
"monaaa..."
Tak kalah dengan mona, arin juga memekik kencang saat melihat wajah sahabatnya itu
'oh astaga dua orang ini membuat telinga dan jantungku lepas beberapa detik' pikir arkana
"kamu kemana mon? kenapa menghilang tiba-tiba? ponsel kamu juga tidak aktif saat aku hubungi?"
"hei nona manja yang begitu cengeng.. tanyanya satu-satu dong" ucap mona terkekeh
"kamu dimana mon?" arin kekeh bertanya
"yang pasti nggak di indo hehe"
"dimana? kenapa mon? kamu ada masalah apa sampe harus keluar negeri?"
"rin.. kamu sama siapa?" tanyanya serius tanpa menjawab pertanyaan arin
Arin menoleh kearah sampingnya "dengan mas arka" jawab arin
Mona terlihat diam mendengar jawaban arin
"mon please.. tell me, mas arka janji nggak akan bocorin rahasia kamu"
Arkana menaikan alis matanya dan berpikir dalam
"rin?"
"mon.. siapa tahu aku atau mas arka bisa bantu masalah kamu, dan jangan bilang kamu nggak apa-apa.. kita berteman begitu lama mon. Aku tahu sahabatku"
Mona mengangguk "ya aku percaya rin, but everything is fine.. hanya masalah kerikil kecil"
'rin sebenarnya semuanya nggak semudah dan sekecil yang kamu bayangin'
Arin memilih diam mendengarkan mona
'aku nggak bisa libatkan kamu rin, masalahku cukup rumit.. bahkan sangat rumit. Aku takut'
Mona menghembuskan nafasnya lalu tersenyum kemudian
"aku pasti pulang secepatnya.. toh juga aku nggak mungkin begitu lama menghilang dan lari dari masalah bukan?"
Arin terlihat kecewa mona memendam semuanya sendiri
Melihat arin dengan raut wajah sedihnya, perlahan matanya kini berkaca-kaca
"ah.. kau membuatku sangat merindukanmu hiks.." ucap mona menghapus buliran air matanya yang perlahan menetes
Begitu mona begitu juga arin, gadis itu terlihat menghapus air matanya dengan bicara sesegukan
"mon.. hiks.. aku seperti sahabat yang jahat.. karena nggak ada disamping kamu saat kamu ada masalah.."
Arkana duduk dengan mengelus punggung arin, bermaksud membuat gadisnya itu lebih baik
"no.. jangan bilang begitu" mona kembali terisak
"rin aku kangen masakan kamu" tawa mona seraya menangis mengusap air matanya
"mon.."
"aku telpon kamu karena kangen loh, kenapa jadi nangis-nangisan gini sih?"
"tapi kamu kan janji cerita semuanya? kamu lupa?"
Mona menghela nafasnya kasar 'apa bisa aku cerita rin?'
'dan kenapa aku pake janji.. ufff.. gadis ini pasti akan mencecar terus jika tidak mendapatkan jawaban'
"kamu mau ingkar??"
"mon.. aku nggak mau kasih resep lagi buat kamu atau nemenin kamu nonton film lagi" arin memanyunkan bibirnya
__ADS_1
Arkana menatap wajah gadisnya itu 'ancaman macam apa itu?' pikir arkana
"mon..?"
"okay, aku cerita.. jangan bicarakan dengan siapa pun, janji??"
"termasuk mas arka?" potong arin
"aku anggap kalian satu paket" ucap mona mendengus
Arin tersenyum lebar dengan mengusap air mata di pipinya lalu duduk dengan menunggu
"ceritakanlah"
"tapi janji dulu satu hal ini"
"apa?" tanya arin cepat
"masalahku tidak akan mempengaruhi acara pernikahan kalian"
Arin menoleh pada arkana dan arkana terlihat mengangguk
"tentu.. kami akan menjalankan acaranya sesuai rencana" jawab arin
Mona menetralkan nafasnya
"tell me mon?"
"semuanya karena iblis nyata itu rin" ucapnya pelan
Arin menyatukan alisnya "tante kamu?"
Mona terkekeh memaksa "aku tidak sudi memiliki hubungan dengannya.. dia perempuan asing yang masuk ke dalam keluarga kami untuk mengeruk harta om ku"
"dia menyakitimu lagi mon?"
"dia bahkan mendorongku ke jurang neraka dalam"
Arin membelalakan matanya refleks saat mengetahui mona mengalami hal yang lebih mengerikan dari kejadian yang pernah ia alami
'astaga mona'
'mon.. kau menyembunyikannya jika aku tidak memaksamu'
Ia juga terkejut setengah mati saat mendengar mona yang menangis tersedu menceritakan bahwa ia hampir membunuh bandot brengsek itu, bahkan arin terlihat gemetar mendengar ucapan sahabatnya itu. Terlihat arkana tak kalah terkejut seraya bergerak membalas suatu pesan yang masuk di ponselnya
"itu sebabnya aku tidak ingin menceritakan semuanya padamu.. bagaimana pendapatmu padaku rin? apa aku begitu kejam atau bahkan mengerikan?"
