My Charming Boss

My Charming Boss
65. Berkenalan


__ADS_3

Beruntungnya ibu bisa menenangkan arin, kini putri kecilnya itu sudah bisa tersenyum kembali dan lebih tenang dari keadaan sebelumnya


"ante alin" panggil bella yang masih memeluk erat leher sang papa


Arin tersenyum melihat wajah bella yang sedikit ragu memanggil dirinya


"tante arin kangen sama bella" ucapnya kemudian


"papa bella boleh peluk ante alin ya?"


"boleh sayang"


Sedikit berlari bella kini beranjak ke arah arin


"bella nggak sampe peluk, ante alin dudukna tinggi" ucapnya cemberut


"om ganteng bella mau naik sama ante tantik" lanjutnya merentangkan tangan meminta di gendong


"oh cucu oma ini mengemaskan sekali" ucap ibu tertawa bersama yang lainnya


"latihan.. jadi nanti tidak kaget lagi" timpal kakek yang kini menggoda arkana


"baiklah gadis kecil" ucap arkana tanpa mendengar ucapan kakek, arkana menghampiri bella dan menggendongnya mendekati arin


"ante alin, ante tantik dangan nanis ladi yaa, nanti ante main sama bella sama memo sama dolii ante.. eh... sama ante mona duga deh" ucapnya yang sudah duduk di ranjang pasien milik arin


"baiklah kalau begitu.. tante arin tidak akan menangis lagi" ucap arin tersenyum


"ante alin kita bikin blonis yuk"


Dengan gemas arkana mencubit kecil hidung bella "hei kesayangan om ganteng itu masih sakit gadis kecil"


"occch" refleks bella menutup mulutnya "bella lupa hihihihi" tawanya malu-malu


"nanti ya kita tunggu tante arinnya sembuh dulu sayang, baru bisa bikin cake lagi.. bareng-bareng sama tante mona juga" ucap olla kemudian


Suasana ruangan yang tadinya penuh dengan kesedihan kini berubah menjadi tawa, pengaruh anak kecil memang tidak diragukan.. mereka membuat suasana menjadi lebih ramai dan menyenangkan


________________


"kenapa kakek tidak memberitahu?" ucap arkana kesal


"kau begitu emosional kana" ucap gama menghela nafas


"bagaimana bisa memberitahumu, sedangkan setiap harinya kau seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat" lanjutnya


"setidaknya katakan padaku, kalian"


"berhentilah mengoceh" potong kakek


"aku pikir sikapmu yang cerewet itu akan hilang selamanya melihat keadaanmu beberapa waktu lalu, tapi hanya beberapa saat.. ya walau kakek juga khawatir atas kebungkamanmu"


Arkana hanya diam menggelengkan kepala mendengar ucapan kakek

__ADS_1


"lalu bagaimana kek?" ucap arkana


"pengawasanmu kurang ketat, sampai-sampai ayah dan anak ular itu mendengus maksud tujuanmu" ucap kakek mengarah pada arkana


"brengsek.. aku kecolongan" umpatnya


"maka dari itu kami bergerak secepatnya, kini ayah dan anak ular itu mendekam di tempat sebelum mereka menjumpai maut" jelas gama


Arkana menyipitkan matanya "aku tahu.. kalian lebih cerdik dariku, lalu selanjutnya??"


"kau bertindak yang sudah seharusnya, namun.. kau harus mengganti atau melakukan pengecekan ulang kepada orang-orangmu" ucap kakek


"cih.. anak buah tomi yang melakukannya bukan?" tanya arkana


"anak buahmu, tomi hanya menjalankan apa yang menjadi skenario atas apa yang kau perintahkan. Walau yaa, tidak menutup mata bahwa tomi juga lengah.. tapi hal seperti ini menjadi kelemahan setiap orang, kau bisa mendapatkan orang yang setia padamu. Namun tidak dengan orang-orang yang tidak terlihat jelas di kedua matamu, bahkan atas nama orang-orang yang berpihak padamu" ucap kakek


"jadikan semua pelajaran, pastikan semuanya sendiri.. dengan mata kepalamu" lanjut kakek mengingat jika selama ini arkana sangat jarang memantau orang-orangnya sehingga membuatnya lengah kemudian


"aku akan perbaiki semuanya kek," ucapnya dalam


"dan.. gama terima kasih atas semuanya, bantuan"


Namun gama telah memotong ucapan arkana kembali "kau tidak cocok berkata terima kasih, harusnya bicara 'kerja bagus'.. cih membuat diriku muak" ucap gama


