
Sudah seharian ini matanya tak beralih memantau pergerakan orang-orang yang mengawasi apartemennya.. bukannya mereka yang lelah, tapi ia yang lelah sampai tidak tidur melihat pergerakan mereka
Dari semalam ia bersembunyi di belakang warung makan tak jauh dari apartemennya
'bagaimana ini? aku tidak membawa apa pun'
'mereka tidak juga pergi atau hanya istirahat bahkan lengah'
Orang-orang itu bergantian memantau sekitar apartemennya
"neng dokter?" sapa seseorang perempuan setengah baya itu yang melihat perempuan ini mengendap-endap di samping warungnya seperti mengintip sesuatu
"ah" teriaknya kaget
"maaf neng dokter tidak apa-apa?"
"astaga bibi" ucapnya mengelus dadanya lega "iya tidak apa-apa"
"kenapa neng ada disini?" tanyanya
"iy..ya maaf bi, itu.. saya"
'apa aku meminta bantuan bibi ini saja ya?'
"neng" panggilnya kembali
'tapi bagaimana jika bibi ini juga mendapat masalah'
"neng mau pesan makanan? bibi belum siapkan, tapi.."
"tidak bi, tidak apa-apa.. um.. bisakah bibi membantu saya"
'aku tidak punya pilihan lain, semoga ini aman'
"iya neng?"
"saya belum sarapan dan sangat lapar, tapi itu.. um.. clutch bag saya ada di mobil bi"
"apa neng klat.."
"um.. dompet bi"
"oh tidak apa-apa neng, neng dokter bisa makan dulu tidak perlu membayar"
Mona menggeleng "bukan bi, maksud saya bisakah bibi ambilkan clutch bag saya di mobil.. mobil saya terparkir di lantai besmen apartemen"
"um.. bibi bisa bantu saya ambilkan? biar saya tunggu disini selagi makan" pintanya penuh harap
"bibi tidak mengerti bagaimana buka dengan kunci mobil neng, rada norak bibi mah" lalu ia tertawa
Mona menanggapi dengan tawa paksa, kini ia bingung.. ingin melarikan diri tapi semua data identitas bahkan kartu atmnya saja ada di dalam clutch bagnya yang berada di dalam mobil
"tapi kalo neng mau ajarkan bibi dengan senang hati"
"bibi mau?" tanyanya cepat
"kalo neng tidak keberatan mobilnya jadi kelinci percobaan bibi untuk pertama kali?"
"nggak apa-apa, begini caranya bi..
Berulang-ulang mona menjelaskan pada bibi bagaimana agar mobilnya terbuka, beberapa kali juga bibi mengulangi cara yang dikatakan mona
"bibi paham, sekarang neng makan dulu.. sebentar bibi siapkan"
15 menit kemudian
__ADS_1
"maaf neng bibi sekalian jejerkan lauk pauk sama sayurnya" ucapnya menata piring makan bersusun "jadi neng bisa pilih"
"iya bi nggak apa-apa"
"tutup saja dulu neng, nanti ada yang beli" ucapnya mencuci tangan hendak pergi
"bibi tenang saja, disini saya yang jaga" ucapnya tersenyum
"ya sudah bibi pergi, doain mobilnya neng dokter nggak rusak ya" ucapnya bercanda seraya berlalu
Mona tegang menanti bibi kembali, apakah nanti ketahuan atau bagaimana dengan nasib bibi
"siang"
"iya?" ucap mona menoleh dan terlihat terkejut melihat dua orang berpakaian hitam itu berdiri seketika ia masuk kembali ke dalam tempat istirahat bibi penjual nasi ini
'ya tuhan.. apa mereka orang-orang bandot brengsek itu, apa mereka ingin menangkapku?'
"permisi.. bu kita mau nasinya" ucapnya
'ah mereka mau makan ternyata, tapi bagaimana jika mereka mengenaliku?'
Dengan cepat mona menggapai kain yang tergantung di paku, lalu memakainya di pinggangnya
"bu.. permisi??"
"yo tunggu yo" jawab mona melembutkan suaranya 'aduh kenapa jadi aksen jawa, aku kan nggak bisa bahasa jawa' pikirnya yang tak lupa mengulurkan selendang milik bibi di kepalanya
"iyo mas, mau pesen opo?"
"eh.. masih muda ternyata, kenapa menunduk neng ayu" godanya pada mona
"ndak ap-apa mas, mas mau makan apa? saya ambilkan" ucap mona menutup sebagian wajahnya dengan selendang
"nasi ikan jambal sama jengkol.. untuk ini orang nasi perkedel sama tumis pare sama tempe bacem neng"
'oh tidak.. jangan sampai mereka menyadarinya'
"emang nggak boleh orang jaga warung punya kulit putih? sekate-kate lu"
"eh neng ayu.. sudah punya pacar belum?"
