My Charming Boss

My Charming Boss
76. Gemes banget


__ADS_3

Dengan ramah ibu menyambut baik arkana dan juga kakek yang datang ke ruko mereka


"silahkan masuk kakek henri" ucap ibu menyambut kedatangan arkana dan kakek


"terima kasih" jawab kakek


"silahkan duduk dulu, saya panggilkan arin terlebih dulu" ucapnya permisi


Hari ini arin dan arkana serta kakek dan ibu sedang berkumpul bersama membahas tentang kelanjutan dari lamaran arkana tadi malam, arkana meminta agar bisa menikahi arin secepatnya. Begitu pula dengan ibu, tidak baik jika putri kecilnya itu terjebak hubungan yang belum juga resmi.. akan buruk untuk mereka juga pembicaraan orang diluaran


"maaf menunggu lama kek" ucap arin tersenyum


Penampilan gadis cantik itu sungguh selalu menawan, kini ia menggunakan dress sopan motif bunga-bunga dengan panjang dibawah lutut.. terkesan sederhana namun enak dipandang


"ah cucu menantu kakek yang cantik.. kemari duduklah" ucapnya menepuk pelan kursi tepat di sampingnya


Kemudian arin menghampiri kakek, lalu duduk dengan manis di sana, yang diikuti pula oleh ibu yang duduk di hadapan kakek dan arkana


"begini bu, maksud kedatangan saya dan arkana kemari ialah untuk mengatur kembali acara yang kita hadiri kemarin malam.. saya juga ingin menanyakan lagi kesediaan arin agar menjadi cucu menantu untuk cucu cerewet ku arkana"


Arkana yang mendengar ucapan kakek hanya berdeham geram, 'bisa-bisanya kakek menurunkan pesonaku dihadapan arin' pikirnya


"bukankah pernikahan suatu hal yang sakral serta tulus nan suci, bukan suatu kebijakan yang baik jika hal ini terkesan memaksa dan tidak disetujui oleh kedua belah pihak yang akan menjalani kehidupan baru mereka. Maka dari itu saya ingin meminta kembali kesadaran arin untuk menjawab permintaan kami"


"tentu saja kakek, saya sebagai orang tua.. yang menyayangi dan mencintai arin putri kecilku ini, tentu ibu ingin mendapatkan menantu laki-laki terbaik untuk dirinya. Walau sejujurnya saya menyukai dan merestui arkana namun tetap saya menyerahkan semua keputusannya pada arin, hendaknya ia tahu apa yang ia rasakan di hatinya" ucap ibu menggenggam tangan arin lembut


Kakek mengangguk setuju pada ibu


"sayang.. bersediakah arin menjadi istri dari cucu kakek ini?"


Arin menoleh pada ibu yang terlihat tersenyum manis menyerahkan segala sesuatunya pada dirinya, begitu juga dengan kakek yang juga tersenyum menunggu jawaban darinya


Lekas ia mengangguk "arin bersedia kek, insyaallah" jawabnya


Arkana terus tersenyum menatap arin lekat


"kakek senang mendengarnya sayang. Jika begitu baiknya kita rencanakan akan acara akad dan resepsi pernikahannya"


"bagaimana dengan kesepakatan kalian? kapan waktu baik yang kalian inginkan untuk itu?" tanya kakek


Arin yang tidak tahu menatap arkana yang masih memandang dirinya


"ekhm.. kana rasa arin setuju dengan keputusan kana, kana berencana untuk dua bulan dari sekarang kek.. mengingat semua hal untuk acara, pendaftaran pernikahan, dan hal lainnya. Kana ingin semuanya tersusun rapi dan sempurna" jawabnya tersenyum melihat arin yang nampak setuju dengan dirinya


Kakek menggangguk paham dengan maksud arkana "bagaimana sayang, kau setuju?" tanya kakek


Arin menoleh pada ibu "ibu ikut bagaimana arin, ibu tahu putri ibu bisa mengambil keputusan yang baik"


"arin setuju dengan keputusan mas arka kek" jawabnya kemudian


Mereka kembali berdiskusi dengan setiap rencana dan bagaimana pengaturan pernikahan mereka nanti, ibu dan arin tidak menuntut hal yang berlebih atau memberatkan bagi arkana dan kakek. Begitu juga dengan mahar dan penyelenggaraan pesta pernikahan nanti, mereka serahkan kepada arkana.. arin hanya meminta untuk tidak berlebihan dan meminta kesakralan pernikahan yang terpenting


Tawa dan senyum mengembang di wajah mereka yang begitu bersemangat membahas segala sesuatunya, mereka pun melanjutkan untuk makan malam bersama dan melanjutkan berbincang santai


"astaga rin," ucap ibu menepuk pelan dahinya


"kamu simpen nomor ponselnya bu ine?" tanya ibu


"iya kemarin udah di save di ponsel bu, kenapa?" tanyanya bingung


"ada masalah bu?" tanya kakek

__ADS_1


"ah bukan, hanya saja saya lupa memberi pesan alamat ruko padanya" jawab ibu pada kakek


"ibu tidak enak, takutnya nanti bu ine nunggu kabar dari ibu.. ibu lupa minta sama kamu nomornya"


