
Hari ini outfit mona dan gama bernada sama, berwarna maroon. Gama mengenakan jas hitam dengan kemeja dalam berwarna maroon, juga mona yang mengenakan blouse maroon dan celana panjang dasar bernada sama
'kenapa bisa terlihat seperti janjian saja?' ucap mona dalam hati
"ada yang kau pikirkan?" tanya gama
"tidak.. tidak ada" jawab mona
'mona kenapa kau jadi aneh begini?' pikirnya geleng kepala pelan
"ya?" gama menyambut telepon genggamnya yang berdering
"baiklah james siapkan meeting bersama sir malfoy, aku segera menuju kesana" tutupnya
Beberapa waktu mereka telah sampai di salah satu perusahaan besar yang menjadi relasi perusahaan gama,
"selamat datang sir" sapa resepsionis disana
"kami dari perusahaan GC telah mempunyai janji dengan sir nicholas malfoy" ucap james
"silahkan sir, joe.. berikan jalan untuk mereka menemui sir malfoy"
James menundukkan tubuhnya mempersilahkan gama dan mona untuk berjalan lebih dulu
"selamat datang sir, sir malfoy telah menunggu" ucap sang sekretaris
Mereka memasuki ruangan tersebut, dengan ramah malfoy mempersilahkan gama dan lainnya masuk
"silahkan duduk sir"
"ini sekretarismu?" tanya malfoy yang telah duduk menyilangkan kakinya
Mona menunduk sedikit menghormati malfoy juga gama yang membalas tersenyum "bukan.. hanya menemaniku" jawab gama
Malfoy tersenyum berarti
'ish.. aku tidak suka raut wajahnya' pikir mona
Beberapa jam mereka berdiskusi dan membahas segala sesuatunya, terlihat gama dan malfoy sepakat dengan keputusan dan keuntungan yang masing-masing akan mereka dapatkan
"kk.. aku permisi ke toilet lebih dulu" ucap mona pada gama
"hm silahkan"
"kau cukup lama dengannya?" tanya malfoy
Gama mengernyit menatap pada malfoy, gama yang mulai menerka arah pembicaraan malfoy
Mona yang tidak tahu dimana toilet memilih untuk kembali dimana gama masih menunggunya, namun ia mengurungkan niatnya untuk masuk.. entah mengapa ia memilih berdiri di dekat pintu saat mendengar sedikit perbincangan mereka
"ya, aku pikir seleramu dan aku tidak jauh berbeda.. dia sangat menarik juga cantik" ucap malfoy
"dia berbeda" ucap gama dengan serius
"oh maaf, kau tidak suka berbagi mainan.. aku mengerti. Mungkin kau mempunyai barang yang sama dengan monamu? aku bisa memakainya dan tentu saja membayar lebih"
Mona membelalak dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya syok, tangannya bergetar hebat mendengar ucapan malfoy.. ia kembali teringat dengan perlakuan bandot brengsek waktu itu
Ceklek..
"mona?" ucap james melihat mona berdiri dengan wajah yang berkaca-kaca
Gama yang mendengar james menoleh seketika, terlihat mona menatapnya dan pergi begitu saja. Membuat gama dengan cepat meraih kontrak tersebut.. beruntung ia belum menandatanganinya
"dengar"
Gama menarik bagian kerah jas hitam milik laki-laki yang kini hanya diam melihat kilatan amarah di matanya
"perempuan itu adalah milikku.. dia mona istriku" ucap gama tegas dengan rahang mengeras
"aku tidak ingin mendengar ucapan itu lagi atau mendengar kau mengatakan hal buruk tentangnya. Kali ini kau aku maafkan.. tapi tidak pada lain waktu" ucapnya dengan mata berkilat
"aku anggap kita selesai, aku membatalkan perjanjian yang belum sah ini" lanjutnya seraya meninggalkan ruangan malfoy yang juga diikuti oleh james
__ADS_1
Mona telah menangis seraya menyeka air matanya berkali- kali dengan nafas yang terengah, driver gama yang melihat mona menangis dengan duduk di batu pelataran taman pun menatap bingung apalagi saat ia melihat gama keluar dari gedung dengan mata memerah menahan marah
"dimana mona?"
"di taman sana sir"
Tanpa babibu lagi gama melangkahkan kakinya menuju mona
"mona" panggil gama
Mona mendongak melihat gama berdiri di hadapannya
"ayo pulang" ajak gama memegang lengan mona namun perempuan imut itu menatapnya tajam dan dengan cepat melepaskan genggaman gama
"terima kasih banyak karena telah menampungku beberapa minggu ini sir, mulai sekarang aku bisa sendiri" ucap mona yang memaksakan agar ia menahan air matanya jatuh lagi
"ayo mona"
"ku mohon tinggalkan aku sendiri" jawab mona bersi keras
Gama menatap lekat pada mona lalu secepat kilat ia menggendong mona tepat di punggungnya, layaknya karung beras
"akkh.. kk gama"
Mona terpekik refleks saat kakinya tidak lagi memijak tanah
"lepas!!"
"dasar brengsek"
"lepas"
"orang gila"
Ucap mona memekik kencang seraya memukuli punggung gama, menarik-narik baju gama, juga berusaha meraba wajah gama
"lepas"
"hei matamu buta? tolong aku"
"buka" ucap gama pada driver
Dug..
Mona duduk tepat di pangkuan gama, dengan cepat sang driver menutup pintu dan memutar ke arah kemudi
"kita kembali ke mansion" titah gama
Deg..
