
"Bu tadi Arin cicipin arem-aremnya duluan" ucap Arin menunjukkan giginya
Dengan senyum Ibu mengelus lembut lengan tangan Arin
"nggak apa-apa sayang, ini cucu Eyang Putri pasti udah pengen, dah laper" jawab Ibu
Dengan tawa Kakek pun juga ikut menyaut "cicit kesayangan Kakek tentu pasti boleh mau minta apapun"
Membuat Arin tersenyum senang
"Ayo Bu kita cicipin arem-aremnya" ucap Arin mengambilkan arem-arem untuk Kakek dan Ibu
"Wah.. sepertinya bukan Ibu dan Kakek yang akan makan" ucap Ibu yang juga di angguki oleh Kakek
"Heheh tidak apa kan kalau Arin ikut makan lagi?"
"Tidak perlu bertanya sayang" ucap Kakek
"Baiklah, kali ini Arin yang sajikan. Kakek dan Ibu tidak perlu protes.." ucap Arin saat Kakek hendak melarangnya
Membuat Ibu dan Kakek mengalah melihat kemauan Arin
"Kali ini saja, lain kali tentu tidak" ucap Kakek dengan menggerakkan kepalanya menggeleng
Dengan cekatan Arin tersenyum dan menganggukan kepalanya patuh seraya menyajikan masing-masing arem-arem untuk Kakek dan Ibu. Mereka pun berbincang dengan nyaman
__ADS_1
Tidak terasa malam pun tiba, awalnya Ibu berniat pulang. Namun Arin tetap bersikeras agar Ibu menginap. Dan Ibu pun menyetujuinya dengan syarat ia akan pulang esok pagi, tentu saja Arin tidak setuju dengan dan meminta Ibu menginap lebih lama
Namun ia kembali luluh dan menurut saat Ibu mengatakan akan menginap lama saat usia kandungan Arin berusia tujuh bulan hingga melahirkan.
___
Hari berlalu berganti, kini tiba waktunya mereka kembali melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Gama dan Arka yang kembali menyibukkan diri diperusahaan, begitu pula dengan Arin yang kini fokus dengan kehamilan mudanya. Pun dengan Mona yang kini berpindah tugas ke rumah sakit yang lain
Kini usia kandungan Arin telah mencapai 5 bulan, beruntung selama hamil Arin tetap memiliki rasa enak untuk makan. Hanya dua dulan diawal ia merasakan mual, itupun tidak mengganggu nafsu makannya. Ia mulai rutin mengikuti senam hamil dan mempelajari ilmu parenting. Berbagai buku begitu banyak ia beli hingga di ruang kerja Arkana terdapat lemari buku dengan khusus parenting, buku agama dan buku masakan miliknya
"Arin ada dimana Bi?" tanya Arkana
"Diatas den, habis shalat isya langsung naik"
"Ini mau makan den" jawabnya
"Arin maksudnya, kalo Bibi mah lain" ucap Arkana yang masih berdiri didepan tangga
"Hehe iyaya den, maaf yak kurang fokus" ucap Bi Yaya cengengesan
"Udah den, udah makan tadi sama Tuan Besar" jawab Bibi
Dengan anggukan Arkana paham
"Den mau disiapin makan malam?"
__ADS_1
"Nggak usah Bi saya udah makan tadi" jawabnya yang mulai melangkahkan kaki naik keatas
Ceklek
Dibukanya pintu kamar mereka, dan terlihat Arin yang terlelap diatas sofa kamar
Terlihat Arkana menghela nafasnya pelan menghampiri Arin yang masih dengan memegang buku parenting ditangannya
'Mungkin junior akan suka membaca kalo setiap detik dan kegiatan Mamanya selalu baca buku'
'Mama yang pinter pasti anaknya juga pinter nanti' pikirnya tersenyum
Dengan memeluk istrinya dan memindahkan Arin ke atas kasur empuk mereka ia bergumam
'Selalu saja nungguin suaminya pulang sampe ketiduran disofa begini'
"Sayang papa, muach" diciumnya perut Arin yang terlihat tetap nyenyak dalam tidurnya
"Goodnight istriku" ciumnya dipipi chubby Arin
Hendak melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi, Arkana melihat satu setel piyama yang telah disiapkan Arin untuknya diatas nakas wardrobe
'Alhamdulillah punya istri perhatian dan nggak pernah lupa sama suami' senyumnya mengingat Arin yang selalu memperhatikan dirinya mengenai apapun
Next Episode,
__ADS_1