
"bagaimana bisa memberikan foto tapi tidak terlihat wajahnya?" kesal kana pada anak buah tomi
"maaf tuan" jawab anak buah tomi sedangkan tomi hanya menunduk akibat kelakuan anak buahnya yang bekerja dengan tidak memuaskan
"coba berpikir, untuk apa memfoto seseorang dari belakang? kau pikir aku peduli tampak belakangnya? itu sama saja bohong, artinya tetap saja tidak bisa mengenali wajahnya" ucap arkana yang sudah geram
"sekali lagi saya minta maaf tuan, hm.. sebenarnya saya mendapatkan foto dari tampak depan.. tapi fotonya berbayang tuan. Namun saat saya akan memfoto kembali security menahan saya tuan, hingga membuat saya terusir dari sana" jelasnya
Arkana hanya menghela nafasnya dan menyisir rambutnya yang terlihat berantakan "keluarlah" ucap arkana
"sekali lagi mohon maafkan saya tuan" ucapnya menundukkan kepala dan berbalik pergi meninggalkan ruangan
"kau juga keluar tomi" perintah arkana
Tomi hanya mengangguk dan beranjak pergi
"dan yaa.. perbaiki anak buahmu, atasi dengan baik aku tidak ingin mendapat hasil kerja kalian yang tidak memuaskan" lanjut kana
"baik tuan" ujar tomi
______________
Saat ini arin sedang serius mengerjakan beberapa berkas juga sibuk dengan komputer di depannya. Namun terpaksa menghentikan kegiatannya saat seniornya datang
"arin?" panggil mbak cika
"iya mbak?" tanya arin yang sudah menghentikan kegiatannya
"ini kamu antarkan berkas laporan anggaran yang dipinta tuan arkana" diletakkannya berkas tersebut di meja arin
"maaf mbak, kenapa saya?" tanya arin
"pak sigit sedang tidak ditempat, tapi tuan arkana meminta sekarang.. kamu yang antar sana"
Namun saat arin akan bertanya lagi, mbak cika sudah memotong pertanyaan arin
"tidak usah banyak tanya, saya dan yang lain masih banyak kerjaan. Udah cepet buruan arin" desak mbak cika
'duh bagaimana? aku kan masih malu jika harus bertemu dengan tuan arka' pikiran arin berbicara
"hei malah ngelamun lagi" kejut mbak cika
Arin kaget dan langsung mengangguk "hm baiklah" jawabnya
Mereka para karyawan lain tidak ada yang ingin naik ke ruangan arkana mengantar berkas, mereka tidak ingin menjadi sasaran kemarahan arkana walau belum tentu berkas itu bermasalah
'lebih baik tidak mencari masalah bukan?'
Setelahnya arin mengambil berkas yang terletak di mejanya, lalu beranjak pergi menuju lantai atas dimana ruangan arkana berada
Ting..
Arin keluar dari lift dan menghampiri meja laura, sekretaris arkana. Juga ada tomi yang ada di depan ruangan
Arin tersenyum dan menganggukkan kepala kepada tomi dan juga laura
__ADS_1
"permisi nona laura, saya ingin memberikan berkas keuangan yang dipinta oleh tuan arkana" jelas arin
"oh iya mohon tunggu sebentar nona" jawab laura ramah
Lalu laura mengangkat gagang telepon dan berbicara dengan tuan arkana, lalu meletakkan telepon itu kembali
"silahkan nona, anda boleh masuk" ucap laura
"baiklah terima kasih" jawab arin
Tok.. tok..