Seakan diposisi yang sama arkana juga memperhatikan raut wajah arin, bagaimana pendapat gadisnya itu dengan hal seperti ini? Walaupun arkana tidak terjun langsung ke dalam dunia bawah tanah tapi ia bersinggungan dan menjalin hubungan baik dengan orang-orang berbahaya dan kekerasan
'bagaimana reaksimu saat kau tahu bahwa aku sering terlibat dengan hal-hal berbahaya diluar sana sayang?' pikir arkana
"mona.. apa yang kau katakan hiks..?" arin terisak mendengar mona
"kau sahabatku, kau melindungi dirimu sendiri hiks.. kau selamat.. aku sangat bersyukur, entah apa yang terjadi jika kau tidak memukulnya"
"aku mendukungmu bahkan jika bandot brengsek itu mati.. dia pantas mendapatkannya" ucap arin dengan serius seraya mengatur nafasnya karena sesegukan
'tentu saja harus' arkana sependapat dengan gadisnya itu
'sayang.. bahkan saat kau marah pun wajahmu tetap menggemaskan' pikir arkana tersenyum
Mona tertawa "haha aku tahu aku sangat berarti bagimu"
"mona jaga dirimu selalu, berhati-hatilah mungkin dia akan kembali atau mencarimu. Aku tidak menakutimu mon, hanya saja.. aku mengkhawatirkan dirimu. Aku begitu takut, bagaimana denganmu sekarang? apakah kau berada di tempat yang aman?"
Mona mengangguk "pasti.. and dont worry, makanya doain supaya akunya disini aman dan baik-baik saja"
"aamiin, aku pasti doain terus" jawab arin
"oh ya btw.. aku tinggal bersama kakak beradik yang baik hati disini, salah satu orang tua mereka orang indonesia rin.. mereka kasih aku tinggal di rumahnya" ucap mona
__ADS_1
"benarkah? apa temanmu?"
Mona menggeleng "aku baru mengenalnya disini.. sungguh mereka begitu baik"
"kau bilang mereka kakak beradik? tidak ada orang tua mereka disana?"
Mona menggeleng "sepertinya tidak tinggal disini"
"apa perempuan?"
Mona mengernyit "kenapa?"
"jawab saja"
"ya.. seorang gadis.. usianya dibawah kita satu tahun, dia menjadi temanku.. untuk menggantikanmu disini" mona tersenyum penuh
Arin menaikkan alis matanya "kakaknya?"
Mona mengangguk "ya bersama dengan kakak laki-lakinya dan bibi asisten rumah tangga"
"apa kakaknya tampan?" tanya arin semangat
"sayang.." tegur arkana
Arin memiringkan kepalanya agar tidak masuk ke dalam kamera dan berbisik pada arkana
"arin hanya ingin tahu.. siapa tahu mona tertarik dengan sang pemilik rumah" bisiknya
Arkana menggeleng kepala melihat gadisnya itu begitu semangat akan pikirannya sendiri, kemudian ia berdiri membiarkan mereka bebas mengobrol bersama. Sepertinya mereka sudah lebih baik
Lalu arin bertanya kembali pada mona
"bagaimana?"
"apa?"
"apa dia tampan?"
"kau ingin meninggalkan arkanamu?"
"monaaaa.." pekik arin tidak terima
"kau ini kau pasti suka kan padanya.. dia pasti tampan bukan?"
Mona menahan senyum memikirkan sikap gama
'kau gila mona.. baru juga lihat kemarin' pikirnya menepis pikirannya yang kemana-mana
"lihat.. kau malu-malu bicara tentang kakak gadis yang menjadi teman barumu itu, kau juga tidak bisa menjawab apa ia tampan atau tidak. Sepertiku yang.." seketika arin berhenti bicara saat menyadari arkana juga masih disana
Sedangkan mona tertawa terbahak-bahak
"haha kau ingin bilang sepertimu yang malu-malu saat bersama arkana, bahkan pipimu merah tidak mau mengaku suka pada bos charmingmu itu" goda mona, ia tahu saat ini sahabatnya itu merah merona
'mas arka pasti dengar.. ih mona.. aku kan malu'
Dan arkana yang telah pindah duduk di kursi kebesarannya terlihat tersenyum lebar mendengar ucapan mona seraya menatap arin yang terlihat gugup dengan pipi chubby yang terlihat merona
"um.. jangan mengalihkan pembicaraan ya.." ucap arin cemberut
"haha" mona tertawa terbahak-bahak melihat wajah arin
'siapa suruh menggodaku, sekarang kau yang kena'
'hatiku lebih tenang saat bicara denganmu rin, setidaknya aku tidak gemetar lagi bahwa ada orang lain yang berada tetap disampingku disaat masalah rumit datang mengacau ketenanganku'
'dan aku tidak takut jika nanti harus menghadapi orang-orang brengsek seperti mereka'
Lama mereka melakukan video call hingga berjam-jam, arkana juga kini terlihat melakukan sesuatu di meja kerjanya dan gadget ditangannya.. membiarkan arin bercengkrama dengan sahabatnya itu
Next episode,,
__ADS_1