'brengsek.. nggak bosnya, anak buahnya iblis setan'
"saya sudah punya suami mas, kerja di proyek bangun gedung" ucapnya asal
"oh tukang"
"kenapa tidak pakai cincin kalo sudah menikah?" tanya satunya lagi
"dijual mas, saya lagi hamil.. jadi perlu beli banyak gizi untuk anak"
'ah.. shitt nggak nyambung' pekiknya dalam hati
"sekalian bayar kontrakan karena kita pindah dari kampung" dengan cepat mona meralat ucapannya
"kasihan banget neng ayu, kalo neng ama saya.. hidup neng dijamin makmur, nggak akan tuh jual cincin kawin segala"
"ini mas nasinya berdua, maaf saya tinggal kebelakang cuci piring"
"iya neng ayu silahkan" ucapnya
"gatel lu, bini orang tuh"
"ye.. kalo nggak bunting dah gue kekep tuh, liat aja tangannya putih bener.. pasti cantik tuh, nggak kelihatan aja tu muka"
__ADS_1
Tidak lama kemudian terdengar suara bibi masuk ke dalam warung
"neng ini bibi sud.. eh ada pelanggan"
'bibi?? jangan sampe bibi panggil aku neng dokter'
"bibi" panggil mona
"eh.. ini ne.."
"apa suamiku menitip pesan bi" potong mona cepat
Bibi mengernyit bingung dengan ucapan mona, apalagi kain dan selendang yang menutupi sebagian wajah dokter cantik itu.. seketika ia menatap kedua pria dihadapannya
'ah.. laki-laki ini menggoda neng dokter' pikir bibi
"ini suamimu menitipkan sesuatu pada bibi, bibi juga tidak tahu.. masuklah" ucap bibi memberikan clutch bag mona
'terima kasih bibi memahamiku' dengan cepat mona kembali masuk ke dalam tempat istirahat
"sudah makannya mas-mas?"
"sudah bu, ini uangnya"
"iya terima kasih yo"
Setelah mereka pergi bibi masuk menemui mona "neng dokter, itu mereka sudah pergi.. ayo dilepas itu bekas bibi pakai pasti bau" ucap bibi membantu mona melepaskan selendang dikepalanya
"ah iya bi.. terima kasih banyak bibi sudah membantu saya, nggak tahu kalo bibi tidak bantu"
"ah neng mah berlebihan seperti antara hidup dan mati saja hihi"
'emang antara hidup dan mati bi' dalam hatinya
"bi ini tolong terima ya" mona mengulurkan beberapa lembar uang pecahan 100k
"neng, ya ampun ini kebanyakan.. bibi mah ikhlas" tolaknya menjauhkan tangan
"jangan ditolak bi sungguh saya juga ikhlas, saya udah janji buat berbagi sama bibi. Tolong di terima jangan ditolak ya" ucap mona yang memaksa mengulurkan uang
"oh ya bi, boleh saya minta satu hal?"
"apa neng?"
"tolong jangan bicarakan hal ini pada siapa pun, anggap saya tidak ke warung bibi hari ini. Saya bisa minta itu dengan bibi?"
Bibi mengangguk "pasti neng, bibi nggak akan bilang-bilang dengan orang lain"
"terima kasih bi saya pamit"
Kini mona menuju bandara, sesuai dengan rencananya kemarin, tidak lupa ia membeli ponsel baru dengan harga murah untuk bisa ia gunakan dengan aman. Setelah berpikir mona memutuskan untuk pergi menuju luar negeri, setidaknya jika ia pergi ke luar negeri bandot brengsek itu akan sulit mencarinya.. sementara ini ia akan melihat bagaimana progres dan kondisi ke depannya
Ia mengingat jika ada pasien yang ia kenal tinggal di kota dengan universitas ternama di dunia itu, tapi ia juga tidak tahu bagaimana kabar dari alfa sekarang. Sebelum berangkat mona mengirimkan direct message kepada alfa.. karena selama ini mereka hanya mengetahui kabar hanya melalui sosial media
Matanya menyapu keberangkatan menuju negara yang akan ia datangi untuk bersembunyi 'semoga ini pilihan terbaik, walaupun alfa tidak ada' gumamnya
Mona berangkat dengan hanya membawa satu tas, pakaiannya juga telah berganti. Karena cuaca disana summer.. mona memilih blouse hitam pendek dengan jeans panjang berwarna biru langit yang terlihat pas di tubuhnya, tidak lupa dengan boot heels yang kini menambah kesan simple pada penampilannya
Setelah terbang selama kurang lebih 16 jam kini mona telah sampai di salah satu kota besar di daratan eropa itu. Terlihat ia menghembuskan nafasnya kasar, apa yang akan dilakukannya disini? dan ijazah kedokterannya juga tidak ia bawa, lalu bagaimana juga ia bekerja mencari uang disini
Karena tidak tahu harus kemana dan bagaimana mona memutuskan untuk pergi menuju cafe di dekat kota, seraya melihat apakah ada pesan balasan dari alfa
"ah panas" refleksnya berteriak saat coffe latte itu menyiram tangannya
Perempuan itu mengarahkan pandangannya pada mona 'dia dari indonesia' pikirnya
__ADS_1
Next episode,,