My Charming Boss

My Charming Boss
84. Kabar mona


__ADS_3

Tring...


Tring..


Ponsel arin berbunyi di dalam tasnya namun sang pemilik tidak berada di meja kerjanya


Tring..


Tring..


"ponsel siapa yang bunyi?" ucap alika


"punya nyonya muda" jawab yogi fokus pada pekerjaannya


Tring..


"mana orangnya?"


"toilet tadi"


"noh orangnya" tunjuk yogi dengan dagunya


"kenapa?" tanya arin melihat yogi dan alika yang menatapnya


"ponsel kamu bunyi rin, keknya notif pesen tuh masuk"


Arin mengangguk lalu duduk di kursi kerjanya seraya membuka tasnya untuk mengecek ponselnya


Deg..


Matanya berbinar menatap layar ponselnya itu,


'mona..'


Isi pesan mona 📩


(Assalamualaikum gadis cengeng..


Apa kabar??


Ah pasti kamu baik-baik saja, iyalah ada calon suaminya


Haha pasti sekarang lagi senyum-senyum sambil nangisin aku kan? emang kangen banget ya? aku kangen rin sama kamu.. kangen liat kamu nangis kalo cemburu haha kangen liat kamu berbunga-bunga saat ceritain bos charming kamu itu, tapi aku nggak akan kalah saing aku juga akan cerita tentang cintaku juga.. walaupun orangnya masih otw hehe


Rin..


Maaf ya kita nggak jadi ke pameran kuliner turki. Tapi jangan khawatir nanti kalo ketemu kamu lagi janji deh nanti kita bakal jalan lagi, pergi liat pameran kuliner dari seluruh dunia bila perlu haha


Btw.. Im fine sister, ponselku hilang jadi nggak bisa hubungin kamu. Kirim dong nomor kamu, im waiting..


Oh ya boleh aku pesen satu hal?


Tolong jangan bicarakan kabarku dengan siapa pun, please.. nanti kalo kita video call aku ceritain semuanya. Oke??)


Arin menghapus air matanya yang menetes di pipinya seraya tersenyum lebar memandang ponsel yang berada di genggamannya


Dengan kompak alika dan yogi menoleh, yogi bertanya dengan isyarat menaikkan dagunya.. sedangkan alika juga yang terlihat mengerutkan dahinya seraya menaikkan bahunya berkata tidak tahu


Alika berdiri menghampiri arin dan menepuk pundak arin pelan


"kenapa rin? ada masalah?"


Arin menoleh melihat alika dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya


"nggak ada.. cuma terharu liat sesuatu disosial media hehe"

__ADS_1


"yee ada-ada aja" ucap yogi geleng-geleng kepala


Sedangkan alika menghembuskan nafasnya 'kagak jelas' gumam alika kembali ke meja kerjanya


_______________


Arkana memperhatikan arin dengan wajah gadis itu yang terlihat lebih cerah dari kemarin-kemarin saat sahabatnya mona tiba-tiba menghilang


'apa yang membuatnya begitu?'


'dan kenapa pula gadis ini sebentar-sebentar mengecek ponselnya'


'entah apa yang ditunggunya?'


Setelah beberapa menit arkana memperhatikan, gadisnya itu masih melakukan hal yang sama.. hingga membuatnya tidak tahan untuk bicara


"menunggu pesan siapa?" tanya arkana yang fokus pada ponselnya tanpa melihat pada arin


"tid..." arin tersentak ketika akan menyangkal, saat melihat arkana seketika menoleh menatap lekat wajahnya seakan berkata 'mau menutupi sesuatu?'


"kenapa tidak menjawab?" tanya arkana dengan memangku tangan


"um.." arin menoleh pada driver arkana


Arkana yang mengerti arin tidak ingin di dengar dengan segera menutup pembatas mobil


"sedari tadi kamu sibuk melihat apa ada pesan masuk atau tidak.. kamu menunggu pesan dari siapa hm?" tanya arkana lembut namun tegas


"um.. itu"


'bagaimana ini apa tidak apa-apa jika ku ceritakan dengan mas arka?'


'mona marah tidak ya?'


'sepertinya tidak apa-apa, semoga memang tidak apa-apa'


"um.. tapi bener ya cuma kita berdua yang tahu?" ucap arin yang khawatir


'apa yang arin cemaskan?' pikir arkana


Arkana mengangguk "hm.. ceritakan semuanya.."


