
"vivi? kau akan pergi?" tanya mona yang melihat vivi mengunyah roti gandumnya
"iya kk, aku hanya akan menemui dosen pembimbingku"
Mona mengangguk paham dengan tetap berdiri memegangi kursi
"jika kakak bosan kk bisa ikut denganku" tanyanya
"um.. mungkin lain kali, sepertinya aku akan menghubungi seorang teman" jawab mona
"okay nope.." ia menggapai tasnya seraya meminum orange juice
"aku pergi kk ipar" ucapnya seraya berdiri
"muach" cium vivi di pipi kanan mona
"bye" teriaknya seraya berlari
'kk ipar?'
'kenapa aku tidak protes? bahkan aku tersenyum'
'apa yang kau pikirkan mona?' gumamnya menggeleng yang dengan masih tetap berdiri memandang vivi yang kini berjalan keluar
"morning nona"
Mona menoleh "morning bibi cheng"
"you wanna breakfast? atau menu sarapan yang lain?"
"tidak bibi cheng terima kasih yang ada di meja saja" ucap mona
"okay" bibi mengangguk dan kembali berjalan menuju dapur
"pagi" sapa gama tersenyum pada mona
"pagi kk" jawabnya
"kau tidak membuat sarapan pagi ala indonesia?"
"duduklah.. kita sarapan bersama" lanjutnya
"maaf aku telat bangun pagi" ucap mona seraya duduk di samping kanan gama
Gama "bukan masalah"
"setelah menikah mungkin kau akan bangun lebih siang dari ini" gumam gama tersenyum
"kk bilang sesuatu?" tanya mona yang tidak mendengar gama jelas
Gama menggeleng "kau tidak ada kegiatan?"
Mona menghentikan gerakan tangannya yang mengoles roti dengan selai kacang "maafkan aku yang.."
"hei.. kenapa meminta maaf, aku bertanya.. jika tidak ada kau mau ikut denganku?" potong gama
"pergi?"
"hm.."
"kemana?"
"bisa berikan rotinya dulu?" pinta gama yang melihat piringnya kosong
"ah? iya ini" diletakkan mona roti sandwich kacang yang ia buat di piring gama
Gama tersenyum lalu memotong roti gandumnya menjadi dua dan di letakkannya kembali di piring mona
"bersama" ucap gama
'ya tuhan.. cobaan apa ini.. kenapa sikapnya manis sekali' pikir mona tersenyum
'honey.. matamu mengerjap lagi, kau sungguh imut' pikir gama
"bagaimana kau bisa bertemu vivi?"
"ah itu.. tidak sengaja karena accident di cafe" jawab mona mulai gugup
'apa aku gila? kenapa tadi senang dia bersikap manis? dan sekarang? see.. aku gugup dia bertanya seperti mengintrogasi saja' pikir mona
"kuliah di tempat yang sama dengan vivi?"
Mona menggeleng perlahan
"berapa usiamu?"
"23 tahun"
'ah dia masih sangat muda, gadis imutku' tawa gama dalam hati
__ADS_1
"satu tahun diatas vivi"
"iya"
"kau melarikan diri dari rumah?"
Mona mendongak menatap gama
'apa kakak beradik ini cenayang?' pikir mona
"yaa" jawab mona pelan
'masalah apa yang membuatnya nekat kabur keluar negeri?' pikir gama
"kau lari untuk menemui kekasihmu?"
'dia bukan cenayang tapi menebak, dasar menyebalkan.. adik kakak ini sama saja mengira aku kabur karena cinta, ufff.. sok tahu'
"benar?" tanya gama
"tidak.. tentu saja tidak" jawab mona cepat
"lalu? memutuskan negara ini sebagai tempat pelarianmu?"
"ntahlah.. hatiku mengarahkanku ke negara ini"
'menuntunmu bertemu denganku'
"lalu apa yang membuatmu pergi?"
Mona terdiam menunduk, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya tapi tidak mungkin ia menyembunyikan dari sang pemilik rumah
'kau menutupinya' pikir gama
"untuk sekarang aku memaklumi perasaanmu, tapi jika aku menanyakannya kembali.. maka aku harus mendapatkan jawaban sesungguhnya" tegas gama
"hm" mona mengangguk pelan
Ia merasa aman saat tinggal disini, tidak terbayang olehnya jika kakak beradik baik hati ini tidak memberinya bantuan
Gama meminum air putih seraya memperhatikan mona yang terlihat berpikir
"jadi bagaimana? ikut denganku?"
"um.. jika aku tinggal?"
"aku ingin dengar alasanmu"
"teman? di negara ini?"
