
"mas.. oh ya tadi Arin penasaran mau tanya sesuatu" ucapnya setelah memasang safety beltnya
"tanya sesuatu? apa?" tanyanya seraya menjalankan kendaraannya keluar dari hotel, ya mereka memutuskan untuk pulang ke mansion. Sedangkan Kakek Hen bersama Kakek Genta tetap di hotel tempat acara pesta berlangsung
"um.. kenapa nama belakang Kk Gama bukan Selmer?" tanya Arin yang menoleh pada Arkana
"hm itu ada ceritanya" jawab Arkana
"cerita? ayo mas cerita.. Arin suka kok dengerin cerita. Lagian Arin pikir sekarang Mona saudaraan sama Arin karena mas satu keluarga sama Kk Gama, tapi kenapa nama belakangnya beda?"
'bagaimana menceritakannya' pikir Arkana
"mas?"
"hm ya.. sebenernya Kakek Hen dengan Kakek Genta itu bukan saudara kandung. Mereka kenal di satu asrama saat mereka sekolah dulu dan menjadi dekat, bukan hanya itu.. mereka sama-sama menikahi perempuan Indonesia di kota yang sama ini. Juga beberapa kejadian masa lalu yang" ucapnya berhenti
"kejadian yang?" tanya Arin kembali
'oh astaga bagaimana mengatakannya. Tidak mungkin aku katakan Nenek Rima dan Nenek Gama bahkan Ayah Gama meninggal karena permusuhan dan korban dari orang-orang bawah tanah, bahkan kami kini tidak terlibat lagi secara langsung dengan dunia seperti itu. Tapi Arinku bisa saja merasa takut atau apalah seperti istri bram di kejadian saat dulu' pikirnya
"mas kenapa?" tanya Arin menyentuh lengan Arkana, saat melihat Arkana berpikir dengan jauh
"ah tidak, sampai mana tadi?"
"kejadian di masa lalu"
"yaa Nenek Rima dan Nenek Gama juga Ayah Gama meninggal karena kecelakaan diperjalanan, ya.. karena itu"
Benar saja, mereka meninggal saat sedang menjauhkan diri dari musuh. Namun kejadian tragis menimpa keluarga mereka, hingga membuat Nenek Arkana dan Nenek Gama juga Ayahnya Gama meninggal dunia akibat tabrakan kecelakaan mobil
"inalilahi.. ya tuhan.." gumam Arin pelan
"sejak itu hal yang berawal dari pertemanan kini menjadi rasa kekeluargaan"
Arin mengangguk paham dengan cerita yang baru saja diceritakan Arkana, kemudian Arkana menoleh pada Arin
"maaf mas, Arin nggak maksud"
"tak apa sayang.. kamu juga berhak tahu" jawab Arkana
Sejenak Arin diam dan menatap jalanan yang cukup lancar
"capek?" tanya Arkana yang mengelus kepala Arin
"hm.. awalnya nggak, tapi setelah acaranya selesai ternyata capeknya kerasa mas"
"tapi tadi asik.. seruu banget acaranya Mona dan Kk Gama, mana tadi mas mau joget bareng aku" tawanya cekikikan
"haha kamu yang narik aku sayang, joget begitu mana aku bisa" jawab Arkana sesekali menoleh pada Arin yang duduk disebelahnya yang tetap mengemudi
"tapi tadi keren kok mas, mas nggak norak jogetnya"
"emang ada joget yang norak atau tidak norak?" tanya Arkana terkekeh mendengar penuturan istrinya
"ada mas, tadi mbak-mbak yang jogetnya deket-deket kita jogetnya tuh norak. Masa harus senyam-senyum begitu, pake acara lirik-lirik lagi terus berusaha deket-deket" ucapnya mengeluarkan uneg-unegnya
Perkataan Arin membuat Arkana mengulum senyumnya, ia teringat akan kejadian bahwa saat di pesta pernikahan tadi seorang perempuan terlihat berusaha untuk mendekat padanya
"hmm.. istriku cemburu?" Arkana melirik Arin yang menatap pada jalanan
"tentu, mas Arka kan suaminya Arin.. kenapa si mbaknya bersikap seperti itu" ucapnya cemberut mengingat saat dirinya menghalangi jarak suaminya agar tidak dekat dengan si mbak tadi
"haha Rin kamu ini ada-ada saja" tawa Arkana menatap wajah menggemaskan Arin
__ADS_1
"mas bilang apa?" tanyanya menoleh
"ada-ada saja"
"em.. bukan, sebelumnya" jawab Arin menggelengkan kepalanya
"apa?"