Jantung mona berdetak lebih cepat dari normal, ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas gama yang kini berada dekat dengannya. Ia seolah mematung seperti korban dari tatapan mata medusa
Dengan cepat ia tersadar dan melompat cepat hingga ujung pintu, ia diam tak bersuara sedikit pun begitu pula dengan gama yang tidak bereaksi sedikit pun sampai mereka tiba di mansion
Entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing
"ayo masuk" ucap gama datar di samping pintu namun mona tidak juga bergerak atau bicara ia tetap diam selama 15 menit lebih
"mona" ucap gama sekali lagi
"aku bilang aku tidak mau, aku bisa sendiri diluar sana" ucap mona menunduk, jujur ia sedikit takut pada gama.. lelaki itu memang sering tersenyum tapi melihatnya sedikit memaksa begitu membuat nyalinya sedikit kendur
Gama tersenyum penuh dengan makna, ia menarik tangan mona dengan lembut namun penuh dengan paksaan membuat mona mendongak dan melihat gama
Terpaksa gama harus bertindak lebih, ia kembali menggendong mona tanpa bertanya lagi dan kembali mona memekik kencang memenuhi halaman bahkan dalam mansion
"lepas"
"aku tidak mau kembali lagi kesini"
"turunkan aku"
"paman cheng tolong aku" pekik mona yang tangannya melambai pada paman cheng
__ADS_1
Paman cheng yang tidak mengerti dengan situasi pun hanya diam saja, melihat ke dua orang itu layaknya pasangan yang tengah cek cok atau bercanda bersama
Karena suara mona yang menggelegar membuat vivi dan bibi cheng yang berada di kamar sedang memilih pakaian kerja untuk mona seketika berlarian menuju lantai bawah
"dengarkan dulu"
"apa?" tangis mona pecah sesaat gama menahan tubuhnya dengan kedua lengan yang menahan pada pegangan sofa
"ada apa dengan mereka?" ucap vivi yang sedari tadi mengintip dari atas tangga bersama bibi cheng saat gama menjatuhkan mona dari gendongannya ke sofa ruang tengah
"astaga kakak ipar sampai menangis, apa kakak melakukan hal yang buruk pada kk ipar? apa kakak?"
"nona diamlah.. atau tuan akan tahu kita menguping" potong bibi cheng
Vivi mengangguk setuju
"kenapa kk begitu jahat? kau suruhan bandot brengsek itu ha? apa karena aku mencelakainya dan ingin membunuhnya maka kalian datang mencariku? kau orang yang menjadi tangannya untuk membalasku?" ucap mona lirih pada mata gama
"aku mempercayaimu, sangat percaya.. tapi apa yang kau lakukan? hiks.."
Gama terdiam mendengar ungkapan mona
"kau.. kau juga ingin menjualku padanya bukan?" isak mona
Deg..
'menjual?'
'apa yang terjadi padamu?' pikir gama yang tidak melepas pandangan pada mona
"kau salah paham honey, tidak seperti itu. Aku bahkan menggagalkan relasi dan kesepakatan itu.. aku tidak diam saja"
'bahkan aku menunjukkan wajah garangku padanya'
"lalu apa katamu tadi? suruhan? lalu bandot brengsek apa?" ucapnya seraya menekukkan kakinya dilantai tepat di hadapan mona
Mona mengerjapkan matanya berulang saat ia menyadari dirinya menyebut bandot brengsek. Sampai-sampai ia tak menyadari gama yang memberikan panggilan mesra padanya
"aku menagihnya sekarang, kau berjanji akan menceritakan semuanya. Sekarang katakan semuanya.. kenapa kau pergi melarikan diri dari indo?" dengan menggenggam jari-jemari mona
Mona terlihat diam dan berhenti menangis yang kini berganti dengan rawa cemas luar biasa, dipikirannya berputar bagaimana jika gama mengetahui bahwa dirinya pernah mencelakai orang lain bahkan hampir membunuh
"ayo bicaralah"
Tapi mona kembali mengerjap
"jangan takut.. ada aku bukan?"
"kk tidak mengenalnya? tidak ada hubungannya dengan dia?" tanya mona pelan
"tidak pernah, bahkan aku tidak tahu dia yang kau maksud"
"kk tidak membohongiku?"
"kau bilang kau percaya padaku" ucap gama yang masih bersimpuh
"apa bisa?"
"lihat mataku apa aku berbohong padamu? apa aku terlihat jahat?" gama kembali meyakinkan mona
"mona.. trust me"
"kk.." tangannya mulai berkeringat dingin
Gama mengangguk
"semuanya karena tanteku, bukan.. dia hanya perempuan mata diuitan dia itu bukan tanteku. Dia selalu meminta uang papa padaku. Puncaknya dia bilang dia memegang peti yang berisi surat wasiat papa, aku percaya begitu saja. Tapi.. dia menjebakku kk, dia menjebakku di kamar hotel itu yang disana ada si bandot brengsek itu hiks"
Mona menangis sesegukan menutup matanya, membuat gama mengelus lembut punggung tangan mona
"aku.. aku tidak sengaja memukulnya dengan botol wine kk, aku ketakutan saat dia mendekatiku. Tanpa takut dan berpikir ulang.. aku tidak berpikir lagi bahwa tindakanku bisa membuatnya hampir mati, aku memukulnya dengan keras. Wajah dan bagian dadanya berdarah kk.. dia"
Gama berdiri dan duduk di sebelah mona, menariknya dan membawanya ke dalam pelukannya.. membawa perempuan imut itu menangis puas di dadanya
__ADS_1
"aku hanya ingin melindungi diriku kk, aku takut hiks.."
Next episode,,