu ikut mama tidur ya hehe, ya udah papa makannya sambil liat kalian tidur saja" ucapnya dengan mengelus perut Arin yang masih rata
Hati Arkana sungguh berbunga-bunga, bahagianya ia bisa diberikan kepercayaan dari Allah untuk menjaga amanah yang telah diberikan untuknya dan Arin menjadi orang tua. Dengan suasana hati yang gembira ia melahap habis makan malamnya seraya tersenyum sendiri dan sesekali mengajak baby di dalam perut Arin bicara
Hari pun semakin malam, membuat Arkana dengan segera menyiapkan sofa empuk yang telah diaturnya menjadi kasur empuk sebagai tempat tidurnya kini.. dengan jarak antara dirinya dan Arin yang tetap dekat dan dengan pasti kini matanya perlahan terlelap nyaman
Jam pun tak berhenti berdetak terus memutari waktu, kini jam pun telah menunjukkan pukul empat malam lewat. Mata yang awalnya menutup nyenyak dalam tidurnya kini sedikit demi sedikit terbuka menatap langit-langit ruangan yang terasa asing baginya
"euhmm" lenguhnya pelan menelan ludahnya sedikit sulit
Tak berhenti kini matanya menyapu ruangan dengan penerangan temaram itu. Walaupun keadaan ruangan cukup gelap dan tidak terlalu jelas namun ia bisa menerka bahwa ini adalah ruangan rawat rumah sakit. Ditambah dengan infus yang kini berada di tangan kirinya menambah kuatkan dugaannya
Ingatannya kini kembali pada kejadian tadi siang, perlahan ia menghelakan nafasnya pelan. Kemudian menolehkan kepalanya ke arah kanan, matanya mendapati sesosok laki-laki yang tengah tidur nyaman dengan tertutup selimut seluruh tubuhnya kecuali leher dan kepalanya. Laki-laki itu adalah suaminya.. Arkana
Dengan penuh kehatian ia mendudukan tubuhnya di atas ranjang, menenggak beberapa teguk air putih kemudian bergerak beranjak memegang tiang infus menuju ke arah sofa dimana suaminya kini sedang terlelap.. lalu mendudukkan dirinya disisi kosong sofa yang tidak suaminya isi. Di usapnya dahi Arkana dengan lembut, meraba jambang tipis milik suaminya yang kini sedikit tumbuh diwajahnya.. perlahan senyum terpatri di wajah cantiknya
'mas Arka sangat tampan.. aku baru menyadarinya dengan begitu jelas' pipinya merona
'ah? tunggu.. mas Arka disini?'
'mas pasti panik mendengar aku pingsan dan masuk rumah sakit. Bagaimana pekerjaannya di luar kota?'
'ya allah.. aku menyusahkan suamiku' pikirnya sedih seraya diam menghentikan usapannya
Lagi-lagi air matanya turun tanpa permisi, ia menyekanya cepat seraya beranjak hendak ke kamar mandi. Namun,
Debb..
Arkana memeluk tubuh Arin dengan cepat sebelum perempuan itu beranjak
"mas?"
"ada apa sayang? ada yang sakit? pusing? kepalanya sakit? atau perut? ya perutnya tidak nyaman atau kenapa rin?" tanya Arkana memberondong
Arin menggeleng mengangkat senyumnya sedikit
"mas ada disini?"
