
Setelah meminta akses pada resepsionis, gama meninggalkan identitas pribadinya sebagai jaminan akses urgent. Itu juga ditemani oleh security dengan pergi ke unit apartemen mona, setelah meyakinkan security gama pun mendapatkan izin menemani mona dan membuat alasan bahwa mona tidak enak badan. Sehingga tidak bisa ditinggalkan seorang diri, bahkan saat hendak masuk ke dalam lift wajah mona terlihat lelah dengan mata yang sembab, sehingga menjadi pertimbangan untuk security memberikan izin pada gama
"terima kasih pak, saya akan menemaninya" ucap gama sopan
"baiklah tuan.. saya permisi" pamit sang security
Setelah menutup pintu, gama kembali duduk di single sofa seraya memperhatikan mona yang tidur terlelap disofa panjang
'dia bahkan terlelap disini, masih dengan pakaian tadi' pikir gama
Matanya menyapu ruangan, memperhatikan apartemen milik mona. Cukup besar dan juga bersih, menandakan sang pemilik selalu memperhatikan dan rajin mengurus keadaan apartemennya
'apa mona mengurus semuanya sendiri?' pikir gama
Kemudian ia bergerak menghampiri mona, lalu menggendong perempuannya secara perlahan. Tak lepas pula pandangannya pada mata mona yang terlihat membengkak. Terlihat wajah mona begitu lelah dan sepertinya ia begitu gerah karena langsung berbaring tidur dan tidak sempat membersihkan diri
Direbahkannya mona di atas tempat tidur, lalu gama menghidupkan AC dikamar agar mona lebih nyaman dan tidak merasa kepanasan. Terlihat beberapa kali perempuan itu bergerak mencari posisi nyaman dirinya
"tidur dengan nyenyak honey" dikecupnya dahi mona lalu ia beranjak menghidupkan lampu nakas dan mematikan lampu utama kamar
'uggh, karena panik hingga tak sempat berpikir apalagi kesempatan mandi' pikirnya merebahkan tubuhnya di sofa tempat mona tidur sebelumnya
Keesokan paginya,
"eeugggh" lenguh mona meregangkan otot tubuhnya saat bangun tidur
Matanya mengerjap berat, padahal sebenarnya ia juga tidak menangis terus-terusan. Hanya di taksi perjalanan pulang ke apartemen ia menangis, setelahnya ia tidak lagi menangis.. tapi kini ia merasa yakin jika matanya pasti terlihat bengkak
"ah sebel kalo inget lagi" gumamnya yang menghentakan kakinya duduk di atas kasur
'eh aku pindah ke kamarnya kapan? perasaan terakhir rebahan disofa depan tv' pikirnya lalu menggeleng tak ambil pusing
"mandi dulu deh keknya biar seger" ucapnya
Tak lama kemudian mona telah mandi pagi, ia hendak pergi ke dapur mencari makanan yang ada. Perutnya sedari tadi menuntut untuk diisi. Tanpa ia tahu bahwa ada gama yang masih tidur di sofa miliknya
"hoam" gama mulai mengerjapkan matanya menangkap cahaya yang mulai masuk ke dalam matanya
Sring..
Tak..
Tak..
Suara telenan beradu dengan peralatan masak yang lain,
'ah dia sedang memasak?' pikir gama melihat apa yang sedang dilakukan oleh mona
"sarapan di pagi hari ini, ah sudah jam 8.. tidak pagi lagi. Beruntung shift kerja dapetnya sore, jadi bangun siang tak masalah"
Seraya memasak ia juga memasang radio untuk menemaninya memasak
"ah apa kata suamiku nanti.. bangun sering kesiangan begini. Perut saja protes bagaimana suamiku nanti. Oh suamiku nanti jangan marah ya kalau aku sering bangun siang hihi" tawanya kecil
"aku nggak marah honey" bisik gama dari belakang telinga kanan mona
Refleks mona menoleh ke sumber suara yang membuat bulu kuduknya berdiri
"akkkkhh" pekik mona membalik badannya dan melihat gama yang tersenyum tepat di hadapannya
"pagi" sapanya tersenyum lebar
"ha?"
__ADS_1
Tiba-tiba saja respon tubuh mona tak bereaksi, ia hanya bisa diam mematung
"ah aku sudah lapar, apakah sarapannya sudah hampir siap?" tanya gama memajukan tubuhnya membuat mona menjadi mundur dan menggenggam erat kemeja gama saat badannya mendekat ke arah kompor
Membuat gama tersenyum lucu melihat wajah mona, melihat wajah gama sedekat itu padanya membuatnya ingat akan sikap perempuan kutilang yang wajahnya juga sedekat ini pada gama
'ishh.."
Secepat mungkin ia menyadarkan lamunannya dan mengontrol kesadarannya, menggeser posisinya kesamping gama
"kk gama kenapa bisa disini?"
"harusnya aku yang tanya kenapa menghilang saat di bandara?"