Jantungnya makin berdetak kencang.. arin membuka pintu dan menutupnya, tetap berdiri tegak di depan pintu
"permisi tuan" ucap arin gugup
"saya mengantarkan berkas yang tuan minta" lanjut arin
"kenapa kamu yang membawanya?" tanya arkana
"um.. ini.. mbak cika bilang pak sigit sedang di luar, jadi tidak ada yang bisa mengantarkan berkas ini pada tuan.. karena karyawan lain sedang ada pekerjaan lain. Jadi mbak cika meminta saya mengantarnya tuan" jelas arin
"hm baiklah.. kemarikan" pinta arkana
'ya tuhan.. kenapa dia sangat menawan'
"ada apa?" tanya arkana yang melihat arin malah diam
Arin kemudian tersadar dan menggelengkan kepalanya lalu berjalan menghampiri "ini tuan" diletakkannya berkas tersebut di meja arkana
Arin bingung apa dia harus keluar atau tetap berdiri di sana, hingga beberapa menit ia terdiam akhirnya arin memberanikan diri untuk bicara
"um.. adakah hal lainnya yang bisa saya lakukan tuan?" tanya arin
"tidak ada" arkana diam sejenak lalu berkata "arin?" ucapnya
"iyya tuan?" tanya arin
"kita akan makan siang bersama, datang ke ruanganku nanti pada saat makan siang" ucapnya
Arin terdiam
"kamu boleh melanjutkan pekerjaan mu" titah arkana
"dan tidak menerima penolakan" lanjutnya
Arin mengangguk "saya permisi tuan"
Keadaan arin saat ini seperti mau meledak, kaget, takut, senang, entahlah rasanya berdebar tak karuan..
Ceklek pintu ruangan arkana tertutup, dan arin seperti kehilangan nyawanya di dalam sana.. diam tak bergerak ataupun bersuara
"nona?" tanya tomi
"nona tidak apa-apa?" tanya laura
__ADS_1
Arin kaget "hah? iyy.. ya aku baik. Kalau begitu aku pergi, permisi" arin membungkukan tubuhnya seraya tersenyum
Dan tibalah waktu isoma (istirahat shalat dan makan), arin terlihat bingung apa ia harus naik ke atas atau melupakan perintah tuan arkana
"rin ayo, ngapain bengong?" tanya alika
"ha?" arin bertambah gugup 'aku mau bilang apa?'
"hei ada apa denganmu?" tanya temannya yang lain
"ah tidak.. baiklah ayo" arin membawa kotak makan yang ia bawa
Arin berjalan keluar ruangan dan berpikir mengabaikan arkana saja, namun saat arin dan teman-temannya yang lain akan ke kantin ia dikagetkan dengan keberadaan tomi yang sudah di hadapannya
"nona melupakan perintah tuan arkana?" ucap tomi yang memotong perjalananku, sedangkan yang lain sudah duluan
"um.. itu.. maafkan aku yang melupakannya" elak arin menunduk
"arin lagi ngapain" teriak alika dari jauh
"saya menunggu nona di lift" ucap tomi dan segera berlalu
Arin mengangguk pada tomi, lalu menghampiri alika "hm ka.. aku tidak bisa makan dengan kalian, aku akan makan di luar dengan temanku" elak arin yang sudah gugup
"oh ya sudah baiklah aku akan makan dengan yang lain saja, bye arin.. aku duluan ya" ucap alika yang sudah pergi
"ha? semudah itu? aku pikir alika akan curiga" gumamnya
Saat ini arin dan tomi sudah berada di dalam lift
"hm asisten tomi, apa tidak apa-apa kalau aku makan siang dengan tuan arka?" tanya arin
"tidak masalah nona, jangan takut.. tuan arkana sendiri yang meminta" jawab tomi
"hm baiklah" jawabnya pasrah
'nona, bagaimana tuan tidak tertarik dengan nona.. jika anda sangat polos dan manis seperti ini'
'oh tidak.. apa yang ku pikirkan, bisa tamat hidupku jika tuan mengetahuinya' tomi menggelengkan kepalanya
"silahkan nona" tomi mempersilahkan arin
Arin tersenyum pada laura dan tomi "aku permisi" dan mengetuk pelan pintu ruangan arkana
Tok.. tok..
"permisi tuan" ucap arin yang sudah melangkah masuk
"duduklah dulu, dan tutup pintunya" ucap arkana yang masih sibuk dengan laptopnya
Arin mengangguk dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut, ia mendudukkan bokongnya dan menunggu arkana selesai
Matanya bergerak kemana-mana memperhatikan sekeliling ruangan, terlihat ruangan itu sangat manly, warna abu dan hitam mendominasi warna ruangan.. jangan lupakan wangi parfum laki-laki sangat terasa diruangan ini
Next episode,,
__ADS_1