"tentu" jawab arkana cepat dengan membenarkan posisi duduknya tepat menghadap pada arin
"bagaimana dengan pekerjaan mas?" tanyanya sendu
"mas.." digenggamnya tangan Arkana pelan dengan mata berkaca-kaca
"Arin minta maaf hiks.." kini luruh sudah.. air matanya kembali turun membasahi pipi
"sayang.." Arkana menatap mata Arin dalam
"hiks.. Arin nyusahin mas Arka" peluknya mendekap tubuh suaminya
"seharusnya Arin nggak bikin pusing mas Arka, karena Arin masuk rumah sakit mas hiks.. mas jadi tinggalin pekerjaannya mas di luar kota" ucapnya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher suaminya
"shuttt.. tidak begitu, aku tidak kesusahan tentang kamu. Bahkan aku yang harusnya minta maaf karena mas kamu jadi masuk rumah sakit, bahkan disaat aku dan kakek tidak ada di mansion" jawab Arkana membelai rambut arin
"kemari" ucap Arkana dengan memeluk pinggang Arin dan menggendongnya untuk pindah dan duduk di pangkuannya dengan posisi Arin yang seperti anak koala. Dijauhkannya sedikit, hingga ia bisa melihat wajah istrinya itu
Muach
__ADS_1
"thank you sayang" ditangkupnya pipi Arin dengan telapak tangannya yang besar
"thank you my wife.. muach.. muach.. muach"
Dikecupnya berkali-kali bibir manis istrinya itu, membuat Arin merona malu. Bahkan tangisannya kini menghilang menjadi rasa malu dengan pipi yang memerah panas
"mas Arka" ucapnya pelan dengan menahan dada suaminya saat hendak menciumnya lagi
"haha mas tu bahagia sekali"
"bahagia?" tanyanya
"ya.. sangat bahagia, sangat.. sangat bahagia" ulangnya sumringah
"apa pekerjaannya lancar atau"
"kamu.. ah ya kamu belum tahu yaa?" potongnya cepat lalu mencubit pipi Arin gemas
Arin mengernyit bingung "tahu apa mas?"
"mas berhasil sayang" bangganya dengan senyum yang setia melekat di wajahnya
"berhasil?"
"kenapa mas bicaranya setengah-setengah? sebenarnya kenapa mas?" tanyanya penasaran
"kamu tahu sayang.. kita akan menjadi orang tua.. mas akan menjadi papa dan kamu akan menjadi mama" ucapnya antusias
Deg..
"mama?"
"iyaa sayang.. mama. Disini ada junior kita sayang" dielusnya perut Arin yang masih rata
"mas?" matanya kembali berkaca-kaca namun dengan senyuman yang merekah "aku.. aku hamil?" tangisnya pecah terharu dengan tangannya meraba perutnya sendiri
Arkana mengangguk mantap "ada bayi kita disini, anak kita.. dari benihku" ucapnya berbisik pelan
"ya allah mas"
"kamu hamil sayang" jelas Arkana memeluk istrinya
"masyaallah.. ya rab ada makhluk kecil hidup disini mas" ucapnya membalas pelukan Arkana dengan erat
Mereka tenggelam dengan tangis haru bahagia yang mendalam, tak hentinya mereka mengucap alhamdulillah.
Tak terasa pagi kini telah datang, mereka telah check up pagi-pagi bersama dokter Meli.. rekomendasi dari dokter Candra. Sesuai dengan kehendak Arkana dokternya haruslah perempuan dan berkompeten dibidangnya, terbukti dengan usia yang tak muda lagi dan keahlian sang dokter yang mempuni
Kini mereka sedang membereskan pakaian yang akan mereka bawa pulang kembali. Kabar baik dokter mengatakan bahwa kandungan Arin sangat sehat dan kuat, walau begitu pun mereka harus tetap menjaga pola makan, olahraga dan kesehatan pikiran juga hati seorang ibu hamil
Sesungguhnya seluruh orang di mansion Kakek Genta termasuk Mona calon pengantin yang di pingit di apartemennya merasa begitu panik mendengar Arin pingsan karena Kakek Henri bergegas pulang dari mansion Kakek Genta kemarin. Namun syukur mereka mendapatkan kabar baik yang mereka dengar di pagi hari ini.. bahwa Arin ternyata sedang hamil dan hanya merasa kelelahan sedikit
Next episode,,
💐💐💐💐
Hi.. hi.. 🤗🤗
Jumpa lagi di hari senin, bouquet bunganya siap author terima nih guys hihihhi..
__ADS_1
Love you all 💛