My Charming Boss

My Charming Boss
Melegakan


__ADS_3

Setelah tiga hari mereka pindah ke mansion utama, arkana memberikan hadiah liburan honey moon untuk mereka. Arin bebas memilih negara mana yang akan mereka datangi, binar mata istrinya itu langsung membelalak sumringah mendengar hadiah liburan honey moon mereka. Istrinya itu begitu antusias saat mendengar akan pergi liburan, sebelumnya arin belum pernah liburan atau bahkan keluar kota


Dengan cepat arin mengatakan ingin pergi ke Yogyakarta. Terlihat tanda tanya di raut wajah sang suami, arkana bahkan baru tahu jika istrinya itu belum pernah liburan bahkan keluar kota. Bahkan saat ia menawarkan liburan ke luar negeri arin menolak, perempuan itu bilang lain kali saja. Ia sungguh ingin melihat kota Yogyakarta, pikirannya tak terlepas dari tempat-tempat wisata yang ada disana


"semuanya sudah siap?" tanya kakek


"iya kek, doain ya semoga selamat sampai tujuan.. sampe arin sama mas arka pulang kembali" ucapnya tersenyum


Kakek berjalan menghampiri arin dan arkana yang sudah menggandeng koper mereka berdua


"pasti, pasti kakek doain.. hati-hati ya kesayangan kakek. Selamat bersenang-senang, nikmati honey moonnya" peluk kakek pada arin


"insyaallah kek, nanti juga arin bawakan oleh-oleh. Kakek mau apa?" ucapnya sumringah


"ah.. tidak perlu oleh-oleh makanan atau pun barang. Kakek mau cucu menantu kakek harus pulang membawa junior" membuat arin mengernyit bingung, melihat wajah arin bingung membuat arkana memeluk pinggang istrinya cepat


"jelas kek, kami akan giat membuatnya jangan khawatir" ucap arkana mencium pipi chubby arin


Perlakuan juga jawaban arkana membuat arin memerah, kini ia paham maksud kakek


"baiklah.. pergilah cepat, atau kalian akan terlambat"


"kami pamit kek... assalamualaikum" ucap keduanya berpamitan


"waalaikumsalam"


Selama di mobil, arin sibuk mengajak arkana mengobrol bertanya banyak hal pada suaminya itu. Tempat apa saja yang akan mereka kunjungi dan apakah mereka akan lama disana atau tidak dan banyak hal lain yang arin tanyakan


"hei berhenti bertanya, saat kita tiba tugasmu hanya nikmati liburan yang ada disana. Sebelum itu.. aku punya hadiah menarik untuk istriku ini" ucap arkana memberikan kotak yang yang dibalut kain lembut berwarna biru tenang


"ini apa mas?" tanya arin menatap lekat box tersebut dan mengambilnya dari arkana


"bukalah" ucapnya


Dengan berhati-hati arin membuka ikatan kain itu dengan baik, senyumnya mengembang melihat apa yang ada didalamnya


"mas ini?"


Arkana tersenyum manis menatap wajah kaget arin


"ponsel kamu sudah tidak mampu lagi sayang, bagian sisinya bahkan tidak berfungsi. Jadi gunakan yang aku belikan hm"


"iyya pasti arin pakek, ini bagus mas. Kamu juga beliin case jugaa?" arkana mengangguk


"harganya pasti mahal. Aku nggak kebayang bisa punya ponsel ini" tawa arin kecil


"makasih ya mas muach" ia mengecup pipi kiri arkana dengan cepat


"kalo bukan mas siapa lagi yang manjain kamu" peluk arkana yang masih memperhatikan istrinya sibuk dengan ponsel barunya


"tapi inget.. ada suami kamu, jangan terus fokus dengan ponsel"


"hehe iya sayangnya aku... arin nggak akan sibuk sama ponsel, ponsel cuma ke kebutuhan aja. Tapi mas kan prioritas.. cintanya arin" ucapnya memeluk arkana dari sampingnya


'ah begini sikap romantis dirinya'


"wah wah.. istriku sudah bisa merayu hm" tanyanya seraya mengelus lembut lengan arin


"mas ngeledek" ucapnya tanpa melepas pelukannya


"nyaman nih peluk-peluk?" goda arkana

__ADS_1


"emang nggak boleh?" ia mendongakkan kepalanya


"hm"


Arin cemberut mendengar jawaban singkat arkana, tapi ia tahu bahwa arkana menjahili dirinya


"ya udah kalau mas nggak mau" lepasnya menjauh, namun sebelum arin bergeser arkana kembali mendekapnya


"muach muach jangan jauh-jauh sayang" kecup arkana pada dahinya, membuat arin tersenyum lebar


________________


Seminggu telah berlalu setelah mona seharian harus berada di rumah sakit. Hari ini mona dapat shift kerja dari pagi hingga sore hari, senang sekali bisa bekerja sesuai dengan normalnya jam kerja pada umumnya


"sore dokter mona" sapa suster jaga yang akan berganti shift sepertinya


"sore, duluan suster" jawabnya tersenyum ramah


"selamat malam minggu" ucap mereka bersamaan menggoda mona


"tentu.. selamat bersenang-senang" tawanya membalas


'ah yang benar saja mereka ini' pikirnya geleng kepala


"mona"


