
"kamu tau sayang, mas begitu takut melihatmu yang tidak juga membuka mata. Setiap hari menunggu kamu, berharap kamu secepatnya sadar" ucap arkana
Arin hanya diam mendengarkan arkana
'kenapa sejak tadi dirinya hanya tersenyum dan diam saja?' pikirnya
"kamu lelah? mau tidur kembali, istirahat hm..?" tanya arkana
Arin menggelengkan kepalanya menatap arkana
"terima kasih" ucapnya kemudian
Arkana tersenyum manis "untuk apa?"
"semuanya" suaranya bergetar seraya meneteskan air mata yang kini telah menggenang di pelupuk matanya
Arkana bisa melihat raut wajah arin yang menangis, wajah cantik itu menggambarkan sebuah ketakutan yang besar, dengan lembut arkana merengkuh arin di dalam dekapannya
'mereka pasti melakukan hal buruk denganmu' ucap arkana dalam hati
Karena kondisi arin yang baru saja pulih membuat arkana tidak akan bertanya dulu pada arin, ia takut arin semakin takut dan kondisinya kembali menurun
"sayang" panggil ibu yang sudah berjalan cepat ke arahnya, bersamaan dengan arkana yang sudah melepaskan pelukannya dan beranjak dari tempatnya
"bagaimana keadaanmu sayang? ada yang sakit? kenapa? kenapa putri kecilnya ibu ini menangis?" tanyanya memberondong
Dengan terisak arin menangis dalam pelukan ibu,
"hei sayang, apa yang terjadi.. ceritakan pada ibu sayang" ucap ibu bergetar, ia khawatir atas apa yang telah dilalui putrinya.. pikirannya berkelana yang tidak-tidak
'tidak.. tidak, mereka tidak melecehkannya' ibu menggeleng pelan
Semua orang yang berada disana pun hanya mampu diam dan mendengar saja
"perempuan itu.. dia..
[Flashback on]
Pagi itu ia berjalan dengan santai menuju halte bus di depan jalan, arin berniat membeli bakpao di depan jalan dan akan ia makan sebagai sarapan di bus nanti
Namun saat ia sedang berjalan sebuah mobil hitam mendekat padanya dan menariknya masuk secara paksa
"lepas" teriak arin seraya menendang dua orang yang mencengkam lengannya, secara cepat sebuah kain tangan mendarat membekap mulutnya.. hingga membuat kesadarannya mulai meredup dan kian menghilang
Orang-orang dengan pakaian tertutup itu membawa arin menuju ke sebuah gedung tak berpenghuni, tubuhnya di ikat rantai pada sebuah kursi yang diletakkan di sebuah ruangan temaram yang kini sudah ditunggu oleh seorang perempuan yang dengan santainya duduk seraya menghisap rokok yang berada di tangannya
"ikat dengan baik" titahnya
Dengan sayup-sayup pendengaran dan kesadaran arin mulai kembali sadar, ia merasakan bagaimana mereka mengikat tangannya
Ia mengatur nafasnya dengan perlahan, jangan sampai mereka menyadari jika dirinya telah sadar.. terdengar suara heels menggema mendekat ke arahnya
__ADS_1
'siapa itu?' tanya arin dalam hati
"perempuan kampung.. cih, bagaimana mungkin arkana tertarik denganmu?" bisiknya pelan "kau pikir aku bodoh tidak tahu jika kau telah sadar ha?"
Dengan nafas yang kian memburu, dan jantung yang berdetak kencang arin membuka matanya melihat siapa yang kini bicara dengan dirinya
Deg..
Arin diam menatap seseorang yang kini tersenyum menyeramkan melihat pada dirinya
"kamu?"
