
"aku juga nggak tahu mon, aku bingung.." jawab arin
"gilak sih aku nggak sangka rin, jadi temenku ini udah tahu gimana jatuh cinta beneran haha" mona tertawa menggoda arin
"mona.. aku malu tahu, um..aku bener nggak sih suka sama tuan arkana?" tanya arin
"lah? emang kenapa sampe bisa bilang suka sama dia?" tanya mona
"ya.. aku pernah dengar mbak cika dikantor, dia bilang deg-degan kalau dia sedang menatap tunangannya.. mbak cika pasti suka kan sama tunangannya, berarti aku juga suka sama tuan arkana.. iya yaa mon?" tanyanya
"gini gini, perasaan kamu gimana kalo lagi deket sama dia"
"aku seneng mon, walaupun orang bilang dia galak dan dingin.. um cenderung menyeramkan, tapi bagi aku dia itu baik..tuan arkana itu menawan sekali" ucap arin tanpa sadar
"ciiie, aduh arin.. keknya rasa kamu ama dia bukan cuma suka deh" ucap mona
"iya ya mon, apa aku cuma kagum?" tanya arin
"iyya" jawab mona
Arin menekuk wajahnya, ia terlihat sedih saat mona bilang dia hanya mengagumi arkana
"bukan cuma kagum, tapi arinku ini udah suka dan jatuh cinta sama tuan arkana itu" goda mona
Arin terdiam dengan detak jantung yang berdetak kencang mengingat arkana "aku jatuh cinta mon?" tanya arin
"hm.. mungkin kamunya belum sadar aja, nanti sadar juga kok wkwk"
"eh btw kapan kamu ngerasain deg-degan sama si doi" tanya mona
"um.. sebenarnya..dari kita dateng ke kantor untuk memberikan makan siang pada rio tapi rio tidak ada, aku bilang sama kamu kalau ku berikan pada temanku kan tapi sebenarnya aku berikan pada tuan arka" ucap arin tersenyum kaku
"heh, bahkan itu pun tidak cerita, buat apa diem diem gitu coba" gerutu mona
"iya maaf aku pikir tidak terlalu penting mon" jawab arin
"berarti waktu itu kamu belum punya rasa buat dia, bentar.. um.. terus kenapa bisa kasih tuh kotak makan?" tanyanya
"karena sebelumnya tuan arkana pernah memberikan tumpangan padaku mon, jadi aku pikir aku berikan saja kotak makan itu sebagai ungkapan terima kasih" jawab arin
"ternyata kalian udah sering terlibat ya, pantes aja dah jatuh cinta. Tapi deg-degannya kapan? yang perasaan lain gitu bukan karena kamu takut sama dia" tanya mona
"um.." arin mengingat "saat tuan arka memberikan tumpangan pulang di hari pertamaku bekerja" jawab arin seraya mengingat kejadian dimana driver tuannya itu tiba-tiba mengerem mendadak
"fix, kamu beneran jatuh cinta rin wkwk, aduh bahagianya yang lagi jatuh cinta. Rasanya dunia berbunga-bunga kan?" tawa mona
"monaaa" ucap arin tersenyum malu
Mereka tertawa bersama saat arin menceritakan semuanya dari awal, bagaimana melihat arkana pertama kali, abang ojek online yang salah paham hingga yang terakhir berpelukan tanpa sengaja
Tanpa mereka berdua sadari, dari seberang jalan ada seseorang yang memantau aktivitas mereka yang sedang asik bercerita
Arkana memutuskan untuk mengikuti arin secara langsung, ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri dengan siapa gadis itu bertemu janji
__ADS_1
Dan ternyata arin berkata jujur bahwa ia akan pergi menemui temannya yang bernama mona, senyum arkana terbit mengetahui arin jujur padanya
'ternyata dia tidak membuat alasan, gadis lolaku ini berkata jujur' gumamnya tersenyum melihat arin dari kejauhan
Tak hanya arkana, namun tomi juga menemani tuannya untuk mengikuti seorang gadis yang telah berhasil mengambil perhatian seorang arkana
'kau sangat istimewa nona, kau bisa mengambil hati dan perhatiannya hanya untuk dirimu seorang' ucap tomi dalam hati
______________
Seharian arin berkutat dengan kegiatannya dan bercerita panjang dengan mona, hingga tiba di ruko pada saat petang
"assalamualaikum bu" sapa arin pada ibu yang sedang membereskan barang-barang agar dapat menutup ruko segera
"waalaikumsalam sayang, baru pulang?" tanya ibu
"iya bu, tadi ketemu dulu sama mona di coffe shop" jawab arin
"oh ya udah naik gih bersih-bersih jangan lupa shalatnya" ucap ibu
arin mengangguk "hari ini panas banget bu, gerah" jawab arin
"iyaa makanya jangan lupa minum air putih selalu biar nggak dehidrasi, kamu sana gih keburu isya nanti"
"hm.. astaga bu arin lupa makanannya.."