Mona mengangguk kecil "ada yang di negara ini tapi dia belum juga membalas pesanku, dan aku ingin menghubungi temanku yang ada di indonesia" jelas mona
'apa temannya perempuan atau laki-laki?' pikir gama
"baiklah kau boleh bersantai di rumah"
Mona mengangguk tersenyum "terima kasih kk"
Gama melihat jam di tangannya "hm.. jangan pergi ke luar rumah jika tidak bersamaku atau vivi, kau mengerti mona?" ucap gama tegas hingga membuat mona merinding dibuatnya
Mona mengangguk "iya kk"
"aku harus pergi" ucapnya berdiri
Mona mengangguk "um.. kk"
"ya?" gama menunduk melihat mona
"tidak ada, tidak jadi" ucap mona
Gama menaikkan alisnya lalu tersenyum dan pergi berlalu
'huff.. kenapa bilang hati-hati saja aku gugup begini' pikir mona menyentuh dadanya
Setelah kakak beradik itu pergi mona kembali ke kamarnya dan mengecek ponselnya
'kenapa arin hanya membaca saja?' pikir mona
Mona menyandarkan tubuhnya di sofa balkon kamar miliknya dan tanpa sadar ia terlelap disana. Sedangkan arin, kini ia bersama dengan arkana di dalam ruangan kerja arkana
"mas ini sudah siang bahkan hampir sore, kenapa mona belum menghubungi?"
Dengan mengikuti usul arkana, arin memberikan nomor lain untuk mona hubungi.. ia juga sudah mengirimkan nomor tersebut namun hingga kini mona belum menghubunginya
"sayang.. positif thinking saja mungkin mona sedang sibuk, duduk yang tenang hm" ucap arkana lembut
'huffff.. bagaimana sekarang?' pikirnya
"arin keruangan saja ya?" pinta arin
__ADS_1
Saat arkana hendak bicara arin tiba-tiba berdiri
"nanti saja mas, arin kerja dulu tidak enak dengan karyawan lain.. sudah 10 menit arin disini. Bolehkan?"
'bagaimana pun harus tetap profesional bukan?'
Arkana menghela nafasnya, ia ingin arin tetap disini tapi dia pun juga sedang sibuk sekarang. Membuat arin menunggu juga akan membuat bosan gadisnya itu.. hingga arkana memperbolehkan arin untuk kembali keruangannya sendiri
Sedangkan mona ia terbangun dari tidurnya karena telepon dikamarnya berbunyi
'astaga.. aku ketiduran' ucap mona mengerjapkan matanya untuk berdiri mengangkat telepon tersebut
"ya hallo?"
"kk ipar.. vivi sedang di minimarket, kk ada ingin sesuatu?"
"ah?"
"sekalian kk"
"iya.. um bisa bawakan bubuk matcha?"
"hanya itu?"
"yup"
"okay kk, bye"
Mona kembali meletakkan gagang telepon itu dan berpaling melihat ponselnya
'ah ternyata sudah sejak tadi arin kirim nomornya, gegara ketiduran kan' gumamnya
Beberapa detik jam kemudian menunjukkan bahwa waktu pulang kerja telah tiba, tomi datang menjemput arin untuk ke ruangan arkana
"sayang.. kemari" arkana mengulurkan tangannya pada arin
"saya permisi tuan" ucap tomi kemudian lalu menutup pintu ruangan arkana
Arin tersenyum pada tomi sebagai terima kasih, dan arkana mengangguk pada tomi. Gadisnya itu berjalan menghampirinya dan menyambut uluran tangannya dengan duduk di kursi single sebelah arkana
"kamu tersenyum lagi hm??" tanya arkana melotot
Tapi bukannya arin takut malah membuatnya lucu melihat wajah arkana
"hanya.. "arin tersenyum sendiri ingin menjahili arkana
"tomi sangat baik bukan?"
Arkana memiringkan kepalanya menatap arin yang tersenyum lebar
'jadi gadis kecilku ini ingin bermain-main? hm.. baiklah..'
"oh ya bagaimana dengan mona?"
"tadi sudah telpon" ucap arkana santai dengan tangan yang bersandar di sofa seraya menatap arin lekat
"benarkah?"
"mona telpon? kenapa nggak bilang mas? terus mona bilang apa?"
"arin mau telpon mona lagi, mana nomernya?"
'berganti sekarang aku yang mengambil alih permainan' pikir arkana lucu melihat reaksi arin
"mas ayo arin mau liat mona, sambung video call saja" ucap arin semangat
"tidak mau"
"kenapa?"
"minta saja pada tomi" ucap arkana
'ya ampun.. ini karena tomi?'
Arin berdiri lalu duduk di samping arkana, "maaf arin tidak bermaksud apa-apa? hanya.."
"sayangku.. mas hanya bercanda, baiklah lupakan" ucapnya tersenyum melihat arin lalu menarik arin mendekat padanya dan memeluk pinggang gadisnya
"baiklah kita telpon temanmu?"
Arin mengangguk semangat "iya.. iya ayo telpon"
"arin.." pekiknya kencang dari seberang sana
Next episode,,
πππππ
Happy monday temen-temenπ€π€
__ADS_1
Love allπ