My Charming Boss

My Charming Boss
Merusak mood


__ADS_3

"dokter mona.. dari mana saja?" tanya seorang suster yang kaget melihat mona muncul kembali selama satu bulan lebih menghilang tanpa kabar


Mona tersenyum tidak enak hati


"ada.."


"dokter harusnya hadapi secara langsung" potong suster sedikit mengecilkan suaranya


Mona diam dengan dahi yang berkerut "maksudnya?"


Sang suster memegang pergelangan tangan mona, menuntunnya duduk di kursi koridor rumah sakit


"suster via, kenapa? maksudnya gimana tadi?" tanyanya


"dokter bukan melarikan diri dari rumah sakit?"


Mona menggeleng "ada beberapa hal yang harus aku lakukan"


Suster via menghela nafasnya "sudah ku duga, tidak mungkin dokter mona menghindar"


Mona kehilangan kesabaran "suster via, bisa katakan dengan jelas.. aku tidak paham" tanyanya tidak sabar


"dokter.. semua orang mengira dokter mona menghindari dokter alif"


Ia membelalakkan matanya


"dokter mona pernah menjalin hubungan dengan beliau bukan?"


Mona hanya mengerjap


"dokter menghilang dua hari sebelum dokter alif tiba, jadi dokter alif pikir dokter mona menghilang karena ada dirinya disini. Semua orang tahunya begitu dok" jelasnya


"semua orang?"


"gosip mudah menyebar dokter, itu bukan hal aneh"


"tapi tidak begitu kenyataannya" bantah mona


Suster via menggeleng "iya sih saya juga tidak yakin, tapi sayangnya gosipnya begitu"


'tokek buntung! bisa-bisanya dia bilang begitu' gerutu mona kesal didalam hati


"itu nggak bener sus.. fitnah, suster bilang aja ke yang lain kalo lagi gosipin saya"


"siap dok, pasti nanti saya bantah gosipnya"


"ya udah sus thanks infonya.. kalo begitu saya masuk dulu nemuin prof syarifudin"


Suster via mengangguk "setidaknya dokter mengerti bagaimana jika mereka memandangi wajah dokter"


"ckk.. belum saja wajahnya digores beling pecahan botol" gumam mona yang masih terdengar oleh suster via


'dokter mona.. wajah gemoy begitu mau melukai orang' ia geleng-geleng kepala


'ada-ada saja bercandanya' pikirnya


Mona melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Setelah membuka pintu, bisa ia lihat semua orang menatap wajahnya bersamaan lalu kembali dengan aktivitas mereka masing-masing


"mona.." terlihat seorang perempuan dengan jas putih menghampiri dirinya


"hai yu" sapanya tersenyum


"dari mana aja?" tanyanya sedikit berbisik


"kau bahkan menghilang lama" ucap temannya yang lain


"hm.. ada beberapa masalah" jawab mona


"harusnya kau memberi kabar dan mengurus izin"


"semuanya mendadak dan ya itu kesalahanku.. aku menyadarinya" ucapnya meringis "aku bahkan malu untuk kembali, bahkan terkesan melarikan diri" ucapannya manyun


"bahkan gosip murahan tentangku trending bukan? haha menyebalkan sekali mendengarnya.. bisa-bisanya dia dengan percaya diri mengatakan hal itu" ucap mona santai geleng-geleng kepala


"kau sudah mengetahuinya mon?"


"tentu saja, ah aku harus menemui profesor"


"prof ada di ruangannya. Semoga berhasil.. good luck" ucap teman-temannya


Mona mengangguk semangat


Selama seharian ia masih berada di rumah sakit, meminta maaf akan tindakannya yang tidak profesional dan tiba-tiba saja menghilang. Bahkan ia di berikan hukuman untuk tidak mendapatkan hari libur dalam waktu satu minggu.. dan membantu senior mengisi waktu dokter lain yang berhalangan


'ckk.. ini namanya kerja rodi' gerutunya dalam hati seraya menutup pintu ruangan pasien


"dokter mona sudah kembali?" sapa pak ob yang berpapasan dengan mona


"ah iya pak" jawabnya tersenyum ramah


"mona?" panggil seseorang yang datang menghampiri mereka, membuat mona menolehkan wajahnya


'ah orang ini.. membuat moodku memburuk' pikirnya dalam hati


"saya permisi dokter" ucap pak ob berlalu


"malam dokter" sapanya datar dan hendak pergi membalikkan badannya tapi dengan cepat alif menahan pergelangan tangannya. Membuat mona enggan dan melepaskan genggaman alif cepat


"mona.. jangan begini" ucap alif


"begini?" tanya mona mengerjap

__ADS_1


"kamu menghindari aku love"


