My Charming Boss

My Charming Boss
Bersikap manja


__ADS_3

"ayolah Rin, sejak tadi kamu tuh ngeluh terus dan ingin cepat pulang.. ini sebentar lagi" jawab Mona yang sedang memoles lipstiknya


'tapi aku merindukan mas arka' ucapnya di dalam hati


"pernikahanku tinggal 1 minggu lagi.. ini juga untuk mastiin lagi konsep yang mau ditambah. Setelah ini kita pulang, urusannya selesai.. besok juga aku dah di pingit kali Rin" tambahnya geleng-geleng kepala menghadapi sahabatnya ini


'kenapa pula jadi bucin nih orang' pikir Mona


"bener ya abis ini pulang?"


"iyaa sayangnya mas Arka, ngebet banget mau ketemu suami.. orang lakinya juga masih kerja kali" ucap Mona


"ih suka-suka dong Mon, aku kan mau nungguin mas Arka pulang" jawabnya manyun


"hm.. suka-suka si manja yaa?"


"ihh, ayo buruan Mon.. nanti WOnya dah nunggu lama" ucap Arin berdiri di sebelah Mona dan membenarkan sedikit penampilannya di depan cermin


"iyaiiya ih cerewet deh sekarang" jawab Mona yang memeluk lengan Arin keluar dari toilet


Setelah beberapa jam akhirnya mereka selesai membahas beberapa konsep yang akan ditambah, mereka juga memutuskan untuk langsung pulang. Mengingat sahabatnya itu sejak tadi resah tak karuan meminta pulang, membuat Mona akhirnya memutuskan untuk mengantarkan Arin pulang


"assalamualaikum"


"waalaikumsallam cucu Kakek, bagaimana Mona? sudah selesai urusannya?" tanya kakek duduk di sofa seraya tersenyum


"hm.. semuanya beres kek" jawabnya yang duduk di samping kakek


"kenapa? kamu sakit sayang?" tanya kakek mengelus pipi Arin


Ia tersenyum pada kakek "nggak kek, mungkin sedikit lelah"


"ah itu tidak baik Arin.. akhir-akhir ini kamu selalu sibuk di toko kue"


Arin mengangguk paham "kakek sudah makan malam?"


"belum, bagaimana Kakek makan kalau ke2 cucuku tak ada di rumah"


"Kakek..." peluknya dari samping


'ah dia benar-benar manja' pikir Kakek yang mengelus lembut kepala Arin


"Kana masih di kantor?"


"hm.. sebelum Arin pulang tadi Arin telpon mas Arka, dan mas Arka bilang masih ada pekerjaan lain"


"tak apa.. ayo kita makan" ajak Kakek mengajak Arin ke meja makan


Beberapa menu telah tersaji di meja,


"silahkan tuan, nyonya muda.. bibi permisi dulu" ucapnya


"iya terima kasih bi yaya" ucap Arin


"Kakek makan pake kangkung tumis?"


"boleh.. tambahkan ikan gurame filletnya" pinta kakek


"tambahkan pula dipiringmu" lanjut Kakek


Terlihat cucu menantunya itu menggelengkan kepala "em.. Arin temani kakek saja ya, nanti Arin makannya bareng mas Arka aja" jawabnya


"kenapa menunggunya? suamimu itu pasti sudah makan, ini sudah malam sayang.. ayo makan bersama Kakek"


"hmm.. tunggu sebentar kek, nanti Arin balik lagi" ucapnya


Lalu ia menghilang ke arah dapur, tak lama kemudian ia datang membawa satu piring kecil beriisi salad buah

__ADS_1


"Arin temenin Kakek makan.. tapi Arin makannya salad buah aja" ucapnya tersenyum polos


"hm.. baiklah, terserah padamu"


Kini arin menemani kakek makan malam bersama, Arin sengaja tidak makan malam dengan menu berat.. ia tidak berselera makan karena Arkana belum pulang. Karena tak enak membiarkan Kakek makan sendiri membuatnya memilih makan salad buah saja


Lama Arin menunggu di sofa seraya bercerita banyak bersama Kakek.. hingga kini jam menunjukkan pukul sembilan malam lewat, tapi Arkana masih belum pulang ke mansion


"Kakek mau kembali ke kamar"


Arin mengangguk


"kamu juga Rin, hari sudah malam. Sebaiknya tidurlah.. matamu sudah mengantuk berat" ucap Kakek mengelus kepala Arin


"tapi Mas Arka kek"


"kembali ke kamar dan bersihkan dirimu seraya menunggu Kana pulang. Bahkan cucuku ini tidak sempat membersihkan diri sejak dari luar hmm?"


Arin menyadari bahwa dirinya memang belum mandi


"maaf kek.. Arin pikir mas Arka sebentar lagi pulang, jadi tidak sadar kalau sampe jam segini"


"hm tak apa pergilah istirahat" ucap Kakek


Dengan berat hati ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar, ia membersihkan dirinya lalu shalat. Jujur saja kini matanya mengantuk berat, tapi suaminya belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang.. bahkan ponsel Arkana tidak bisa di hubungi


Semua hal kini telah selesai ia kerjakan, dengan pelan ia merebahkan dirinya di ranjang king size empuk milik mereka. Perlahan tapi pasti ia kini tak bisa lagi menahan kantuknya dan akhirnya tertidur


"Kana?" sapa Kakek


"Kakek? belum tidur?" tanyanya saat hendak melangkahkan kakinya menaiki tangga


"air minum di kamar Kakek habis" ungkapnya menenteng teko berisi air


Arkana mengangguk "aku ke atas"


"Kana, sejak tadi istrimu menunggumu.. bahkan ia tidak makan malam demi menunggumu. Beruntung Kakek membujuknya, itu pun hanya memakan salad buah di piring kecil. Bahkan ia terlihat begitu lelah wajahnya sedikit pucat" jelasnya


Lalu Kakek kembali berjalan menuju kamarnya


"lain kali kabari istrimu, kasihan dia menunggumu begitu lama" lanjut kakek


"tentu kek" jawab Arkana yang segera mungkin melangkahkan kakinya menuju kamarnya


Ceklek..