Mona menghela nafasnya seraya kembali berjalan menuju parkiran mobil keluar dari rumah sakit, tanpa mempedulikan suara yang tentu ia kenali


"mon" suara yang semakin mendekat padanya


Ia terus melangkahkan kakinya mengarah pada mobil putih miliknya, tapi tiba-tiba ada yang menahan pergelangan tangannya


"ku harap kau bisa lebih sopan dokter" ucap mona menolehkan wajahnya menatap alif malas


"berhenti mengatakan itu" potong mona cepat


"mona biarkan aku bicara terlebih dulu" ucapnya memohon


'hufff.. baiklah mona selesaikan disini. Jangan sampai dia mengganggumu lagi' ucapnya dalam hati


"mona maafkan aku.. maaf aku salah.. aku mengakui kesalahanku dulu. Kau mencintaiku dengan tulus tapi kelakuanku membuat kau kecewa. Love sungguh aku menyesalinya"


"dengarkan ini, kau dan aku tidak punya hubungan apa pun lif. Tidak perlu merasa berdosa ataupun bersalah, atau bahkan menganggap huff.. aku sudah melupakan semuanya lif. Ku harap kau juga begitu"


"tidak.. love jangan begini, maafkan aku sungguh aku menyesali perbuatanku yang bodoh itu. Aku berjanji tidak akan mengulanginya.. mona ku mohon maafkan aku" pintanya


"baiklah tak masalah aku memaafkanmu" ucap mona lapang dada


"mona kau serius? kau memaafkan aku? kau masih mencintaiku lo"


Mona menggeleng dengan telapak tangan yang ia goyangkan ke kiri dan kanan


"aku memaafkanmu. Bukan berarti aku masih mencintaimu" ralatnya


"alif kurasa kita tidak akan cocok untuk bersama menjadi pasangan hidup yang saling mencintai. Aku tidak bisa, kau pasti mengerti" lanjutnya


"apa tidak ada kesempatan bagiku? aku berjanji mon.. aku akan lebih baik jika kit"


"aku nggak menuntun apapun lif, kau sudah ku maafkan.. dan kuharap kau juga bisa memaafkan kesalahanku dimasa lalu. Untuk kau akan lebih baik atau tidak, mengulanginya atau tidak, kau bisa menentukan pilihannya. Untuk hidupmu sendiri" jawab mona tersenyum


"kurasa hari semakin sore, aku harus pulang" ucapnya kembali masuk ke dalam mobil

__ADS_1


Sedangkan disisi lain dua pasang mata memperhatikan mona dan alif sejak tadi


"kk apa itu kekasih kk ipar?" tanyanya dengan mata yang tak lepas dari mobil mona yang mulai keluar


Melihat gama diam saja membuat vivi menoleh "kk ayo ikuti kk ipar" ucapnya cepat


"untuk apa?"


"ckk.. cepat sebelum laki-laki itu lebih dulu menyusul" tunjuknya pada mobil alif yang akan membuntuti mona


Tanpa babibu lagi gama mengikuti kedua mobil itu, tak lama mona keluar dari mobil melihat ban mobilnya yang kempes


"tunggu di mobil" ucap gama yang dengan cepat keluar menghampiri mona dan laki-laki yang ada di rumah sakit


"honey" panggil gama lembut membuat mona dan alif menegakkan kepala mereka pada gama


'kk gama?' pikirnya


"ada masalah dengan mobilmu?" tanya gama yang memeluk pinggang mona, membuat mona berpikir dan diam saja dengan perlakuan gama


"entahlah tiba-tiba kempes" jawab mona


"maaf anda?"


"ini dokter alif, beliau bekerja di rumah sakit tempat aku koas" jawab mona membuat gama gemas dengan raut wajah mona yang menatapnya aneh


"ah ya aku paham.. dokter alif, terima kasih telah menyempatkan diri melihat keadaan mobil mona. Maaf jika merepotkan dirimu" ucapnya tersenyum dengan mengelus punggung mona


"ah ya tak apa"


"gama" ucapnya mengulurkan tangan kanannya "calon suami mona" lanjutnya


'what?' pikir mona mendongak pada gama


"suami?" gumam alif pelan


"dokter?"


"ya ya tak apa, maksudku kau sudah disini.. baiklah aku pamit. Permisi" ucap alif kembali ke mobilnya dan berlalu


Sejenak mona dan gama masih dalam keadaan dekat dan berdiri di samping jalan


'kk gama..'


"kita ambil beberapa barang-barangmu" ucap gama yang membuka pintu mobil dan mengambil tas dan ponsel


"aku akan hubungi bengkel. Sekarang ikut denganku, ada vivi menunggu di mobil" ucapnya tersenyum seraya menggandeng tangan mona


'astaga tanganku dingin karena digenggam kk gama' senyumku mengembang menatap bagian belakang kk gama yang dengan setia masih menggenggam jari-jari tanganku juga tangan kirinya yang menenteng hand bag milikku


'seperti suami saja' pikir mona melayang


Next episode,,


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Hi hi temen-temenπŸ€—


Sorry yak author ini baru naik ke permukaan, abis akhir-akhir ini selalu syibukkk hehe


Thank you yg masih setia nunggu cerita ini

__ADS_1


Love allπŸ’›


__ADS_2