
Tarrr
Suara pecahan kaca di tengah ruangan kerja arkana begitu nyaring terdengar. Semua barang yang berada diatas meja kini berserakan dipenjuru ruangan, dengan emosi yang memuncak arkana membanting laptop yang ada di hadapannya hingga membentur meja kaca yang terletak tidak jauh
Perlahan arkana duduk dengan lemas di kursi kebesarannya.. terlihat matanya memerah dengan tatapan yang tidak bisa diartikan,
"bagaimana mungkin" gumam arkana
"saya telah mengerahkan semua bawahan untuk mencari keberadaan nona tuan" ucap tomi kemudian
[Flashback on]
"tuan kami kehilangan nona arin, seseorang menariknya masuk ke dalam mobil saat nona akan pergi berangkat untuk bekerja" lapor bawahan tomi
Seketika rasanya jantung tomi merosot ke bawah "jelaskan dengan rinci" tegas tomi
"maaf tuan, kami tidak menyadari saat mobil yang membawa nona ternyata sudah memantau nona dari beberapa hari yang lalu. Kami melihat mobil tersebut terparkir tidak jauh dari ruko, kami tidak menaruh curiga dengan mobil tersebut tuan, tapi" sebelum anak buahnya bicara tomi sudah bicara lebih dulu
"bodoh, cari keberadaan nona.. cepat" bentak tomi dipanggilan ponselnya
"10 menit aku ingin 10 menit kau menemukan keberadaan nona" ucap tomi tegas menutup panggilan
"apa yang harus ku jelaskan pada tuan?" gumam tomi dengan gusar
[Flashback off]
Arkana terlihat begitu frustrasi, kini wajahnya memerah marah dengan penampilan yang sudah tidak karuan. Tatanan rambut yang sudah berantakan, wajah yang begitu kacau, kemeja putih dengan lengan yang kini telah terlipat sembarangan, serta deru nafas yang berlarian karena begitu emosi
"bergerak lebih cepat tomi, kerahkan semuanya.. jangan hanya diam" bentak arkana
Dengan cepat arkana bergerak menghubungi leo, "brengsek, apa yang sedang dilakukannya" arkana membanting ponselnya kesal karena leo tidak kunjung menjawab panggilannya
Tring..
Ponselnya berdering kemudian
"apa saja yang kau lakukan" bentak arkana
"oh hei tenanglah tuan muda, apa yang terjadi" jawab leo dari sana
"kekasihku menghilang, kerahkan semua anak buahmu bila perlu semua orang bawah tanah.. cari dan temukan dia leo, aku percaya kau bisa membantuku" ucap arkana yang kini berkaca-kaca
"bagaimana bisa?" tanya leo
"bisakah kau bergerak cepat, arinku kini pasti ketakutan dan menangis" jawabnya kesal
"oke oke.. aku memahaminya, tomi sudah mengirimkan identitas wanitamu. Anak buahku sudah bergerak secepat mungkin untuk mencari keberadaannya" jelas leo
"aku harap kau bisa bergerak cepat leo, hubungi aku secepatnya" tutup arkana secara sepihak
Arggghhh...., pekik arkana
Sedangkan gama yang baru keluar dari lift mendengar seperti ada keributan di ruangan arkana, dengan bergerak cepat gama berjalan menuju masuk ke dalam ruangan sepupunya tersebut. Bagaimana tidak kini suara arkana begitu menggema di penjuru lantai
__ADS_1
Gama mendorong pintu ruangan arkana, ia menyapu pandangannya melihat keadaan ruangan yang begitu terlihat berantakan. Laptop yang tergeletak dilantai, kaca yang kini berserakan dimana-mana.. lalu yang mengkhawatirkan ialah arkana,
Padahal semalam sepupunya itu tak hentinya mempertahankan senyum di wajahnya, lalu sekarang??
