
"ibu udah belum ya??" gumam arin yang sedang menenteng banyaknya belanjaan di kedua tangannya, saat ini ia sedang menunggu ibu di pinggir jalan pasar
Di hari weekend ini arin sengaja menemani ibu berbelanja ke pasar besar tradisional untuk membeli beberapa keperluan bahan kue yang sudah habis,
Arin begitu terlihat natural dengan penampilan rambut yang diikat dengan jepit rambut dan menggunakan luaran gardigan hijau lumut yang menutupi kaos hitam bergambar kelinci di bagian depan tubuhnya, tidak lupa dengan celana chinos hitam dan juga flat shoes yang menambah kesan sederhana dalam dirinya
Terlihat dari seberang sana beberapa abang ojek meminta arin untuk memakai jasa transportasi mereka saja, namun arin menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.. mengisyaratkan bahwa ia tidak membutuhkannya
'sepertinya akan sedikit lama?' pikir arin..
Lalu arin melangkahkan kaki untuk duduk menunggu ibu di halte bus saja, karena sejak tadi ia tidak menemukan kursi yang bisa diduduki untuk beristirahat sejenak
Matanya menyapu jalanan yang terbilang cukup lancar karena tidak begitu banyak kendaraan yang lalu lalang
'um.. sepertinya itu..'
Arin berpikir lekat saat melihat mobil hitam mewah melintas di seberang jalan dimana ia duduk, sejenak ia tersadar bahwa mobil yang dilihatnya itu merupakan mobil arkana
'ah iya itu benar mobilnya' pikir arin
"mas arka mau ngapain? jemput aku" gumamnya tersenyum malu
Namun gurat wajah arin yang merona seketika berubah saat kaca mobil terbuka.. terlihat seseorang perempuan yang ada di dalamnya berbicara pada pengamen jalanan di samping pintu mobil.. tangannya seakan bergerak mengipas ke arah depan
Entah apa yang di lakukannya, namun bukan itu yang menjadi perhatian arin.. perhatiannya tertuju saat ia menyadari bahwa arkana tidak sendiri di dalam mobil, melainkan bersama seorang perempuan yang ada di restoran waktu itu
Ia tak berkutik tetap menatap lekat mobil arkana yang mulai beranjak pergi melajukan kendaraannya, pun dengan arin yang sedang sibuk dengan pikirannya
"sayang ibu lama ya?, kamu udah nunggu di sini aja" tanya ibu yang sudah berada di sampingnya
'perhatiin apa ini anak?' pikir ibu memperhatikan arin yang tidak menyadari keberadaannya disana
"kita mau pulang belum?" tanya ibu duduk di samping arin
"ah.. ibu.. ibu udah dateng" ucapnya tersendat
"kenapa sayang? kok matanya merah?" tanya ibu melihat mata arin dan berkaca-kaca
"ah? itu.. arin gerah bu," ucapnya cemberut
Ibu terkekeh "anak manjanya ibu," peluk ibu pada arin
Sejak pulang kembali ke ruko arin lebih banyak diam, untung saja hari ini weekend.. jadi ibu banyak istirahat dan ibu juga tidak menyadari sikap diamnya arin
__ADS_1
Arin bingung dengan pikirannya sendiri.. ia takut arkana tidak seperti yang ia pikirkan, ia juga ragu saat melihat arkana dan perempuan tersebut bersama untuk yang kedua kalinya. Bukan suatu kebetulan bisa terlihat bersama, bahkan perempuan itu ialah orang sama yang ia lihat di restoran sebelumnya
'ucapan alika itu memang benar adanya' pikirnya
Arin berpikir bahwa yang dikatakan alika kemarin malam itu masuk akal dan terus terngiang di dalam benaknya
[Flashback on]
"emang kapan jadiannya?" tanya mona
"um.. satu bulan yang lalu" jawab zakia
"ternyata kalian udah deket lama dong?" tanya alika
"nggak bilang-bilang lagi" ucap arin
"iya nih dia deketin mulu.. selalu modus nanyain setiap hari, ada aja alasan buat telefon, video call.. ampe akunya kesel sendiri" jawab zakia tertawa cekikikan
"ya aneh kalo nggak pernah hubungin.. tandanya si rio nggak cinta, nggak sayang.." ucap alika menggoda zakia yang sudah tersenyum malu
"nggak perlu diragukan" ucap rio merangkul kekasihnya dan menambah rona di pipi zakia
[Flashback off]
'bahkan aku juga nggak punya nomor ponsel mas arka'
'apa iya aku salah mengartikan semuanya?, sikap kamu, cara kamu, kebaikan kamu, manisnya kamu..'
