
Hari ini arin bangun lebih pagi, dari malam ia sulit untuk memejamkan mata.. hingga alarm ponselnya berdering dan mengharuskan ia terbangun, padahal ia baru saja memejamkan matanya
Kemudian ia beranjak menyiapkan pakaian yang akan ia pakai untuk pergi bekerja.. tak lupa juga memanggang roti tawar untuk sarapannya dan mona, mengingat bahwa mona juga mendapatkan sift pagi hari ini
"pagi mon" sapa arin dengan penampilan yang sudah siap
"pagi.."
"oh ya jangan lupa buat liatin terus tuh si bos" ucapnya seraya mengunyah roti tawar
"emang harus begitu ya mon,"
"ya biar tahu kan, jadi nggak menerka-nerka perempuan itu siapa.. lagian rin cuma kamu doang yang bisa selidikin sendiri"
"hm.. sama aja, itu mah aku yang selidikin sendiri.. bukan kita" ucap arin cemberut
"yeh, cuma liat-liat dikit terus cari-cari tahu deh sama yang lain.. ntar juga tahu kok tuh cewek siapa" mona meneguk air putih di depannya
"kalo memang itu pacarnya mas arka gimana mon?" ucapnya pelan
"jangan sedih dulu dong.. gimana mau tahu kalo nggak di selidikin" balasnya
"hm.. iya deh.. aku coba" jawabnya
"ya udah yuk.. aku anterin sekalian" ucap mona yang sudah beranjak keluar dari apartemen
Selama di perjalanan arin berpikir bagaimana caranya dia tahu hubungan antara arkana dan perempuan yang semalam, rasanya itu bukan saudarinya, mengingat kelakuan perempuan itu yang begitu genit pada arkana
'eh.. kok jadi sebel banget ya kalo inget itu perempuan deket-deket sama mas arka'
'lagian emangnya kamu siapa sih rin mau sebel kalo ada yang deket sama mas arka' ucapnya dalam hati
"dah nyampe tuh" ucap mona membuyarkan pikiran arin
"ah iya, makasih mon hati-hati ya.. bye" ucapnya turun dari mobil mona
"iyya bye rin" ucapnya lalu berlalu melajukan kendaraannya
Arin memasuki lobi perusahaan, ia memandang semua karyawan menundukkan kepala ke arahnya
'kenapa mereka menundukkan kepala?' pikirnya
"selamat pagi nona" sapa tomi dari belakang
Seketika arin menoleh dan terkejut melihat arkana dan tomi yang berada di belakangnya, dengan cepat arin menundukkan kepalanya
"selamat pagi tuan arka, asisten tomi" jawabnya canggung
__ADS_1
Rasanya ia tidak siap jika harus bertemu arkana sekarang, ia bahkan menundukkan kepalanya agar tidak menatap arkana
'kenapa dia menundukkan kepalanya?' pikir arkana
"arin" panggilnya
Mau tidak mau arin mendongak menatap arkana "iya" jawabnya pelan
Arkana menatap dalam mata arin "ikut ke ruanganku ya" tanpa menunggu jawaban arin arkana berjalan mendahului menuju lift pribadinya
Tomi hanya mengangguk pada arin, seolah memberitahunya agar dirinya mengikuti arkana ke ruangannya, kemudian arin mengangguk mengikuti arkana dan tomi dari belakang
Ting..
Mereka telah sampai di lantai ruangan arkana, disana sudah ada laura yang sudah tersenyum ramah menyambut mereka
"selamat pagi tuan, nona" sapa laura
Arkana hanya mengangguk
"selamat pagi nona laura" jawab arin membalas senyuman itu
"laura tolong bawakan sarapan lengkap ke ruanganku" ucap arkana
"baik tuan" jawab laura
Arin hanya mengikuti langkah arkana saat tuannya itu membukakan pintu untuknya
"duduklah dulu" ucapnya menggenggam tangan arin menuju sofa "aku ingin memeriksa sesuatu" ucapnya
Sedangkan arin hanya mengangguk menjawab arkana
Tak berselang lama pintu ruangan arkana terdengar diketuk
Ceklek..
"permisi tuan, ini sarapannya" ucap bu lis
"hm.. letakkan di meja tengah" jawabnya yang tetap fokus menatap gadgetnya di kursi kebesarannya
Office girl itu tersenyum ramah pada arin, arin membalas senyuman bu lis.. namun ia sedikit khawatir apa OG itu akan berpikir macam-macam padanya, karena pagi-pagi begini dia sedang duduk manis di sofa ruangan tuannya
"ada hal lainnya tuan?" tanya bu lis
"tidak.. sekarang keluarlah" ucap arkana
Arkana berjalan ke arah arin, kemudian duduk di samping gadis lolanya itu "makanlah" ucapnya
__ADS_1
Arin mengerutkan dahinya bingung "saya sudah sarapan tuan" ucap arin
"gadis lola" ucap arkana dengan mengelus lembut kepala arin "nggak mau lagi panggil mas?" tanya arkana
"um.. itu"
"kamu sakit?" tanya arkana
Arin menggeleng
"ada apa? kamu menangis semalaman? matamu bengkak.. bahkan ini meninggalkan sembab habis menangis" ucapnya dengan memperhatikan arin lekat
Ucapan arkana mengingatkannya pada yang ia lihat semalam
"lihat matamu terlihat memerah, hei ada apa? ada yang sakit kah?"
Arin menahan sekuat mungkin agar ia tidak meneteskan air matanya "tidak, hanya kurang tidur saja" jawabnya
"jangan berbohong" ditatapnya arin dengan khawatir
"tidak sungguh, tidak ada apa-apa" jawabnya tersenyum
'kamu tidak bicara jujur sayang, apa yang sedang mengganggumu' tanyanya dalam hati
"tuan bisakah aku kembali ke ruanganku, ada beberapa pekerjaan yang belum aku selesaikan" ucapnya menunduk
"lihat aku" ucapnya dengan menarik lengan arin agar menatap wajahnya "aku bukan tuanmu" ucapnya tegas
"maafkan aku" ucapnya lirih sedikit menjauh melihat arkana bersikap tegas seraya memundurkan tubuhnya dari arkana
Arkana tersentak melihat arin terlihat takut dengannya "hei sayang, jangan takut.. maaf..."
"sayang ini aku, mas arka kamu" ucapnya menarik arin dan memeluknya
Memang ia sedikit kaget melihat arkana bicara dengan raut wajah dan cara bicara yang tegas, namun kejadian semalam sangatlah memengaruhinya hingga membuatnya tidak bisa menahan air matanya lagi
Arin menangis di dada arkana dan membalas pelukan arkana dengan erat.. ia tidak tahu mengapa, namun ia sangat tidak rela jika perempuan semalam dekat dengan arkana
"hei tenanglah.. maaf yaa, mas nggak bermaksud buat kamu takut" ucap arkana mengelus punggung arin pelan
Arin hanya mengangguk di dalam pelukan arkana, ia tidak memikirkan tentang menyelidiki atau apa pun yang ia pikirkan sebelumnya.. bahkan ia tidak ingin lagi memikirkannya
Biarlah arkana berpikir bahwa dirinya takut melihatnya bicara tegas, walau nyatanya arin tidak merasa begitu
Saat ini ia hanya merasa lebih nyaman dan tenang saat arkana memeluknya, seakan arkana meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia pikirkan itu tidaklah benar adanya
Next episode,,
__ADS_1