My Charming Boss

My Charming Boss
72. Kangen banget hm..


__ADS_3

"makanya rin lain kali mah hati-hati, repot loh kalo kalian tadi tidak lari" ucap ibu yang baru saja mendengarkan cerita arin


Arin yang masih geli atas kejadian tersebut tertawa cekikikan "iya bu serem, tapi jadi lucu kita kayak dikejar hantu haha"


Ting..


Mereka yang kini berada di dapur pun menoleh satu sama lain. Suara bel ruko terdengar, menandakan ada pengunjung yang datang


"kamu belum tutup rin?" tanya ibu


"udah bu, udah arin balik gantungannya.. arin lihat dulu kalo begitu" jawabnya berdiri menuju ruangan depan


Arin mengedarkan pandangannya dan melihat arkana berdiri di depan kasir


'mas arka?' jantungnya kembali berdetak, karena tidak melihat arkana beberapa hari ini membuat arin sedikit gugup


"siap..." belum sempat ibu bicara ia sudah melihat ternyata arkana yang datang, ibu tersenyum dan memilih kembali ke belakang membiarkan mereka bicara


"hei.. kenapa tetap berdiri disana?" ucap arkana mengulurkan tangannya pada arin


"ah?" arin yang kembali sadar kini berjalan menghampiri arkana


Digenggamnya tangan arin dengan lembut "kenapa nggak bilang?"


Arin mengerutkan dahinya bingung "bilang?"


Arkana menghela nafasnya "apa saja yang kamu lakukan hari ini?" tanyanya


Arin yang mengingat kejadian tadi kembali merasa lucu, ia tersenyum lebar menahan tawa. Sedangkan arkana menarik alis matanya heran melihat arin menahan tawanya


"ada yang lucu?" tanya arkana


Arin mengangguk "tadi orang yang mau janjian sama arin menakutkan mas, dia juga sempat mengamuk hehe.. tapi aku dan juga mona berlari meninggalkan cafe secepat mungkin mas, kamu tahu tidak? bahkan kami belum membayarnya. Tapi saat kami kembali ingin mengambil mobil mona, weitresnya bilang sudah dibayar laki-laki yang mengamuk tadi.. pasti saat itu dia sangat kesal karena kami kabur dan dia juga yang harus membayar tagihannya" cerita arin tertawa kecil


Arkana tidak habis pikir dengan perempuan dihadapannya ini,


'bagaimana bisa kini ia tertawa tanpa merasa takut sedikit pun, aku saja berdebar saat tahu apa yang terjadi padanya' gumam arkana


Sebelumnya tomi telah mengatakan informasi dari bawahannya, ia mendengar bahwa arin dan mona berlari dari seorang laki-laki yang diketahuinya seorang penampung barang-barang curian. Bagaimana jika laki-laki itu bersikap kasar dan nekat menyakiti kedua sahabat itu, dari sejak tadi pikiran arkana berkelana memikirkan bagaimana arin. Ia baru tenang setelah bawahannya mengatakan semuanya baik-baik saja


"hm.. tapi jangan lagi seperti itu, pastikan kembali siapa yang akan kamu temui" ucap arkana mengelus kepala arin, namun gadis lolanya itu masih tersenyum lucu


"apa sebegitu lucunya?" tanya arkana heran, sejak tadi arin masih merasa lucu


"iyya haha, arin lucunya karena inget waktu kami lari-larian lagi kek masih jaman sekolah" jawabnya meledakan tawanya


Arkana mulai gemas melihat arin tertawa tanpa canggung, sungguh tawa dan senyum perempuan itu begitu tulus terlihat. Dipeluknya lengan arin, menggiringnya untuk lebih mendekat padanya. Arin yang merasa arkana menariknya mendekat.. perlahan menghentikan tawanya yang berubah menjadi detak jantung yang berdebar


"emang dulu kenapa lari-larian?" tanya arkana tepat di hadapan wajah arin


"um.. dulu itu.. ada anak stm yang gangguin kita di jalan dekat sekolah, karena.. mereka dekat-dekat jadi mona timpuk pake kamus tebel punya arin"

__ADS_1


"jadi?"


"kamusnya hilang" jawab arin


Arkana mengulum senyum mendengar jawaban arin


"bukan kamusnya yang mas tanya, setelahnya gimana?"