'mas aku takut, aku takut aku yang salah paham dengan sikap kamu selama ini'
'atau memang aku yang dengan lancangnya berharap kamu juga punya perasaan yang sama ke aku' ucap arin yang berdialog di dalam hati
________________
Hari ini arin berangkat bekerja seperti biasanya, ia berjalan memasuki lobi perusahaan dengan senyum seperti biasa.. perempuan ini berusaha tetap menampilkan senyum manisnya dihadapan semua orang, tanpa orang lain tahu jika hatinya sedang baik atau tidak
Ia menyusuri kantor seraya membalas beberapa sapaan-sapaan yang diberikan karyawan lain kepadanya,
Arin tidak ingin berlarut dengan pikirannya yang sibuk dengan arkana, ia memilih untuk tersenyum dan melupakan segalanya saat ia sedang bekerja. Ia harus mampu profesional dalam menjalani aktivitas kerjanya dengan baik.. berusaha dengan baik tanpa menyangkut pautkan masalah pribadinya
Hari ini ia dan alika akan pergi ke kantor cabang di kota lain, jaraknya tidak begitu jauh dari kota.. hanya memakan waktu kurang lebih dua jam. Mereka juga pulang di hari yang sama, untungnya jalanan cukup lengang, jadi mereka bisa kembali sampai ke wilayah kota saat matahari mulai terbenam
"kamu yakin nggak mau aku temenin?" tanya alika menahan tangan arin
__ADS_1
"nggak apa-apa kok al, cuma ambil ponselku doang.. habis itu langsung pulang deh. Lagian kamunya juga pasti capek kan, udah gih pulang istirahat. Ini juga udah gelap" ucap arin
Alika mengangguk "sejujurnya sih iya, aku udah ngantuk banget hehe" ia menampilkan giginya rapat
"iya aku ngerti kok" ucap arin tersenyum
"hm.. ya udah deh bye rin, aku duluan ya" ucap alika berjalan menuju parkiran mobil karyawan
"iya bye hati-hati bawa mobilnya" teriak arin
Arin melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam gedung, keadaan gedung juga terlihat sepi.. hanya beberapa divisi lain yang masih lembur dan berkutat dengan pekerjaannya
"non arin?" sapa bu lis
"ah bu lis, arin pikir siapa" ucapnya mengelus lega dadanya
"hehe maaf non kaget ya, non kok balik lagi bukannya tadi pagi ke luar kota ya?" tanya bu lis
"iya bu tadi ke kantor cabang.. ini ponsel arin tertinggal, jadi mesti ambil ke sini dulu" jawabnya
"oh iya non, udah dapet ponselnya?"
Arin mengangguk seraya mengangkat ponselnya ke udara
"ayo turun bareng ibu, ibu temani ke bawah biar nggak sendirian" ucapnya ramah
"dengan senang hati bu, arin juga sedikit takut kalau jalan sendiri" ucap arin tersenyum
Mereka masuk ke dalam pintu lift, dan turun bersama. Namun langkah kaki arin berhenti saat tiba di lobi.. ia menatap punggung seseorang dari belakang, seseorang yang ia kenali dengan jelas.
Arkana,
Ia melihat laki-laki itu berdiri berdampingan dengan seorang perempuan yang dengan santainya merangkul lengan arkana tanpa canggung
Dan tomi yang membukakan pintu mobil untuk arkana tanpa sengaja melihat arin berdiri memperhatikan tuannya yang sedang bersama seorang perempuan. Sama halnya dengan dirinya.. tomi juga hanya diam mematung di tempat, seperti arin yang terlihat diam dengan raut wajah yang tidak mudah di tebak,
Sedangkan arkana menarik alis matanya heran melihat tomi yang tidak kunjung bergeser.. asistennya itu berdiri menghalangi pintu mobil, hingga akhirnya ia menyadari bahwa asistennya itu hanya fokus pada apa yang berada di belakangnya
Arkana memutar tubuhnya mengikuti arah pandang tomi,
Deg..
Dengan jantung yang berdegup kencang arkana melihat arin menatap diam tak berekspresi ke arahnya
__ADS_1
Next episode,,