
Tak lama kemudian dokter dan perawat keluar menemui arkana dan yang lainnya di depan ruangan UGD
"permisi, adakah keluarga pasien atas nama farhin shalimar widad?" tanya dokter
"saya, saya dokter" ucap arkana berdiri
"kondisi pasien tidak baik, ia sempat menghirup gas beracun. Kami telah melakukan tindakan pencegahan agar tidak menyerang organ lebih dalam,"
"lalu bagaimana dengan kondisinya sekarang" tanya arkana
"untuk saat ini kita perlu melihat perkembangan dan respon yang akan diberikan oleh tubuh pasien, jika respon yang diberikan positif.. maka hal itu kabar baik, jika tubuhnya tidak juga memberikan respon hal itu berakibat buruk terhadap organ tubuh yang lain. Sehingga akan sangat membahayakan" lanjutnya
Arkana mengusap wajahnya gusar "bisakah aku menemuinya dok?" tanya arkana
"silahkan, hanya satu orang saja.. teruslah berdoa" dengan menepuk pelan pundak arkana "jika begitu saya permisi" pamit dokter
"dan silahkan mengurus kamar rawat juga tagihan keperluan pasien tuan" ucap perawat kemudian
"hm.. baiklah" jawab bram kemudian
Arkana memasuki bilik gorden tempat dimana arin mendapatkan perawatan segera. Ia mendudukkan dirinya di kursi tunggu pasien.. kini dengan lekat arkana menatap wajah arin yang begitu jelas terlihat pucat
Digenggamnya tangan arin untuk mendekat pada dirinya, "sayang.." ucap arkana pelan seraya mengusap lembut punggung tangan arin
"ini mas arkanya kamu sayang.." berkali-kali kecupan arkana berikan di dahi arin
"apa ini sakit?" tanya arkana mengelus lembut pipi chubby arin
Arkana tersenyum sedih "baiklah sayang.. tidak apa-apa, kamu boleh tidur sebentar. Kamu sangat lelah bukan? istirahatlah.. aku akan selalu disamping kamu, selalu disisi kamu sayang"
"perawat sebentar lagi datang.. kita pindah ruangan ya, biar kamu lebih nyaman" lanjutnya bicara walau arin tidak kunjung menjawab dan membuka matanya
"permisi tuan, kita akan membawa pasien ke ruangan rawat inap" ucap perawat yang akan memindahkan arin
Arkana mengangguk paham
Dengan langkah gontai arkana mengikuti langkah perawat yang mendorong ranjang pasien milik gadisnya, hingga suara seseorang membuat arkana menoleh ke arahnya
"arkana?" tanya mona
"apa yang kau lakukan di?" namun belum selesai ia bicara mona sudah menghampiri perempuan yang terbaring pucat menutup matanya dengan beberapa selang infus yang menopang pernapasannya
"arin" ucap mona pelan dengan menutup mulutnya tidak percaya seraya menatap perawat yang tetap berjalan mendorong ranjang pasien
"apa yang kau lakukan ha?? apa yang terjadi pada sahabatku?" tanya mona dengan emosi tinggi
Namun bram dan tomi yang berada dibelakang arkana segera menjawab pertanyaan mona
"mona, tenanglah" ucap bram
"bagaimana bisa kk, sahabat baikku itu terkapar tidak berdaya di ranjang pasien rumah sakit.. lihat bahkan bernafas saja ia membutuhkan bantuan medis" jawabnya
__ADS_1
Semenjak ia dan arin sering bermain bersama bella dan akrab berteman bersama olla, membuat mereka juga lebih mudah akrab dengan bram
"sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi pada arin?" tanya mona mandelik ketiga laki-laki yang kini ada di hadapannya
Dengan segera tomi bicara dan menjelaskan bagaimana bisa arin tidak sadarkan diri dan kini berada di rumah sakit
Mona menangis syok mendengar apa yang baru saja dijelaskan oleh tomi, bagaimana bisa orang dengan teganya menyiksa orang lain seperti itu
Tanpa menunggu dan bertanya lagi mona melangkah kakinya menyusul perawat yang memindahkan arin
"dokter muda mona?" tanya perawat yang ada
"iya, saya ingin melihat keadaan arin.. dia sahabatku" jelas mona
"oh iya silahkan dokter" jawab perawat perempuan tersebut
"terima kasih" ucap mona berlalu dan masuk ke dalam ruangan, memastikan bagaimana kondisi arin saat ini
Kini tak hentinya mona menangis, ia duduk menundukkan kepalanya..
"ya allah bagaimana mungkin, siapa yang sudah menyakiti kamu rin?"