"udah beres sayang, tadi ibunya pak burhan kemari bawain dua nasi box. Katanya selamatan karena udah sehat udah bisa aktivitas lagi"
"alhamdulillah rezeki, jadi nggak perlu beli lagi hehe" jawab arin
"hehe iyya bu alhamdulillah.. arin naik ya bu" ucap arin
"iyya cepet sana"
Setelah arin dan ibu makan malam di depan tv, mereka memutuskan untuk kembali masuk ke kamar masing-masing karena sudah terlalu lelah
Arin merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya, pikirannya berkelana memikirkan arkana
'kenapa jadi mikirin kamu sih..' arin tertawa sendiri
'kamu?, kalau tuan arka denger gimana ya hehe'
'apa iya akunya udah jatuh cinta? aduh kalau inget lagi jadi deg-degan nih'
'jantung tolong kerja sama baiknya ya, jangan berteriak kalau tuan arka dekat denganku.. jangan juga melompat hingga aku sulit untuk bernafas'
'besok bagaimana ya? ah aku jadi malu kalau nanti bertemu dengannya' arin menggelengkan kepalanya
Arin sibuk berdialog dengan dirinya sendiri, rasanya ia tidak dapat memejamkan matanya dengan mudah
Namun karena tubuh arin sudah sangat lelah maka tak lama ia terlelap setelah ia membaca doa tidurnya
Hingga pagi menjelang, dan seperti biasa arin bangun pagi. Membereskan lantai atas dan membuat sarapan pagi lalu bersiap untuk pergi bekerja..
__ADS_1
"arin pamit bu, assalamualaikum" salam arin
"waalaikumsalam sayang hati-hati di jalan" ucap ibu sedikit kencang karena arin sudah berjalan lebih dulu meninggalkan ruko
Sesampainya di kantor arin memasuki lobi kantor dan berpapasan dengan karyawan lain seraya menebar senyumnya
Sejauh kurang lebih dua minggu ini arin menikmati bekerja di perusahaan ini, tidak ada yang dengan sengaja mengganggu dirinya
Karyawan di sini memang taat akan peraturan, yang paling penting orang-orang disini tidak mau tahu dengan kegiatan orang lain, bisa menjadi bumerang bagi siapa saja yang bersikap dengan tidak seharusnya di perusahaan ini
"arin" teriak kia
'dia senang sekali berteriak' pikirku terkekeh
"kau ini senang sekali berteriak kia, semua orang memandangimu" ucapku
"haha biarkan saja rin, kita naik bareng yuk" ucap kia seraya menggandeng tanganku
Lalu kami berjalan bersama menuju lift, namun saat aku dan kia berjalan ke arah lift terlihat dari jauh tuan arkana dan asisten tomi berjalan memasuki lobi perusahaan
Tubuhku kaku saat melihatnya dari jauh, tatapannya datar dan dingin tidak terbaca apa yang sedang ada di pikirannya
Sebelum aku sempat menyapanya, tuan arkana sudah melewatiku begitu saja menuju lift
Deg..
'tuan arkana?' pikir arin
"rin ayo, kok kamu jadi bengong sih?" tanya kia
Arin baru tersadar saat kia menepuk pelan bahunya "ha? iyy.. ya ayo" jawab arin
Selama arin bekerja, ia tidak fokus entah apa yang dipikirkannya.. rasanya sedih saat melihat arkana diam berlalu begitu saja dihadapannya
'apa tuan arkana tersinggung denganku? apa dia marah karena aku tidak bisa ikut dengannya kemarin?, dia pikir aku hanya membuat alasan kah?'
"kenapa sih neng geulies, dari tadi diem mulu?" sapa alika padaku
"ah enggak kok" arin tersenyum
"galau ya??" goda alika
"siapa yang galau sih, orang nggak kenapa kenapa juga" jawabku santai
"ih ini mah sudah terlihat atuh.. malah ngeles kek bajayy" ucap alika tertawa
"udah sana, ntar di tegur mbak cika loh" ucapku
"ini udah pulang kali rin.. heh? bilangnya tidak galau, buktinya ada di depan mata. Kamu sampe nggak sadar kalau udah jam pulang kerja, mau kesurupan disini sendiri? ya udah aku tinggal aja kalo gitu" ucap alika
"eh nggak lah, al akunya jangan di tinggal.. tunggu" teriak arin saat alika sudah berjalan keluar ruangan lebih dulu
Alika tertawa cekikikan "haha makanya jangan kebanyakan galau" ucap alika pada arin yang sudah berjalan berdampingan dengannya menuju lift
__ADS_1
"iyiya iseng banget sih" ucap arin tertawa bersama dengan alika
Next episode,,