'mas Arka panggilnya Arin, sayangnya kemana? ih nyebelin' ucapnya dalam hati seraya menekuk wajahnya
______________
Sedangkan di sisi lain si pengantin baru,
"cieee yang akan malam pertama" goda Vivi tertawa lepas
"eh ini anak" ucap Bunda menyipitkan matanya
"haha liat tuh Bun, anaknya dah tau aja malam pertama" timpal Gama merangkul Mona yang kini merasa malu
"yee.. Kk gama, Vivi dah gede kali dah selesai juga kuliahnya" jawab Vivi bersungut
"emang ada yang mau sama anak gadis Bunda yang jahil dan heboh ini" tanya Bunda menggoda Vivi
"ih Bunda.. ya pasti ada, Bunda jangan kaget kalo Vivi kenalin calonnya sama Bunda" tawanya cekikikan seraya membayangkan apa yang ada di pikirannya
"mikirin apaan tuh?" tanya Mona yang ikut menyambar
"oh jadi ceritanya kalian pada sekongkol nih ngeledek Vivi? tunggu aja tanggal mainnya" ucap Vivi yang memangku tangan seraya memasang wajah sombong.. dengan duduk disofa sebelah Bunda
"WHHAA.." kejut Kakek Henri dari belakang
"kyaaaaaa" pekik Vivi berteriak kencang seraya melompat ke depan, hilang sudah sikap ala-ala sombongnya itu
"Kakekk.." rengek Vivi yang mendapati Kakek Hen turut mengerjai dirinya
"haha oh sayang" ucap Kakek tersenyum geli memeluk Vivi
"tidak ada yang sayang padaku" dramanya menirukan suara tangis tersayat
Membuat kakek melepaskan pelukannya dan duduk di sofa dengan susu di gelasnya, ia paham jika cucu perempuan anehnya itu kini sedang memulai kelakuannya. Membuat Kakek geleng-geleng tertawa tanpa suara
"Kakekkk"
"ya tuhan.. apa salahku? mengapa mereka melakukan hal ini? apa aku cinderella yang terlantar?"
Hal tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi mereka saat melihat sikap absurt Vivi, hal itu juga dirasakan Mona yang sedari tadi tertawa bersama keluarga lainnya
"oh my prince.. dimanakah dirimu? lepaskan aku dari kastil menyeramkan ini" pekiknya memohon
"oh my princess, siapa yang membuatmu bersedih?"
"Kakek.." teriaknya berdiri lalu memeluk Kakek Genta
"mereka mengganggumu lagi?" tanyanya mengecup kepala cucu kesayangannya
"hm.. bahkan kakak ipar ikutan kk gama sekarang, padahal kakak ipar itu temanku" jawabnya cemberut
"hahah sudahlah hentikan drama ini my princess, mereka harus membuat keponakan yang lucu untukmu" bisiknya
Vivi mengangguk berbinar setuju dengan Kakek Genta "yeayyy!!"
"sekarang bersihkan dirimu dan ayo Kakek akan antar ke kamar" ucap Kakek mengelus kepala Vivi
__ADS_1
"hehehe baiklah kek, kakak ipar bersiaplah Kk tidak akan melepaskanmu" tawa Vivi menggelegar meninggalkan ruangan
Satu persatu kini mereka meninggalkan ruang istirahat dan kembali ke kamar masing-masing. Begitu pula sang pengantin, dengan senyum merekah kini Gama telah menggendong Mona menuju kamar pengantin mereka. Sedangkan sang istri hanya mampu tersenyum malu dengan jarak yang begitu dekat dengan sang suami
"my honey"
Kini Gama telah menurunkan tubuh Mona ke atas tempat tidur mereka yang telah dihias dengan banyaknya kepolak bunga mawar merah
"Kk.." gumamnya pelan
"hmm??"
