
Arkana bingung melihat arin yang terus menunduk bahkan raut wajahnya terlihat sedih, ada apa dengan gadis kesayangannya ini.
"maaf bu, aku permisi menyusul arin" ucap arkana meninggalkan ruangan
Saat ibu ingin menyusul, olla sudah menggenggam tangan ibu
"biarkan dulu bu, mungkin mereka ada masalah.. beri mereka kesempatan untuk menyelesaikannya" ucap olla
Ibu pun terdiam, Ia tidak tahu apa yang terjadi saat ini, lalu ia mengangguk mengiyakan pendapat olla. Ia pikir mungkin ini masalah antara arin dan arkana
Arkana menyusul arin, namun saat arin akan menutup pintu kamar dengan cepat arkana masuk ke dalam dan menutupnya
"apa yang kamu lakukan?, keluar" ucap arin yang terkejut melihat arkana masuk ke dalam kamarnya
Arkana berjalan menghampiri arin dan menggenggam tangannya "ada apa denganmu hm?" ucapnya pelan
Arin menggelengkan kepalanya "ini sudah malam tuan, sebaiknya"
"apa yang ku katakan, jangan tuan" potong arkana "ada yang salah denganku?" tanya arkana lembut
Lagi-lagi arin menggeleng "mas tidak baik masuk ke dalam kamarku, sebaiknya mas keluar" ucap arin
"bicara dulu ada apa?" tanyanya
Namun sebelum arin bicara, arkana sudah menggandengnya untuk duduk di tempat tidur
"bicara yang jujur, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu" ucap arkana yang sudah duduk bersimpuh di hadapan arin
"nggak ada apa pun mas, sekarang mas keluar" ucap arin kekeh
"kamu sakit hm?" tanya arkana
"nggak" jawabnya singkat
"kamu sakit olla be.."
Dengan geram arin memotong pembicaraan arkana "iya aku sakit, sekarang kamu pulang saja atau sana pergi liat mbak olla saja" ucapnya sedikit kencang
Arkana kaget, dengan sadar arin panik jika ia sudah sedikit berkata kencang pada atasannya itu
__ADS_1
"maaf tuan, sungguh aku tak bermaksud berkata kencang" jujur arin takut dipecat gara-gara ucapannya yang kencang
Arkana menatap tajam arin
Arin menunduk "maafkan aku, tolong jangan memecatku tuan, aku berjanji tidak akan berkata kencang lagi" ucapnya seraya menangkupkan kedua telapak tangannya
'bagaimana aku tidak memanggilnya gadis lola, jika sikapnya saja seperti ini' pikir arkana
"aku bilang apa? jangan memanggilku tuan bukan?" ucap arkana datar dengan tetap memandang arin
Arin mengangkat kepalanya dan menatap arkana "maafkan aku mas" ucapnya pelan
Arkana tersenyum, rasanya sangat merdu setiap kali arin memanggilnya 'mas'
"hm.. ingat jangan ulangi lagi, okay?"
Arin mengangguk "tapi hanya saat diluar jam kerja, dan tidak dihadapan karyawan lain" jawab arin
"membuat pengecualian ha?" tanyanya seraya menggenggam tangan arin dan beralih duduk di samping arin
"dan apa tadi?, pergi saja sana liat mbak olla?" ucap arkana menirukan arin bicara "kamu cemburu aku memandang olla?" tanya arkana tersenyum
"yang benar?" tanya arkana menggoda "kamu itu cemburu" ucapnya
"mas.."
Seketika arkana memotong pembicaraan arin "kamu tahu olla itu istri"
"istri kamu mas?" potong arin refleks berdiri, namun arkana dengan sigap menarik arin dan duduk di pangkuannya
Arin terkejut dengan perlakuan tiba-tiba tuannya itu, hingga tidak bisa membuatnya bergerak
"dasar ya kamu ini, gadis lola" ucap arkana mencolek hidung arin
"masih tidak mengaku jika cemburu?"
"makanya dengarkan dulu, olla itu istri temanku yang sedang bram cari kemana-mana.. dan tentu saja saat melihatnya aku kaget, untuk mematikannya tentu aku memandangnya bukan?. Hm bukan memandang tapi melihat, hanya melihat wajahnya saja"
"aku berencana membawa bram kemari besok, dia pasti merindukan istri dan anaknya, bram sudah terpisah dengan mereka kurang lebih selama satu minggu, nanti lengkapnya aku ceritakan besok"
__ADS_1
"dan ya.. sama seperti kita, bukankah sudah satu minggu ini kita juga tidak berjumpa?, aku begitu merindukanmu.. bagaimana denganmu, kamu merindukanku juga?" tanya arkana
Dengan hati yang bahagia dan lega, arin tersenyum dan menganggukkan kepalanya
Melihat arin yang tersenyum manis dari jarak yang sangat dekat membuat arkana pun mendekatkan wajahnya pada arin,
Saat arkana akan mendekatkan wajahnya.. dengan cepat arin memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher arkana, arkana tersenyum melihat respon arin lalu mengelus lembut punggungnya. Ia tahu perempuan cantiknya itu sedang gugup, arkana bisa merasakan detak jantung arin yang berdetak kencang
Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama, arkana tidak bisa terus menerus dalam posisi seperti ini dengan arin. Jangan sampai ia melewati batas yang ada
Perlahan arkana mendorong arin untuk dapat melihat betapa meronanya pipi gadisnya itu,
"baiklah seperti katamu, ini sudah malam maka aku harus pulang bukan?" tanyanya
Arin tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu beranjak dari pangkuan arkana. Setelahnya arkana pamit pada ibu dan olla, karena bella sudah tertidur lelap di gendongan olla maka mereka tidak sempat berpamitan dengan gadis kecil itu
"aku pulang, mimpi indah ya.. bye" ucapnya seraya mengelus lembut kepala arin
Arin mengangguk "hati-hati ya mas" ucap arin melambaikan tangan
"pasti" jawabnya tersenyum lalu melajukan kendaraannya
Saat arin akan masuk ke dalam ibu dan olla mengagetkannya
"duh kayaknya udah ada yang baikan nih" ucap olla tertawa
"hehe besok juga ada yang mau baikan kok mbak" ucap arin tersenyum lebar
"eh siapa?" tanya ibu
"ada deh bu, kan surprise" ucapnya meninggalkan ibu juga olla
"aduh anak jaman sekarang mah ada-ada saja" ucap ibu
Olla tertawa kecil "ya sudah bu olla pulang dulu ya, assalamualaikum" ucapnya
"iya sayang, waalaikumsalam"
'siapa coba yang akan baikan besok, terus tadi emang ada apa, sampe baikan segala. Hufff, kalau ikut masalah anak-anak ini jadi begini.. pusing karena nggak paham' pikir ibu yang sudah geleng-geleng kepala
__ADS_1
Next episode,,