
Sudah lima belas menit lebih mona menunggu arin di coffe shop, tapi perempuan cantik itu tak juga menampakkan batang hidungnya
Walau dengan hati yang kesal mona masih dengan setianya menunggu teman baiknya itu, duduk di sudut meja dengan masih memainkan hpnya mengscroll media sosialnya
Arin masuk dengan berjalan lelah seraya mengatur nafasnya kembali "mon sorry ya telat hehe" ucap arin dengan menundukkan bokongnya
"dari mana aja sih?" tanya mona dengan raut wajah yang tidak bersahabat
"iyaa maaf tadi.. um..
[ Flashback on ]
"nona?" panggil tomi yang berada di samping arkana
"ha? iyy..ya?" tanya arin seraya menatap arkana dan tomi bergantian
"mari akan saya antar" tomi berpaling melihat arkana yang menatapnya
"maksud saya.. pulang bersama tuan arkana, nona" jelas tomi
"um.. itu" bagaimana menolaknya?' pikir arin
"maaf tuan saya pulang sendiri saja" ucap arin
"kamu membuat alasan karena tidak mau pulang bersamaku?" tanya arkana
"tidak.. maksudnya saya benar ingin bertemu dengan mona" jelas arin
Namun arkana hanya mengangguk, lalu beranjak pergi dengan raut wajah yang sudah ditekuk
'apa tuan arkana marah?' tanya arin dalam hati saat melihat arkana berlalu
Saat tomi akan menyusul arkana, arin menghentikan tomi
"tomi maaf, apa tuan arkana marah padaku?" tanya arin
"sepertinya begitu nona" jawab tomi
"lalu.." ucapan arin terpotong karena arkana sudah berteriak dengan tomi
"cepatlah tomi" teriaknya
"maaf nona, saya permisi" ucap tomi
"eh tomi tunggu, sampaikan maafku pada tuan arkana ya" pinta arin
Tomi hanya mengangguk dan beranjak pergi
'aku jadi tidak enak dengannya, kenapa rasanya tuan arkana seperti kesal dan kecewa denganku ya' pikir arin dalam hati
Hingga membuat ia lupa bahwa ia akan menemui mona, arin berjalan cepat menuju halte bus tapi busnya sudah lewat, hingga terpaksa ia harus menunggu bus selanjutnya
Membuatnya terlambat menemui mona, untung saja temannya itu masih setia menunggunya disana
__ADS_1
[ Flashback off ]
"tadi kenapa?" tanya mona
'apa aku cerita saja ya, jika akhir-akhir ini sepertinya aku dan tuan arkana sering bersama?, tapi mona kan mau cerita.. kenapa jadi aku yang mau cerita' arin berdialog dengan dirinya
"apa sih? ada masalah? kenapa malah jadi ngelamun sih rin" tanya mona
"hah? enggak kok.. cuma lagi kepikiran nanti buat makan malem beli apa, soalnya ibu nggak masak" jelas arin beralasan pada mona
"ye.. gitu doang" jawab mona
"eh mon, tante kamu kenapa lagi?" tanya arin
"masalah uang, nenek lampir itu terus menggerus harta papa dengan seribu macam alibinya.. aku muak rin"
"aku bisa kuliah selesaiin kuliah ya karena kerja kerasku rin yang aku ambil dari beberapa hasil keuntungan minimarket papa... kalau bukan aku yang turun langsung mengawasi gimana nasibku bisa berdiri sendiri sampai saat ini rin"
Arin masih mendengarkan
"wanita iblis.. argghh!!" teriak mona hingga membuat pengunjung lain mengarahkan pandangannya pada mona dan arin
"pelan-pelan mon, kita jadi perhatian nih" ucap arin yang menoleh melihat semua orang menatap dirinya dan mona
"iyee," jawab mona masa bodo
"jadi bagaimana dengan tantemu itu?" tanya arin
"dia bukan tanteku, dan tidak akan pernah" jawab mona kesal
"nggak ada, untuk saat ini masih aman"
"nggak akan aku biarin nenek lampir itu bersikap tak tahu diri"
"aku jadi takut" ucap mona
"ha? takut?.. yang benar saja?" tanya arin kaget
"takut lupa kalo punya tuhan, terus kelepasan bunuh tuh iblis nyata" jawab mona
Arin ternganga dan menggelengkan kepala dengan ucapan mona
"dasar, aku kira takut apaan" jawab arin
Arin tak habis pikir dengan temannya ini, mona bukanlah orang yang mudah putus asa dan menyerah meratapi nasib dengan tangisan yang tak kunjung selesai
Sejak dari dulu sikap mona seperti ini, membuat arin juga melihat bahwa menangis atau marah akan suatu keadaan merupakan hal yang wajar namun tak harus dipertahankan
'aku sangat beruntung memiliki teman sebaik kamu mon' ucapnya dalam hati
"hm.. selalu cerita ya mon kalau ada masalah apa pun itu, berbagi sama temen kamu ini. Temen lo ini bisa diandalkan kok" ucap arin
"yakin nih?" tanya mona
__ADS_1
Arin menatap mona heran "iyalah, emang kenapa?"
"arin sayang kamu aja nggak cerita masalah kamu, ada yang kamu pikirin kan pasti?" tanya mona dengan menatap tajam arin
"hm.. emang nggak bisa banget ya nggak ketahuan?" tanya arin balik
"wkwkwkk" mereka tertawa bersama saat arin mengakui jika memang ada yang sedang dia pikirkan
Mona mengatur nafasnya kembali "jadi kenapa?" tanya mona seraya menyeruput avokado ice coffenya
"aku juga mau jelasin, tapi bingung harus dari mana" ucap arin tersenyum bingung
"ya dari awal dong? apalagi?"
"hm gimana ya?" arin menyatukan jari-jarinya
"duh lama deh, apaan sih penasaran tau"
"aku kan malu mon, nanti akunya yang gimana gimana" arin cemberut
"ya makanya kalo lo nggak cerita ya mana orang tau"
"mon..um.. aku kayaknya suka sama orang deh mon" jawabnya takut-takut
"apaa?" teriak mona, lagi-lagi pengunjung lain menatap mereka
Arin menoleh melihat orang disekitar
"jangan di peduliin, terus terus lanjut.." ucap mona heboh
"apa iya aku suka sama dia mon?" tanya arin
"duh makanya buruan cerita dulu baru boleh nanya"
"um.. kamu inget waktu aku ke rs buat ketemu kamu" mona mengangguk "itu pertama kalinya aku ketemu dia mon, terus aku ketemu dia lagi waktu aku anterin kamu tom yum"
Mona memotong pembicaraan arin "haha kalo lo ketemu sama tuh orang lagi berarti temenku yang cantik ini jodoh sama dia" tawa mona
"ih serius mona" ucap arin
"iyaa ini serius kali, terus-terus gimana?"
"um.. ternyata dia ceonya HSM Group mon" jawab arin pelan
"what?..." teriak mona dengan suara yang tidak bisa dikontrol dan arin yang sudah menundukkan kepalanya karena pasti pengunjung lain menatap mereka
Lagi-lagi semua orang menatap ke arahnya
'apa ini perpustakaan hingga pandangan orang begitu?, cih menyebalkan' gerutu mona
"arin, kamu suka sama dia?.. gilak ini gila, Arkana Mada?" tanya mona
Arin hanya tersenyum malu pada mona
__ADS_1
Next episode,,