"aku.. ak.."
Tanpa mendengarkan kalimat setelahnya kini Gama telah mendaratkan ciuman mesranya untuk perempuan tercintanya yang telah resmi menjadi istrinya. Perlahan namun pasti Mona yang sempat kaget dengan kelakuan sang suami kini mulai ikut ke dalam aksi Gama yang lembut
"kakk" ucapnya mendorong dada Gama pelan saat nafasnya kini hilang serasa dicuri oleh Gama
Gama tersenyum lucu, lagi-lagi mata indah itu mengerjap indah.. kini tepat tanpa jarak dengan wajahnya. Dengan gemasnya Gama kini mendaratkan kecupannya pada bibir Mona
Diusapnya bibir Mona yang begitu merah menggoda dirinya, bahkan warna lipstik istrinya itu kini terlihat berantakan keluar dari garis bibir Mona. Melihat Gama akan segera kembali menciumnya membuat Mona berlari secepatnya lalu masuk ke dalam kamar mandi
"kak.. aku mandi lebih dulu" pekik Mona menutup pintu kamar mandi, dengan jantung berdegup ia membuang nafasnya lalu menghirup oksigen dengan leganya
Gama hanya tertawa melihat kelakuan Mona yang begitu menggemaskan, sikapnya yang kadang seperti anak kecil.. tentu saja bahkan umurnya tak jauh dari Vivi. Bahkan Vivi malah lebih parah, suaminya harus bisa bersabar lebih banyak dengan adik kesayangannya itu
Seringai licik terbit dari wajah tampan Gama, sesegera mungkin ia mandi dan membersihkan diri di kamar tunggu depan kamar pengantinnya
"oh ya tuhan.. aku melupakan gaun tidurnya" gumam Mona yang memeluk tubuhnya yang berbalut bathrobe
"bagaimana ini?" ia menatap wajahnya yang memerah seperti udang goreng di cermin
'tapi suara Kk Gama tidak terdengar' pikirnya
"Kak.." panggilnya
Tidak ada sahutan
"Kk gama"
Dan tetap tidak ada
Ceklek
Mona mengeluarkan kepalanya mencari Gama, tapi tidak ia temukan dimana pun
'ah kesempatan, aku harus cari gaun tidur di koper tadi' pikirnya lalu keluar melangkah pelan mendekati koper di dalam lemari
Hepp
"haa.. ka.. kak" ucapnya berhenti saat hendak berteriak
"mau kemana?" tanya Gama memeluk erat Mona dari belakang, kini mereka bersitatap melalui kaca
Mona kehilangan kata saat nafas Gama menerpa kulit wajahnya
"honey.. kamu sungguh cantik, lihatlah di cermin. Bukankah kita sepaang suami istri yang begitu cocok" bisiknya pelan
Tubuhnya bergetar dan hanya mampu mengangguk menatap pada Gama. Ia kembali mengerjap, rasanya begitu malu saat didekap Gama erat seperti ini. Apalagi hanya dengan bathrobe tanpa dalaman apapun
Paham akan kegugupan Mona. Kini Gama tersenyum manis lalu menuntun Mona ke arah ranjang pengantin mereka, tanpa melepaskan pelukan dan kecupan berkali-kali pada pipi Mona
Sungguh hidupnya yang begitu indah ini bagaikan mimpi dan harapannya yang terkabul. Mendapatkan suami yang begitu mencintainya, memperlakukan dirinya tanpa kurang satupun dan bonus tak terkira.. ia mendapatkan keluarga lengkap dengan berjuta alasan dirinya untuk terus tersenyum disetiap harinya
__ADS_1
Next episode,,