Arin masih tetap diam melihat arkana


"jangan khawatir aku disini bukan?"


Arin mengangguk "mona"


"hm??"


"arin dapet direct message dari mona" ucapnya sedikit berbisik


"bukankah itu berita baik?"


"iya.. arin juga lega denger mona baik-baik saja, tapi"


Arkana menunggu arin bicara "tapi?"


"sebenarnya mona nggak boleh arin bilang ke siapa pun kalo dapet kabar dari mona.. tapi.. um kenapa arin tidak boleh bicara tentangnya dengan orang lain?.. bukankah itu sedikit aneh?"


Bukannya serius arkana menanggapi ucapan arin, malahan ia berusaha menahan tawanya dengan tersenyum geli.. bagaimana tidak, arin bicara dengan begitu dekatnya berbisik padanya


'bagaimana gadis ini tidak menyadari bahwa jaraknya begitu dekat denganku?'


"mas.. kenapa senyum-senyum?" tanya arin heran

__ADS_1


Tapi arkana malah mendekatkan wajahnya pada arin dengan senyuman yang lebih lebar


"kenapa harus bisik-bisik hm?"


Arin yang merasa terlalu dekat dengan arkana kemudian memberi jarak seraya tersenyum menunjukkan gigi putihnya


"um.. supaya tidak ada yang dengar" ucapnya polos


Arkana tersenyum mengelus lembut kepala arin "lupakan" namun belum selesai arin memotong pembicaraannya


"kenapa lupakan? kamu nggak suka arin temenan sama mona mas?" ucapnya pelan


"hei.. dengarin dulu sayang.. okay.. kapan mona kirim pesan ke kamu?"


"tadi, saat arin kerja.. habis makan siang"


"boleh liat pesannya?"


Arin mengangguk lalu mengambil ponselnya didalam tas


"ini" mengulurkan ponselnya pada arkana


Namun saat arkana menyentuhnya terlihat ia mengernyitkan dahinya


"kenapa?" tanya arin


Arkana mengarahkan layar ponsel itu kepada arin,


"ah iya arin lupa ponselnya tidak bisa disentuh sebelah kiri hehe sebentar mas" arin mengambil kembali ponsel miliknya lalu mengubah layar orientasi ponselnya dan membuka pesan dari mona


"ini" diberikannya pada arkana


'ya tuhan.. gadis ini, bagaimana dia bisa bertahan dengan ponsel seperti itu' pikir arkana


"mas?? kenapa? ini pesan dari mona" ulang arin


"hm" jawab arkana mengangguk lalu mengambil alih ponsel arin dan membaca pesan mona


(aku kangen rin sama kamu.. kangen liat kamu nangis kalo cemburu haha kangen liat kamu berbunga-bunga saat ceritain bos charming kamu itu)


'kamu kalo cemburu menangis sayang?'


'dan apa ini? bos charming?? haha kamu begitu manis.. buat aku makin cinta' pikir arkana tersenyum yang kini sibuk dengan pikirannya


"bagaimana mas?" tanya arin melihat arkana tersenyum


"sebentar hm" arkana mengelus kepala arin lalu melanjutkan kembali membaca pesan mona


"kita berikan saja nomor ponsel baru, kita harus memastikan ini mona atau bukan?"


Seketika arin melotot lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya "apa mona sedang disandera seperti arin kemarin? apa orangnya itu berniat jahat pada mona? mas apa.. "


Dengan cepat arkana menggenggam tangan gadisnya "hei suuttt.. sayang jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kamu lihat mona bilang dia baik-baik saja bukan? jadi tenanglah okay"


"mas bisa saja orang itu.."


Kemudian ia memeluk arin bermaksud menenangkannya "dengar.. kita hubungi mona besok pagi"


"tapi bagaimana jika mona dalam bahaya? bagaimana jika mon.."


"kamu percaya aku sayang?"


Arin mengangguk pelan, arkana tahu kesayangannya itu tidak tenang memikirkan temannya.. arkana juga berpikir mungkin memang benar itu mona, dari setiap ucapan dipesan itu menggambarkan itu mona. Namun pesan yang disampaikan mona membuat arkana berpikir akan lebih baik jika tidak bertindak gegabah dan dapat membahayakan arin


Next episode,,

__ADS_1


__ADS_2