Arkana hanya tertawa kencang mendengar ucapan gama


"kau tidak ingin mendengar rencana kami?" ucap gama mengerlingkan matanya


Dengan cepat arkana melempar gama dengan bantal sofa yang berada di pelukannya


"hahaha aku menyukai kau yang selalu mudah tersulut emosi" gama tertawa lepas memegang perutnya


Kakek menggelengkan kepalanya menatap tingkah laku dua orang aneh yang selalu membuat jantungnya berpacu dengan cepat


_________________


Pagi ini arin dan ibu berjalan-jalan di lingkungan rumah sakit, seraya mengajak arin sarapan dan menghirup udara segar di pagi hari. Awalnya arin memang bersama ibu, namun karena ibu mendapat pesanan kue untuk nanti sore dan telah sepakat pada pelanggannya.. mau tidak mau ibu harus pulang ke ruko untuk membuat pesanan kue tersebut. Lagi pula arin bersih keras tidak apa-apa sendiri, karena mona akan menemaninya sebelum mona bekerja di sift siang hari


Arin memutuskan untuk tetap di taman saja, lagi pula dirinya tidak sendiri disana.. ia bersama yuni dan putranya gilang. Gilang dirawat tepat di samping ruangan arin, anak lucu berusia lima tahun itu dirawat karena alergi kacang.. ia tidak sengaja memakan roti lapis berisi selai kacang yang dibawa teman sekolahnya


"tante cantik, nanti gilang boleh ya ke toko cakenya tante" ucapnya


"boleh dong, makanya harus sembuh dulu" ucap arin tersenyum


"pasti.. gilang mau makan banyak biar cepet sembuh" ucapnya semangat


"good boy, um... gimana kalo nanti tante arin pesen di oma baik untuk bawaiin gilang cake?"


"wah.. yang bener tante?" tanyanya


"iyaaa, itu pun kalo gilangnya"


"mau.. mau.. gilang mau tante" potongnya cepat

__ADS_1


Arin dan yuni tertawa bersama


"anak bunda," ucapnya mengelus lembut kepala gilang


"saya nggak enak merepotkan kamu rin" ucap yuni


"nggak mbak, arin nggak repot kok.. arin seneng banget bisa cicipin kuenya ke gilang, ya walaupun yang bikin ibu bukan arin sendiri" ucapnya tersenyum memperlihatkan giginya rapat


Yuni tersenyum lebar "terima kasih ya rin, kamu baik sekali.. padahal baru kenal sama aku dan juga gilang" ucapnya tulus


"sama-sama mbak, mbak jangan sungkan begitu" ucap arin tersenyum ramah


"oh ya rin, ini" ucap yuni membuka dompetnya seraya memberikan selembar kertas kecil


"type fashion?" ucap arin menatap yuni


"itu kartu namaku rin, mungkin kita bisa menjadi teman nantinya" ucap yuni tersenyum


"ah.. ya.. tentu saja, aku merasa malu mbak.. ternyata mbak pemilik salah satu brand fashion terbaik" ucap arin tersenyum cekikikan


"haha kamu terlalu memuji, usahaku juga berkembang atas bantuan suamiku rin" jawabnya


"tapi tidak akan berjalan tanpa kerja keras mbak sendiri bukan?"


"terima kasih atas penghargaannya nona cantik" balas yuni


"bunda, gilang mau pipis" ucapnya memecah pembicaraan arin dan yuni


"oh iya sayang,"


"arin maaf ya, kita lanjutkan lagi nanti.. saya duluan ke dalam" pamit yuni


"iya mbak silahkan"


"bye.. bye tante cantik"


"bye bye anak ganteng"


Tidak lama mereka pergi arin dikejutkan dengan suara yang mengarah pada dirinya


"bagaimana keadaanmu?" tanyanya ramah


Arin menoleh pada asal suara, 'siapa dia?' pikir arin


Kemudian laki-laki itu tersenyum kepada arin "perkenalkan, saya cikho" kemudian ia mengulurkan tangannya


"saya bukan orang jahat, tenanglah" lanjutnya


"lihat.. aku seorang dokter" ucapnya kemudian merentangkan tangan menunjukkan jas putih yang melekat di tubuhnya


Dengan perasaan canggung arin membalas tersenyum ramah kepada laki-laki yang berada di hadapannya ini


"jadi, bisakah aku mengetahui namamu nona manis?" tanyanya kembali

__ADS_1


Arin mengangguk pelan "arin" jawabnya pada laki-laki di hadapannya ini


Next episode,,


__ADS_2