
Dengan cepat ia berlari menggenggam erat bag shoulder ditangannya
'ini gila, keterlaluan' pekiknya bergetar takut seraya berlari meninggalkan apartemen mewah itu
Setenang mungkin kini ia berjalan menelusuri koridor, membuat agar orang lain tidak curiga terhadap dirinya
Perempuan itu ialah sefiera mona.. ya ia sempat menggerutu tadi pagi bagaimana mungkin mobil kesayangan itu tidak mau di starter, juga hujan yang turun di pagi hari membuatnya semakin kesal. Hingga membuatnya membawa jaket denim untuk menghalau hujan yang membasahinya..
Tapi kini ia amat sangat bersyukur, berkat mobilnya yang rusak maka jejak ia pergi ke apartemen ini sulit di sadari, juga hujan deras yang sempat ia kesalkan karena harus menenteng jaket denim bersama jas dokternya.. kini sungguh membantu mona untuk menyembunyikan lumuran darah di bagian tangan depan baju,
Dengan berjalan terseok-seok di jalanan malam, mona menetralkan detak jantung yang sedari tadi berdegup kencang tak beraturan. Sungguh ia tak sanggup lagi berjalan, kakinya begitu lemas walau hanya untuk berdiri
Didudukkanya tubuh lemasnya tepat di bawah pohon depan jalan, ia beristirahat sejenak menghapus air matanya yang mengalir tanpa berhenti.. juga tubuhnya yang kini masih bergetar takut
'hal apa yang aku alami tadi?' pikirnya kembali mengingat kejadian itu
[Flashback on]
"lelah sekali ya dokter?" tanya ob rumah sakit
"ah? lumayan kaki rasanya di spa" jawab mona terkekeh
"dokter bisa saja" tawanya juga
Tring..
Mona menyipitkan matanya melihat siapa yang sedang meneleponnya
'kali ini apa lagi?' pikirnya
📞 "ya? ada apa?"
📞 "mona datanglah ke apartemen blitz queensland"
Mona terdiam
"dokter, saya permisi" pamitnya pelan
Mona mengangguk
📞 "aku tidak mau"
📞 "datang sekarang, maka tante akan memberikannya
'apa??'
📞 "katakan?"
📞 "tante akan mengambil segalanya"
📞 "maka ambillah"
📞 "haha keras kepalamu itu sungguh menyebalkan, kau melewatkan apa yang pernah kau cari"
Tutt.
"halo.. halo.. brengsek" pekik mona dengan nafas yang terengah
'peti itu, kalung mama bisa membukanya' gumamnya
Tring..
📩 "nomor 915, tante menunggumu"
'mereka memiliki peti itu? apa mungkin' pikirnya ragu untuk pergi ke sana
__ADS_1
Waktunya bekerja telah selesai, ia pikir tak salah jika ia melihat sendiri apa yang diinginkan tantenya. Ia pergi menggunakan bus menuju apartemen
'pantas saja arin nyaman naik bus, ternyata tidak buruk'
'tapi kenapa aku menjadi takut?'
'jangan biarkan ini buruk, ku mohon ya tuhan' doanya
Tak.. Tak..
Mona melangkahkan kakinya masuk ke lobi apartemen dan menaiki lift menuju lantai sembilan, nomor kamar yang disebutkan tantenya tadi
Tring..
📩 "masuk dan lihat sendiri"
Deg..
Jantung mona berdetak tidak baik, apa ini pertanda buruk?. Namun ia memberanikan diri untuk masuk
Ceklek..
Ia menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruangan, ia melangkahkan kakinya saat melihat bayangan seseorang berdiri di balkon depan
Mona menoleh terkejut mendengar pintu apartemen ini tertutup rapat, dengan berusaha ia membuka namun pintu tak kunjung terbuka
'tidak bisa.. apa yang dia rencanakan' pikir mona yang mulai ketakutan
"hei, cantik.. mengapa berdiri disana? come to dady? malam ini kau menjadi sugar baby ku" ucap laki-laki tua dengan rambut putih menghiasi rambutnya
'najis aku tidak sudi, jadi ini keinginannya?'
"berhenti menatapku dengan matamu yang besar itu.. aku tidak setua itu, lihat tubuhku masih kencang dan berotot" ucapnya seraya membuka kemejanya dan mengambil gelas wine di atas meja sofa
'aku hanya akan memberikan semuanya untuk suamiku, orang yang mencintaiku dan kucintai'
"kau milikku, perempuan itu memberi harga tinggi untukmu.."