"tidak mengenaliku?" potongnya seraya mencengkam dagu arin kasar
"lepaskan" ucap arin
"lepaskan?" tanya mengejek
PLAK
Arin meringis menahan perih di bagian pipinya,
"ini resiko atas keberanianmu merebut arkana dari sisiku" ucapnya lantang
"aku tidak melakukannya" ucap arin
"perempuan kurang ajar.. karena kau arkana pergi meninggalkan ku saat di restoran, kau pikir aku tidak melihat? kau dengan beraninya merebut apa yang ada di genggamanku" ucapnya kesal
Lalu arin memotong ucapan hana,
"mas arka tidak mencintaimu" ucap arin lantang
Arin terdiam dengan suara tawa hana yang menggelegar
"aku tidak peduli" jawabnya kemudian
"kau tahu kenapa aku melibatkan dirimu?" tanyanya
Lagi-lagi ia tertawa kencang
"aku tidak peduli dengan dirinya, ia hanya orang bodoh yang selalu mau dimanfaatkan" namun tawanya kini berhenti dengan raut wajah yang begitu menyeramkan
"awalnya aku mengira ia bodoh, sangat bodoh.. ia tidak mau menyentuhku, melewatkan indahnya tubuhku. Tapi ia selalu memanjakanku dengan uang yang selalu mengalir di rekening pribadiku. Tidak.. tidak.. dia tidak pelit, sehingga tidak ada alasan untuk meminta black card darinya"
"namun aku yang begitu bodoh.. tanpa curiga sedikit pun laki-laki itu telah mempersiapkan jurang dalam dan membuat bom yang ia siapkan untuk menghancurkan aku dan ayahku" jelasnya
Dengan bingung arin tetap mendengarkan segala ucapan yang diucapkan oleh perempuan itu
"tapi tidak lagi.." ucapnya tertawa kemudian
"aku membalasnya menggunakan dirimu sayang.." dengan kuat ia mencengkam dagu arin
__ADS_1
"kini bagaimana perasaannya saat ia menemukanmu dengan kondisi mengenaskan dan tidak lagi bernyawa?" tanyanya dengan tersenyum jahat
"menjauh" ucap arin gemetar
"haha kau takut?" ucapnya dengan mendekat lalu
Tar..
Dengan kejamnya ia menendang kursi yang masih terikat dengan arin
Kini air matanya tidak lagi bisa ia pendam, kerasnya hentakan membuat tubuhnya remuk seketika
"haha kau menangis? harusnya laki-laki kejam itu melihat betapa sakitnya kekasih hatinya ini" ucapnya mengejek
'mas aku takut' ucapnya dalam hati
"lepaskan hiks.. hiks.. mas arka.." teriak arin saat dua orang laki-laki memakai pakaian tertutup serta masker pelindung kini dengan kasar menariknya masuk ke dalam sebuah ruangan tertutup
"mau apa kalian? lepaskan, lepaskan" teriaknya menggema seraya memberontak
"diam" bentak laki-laki itu
PLAK
Didorongnya arin masuk ke dalam, dan menutupnya kembali dengan dentuman yang begitu kencang
"buka.. buka.. hiks.. ibu.. tolong.." teriak arin
Ia memegang dadanya sesak
"ya allah, ini kenapa? ini bau apa?" tanyanya seraya menelisik ruangan mencari jalan keluar
Kini nafasnya sudah terengah-engah bersamaan dengan pandangannya yang telah kian mengabur
"mas hiks.. hiks.."
Hana terlihat menegang mendengar bawahan arkana kini bergerak menuju ke arahnya
"bagaimana bisa dia tahu, bodoh!! dasar tidak becus" bentak hana pada orang suruhannya
"bawa dia pergi cepatt, arkana tidak boleh menemukan perempuan ini.. bawa jauh" titahnya
Hingga mereka membawa arin menjauh dari tempat, karena rencana mereka sudah berantakan akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh arin dengan menabrakan mobil tepat di hadapan arkana
[Flashback off]
'syukurlah.. mereka tidak melecehkan arinku'
"sayang.. shuttt... ini ibu, lihat semua orang menyayangi kamu. Jangan takut lagi sayang.. doa ibu selalu melindungi kamu.. mereka tidak bisa menyakiti anak ibu lagi" ucapnya mengusap lembut kepala arin, kini ia sudah lebih tenang.. ia tidak ingin arin semakin takut dan menjadikan peristiwa tersebut menjadi trauma yang membekas dan memengaruhi pikiran dan jiwanya putri kecilnya itu
Sedangkan arkana, raut wajahnya telah menegang menahan emosi yang seakan ingin meledak, kepalan tangannya yang begitu kuat membuktikan dirinya kini sedang terbakar amarah
__ADS_1
Next episode,,