Mona tersenyum tak habis pikir dengan laki-laki dihadapannya ini


"dokter.. saya dan anda tidak punya hubungan apa pun itu sehingga dokter bisa menyebut saya dengan panggilan yang dokter inginkan"


"mon"


"permisi" ucapnya tegas dan membalikkan badannya tanpa mengindahkan panggilan alif


'brengsek bener-bener nggak punya muka' ucapnya dalam hati


_______________


Hari ini arin dan arkana tepat waktunya mereka kembali untuk tinggal di mansion utama milik kakek. Sebenarnya arkana memiliki mansion pribadi miliknya namun arin berpendapat kasihan kakek jika harus tinggal seorang diri.. ia pasti kesepian


Arkana tersenyum senang seraya memeluk arin yang tertidur lelap di dalam mobil. Kakek benar, ia sungguh beruntung bisa mendapatkan arin yang begitu peduli tidak hanya pada diri sendiri.. tapi memahami dan peduli dengan orang disekitar


"sudah sampai tuan" ucap sang driver


"hm.. tolong bukakan pintu mobilnya" jawab arkana


'istriku sangat lelah kah' ia mengulum senyumnya


Dengan hati-hati arkana menggendong arin agar istrinya itu tidak terbangun. Rencana mereka berubah saat di rumah faidhan, istrinya itu ingin membuat cheesecake dulu untuk dibawa ke mansion hingga membuat mereka mengulur sedikit waktu. Yang tadinya berencana akan datang pada sore hari.. nyatanya mereka sampai di mansion kakek pada malam hari


Sebelum vivi bertanya arkana sudah bicara lebih dulu


"kakak bawa kk iparmu ke kamar dulu"


Vivi mengangguk mengerti


"kana baru datang?" tanya gama


"hm.. kk ipar arin tidur, jadi sedang di bawa kk kana ke atas"


Gama mengangguk dan duduk bersantai menonton game show bersama vivi


"bi yaya itu apa?" tanya vivi membalikkan badannya mengikuti arah bi yaya yang hendak ke dapur seraya membawa 3 box kotak persegi panjang berukuran sedang


"cheesecake nona" jawabnya menghentikan langkahnya


"dapat dari mana?"


"nyonya muda yang bawa"


"benarkah? kemari bi" pinta vivi tersenyum cerah


"ah aromanya harum sekali, bi yaya bawakan pisau ya untuk cheesecakenya"


"tunggu sebentar non vi" ia kembali ke dapur mengambil pisau


"sedang berduaan dengan istrinya di atas" jawab gama


"kakak cemburu ya.. pengen juga ya? jangan biarin kk mona sampai lepas kk" ucapnya terkekeh


"haha kau tertarik dengan cucu kakek yang satunya?" tawa kakek menggelegar


"ini non vi"


Vivi memotong cheesecake buatan arin dan memberi bi yaya bagian


"non vi tau aja bibi pengen" tawanya "kalo gitu bibi kebelakang dulu" ucapnya seraya membawa piring kue miliknya


"oke bi"


"kakak itu suka kek sama kk mon.. begitu pula dengan kk mona yang suka sama kk gama" ucapnya seraya memberikan cake untuk kakek


"apa ada yang mau dengannya?" ucap arkana yang berjalan menuruni tangga


"heh.. aku bukan orang kaku sepertimu, hanya arin yang sanggup dengan sikap kakumu" jawab gama menggigit potongan cheesecake buatan arin


Arkana terkekeh "tentu saja, aku tidak peduli orang lain"


"cheesecake kk ipar arin enak sekali.. aku mau belajar"


"anak kecil, istriku membuka toko kue dengan ibu. Beli saja sepuasmu" ucap arkana mengacak rambut vivi dan duduk dihadapan mereka


"kk aku bukan hanya ingin belajar bikin cheesecake, tapi masakan yang lainnya juga" jawab vivi


"hahah apa cucuku yang cantik ini belajar menjadi istri yang baik untuk suaminya nanti?" tanya kakek mengelus kepala vivi


"tentu saja kek, bunda bilang.. harus bisa jadi istri yang bisa segala hal"


"ck.. istri apa? bahkan wisudamu belum kelar" timpal gama memiting leher vivi


"kakakkkk" pekiknya keras


"kakek kk gama jahil" adunya


"hahahaa"


"rasakan biarkan begitu gam" ucap arkana menyandarkan tubuhnya seraya tertawa


"kak arin..... tolong" pekik vivi dengan semangat ia berusaha melepas lengan gama yang masih tetap berada di lehernya. Bahkan kakek dan arkana tertawa bersama melihat tingkah konyol kakak beradik itu