Mona tidak habis pikir saat melihat beberapa bagian di wajah dan lengan arin yang lebam dan penuh dengan goresan luka. Ingatannya kembali saat dirinya pernah menolong arin dan untuk pertama kali pula mereka mengenal
[Flashback on]
"kamu tidak apa-apa?" tanya mona yang berdiri kemudian duduk membungkuk mensejajarkan dirinya dengan arin yang kini duduk di atas rerumputan
Arin mendongak dan menggelengkan kepalanya pelan "bisakah kamu membantuku mengambilnya di atas pohon itu?" tanya arin seraya menunjuk satu sepatunya yang telah dilemparkan siswi lain pada dahan pohon yang cukup tinggi baginya
Namun arin memilih diam tidak menjawab pertanyaan mona
[Flashback off]
"apakah kamu diam lagi rin?, kenapa kau begitu sabar.. aku kesal denganmu" hiks.. hiks.. mona menangis tak hentinya
"kenapa tidak menghubungiku? kita bisa berteriak begitu kencang meminta bantuan orang lain. Suaramu pasti kecil sampai orang lain tidak mendengarmu bukan?" ucap mona yang tertawa seraya menangis sedih
"baiklah.. baiklah.. aku tidak akan menggodamu, kau pasti sangat lelah.. aku akan pastikan kenyamananmu dirumah sakit ini" ucap mona yang sudah menghapus air mata yang tersisa di pipinya
"beristirahatlah my besty" ucap mona memeluk arin seraya beranjak keluar ruangan
Dengan pelan mona beranjak keluar dari ruangan rawat arin, mona berjalan menemui arkana, bram dan juga tomi
Ceklek..
Ketiga laki-laki itu kini diam menatap ke arah wajahnya
"aku harus pergi, dokter senior pasti sudah menungguku" ucap mona
Mereka mengangguk
__ADS_1
Namun sebelum ia pergi dari sana, mona kembali bertanya pada ketiga laki-laki itu
"dimana ibu?? beliau belum tahu?" tanya mona
Arkana menggeleng perlahan, jujur ia bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya pada ibu. Ibu pasti sangat syok mendengar keadaan arin yang seperti ini
Mona menghela nafasnya terdengar "lebih baik kau jelaskan, ibunya pasti mencemaskan arin dan ibu berhak untuk tahu keadaan putrinya"
"bicara dengan perlahan agar tidak membuatnya kaget dan terpukul, ibu pasti bisa memahami maksudmu.. walau mungkin respon ibu akan sepertiku atau mungkin lebih" ucapnya mona yang berusaha menjelaskan
"hm.." arkana mengangguk
"baiklah terima kasih mon" ucap bram kemudian
Saat ini arkana dan tomi duduk menunggu di depan ruangan rawat arin, sedangkan bram sudah kembali pulang beberapa jam yang lalu.. kini mereka menunggu kakek keluar dari ruang rawat..
"huffff.." kakek menghela nafasnya setelah menutup pintu ruangan arin
"kau harus mencari tahu siapa pelakunya kana" ucap kakek duduk di kursi tunggu
Arkana yang duduk menutup wajahnya tetap menutup mulutnya, ia hanya mengangguk pada ucapan kakek
"dan dimana gama?" tanya kakek mengedarkan pandangannya
"tuan gama dan juga tuan leo masih mengurus orang-orang yang terlibat menculik nona tuan" jawab tomi
Kakek mengangguk mengerti
"sudah menghubungi ibunya arin?" tanya kakek
"belum tuan besar" tomi menjawab pelan
Kakek menghela nafasnya kembali, rasanya hatinya kini hancur tak karuan.. sebagai orang tua ia tahu sakitnya ibu arin saat mendengar putrinya dicelakai oleh orang lain. Ia memejamkan matanya lelah, melihat cucunya yang terpuruk sedih dan kesayangannya yang terbaring di dalam ruang rawat
Kini jam menunjukkan pukul tiga pagi, namun mereka masih tetap setia menunggu arin untuk membuka matanya..
"tuan, sebaiknya tuan besar kembali pulang ke mension" ucap tomi mencoba kembali membujuk kakek untuk pulang
"tidak a" namun arkana sudah memotong ucapan kakek
"pulanglah kek.. kau juga tomi" ucapnya datar
"tapi tuan"
"kau bisa kembali nanti" ucap arkana pada tomi "pulanglah" arkana beranjak berdiri dari kursi tunggu
"aku akan menunggu arin di dalam" ucapnya berjalan masuk tanpa menoleh atau mendengar kakek atau tomi
Kakek mengangguk memberikan tomi isyarat untuk setuju pulang,
"pulanglah tomi, sebaiknya kita kembali esok hari.." ucapnya kemudian
__ADS_1
Tomi mengangguk "baiklah tuan besar, saya permisi"
Next episode,,