'menyebalkan.. orang bertanya dia ikut bertanya' pikir mona yang beranjak mengambil piring, juga gama yang mengikuti dirinya
"kenapa?" ulangnya beranjak
"nggak kenapa-kenapa, kk juga sibuk sama perempuan kemarin. Jadi aku pulang aja duluan" jawabnya jutek mematikan radio yang menyala ribut
"ngapain juga masih disana?" gumamnya kecil yang masih bisa didengar gama
'haha gadis ini cemburu rupanya'
"kan perginya bareng, jadi pulangnya harusnya juga sama kk"
"kenapa harus sama kakak? buktinya aku bisa pulang sendiri" jawabnya
"ini omeletnya udah selesai, kita makan pake nasi anget sama kecap cabe nggak apa kan kk? adanya cuma ini soalnya.. di toples juga ada kerupuk udang. Tapi kalo kakak nggak mau pakek nasi juga boleh" lanjutnya meletakkan piring nasi dan omelet serta nasi juga kecap cabe yang ia ambil dari dalam kulkas
"hm.. nggak masalah apapun yang kamu masak aku makan" jawabnya duduk manis dengan memangku tangan seraya memperhatikan mona yang kesana kemari
'apaan sih kk gama'
"aku kesini mau bujuk cintaku yang lagi ngambek" ucap gama yang memeluk mona dari belakang
Membuat mona tersentak kaget "kakak ngapain peluk-peluk, jauh-jauh sana" ucapnya menggerakkan pundaknya agar menjauh dari gama
Walau ia pernah berpacaran beberapa kali namun mona tidak pernah terlibat adegan fisik. Ia hanya menjalani hubungan pacaran yang biasa dan aman, dengan alif pun hanya sampai di kecup di kening. Dan perlakuan gama ini membuat bulu kuduknya meremang
"mona.. kakak suka kamu, love you honey" bisiknya tanpa melepas pelukannya.. yang membuat mona menjadi berdegup kencang
"kak.." gugupnya
"hm"
"ka.. kak ini udah siang, um kk.. pulang aja" jawab mona memegang lengan gama dan melepaskan pelukan gama
"tunggu mon" di tahannya
"kakak udah ada yang punya. Kakak bilang nungguin perempuan di bandara itu kan, lalu kenapa kakak bilang ini ke aku?" dengan geram mona mengatakan apa isi hatinya
"mon aku udah nggak punya urusan sama perempuan mana pun. Please trust me?"
"iyakah? kak dia seberani itu deketin kakak, bahkan kalian" mona menghentikan ucapannya
"apa?"
Mona menggeleng mengalihkan wajahnya pada tempat lain
"kalian apa?"
"mona?"
__ADS_1
"kakak tanya kalian apa?" tanyanya dengan tegas dan memegang pundak mona menghadap padanya
"teruskan" lanjutnya dengan sedikit membentak
"kakak berciuman dengan perempuan itu" teriak mona
'ya tuhan mona.. kau emosi sekali' pikirnya melihat gama diam saja
Cup
Dengan gemas gama melayangkan kecupan dan gerakan manis di antara bibir mereka. Sedangkan mona membelalak tak percaya.. ia serasa tumbang tak sanggup berdiri, untungnya gama memeluk pinggangnya erat. Setelah beberapa menit mona akhirnya bisa menghirup nafas dengan baik. Bahkan nafasnya masih terengah-engah
Gama tersenyum lucu dan menempelkan kening mereka berdua
"aku nggak melakukan itu mon, kau terlalu cemburu dan tidak melihat keadaan yang sebenarnya" ucapnya mengelus lembut pipi mona
Membuat mona mengerjap
"gadis kecil dihadapanku ini berhasil mengisi hatiku dan meluluhkan sikapku yang terlalu pengecut untuk mengatakannya padamu. Mona perempuan yang ada di bandara itu, dia hanya masa lalu yang telah ku tinggalkan dan tidak ada untuk kehidupanku. Sekarang, cintaku dan hati ini hanya untukmu honey" ucapnya manis dengan senyum yang cerah menggenggam tangan mona
"kakak" ucapnya pelan
"mona.. will you marry me?" tanya gama
"ha?"
"will you marry me honey?" ulangnya
"kakak?"
"maaf aku tidak romantis seperti laki-laki lain yang ada di luar sana. Yang mungkin pernah kau bayangkan.. but aku sungguh serius padamu, aku ingin kau menjadi istriku. Berjalan bersama anak-anak kita nanti menjalani hidup yang bahagia" ucapnya serius menatap mata mona
"hei kenapa menangis?" tanyanya dengan memeluk mona dengan tetap memandang wajah imut itu
"kakak.. hiks"
"honey.."
Bug
Mona melepaskan pelukan itu dan memukul dada gama "kakak baru saja mencuri ciuman pertama ku, sekarang kakak melamarku begitu saja" ucapnya
"karena aku serius mona, aku tidak ingin kehilanganmu.. lalu bagaimana jawabannya?" tanya gama
"hm.. aku terima" jawab mona mengangguk dengan mengulum senyum melihat ke arah lain
"kakak tahu kau pasti menerima kakak" namun sebelum gama melanjutkan ucapannya, mona sudah memotong ucapannya
"tentu kakak harus tanggung jawab karena sudah mencuri ciuman pertamaku" sungutnya
"karena hal itu?"
"hm.."
"jika aku pernah mencium perempuan lain, maka aku juga harus" dengan cepat mona memotong
"no!! kk gama cuma punya aku" peluknya erat seraya menatap gama
'ih nggak akan aku biarin perempuan ganjen itu atau perempuan lain deketin kk gama' pikirnya
"haha ketahuan.. i know you love me honey.. muach" lagi-lagi ia mendaratkan kecupan manis di bibir mona
Next episode,,
__ADS_1