My Charming Boss

My Charming Boss
33. Kakak perempuan


__ADS_3

Setelah selesai memasak dan menyantap makan siang, mereka duduk santai merebahkan diri di ambal depan tv


Mereka asik menonton tv seraya bercerita tentang apa saja, mulai dari berita artis, pengalaman pertama arin bekerja, mona yang sering menahan kesal karena sikap dari pasien maupun keluarganya yang seenak hati dan masih banyak hal


Layaknya perempuan jika sudah membahas satu hal akan merembet kemana-mana, sampai lupa kenapa bisa mereka membahasnya


Tak hanya arin dan mona, tetapi ibu juga bergabung bersama mereka. Ibu memang menjadikan dirinya sahabat bagi putri kecilnya itu, jangan sampai putri kecil itu menjadi tidak nyaman dan bersikap yang tidak seharusnya di belakangnya


Begitu pula dengan mona, teman baiknya arin. Ibu merangkul mereka agar mereka tetap menjadi gadis cantik yang baik secara hati dan tingkah lakunya


"nanti setelah shalat ashar kita ke tempat bella, ibu mau ke kamar dulu ya" ucap ibu yang sudah beranjak pergi ke kamar


"siap ibu peri" jawab arin


Jam sudah menunjukkan pukul empat kurang,


Mona sudah bersiap sekalian akan pulang ke apartemennya setelah ia mengunjungi tetangga baru arin, ia mengganti pakaiannya dengan baju yang sudah ia bawa. Mengingat jika tadi mona meminjam baju arin setelah mereka membersihkan diri dari jogging


"kamu ganti pakaian saja dulu mon, aku mau bungkusin pudding dulu buat kamu sama bella" ucap arin yang berjalan keluar kamar menuju dapur


Tak lama kemudian ibu dan mona turun bersama


"puddingnya udah rin?" tanya ibu


"udah bu.. berres" arin mengangkat jempolnya


"ya udah yok, siniin pudingku" ucap mona seraya tersenyum malu

__ADS_1


"iyyaa nih ambil," jawab arin menyodorkan kotak makan kecil berisi pudding jagung


Ting tong.. Ting tong..


Ceklek


"assalamualaikum olla" sapa ibu tersenyum ramah


"eh ibu, waalaikumsalam.. mari bu masuk" jawab olla yang sudah membukakan pintu


'mbak olla udah panggil ibu saja' pikir arin


Ibu memang lebih senang jika dipanggil ibu, katanya biar deket dan tidak merasa sungkan


Ibu yang masuk ke dalam diikuti oleh arin dan mona, terlihat beberapa box masih tertutup rapi tersusun di ruangan ini


Terlihat jika rumah sewa ini sudah tersedia satu sofa panjang dan meja makan dengan hanya cukup untuk dua orang, juga ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi


Namun tatapan arin teralih saat ia memperhatikan mata olla yang terlihat sembab dan juga bengkak.. seperti habis menangis dengan durasi waktu yang lama


'mbak olla sepertinya habis menangis, kenapa ya? kalau di perhatikan juga.. ini box pindahan mbak olla kok hanya beberapa ya?' pikirnya dalam hati


"arin?" panggil ibu yang menepuk pelan lenganku


"kenapa melamun?" tanya ibu


"eh enggak kok" jawab arin

__ADS_1


"ini ya arin?," tanya olla "senang berkenalan denganmu, anaknya cantik bu.. kirain tadi cuma ibu saja yang melebihkan ternyata beneran cantik plus manis" ucap olla dengan senyum tulus, tak ada kepalsuan dari sikap dan sorot matanya


"mbak olla bisa aja, mbak dan si kecil ini tak kalah cantik kok" balas arin tersenyum


"hai mbak olla, kenalin.." ucap mona mengulurkan tangannya "mona, temen baiknya arin" ucap mona tersenyum


"oh hai mona, senang bisa kenal kamu.. um pasti banyak yang naksir nih, kalian berdua ini cantik-cantik deh" balasnya pada mona


"tentu saja.. monaaa" ucapnya tertawa lucu dengan kelakuannya sendiri


Olla tersenyum "oh ya bolehkah jika nanti aku banyak bertanya tempat atau apa pun itu? aku baru kenal daerah ini, dan aku tidak punya teman baik.. jadi bolehkah ak.."


"tentu saja" potong mona "jangan sungkan terhadap kami" ucap mona bersahabat


Olla tersenyum haru menatap mona dan arin


"bagaimana jika mbak olla?" tanya arin


"benarkah?" tanyanya


"tentu saja" jawab arin dan mona bersama hingga membuat mereka tertawa bersama


Olla tersenyum "baiklah, mulai hari ini aku sudah punya dua adik perempuan dan satu ibu" ucap olla tertawa kecil


"ibu peri koki baik hati" jawab arin


Dan ibu hanya tersenyum mendengar percakapan mereka

__ADS_1


Next episode,,


__ADS_2