Penampilannya begitu kacau, wajahnya sudah basah dengan keringat, ditambah dengan mata merah yang begitu terlihat emosi. Laki-laki itu berdiri menahan tubuhnya menghadap pajangan dinding bercorak kaca yang kini tidak terlihat simetris lagi, sepertinya baru saja dijadikan samsak dadakan oleh sepupunya itu
'apa yang sebenarnya terjadi' pikir gama
Gama berjalan menghampiri arkana "apa yang terjadi di sini?" tanya gama bingung
Arkana menoleh melihat gama yang kini berada di sampingnya, "arinku diculik" ucapnya pelan
Gama mengernyitkan alis matanya 'diculik?' pikir gama
"jelaskan dengan jelas" ucap gama pada tomi
"nona telah diculik saat hendak pergi bekerja tuan dan kami telah mengerahkan semua bawahan dan juga orang-orang tuan leo"
Gama terkejut seraya mengusap wajahnya gusar, ia juga mengkhawatirkan kekasih sepupunya yang kini sudah ia anggap seperti adiknya
Arkana bergerak beranjak hendak keluar dari ruangannya
"kau mau kemana?" tanya gama
"mencari arin, aku tidak bisa hanya diam dan menunggu" ucap arkana berlalu
Semua karyawan menatap mengarah pada arkana dan gama yang kini berjalan tegap melewati mereka, melihat dua petinggi perusahaan itu memasang wajah yang tidak bersahabat membuat mereka merasa tidak aman
"baik tuan" jawabnya
Saat ini gama duduk di kursi penumpang di samping arkana, laki-laki itu melajukan kendaraannya menuju ruko. Berharap agar ia mendapatkan petunjuk akan keberadaan arin
Arkana menatap nanar pintu ruko, mengingat kembali tadi malam.. bagaimana arin tersenyum malu dengan pipi yang merona seraya melambaikan tangan ke arahnya
'sayang.. kamu dimana?'
'tolong beri aku petunjuk' ucap arkana dalam hati
Kini gama berdiam diri menatap arkana yang sejak tadi melamun, sesekali laki-laki itu tersenyum dan tidak lama ia kembali memasang raut wajah kesal
"kana, sudah satu jam lebih kita berada disini, mau sampai kapan kita berdiam diri" ucapnya kemudian
Arkana menggeleng seraya menoleh pada gama "dan satu jam lebih mereka semua tidak kunjung memberi kabar"
"turun," ucap gama keluar dan mengambil alih kemudi
"kau mau membawaku kemana??" tanya arkana yang kini sudah berpindah duduk di bangku gama sebelumnya
"kembali ke mension" jawab gama seraya menjalankan laju kendaraannya
"apa yang kau lakukan gama, aku sedang mencemaskan arin.. lalu kau membawaku pulang hah??" bentak arkana
"kumohon diamlah dulu, kau tidak mampu berpikir saat ini" jawab gama kemudian yang melajukan kendaraannya cepat menuju mension utama, hingga membuat arkana tersentak kaget saat gama menginjak gas mobil, beruntung jalanan siang ini lengang kendaraan
__ADS_1
"kembalikan kunci mobilnya" bentak kana yang kini sudah mengepalkan tangannya
Namun gama tetap berjalan masuk ke dalam mension
"apa kau tuli hah??" teriak arkana menggema di seluruh mension
"dimana kakek bi?" tanya gama tidak mempedulikan ucapan arkana
"ah.. halaman belakang tuan" ucapnya bingung melihat arkana yang berteriak seraya berjalan mengejar langkah gama
"ada apa ini?" tanya kakek yang kini berdiri dari tempatnya duduk,
'apa yang terjadi dengannya?' pikir kakek yang kini menatap lekat pada kondisi kacau arkana
"aku bilang berhenti" bentak kakek saat arkana hendak melayangkan pukulan kepada gama
"ini mension kakek.. milik kakek, dengar!!"
"kalian tidak berhak melakukan apa pun tanpa persetujuan dariku"
Hingga membuat arkana diam dan menurunkan tangannya kembali, "dia mencoba menghalangiku untuk mencari keberadaan arinku kek"
Kakek terkejut memegang jantungnya karena kaget "apa yang terjadi pada arin?" tanya kakek
"kakek mengenal arin?" tanya arkana bingung
Kakek menghela nafasnya pelan "jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan"
"seseorang bermain denganku kek, mereka menculik arin.. sejak pagi aku belum menemukan arin, anak buah tidak berguna itu juga tidak mendapatkan apa pun hingga kini" jawab arkana yang kini terduduk lemas
"ricky.. ricky, panggil ricky" ucap kakek tergesa-gesa
Dengan cepat gama beranjak menarik ricky yang kini tengah menyesap kopi di depan halaman mension
"tuan" bingungnya saat gama menariknya masuk ke dalam
'apa yang terjadi' pikir ricky
"ricky, lacak keberadaan arin sekarang" ucap kakek
Arkana terkejut mendengar kakek, ia mendongak menatap kakek "apa.. apa" namun kakek sudah mendahuluinya bicara
"cepat ricky.. aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap cucu menantuku" lanjutnya
"baik tuan" ucap ricky yang kini sibuk menghubungi seseorang
"kau begitu ceroboh kana, apa otakmu sekarang begitu sangat penuh??"
"kau mendekati gadis itu, namun menganggap remeh jika hal buruk tidak akan mengancam dirinya"
"beruntung kakek mengenal dirinya lebih dulu, kau tau kana.. ia memakai cincin peninggalan nenekmu yang tersemat alat pelacak didalamnya" jelas kakek menggebu-gebu
Next episode,,
__ADS_1