
Hufff...
Arin menghela nafasnya saat ia merebahkan dirinya di ranjang tidur miliknya, ia terus memikirkan pelukan yang tidak disengaja itu
'aduh.. kenapa dari tadi pikiranku terus mikirin tuan arka sih?? tapi, pelukannya nyaman sekali hehe'
Namun arin langsung menepis pikirannya yang sejak dari tadi berkelana tak menentu. Arin terus berdialog dengan dirinya untuk tidak memandang tuan arka dengan perasaan yang lebih, sesuatu hal yang tidak mungkin bukan?
Hingga tanpa disadari, arin sudah terlelap dengan nyenyak di tempat tidurnya..
_______________
Cerahnya matahari pagi membuat aktivitas arin di hari weekend ini menjadi lebih semangat, arin berencana untuk pergi jalan-jalan bersama mona seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya
"assalamualaikum arin... ibu" sapa mona yang sudah naik ke lantai atas melihat ibu yang sedang duduk bersantai menonton tv
"eh ada mona?, duduk sayang" ucap ibu
Lalu mona mendudukkan bokongnya di sofa, tepat di samping ibu duduk
"bentar lagi keluar anaknya lagi dandan kali," jelas ibu
Mona hanya mengangguk pada ibu seraya mengambil toples berisi keripik pisang gurih
"ibu nggak buka toko ya?" tanya mona
"nggak mon.. arin nggak kasih ibu buka toko kalau hari sabtu minggu, katanya takut ibu kecapean"
"bener tu bu, apalagi ibu kerjain semuanya sendiri.. arin kan udah kerja jadi ibu jangan kecapekan bikin kuenya" mona menanggapi
"iya itu anak mikirin ibu banget" ucap ibu tertawa kecil
"eh mon, udah sampe ya?" tanya arin yang sudah keluar kamar
Mona hanya mengangguk karena mulutnya sedang asik mengunyah keripik pisang
Arin pun duduk di sebelah ibu,
"kita perginya sekarang atau nanti nih?" tanya arin
"ntar ajalah rin, abis shalat dzhuhur aja biar kita makan dulu baru kita jalan"
"hm oke deh"
Setelah mereka shalat dzhuhur dan makan siang dirumah, mereka pergi untuk mencari kado lahiran
Hingga sampailah mereka di toko peralatan dan pakaian bayi, mona akan membeli kado untuk anak temannya yang baru saja melahirkan dua hari yang lalu
"aku beliin apa ya rin, bingung nih" ucap mona
"mungkin stroller mon" usul arin
__ADS_1
"iyaya.. yaudah kita pilih yuk," ajak mona
Namun saat mereka sedang memilih stroller, dengan tak sengaja mereka melihat kakek hen yang juga ada di dalam toko yang sama
"kakek" sapa arin
"hei arinnya kakek.. mona sayangku, kalian juga ada di sini?" tanya kakek
"kakek juga ada di sini?" tanya arin
"oh ya kakek ingin membeli kado untuk cucu dari teman kakek" jelasnya
"iya kek?, mona juga sedang mencari kado untuk teman yang baru saja melahirkan" jawab mona
"oh yaa itu bagus, kalian harus latihan untuk melihat dan menjaga bayi" ucap kakek menggoda
"apa kakek berpikir arin akan segera menikah haha" mona tertawa
"bukan hanya arin, kau juga sayang" ucap kakek dengan mengelus lembut kepala mona
"baiklah mona bersedia jika ada lelaki tampan dan setia datang padaku.. tapi sampai kapan harus menanti?" ucapnya dengan cemberut
"haha.. ada apa dengannya?" tanya kakek pada arin
"mona baru saja patah hati kek" jawab arin terkekeh
"haha tidak masalah.. lelaki yang tidak baik tentu tidak cocok bersanding dengan cucu kakek, benar bukan?" hibur kakek pada mona
Mereka pun tertawa
"eh rin aku ke toilet dulu ya" ucap mona
"hm.. mau aku temenin?" tanya arin
Mona menggeleng "no, aku sebentar doang.. kamu disini saja dengan kakek"
Arin hanya mengangguk paham
Arin dan kakek mulai berjalan menyusuri perlengkapan bayi, mulai dari pakaian, peralatan makan, pernak pernik hiasan kamar bayi dan lain sebagainya
Sampai mereka menemukan apa yang mereka cari dan berpisah dengan kakek di toko peralatan bayi, karena arin dan mona akan pergi ke tempat yang lain
Sedangkan kakek memutuskan untuk pulang ke rumah karena sudah mulai lelah, mengingat kakek sangat bersemangat memilih perlengkapan bayi
________________
"Kakek dari mana?" tanya arkana
"mall pusat" ucap kakek seraya merebahkan diri di sofa ruang tv
"apa yang kakek lakukan di mall?" tanya kana lagi
__ADS_1
"heh? ada apa memangnya?" kakek melirik arkana
"cih.. kakek baru saja bertemu dengan perempuan kecil itu bukan?" tanya arkana kesal
Kakek menghela nafas "kakek lelah ingin beristirahat" ucapnya seraya meninggalkan arkana karena malas meladeni cucu cerewetnya itu
"yaya beristirahatlah.. itu lebih baik dari pada mengencani anak kecil" arkana menggerutu
"kakek dari mana?" tanya gama pada kakek saat berpapasan dengan kakek di tangga
"temanilah orang aneh di bawah sana" ucap kakek
Gama hanya memandang kakek 'kenapa lagi dengan dua orang ini' tanyanya dalam hati
"hei apa ada masalah?" tanya gama yang sudah duduk di hadapan arkana
"apa yang ada di kepala kakek?" tanyanya pada gama
Gama hanya menaikkan alis matanya menatap kana
"kakek menemani perempuan itu berbelanja pakaian bayi hari ini" ungkapnya kesal
"apaa?" kaget gama yang telah berdiri "oh ya tuhan" gama kembali duduk dengan menggelengkan kepalanya
"yang benar saja?.. apa itu anak kakek? apa kau akan punya pa.."
"diamlah, kau semakin memperkeruh isi kepalaku" dan beranjak dari sofa dan berjalan pergi naik ke lantai atas
"bukannya membantu malah menambah hal tidak-tidak di otakku" arkana menggerutu
Tring.. tring..
Ponsel gama berdering, "ya halo?"
"tuan saya sudah mendapatkan informasi yang tuan inginkan, akan saya kirimkan buktinya pada tuan"
"bagus aku tunggu secepatnya" ucap gama
Tring..
Foto kakek yang sedang mengelus lembut kepala mona didapatkan oleh orang yang diutus gama, namun hanya terlihat dari samping sehingga tidak terlihat secara jelas siapa perempuan itu
"oh tuhan yang benar saja, kakek?" gumamnya pelan
'tidak sia-sia aku meminta feri mengikuti kakek hen, apa yang dikatakan kana itu memang benar adanya?' tanya gama dalam hati
Sedangkan arkana, ia telah mendapat foto kakek sebelum kakek pulang. Terlihat didalam foto itu bahwa kakek sedang berjalan beriringan dengan arin, saat sedang berkeliling di toko pakaian bayi
Hal serupa juga didapatkan oleh arkana, foto yang didapat suruhannya hanya nampak bagian belakang saja, sehingga tidak terlihat siapa orang yang sedang bersama kakek
Next episode,,
__ADS_1