My Charming Boss

My Charming Boss
78. Itu Penting


__ADS_3

Hari ini arin berencana untuk pergi ke rumah sakit tempat mona koas jika ia masih tetap tidak mendapatkan kabar dari rio. Pikirannya kini melayang berpikiran banyak kemungkinan 'jika aku punya salah atau menyinggung mona pasti gadis itu secara langsung akan beraksi bukannya menghilang.. itu artinya mona tidak punya masalah denganku. Lalu kenapa sekarang mona hilang di telan bumi? apa penyebabnya?' lamunnya


'ah hampir kelewat haltenya' ucap arin mengelus dada


"selamat pagi nona arin" sapa security depan


"selamat pagi pak" jawabnya ramah "ah iya ini saya ada beli bakpao sepertinya lebih banyak, untuk bapak sarapan mungkin" ucapnya seraya mengulurkan bingkisan paper bag di tangannya


"duh.. apa tidak apa-apa non"


"tidak apa-apa pak, terima saja.. ini" ucapnya melepaskan paper bag di tangannya


"saya duluan pak" pamit arin


"oh iya non, terima kasih banyak non" ucapnya sedikit kencang karena arin telah berlalu


Arin menoleh dan menganggukkan kepalanya mengisyaratkan sama-sama


"eh" tepuk seorang di bagian pundaknya


"kamu din, kirain siapa" ucapnya mengelus dada


"apaan tuh?"


"bingkisan dari nona baik hati, rezeki pagi hari nih"


"wah, beruntung sekali tuan singa aum itu mendapatkan bidadari seperti nona arin"


"shutt.. jangan bicara keras, nanti ada yang dengar. Bisa berabe nantinya"


"ya sudah, kita makan bakpaonya saja"


_______________


Kini waktu makan siang tiba, arin yang bersama dengan alika melangkahkan kakinya menuju ke meja dimana rio sedang makan bersama karyawan lainnya


"yo" sapanya


"ya, eh rin.."


Arin duduk berhadapan dengan rio


"kamu ada kabar dari mona, atau tahu mungkin dia kemana?" tanya arin


"mona?"


Arin mengangguk


Rio mengunyah seraya menggeleng "terakhir aku bertemu mona saat kita makan bersama direstoran, setelah hari itu aku tidak bertemu dengannya lagi"


Arin mengerjapkan matanya bingung


"ada apa?"


"entahlah, mona tidak bisa dihubungi.. sudah dua hari tapi mona tidak menjawab pesanku, bahkan nomornya selalu diluar jangkauan"


Rio mengernyitkan dahinya dalam


"tidak biasanya"


"aku tahu itu, apa yang terjadi pada mona sehingga dia menghilang tanpa kabar begini?"


"aku akan coba tanya dengan teman-teman lain yang mungkin tahu keberadaan mona, jangan berpikir yang macam-macam dulu"


"apa kau sudah pergi ke apartemen mona, atau ke rumah sakit tempat ia bekerja?.. siapa tahu mona harus pergi ke luar kota atau menyelesaikan pekerjaannya" lanjut rio


"belum, pulang dari ini aku mau ke rumah sakit untuk melihat mona.. aku harap dia memang sibuk sehingga tidak sempat mengabariku" ucapnya lemah


'walau sebenarnya kecil kemungkinan, gadis itu sudah berjanji untuk pergi melihat pameran kuliner turkey hari ini.. mona pantang mengingkari janji' pikirnya


Hingga tibalah ia disini, di rumah sakit


Ia melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadi mona biasa beristirahat


"permisi nona, ada yang bisa saya bantu" ucap security disana


"ah iya pak, ini saya ingin menemui dokter muda sefiera mona.. apa hari ini ia ada jadwal shift kerja" tanya arin


"oh saya juga kurang tahu, tapi nona bisa tunggu sebentar disini.. saya bisa.."


"arin?" panggil seseorang padanya


Refleks arin menoleh "dokter cikho"


"ada apa?" tanya cikho menatap mereka


"ini dokter, nona ini menanyakan dokter muda sefiera mona"


"ada hal penting?"