"mana kk arin mu? nggak akan bantu dia" jawab arkana


"vivi kenapa?" tanya arin yang melihat kelakuan gama memiting leher vivi


Dengan cepat vivi beranjak berdiri mendekati arin yang sudah turun tangga

__ADS_1


"kakak lihat mereka bersekongkol menjahili anak cantik ini, kk kana bahkan tidak mau menolong" ucap vivi memasang wajah cemberutnya


"kalian jahil sekali pada adikku" ucap arin merangkul vivi untuk kembali duduk di kursi, sedangkan vivi mengeluarkan lidahnya meledek arkana


"kamu tidak tahu saja jika dia sudah bersuara" jawab arkana


"lihat kan kak?" vivi kembali memanyunkan bibirnya


"biarkan saja vi, biarkan mereka bersama.. vivi bersama kk arin saja" ucap arin duduk disamping vivi


Vivi tersenyum licik pada arkana


"kakak tidur dengan vivi saja ya malam ini, vivi kan lagi bete butuh teman" pintanya, yang mana membuat arkana menegakkan pinggangnya


Arin menoleh melihat pada suaminya


"pliiiiiss" wajahnya memelas


Arin mengangguk "baiklah"


"yess.." vivi tersenyum jahat


"vivi, bukan hanya kakak yang menjahili dirimu.. gama juga. Kenapa kakak yang dihukum" ucap arkana yang memasang wajah kesal tidak terima


"hahaha"


Kini giliran kakek dan gama yang menertawakan arkana


"ayo kk kita tidur" ucap vivi yang kini berdiri hendak pergi ke kamar


"arin ini mas suami kamu" ucap arkana lembut


"tapi.. vivi mas, suasana hatinya tidak baik"


'istriku ini' geram arkana pada arin yang terlalu mudah ditipu wajah melas vivi


Namun saat dua perempuan itu akan melangkah,


Dgerr


"akkkhh"


Mereka berdua terpekik keras mendengar suara petir menggelegar memekakan telinga di barengi dengan padamnya lampu, vivi yang jelas takut akan petir jelas saja ketakutan memeluk arin, begitu pula dengan arin yang berteriak karena takut akan gelap


"kakak" panggil vivi bergetar


Membuat gama menyalakan senter ponsel dengan cepat, dan menghampiri vivi.. membuat gadis itu melepas pelukannya pada arin. Hingga membuat arin semakin takut


"mas arka" panggil arin


"sayang.." sahut arkana segera memeluk istrinya


"arin takut" ucapnya memeluk leher arkana, bahkan nafasnya memburu


"tenang ya, mas disini" ucap arkana mencium dahi arin


"kalian masuklah kembali, mungkin genset listrik ada masalah. Sebentar lagi akan hidup.. sudah, naiklah" titah kakek


"selamat tidur vivi, arin"


"selamat tidur kek" jawab mereka bersama dengan pelan


Akhirnya arin tidak jadi tidur dengan vivi, keduanya sama-sama takut. Entah apa yang terjadi jika mereka bersama.. bisa-bisa sepanjang malam kedua perempuan itu memekik ketakutan


"mas.." bisik arin yang kini digendong arkana ala anak koala menuju kamar mereka


"hm"


"mas"


"iyaa"


"mas" ulangnya


Arkana diam sejenak membuka pintu kamar mereka, menutup pintu dan hendak meletakkan arin di ranjang. Namun istrinya itu terus memeluk leher arkana kencang tak ingin turun dari gendongan suaminya


"mas"


Arkana memilih mendudukkan dirinya di sisi ranjang.. dengan arin yang masih memeluk arkana dari depan, duduk di atas pangkuan suaminya dan melingkarkan kakinya di pinggang tak lepas ia terima memeluk leher arkana


"iya istriku tersayang" jawabnya memeluk pinggang arin


"kenapa dari tadi hanya memanggil?" tanyanya mengecup bibir istrinya


"arin takut mas hilang" jawabnya pelan


"hilang?"


"iya hilang.. ini gelap mas, arin tidak bisa lihat mas" jawabnya meraba wajah arkana


Arkana terkekeh "haha nggak akan hilang arin, orang mas dari tadi kamu peluk erat begini"


"iya.. makanya arin pastiin terus panggil mas arka. Biar suara mas arka tetep kedengeran" jawabnya mengelus lembut rahang suaminya


TEK


Lampu tiba-tiba menyala dengan terang, sedang sepasang suami istri itu terlihat saling menatap dengan posisi yang manis. Sang istri yang menangkup wajah sang suami dan suami yang memeluk pinggang istrinya


"lampunya sudah nyala sayang" bisik arkana


Next episode,,

__ADS_1


__ADS_2