"oh.. itu ya.. kita pergi lari dari sana" jawab arin


"um.. mas" ucapnya tertahan


"hm.." tanya arkana yang masih memeluk pinggang arin dan memandang arin dekat


"um.. mas jangan deket-deket" ucap arin pelan seraya mendorong dada arkana


Arkana terkekeh melihat pipi arin yang sudah merona "emang kenapa?" tanya arkana lembut seraya mendekatkan wajahnya pada arin


Tanpa menjawab ucapan arkana, arin melepaskan pelukan arkana dengan cepat. Hingga membuat laki-laki itu tidak sadar dengan gerakan arin yang kini berlari menjauh ke arah dapur


Arin tersenyum melihat arkana yang kecolongan dari gerakannya "arin ada buat bubur ayam, arin bungkusin dulu.. biar mas arka bawa pulang buat kakek" ucap arin berlalu


'huff.. gadis ini, sabar kana' gumamnya dalam hati seraya mengelus dadanya tersenyum


Kini ia duduk di kursi menunggu arin keluar


"eh.. ada arka?" tanya ibu


"malam.. bagaimana kabar kakek?"


"baik bu, alhamdulillah" jawabnya


"kabarmu sendiri?" tanya ibu seraya membereskan sedikit kotak kue yang berantakan


"sehat bu, kabar ibu?" tanyanya


"ibu mah baik, tapi putri kecilnya ibu itu.." ibu menghentikan ucapannya kemudian berbisik


"bosen.. nunggu kamu nggak dateng-dateng" ucap ibu terkekeh "ibu masuk ya, udah malem.. hati-hati di jalan pulang" ucap ibu yang berlalu masuk naik ke lantai atas


"iyy..ya bu, selamat istirahat" balas arkana


'haha jadi kesayanganku itu selalu menunggu kehadiranku?' pikirnya dengan senyum yang mengembang


Arin keluar dari dapur dan membawa dua box bubur ayam untuk kakek dan arkana


"mas" panggil arin membubarkan pikiran arkana


"hm.."


"ini bubur ayamnya, dibawa ya buat kakek" ucap arin tersenyum

__ADS_1


"buat mas?" tanyanya tersenyum lebar mengingat ucapan ibu tadi


"ini, kan arin bungkusin dua box" jawabnya mengulurkannya pada arkana


Arkana mengambilnya lalu meletakkannya di atas meja, arin menatap bingung arkana


"mas nggak suka bubur ayam?" tanya arin melihat arkana meletakkannya di atas meja


"hm.." jawab arkana


Arin yang mendengar ucapan arkana merasa tidak enak hati, seharusnya ia bertanya dulu apa arkana menyukainya atau tidak


"ah maaf it.. "


Tanpa mendengar ucapan arin arkana menarik arin masuk ke dalam pelukannya "kamu kangen banget hm..?" tanya arkana


Arin mengerutkan dahinya


"kamu selalu nungguin mas dateng kan"


Blush....


Wajah arin memerah mendengar ucapan arkana, berada didekapan arkana membuatnya menyembunyikan wajahnya yang sudah merona


"maaf ya mas banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja" ucapnya mengecup kepala arin dengan lembut


Arin mengangguk membalas pelukan arkana dengan gugup, membuat arkana tersenyum lucu merasakan detak jantung arin yang berdetak dengan begitu kencang


Namun baru beberapa detik arin sudah melepaskan pelukan arkana dan sedikit memberi jarak dengan arkana


"um.. mas.. ini semakin malam.. um.. buburnya akan dingin dan tidak akan enak lagi" ucap arin gugup


Arkana mengulum senyum "ada microwave"


"um.. pasti kakek menunggu" ucap arin kembali "um.. itu buburnya berikan saja pada driver mas atau"


Belum selesai arin bicara arkana memotong ucapan lebih dulu


"tidak.. kamu masaknya pake cinta, mana mungkin untuk orang lain. Lagi pula mas begitu menyukai apapun yang kamu buat untukku" ucapnya menggoda arin


"tapi.. mas bilang tadi"


"mas suka sayang.. yang tadi nggak perlu didenger, okay. Karena sudah malam kamu juga perlu istirahat.. mas pulang ya. Bye sayang.. tidur yang nyenyak" ucap arkana seraya tersenyum memeluk pinggang arin dengan mengecup pelan atas kepala arin


Arin tersenyum merona dan mengangguk


"buburnya hampir lupa" ucap arkana kembali membawanya


"hati-hati mas" ucap arin melambaikan tangan pada arkana yang telah berjalan menghampiri mobilnya


Next episode,,

__ADS_1


__ADS_2