"hufff.."


'istriku sudah tertidur' pikir arkana, lalu ia melihat jam yang melingkar ditangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat


'sudah sangat malam' pikirnya


Ia berjalan menghampiri istrinya yang tertidur pulas, dan memakaikan selimut pada Arin


Cup


"maaf sayang.. mas tidak mengabarimu kembali setelah terakhir kamu menelpon" bisiknya pelan


Namun istrinya itu tidak sedikit pun terganggu


'istriku pasti lelah setelah pergi seharian ini, sampai tidak terbangun.. bisanya dia akan terusik jika diganggu' di elusnya lembut kepala arin


"mas mencintaimu, muach"


________________


Pagi pun telah tiba, kini Arin sedang menyiapkan setelan pakaian kerja untuk suaminya pakai. Sesaat Arkana keluar dari kamar mandi menuju walkin closet

__ADS_1


"pagi sayang, muach.. morning kiss" ucap Arkana memeluk Arin dan menghentikan istrinya yang sedang memoles bibirnya dengan lipgloss


Hingga membuat perempuan itu merona senang, namun matanya menangkap hal lain di cermin


"mas pake kaos rumahan?"


"hm.. kemari, ada yang ingin aku katakan" ajak Arkana menggenggam tangan Arin lalu mengajaknya duduk di sofa balkon mereka


Arkana menarik Arin duduk di pangkuannya, menatap wajah istrinya yang tersenyum penuh padanya


"kamu sudah tidur semalam, jadi mas belum sempat bicara ini ke kamu" ucapnya menyingkirkan helaian rambut di pipi chubby istrinya


"apa mas?" tanyanya penasaran


"aku harus pergi ke luar kota hari ini sayang, ada kesepakatan tender proyek yang harus mas lakukan. Dan karena itu harus ke luar kota" jelasnya


Tek


Hatinya tiba-tiba seakan tak rela mengetahui Arkana akan pergi ke luar kota. Entah mengapa dia bersedih mengetahui suaminya akan meninggalkannya walau hanya sebentar


"kapan?"


"nanti siang jam 1" jawab Arkana


"apa harus mas?" tanya Arin dengan senyum menghilang


"hm.. hanya dua hari sayang. Tidak lama" ungkapnya


"tapi mas?"


"ya?"


'bagaimana ya jika aku minta mas Arka tidak pergi?, tapi itu tidak mungkin. Aku sepertinya kekanakan sekali jika menghalangi suamiku bekerja, mas Arka tentu punya tanggung jawab di perusahaan' pikirnya dalam hati


"mas.. apa tidak bisa jika mereka saja yang kemari, jadi mas tidak perlu kesana" ucapnya pelan menatap wajah Arkana


Arkana terkekeh kecil


"tidak bisa sayang, proyeknya ada disana. Lagian hanya dua hari kan? tidak lama" ucapnya menggengam tangan Arin


'lama mas..' ucapnya hanya di dalam hati


"hm??"


"kalo Arin ikut boleh?" pintanya dengan puppy eyes memohon


"no.. kamu bahkan tidak terganggu tidurnya saat tadi malam, itu artinya kamu kecapean sayang. Lagian akunya akan pergi meninjau proyek pembangunan.. kegiatannya akan lebih banyak di outdoor"


Terlihat istrinya itu memanyunkan bibirnya


"panasnya terik sinar matahari saat siang hari bisa buat kamu sakit nanti.. bahkan kamu kecapekan kemarin seharian pergi, sebelumnya juga akhir-akhir ini kamu sibuk" ucap Arkana memberi pengertian


Tapi istrinya itu tetap diam menundukkan kepala seraya memainkan jari-jemari tangannya


"dengar, acara Mona dan Gama sudah dekat.. jika kamu ikut mas pergi tubuhmu bisa saja drop sayang. Bisa-bisa kamu tidak bisa datang ke acara pernikahan mereka, kamu tidak ingin itu bukan?" lanjutnya


"Arinn??"


Panggilan yang diberikan Arkana membuatnya merasa sedih dan tak kuasa untuk bicara lagi, seakan-akan suaminya itu berkata 'tidak ada lagi bantahan'


"hm.." jawabnya yang segera memeluk Arkana, dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya, membuat Arkana membalas pelukan Arin


'dia sedih sekarang, bahkan matanya tidak ingin menatap suaminya ini' pikirnya


'oh istriku sayang, semuanya demi kamu' ucap Arkana dalam hati seraya mencium lembut sisi kepala istrinya itu


Ia menghelakan nafasnya, ia tahu Arin ingin ikut pergi dengannya. Sejujurnya pun ia tidak masalah, tapi melihat istrinya itu sedikit lelah dengan aktivitasnya akhir-akhir ini menjadi pertimbangan Arkana untuk membawa serta Arin, apalagi harus ke tempat proyek pembangunan. Meninggalkan Arin di hotel pun rasanya percuma, karena tidak ada yang menemani istrinya disana.. jadi ia berpikir lebih baik Arin tetap berada di mansion

__ADS_1


Next episode,,


__ADS_2