"ya udah, arin naik dulu bu ambil ponsel" ucap arin


"arin ke atas dulu kek" ucapnya kemudian pergi mengambil ponselnya


"kana susul sebentar kek bu" ucapnya berlalu tanpa menunggu persetujuan ibu atau kakek


Sedangkan kakek dan ibu hanya menatap laki-laki itu berlalu


"arin" panggil kana menyusul arin naik


Gadis cantik itu menoleh melihat arkana menghampirinya "mas?" tanyanya gantung


Arkana tersenyum memperlihatkan giginya rapat, "ayo.. mas temenin" ucapnya berjalan lebih dulu menuju kamar arin dan masuk tanpa menunggu arin kembali


Arin mengerutkan dahinya lalu menahan tawanya melihat arkana yang berlagak sok tahu, lalu berjalan melewati kamar yang dimasuki arkana


"eh.. sayang, kamu mau kemana?" tanya arkana melihat arin berjalan terus melewati kamarnya


"ambil ponsel di atas" jawab arin tanpa menoleh


Arkana mulai mengerti, ternyata ponsel gadis itu bukan ada di kamar. Lalu ia menyusul arin cepat


"kenapa nggak bilang?" tanya arkana


"haha mas kan nggak tanya" jawabnya menaiki tangga lurus menuju rooftop ruko


'iya sih.. tap..'


"kamu sengaja hmm?" susulnya


Grepp..


"kamu yaa, usil sekarang hm iya.." ucap arkana merengkuh arin dengan menggelitiki arin yang kini tertawa geli terbahak-bahak


"udah mas haha, aku cuma bercanda" ucap arin berusaha melepaskan pelukan arkana yang masih terus menggelitiki dirinya


"nggak akan"


"haha udah mas" tawa arin


"gggp.. gemes banget sih" dengan gemas arkana kini menggigit pelan pipi arin dan memeluknya


"mas.. kamu kanibal" lepas arin kemudian menjauh dari arkana


"hahahaa sini kenapa menjauh sayang" ucapnya memegang perutnya terbahak


"ganteng-ganteng vampir" ucap arin tertawa lucu seraya berjalan ke ayunan tambang yang biasa ia tiduri "harusnya ganteng-ganteng serigala seperti di tv hihi" gumamnya cekikikan yang masih terdengar oleh arkana


'gadis ini, benar-benar bikin gemes' pikirnya


Arkana memilih menghampiri dan duduk di ayunan tambang "oh jadi akunya ganteng" tanya arkana


Arin mengambil ponselnya seraya tertawa kecil dan juga duduk di samping arkana "om ganteng"


"om? aku tua banget emang?" gumamnya seraya mengelus rahang tegasnya


"haha bukan akunya yang bilang, bella yang bilang kan?"

__ADS_1


"akunya nggak ganteng nih?" tanya arkana menyipitkan matanya


Arin menggelengkan kepalanya menahan tawa


"really?"


"nggak hihi" tawanya


Dengan cepat arin berdiri hendak pergi, namun secepat kilat arkana menyambar pinggang arin hingga duduk menyamping di pangkuannya


"kamu mau mas gelitikin lagi hm?" bisik arkana


"iyya..iya nggak" jawab arin cepat


"jadi mas ganteng nggak?" tanyanya


"hm" angguk arin


"hm apa sayang, yang jelas"


"iyaa mas arka ganteng" ucap arin tersenyum malu di balik ceruk leher arkana


Arkana tersenyum senang mendengar suara arin yang malu-malu


"sayang.. mas boleh tanya?"


Arin mengangguk di dalam nyamannya dekapan arkana


"nanti kamu masih mau kerja tidak setelah kita menikah?" tanya arkana mengelus lembut kepala arin


"mas izinkan?" tanya arin pelan


"tidak" jawab arkana tegas


"maka arin tidak akan bekerja" jawabnya yakin


"benarkah? kamu terpaksa?" tanya arkana mendorong pelan arin agar menatap mata indah itu langsung


Arin menggelengkan kepalanya tersenyum "arin memang pengennya tidak kerja lagi, arin maunya waktu dan perhatian arin hanya untuk suami arin dan anak-anak kita. Arin seneng ternyata mas juga punya pemikiran yang sama" jawab arin


"oh sayang" peluk arkana kembali dengan mengecup pipi chubby itu


"mas.. tapi" ucap arin menggantung


"apa?"


"kalo.. boleh arin bantuin ibu di ruko?, um.. bikin kue" jawab arin takut-takut


Arkana tersenyum manis menatap arin "boleh sayang, asal nggak ganggu jatah mas" ucapnya spontan


Arin mengerutkan dahinya bingung, sedangkan arkana yang sadar akan ucapannya dengan cepat memperbaikinya.. jangan sampai perempuan ini berpikiran bahwa ia telah membayangkan yang belum terjadi


'jangan sampai gadisku ini menyadarinya' pinta arkana dalam hati


"sayang.. kita turun kembali ya, pasti kakek dan ibu menunggu" ucap arkana mengalihkan pembicaraan


"ah iyaa" arin melompat cepat dari pangkuan arkana, wajahnya memerah malu


'kenapa nyaman sekali duduk di pangkuannya mas arka, ih arin kamu bikin malu' pekiknya dalam hati


Sedangkan arkana terlihat lega menghembuskan nafasnya 'untung gadisku ini sedikit lola' pikirnya tertawa lucu

__ADS_1


Next episode,,


__ADS_2