'dia menjualku setelah tidak mendapatkan uang dariku'
'iblis'
"hahah ku pikir ia membual mengatakan kau sempurna, tapi setelah ku perhatikan perempuan itu benar.. kau cantik dan manis.. sepertinya kau juga belum terjamah" ucapnya menyeringai nakal
Dap.. dap.. Ia mengontrol deru nafasnya, berusaha untuk tidak bertindak gegabah dan merugikan dirinya, ia berpikir keras bagaimana melarikan diri dari sini
"kemari baby" ucapnya merentang tangannya
"aku tidak punya urusan dengan kalian, jika kau mau pilihlah perempuanmu diluaran sana.. dan itu bukan aku"
"buka pintunya sekarang" ucap mona dengan tenang walau hatinya kini bergemuruh
"aku akui ketenanganmu, tapi itu tidak ak.."
"aku peringatkan untuk terakhir kali" potong mona dengan nada mengancam
'ya tuhan.. aku harus bagaimana? sungguh aku takut sekali'
"haha aku menyukai sikap pembangkangmu"
Kali ini orang itu berjalan menghampiri mona dan menariknya kasar dengan mendorongnya ke atas ranjang, namun mona melompat cepat hingga membuat kepalanya terbentur ujung nakas
Mona meringis memegang dahinya
'aw.. kepalaku sakit, jangan lemah mona tetaplah sadar dan kalahkan bandot tua ini' semangatnya pada diri sendiri
__ADS_1
"haha kau memilih untuk terluka, come on.."
Lagi-lagi ia menarik lengan mona kasar, mona memberontak namun sulit melepaskan diri dari pria itu. Mona begitu jijik saat laki-laki itu tersenyum dan mencengkam dagunya kasar lalu menamparnya menyisakan bekas merah dan sedikit lebam di ujung bibir manis mona
"kau membuatku kesal"
"iblis kau" teriak mona memekik tepat di gendang telinganya
"brengsek" ia kembali mendorong mona hingga membuat mona limbung
"apalagi hm?? apalagi yang akan kau lakukan?" ucapnya mencengkram lengan mona
"lepas.. aku bilang lepas" teriak mona
Dengan cepat ia menarik tubuh mona merapat padanya, dengan posisinya yang diatas mona. Saat ia menarik mona ke dalam kurungannya mona bergerak mengayunkan tasnya sekuat tenaga ke wajah laki-laki itu dan membuatnya berhasil lepas
"perempuan gila" pekiknya memegang hidungnya yang berdarah lalu berusaha menarik tubuh mona kembali ke ranjang
Namun karena ketakutan akan disentuh pria itu membuatnya harus mempertahankan diri, botol wine di atas nakas itu ia raih dan
Pug..
Kepala dan dada laki-laki itu berdarah deras akibat pukulan yang ia layangkan dengan bertubi-tubi. Mona bergetar hebat melihat laki-laki itu terduduk di lantai seraya memegangi kepalanya yang kini mengucurkan darah segar
"kau.."
Laki-laki itu kembali menggapai tangannya dengan darah yang kini menempel pada baju bagian depannya. Mona melotot kaget melihat darah yang kini menempel padanya, lalu dengan kasar ia kembali menghempaskan tangan itu. Sedangkan kondisi laki-laki itu kini menahan sakit di kepala dan dadanya
"aku.. sudah peringatkan" ucapnya pelan seraya bergetar
Dengan cepat mona menggenggam erat shoulder bagnya, tidak lupa membawa pecahan botol wine yang terdapat sidik jarinya
[Flashback off]
Ia kembali melihat darah yang masih menempel dilengan dan bagian bajunya
'sekarang bagaimana?'
Terlihat beberapa mobil datang ke arah apartemen tersebut, banyaknya orang-orang berpakaian hitam terlihat keluar dari mobil.. mereka bercakap dan sibuk menelepon seseorang
Mona tersadar dan bersembunyi melihat jika mereka itu mungkin orang-orang bandot brengsek itu,
"dia berhasil kabur bos"
"dimana lokasinya?"
Mona melihat tangannya kosong, lalu mencari ponselnya di tas dengan tergesa-gesa lalu menonaktifkannya dengan cepat,
"kalian semua cepat cari dan dapatkan perempuan itu, lalu sekap dia di markas. Dia pasti belum jauh.. bos besar tidak akan mengampuninya"
Jantungnya kini begitu kencang hendak meledak
'mereka bukan manusia, dia tidak akan melibatkan polisi.. aku.. aku harus pergi, atau mati jika tertangkap' pikir mona mengatur nafasnya agar mampu berpikir
"bos lokasinya terakhir di apartemen ini, namun ponselnya kini sudah nonaktif bos"
"cari di apartemennya, rumah sakit atau teman-temannya. Jangan lepaskan mereka yang membantu perempuan sialan itu"
"baik bos"
'dia akan melacak keberadaanku, arin.. ?'
Mona menangis seraya menggelengkan kepalanya
'tidak.. arin bisa terkena masalah karena ku. Aku mesti kembali ke apartemen, tapi.. hiks.. aku harus bagaimana sekarang.. hiks.. ma kenapa hidupku harus begini'
__ADS_1
Next episode,,