"um.. tidak, hanya bertanya saja apa mona ada shift hari ini"

__ADS_1


"bisa tolong bapak minta jadwal shift kerja dokter muda hari ini pada staf administrasi, kami akan menunggu di sini"


"baiklah, permisi dokter" ucapnya


"kita duduk dulu disana" tunjuk cikho pada kursi tunggu koridor "seraya menunggu?"


Arin mengangguk mengikuti dokter tampan itu


"bagaimana keadaanmu arin?"


"baik dokter, dokter sendiri?"


"hm.. seperti biasanya, cukup baik bukan?"


Arin yang tidak paham kemana arah pembicaraan dokter cikho ini hanya membalas dengan senyuman manis


"oh ya, apa ada masalah?"


"tidak.. um.. hanya saja temanku itu tidak bisa dihubungi, kami ada janji untuk pergi malam ini" jawab arin seadanya


'aku tidak mungkin bicara terus terang, reputasi mona bisa jelek jika berbicara sembarangan' pikir arin


"oh, mungkin dia sedang ada operasi sehingga tidak dapat menerima telepon atau membalas pesanmu"


"ah iya, sepertinya aku tidak sabaran" balas arin setenang mungkin


"permisi dokter cikho, tadi dokter panji mencari anda" ucap suster yang menghampiri mereka


"baiklah"


"um arin ingin menunggu diruanganku saja?" tanya cikho


"tidak perlu dokter, saya menunggu disini saja.. mungkin sebentar lagi pak.."


'kebetulan sekali'


"itu pak securitynya sudah ada dokter" ucapnya tersenyum melihat security itu berjalan ke arahnya


"hm.. baiklah jika begitu, aku tinggal tidak apa?" tanyanya lembut


"tidak apa dokter, terima kasih telah membantu"


"jika ada apa-apa jangan sungkan bertanya padaku, aku permisi"


Arin mengangguk tersenyum manis


"maaf nona menunggu lama, saya foto copy dulu agar nona bisa membawanya serta" ucapnya mengulurkan kertas putih tersebut


"tidak apa-apa non, oh ya.. tadi saya bertemu suster via, dia bilang dokter mona dari kemarin dan hari ini tidak datang"


Deg..


"benarkah?"


Security tersebut mengangguk


"ekhm.. iya terima kasih pak, kalau begitu saya pamit pulang"


"iya nona sama-sama"


Arin berjalan terus menggenggam kertas itu rekat seraya berpikir,


(dokter sefiera mona tidak datang dari kemarin dan hari ini)


Dengan cepat arin membuka kertas jadwal shift kerja mona


'mona bekerja pagi harinya, harusnya selesai saat sore hari. Mona tidak bisa dihubungi dari malam, mungkin mona sempat pergi ke tempat lain. Aku harus pastikan mona pulang atau tidak'


Tanpa berteman orang lain arin bergerak menuju apartemen milik mona. Sedangkan arkana terlihat datar seraya mendengarkan segala laporan mengenai apa yang kini arin kerjakan


"apa yang ada di pikirannya? pergi sendiri tanpa bertanya atau bahkan menanyakan pendapatku, bahkan bersama dokter pencari muka itu" kesal arkana


'nona, kau salah dalam bertindak.. sudah tahu kekasih hatimu ini begitu posesif apalagi engkau kini terkesan mengabaikannya' pikir tomi


"mau kemana lagi gadis polos itu tomi?"


"arahnya menuju ke jalan perempatan polsek tuan, sepertinya nona hendak ke apartemen nona mona"


"kita susul gadisku itu,"


"baik tuan"


Kini arin terlihat berdiri di hadapan pintu apartemen mona, sudah 15 menit ia berdiri menunggu seraya membunyikan bel namun hingga kini arin tak juga melihat pintu itu terbuka


'where are you mon?' gumam arin kecil


"aku harus bagaimana sekarang?" ucapnya bingung dan semakin gusar


"ekhm.."


"mo.." ucapannya berhenti saat melihat arkana dan tomi berdiri menatapnya

__ADS_1


"mas?? kamu?"


Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut arkana, ia hanya mengulurkan tangannya menanti arin ke arahnya


Arin bergerak melangkah lalu mendekat pada arkana


"kita pulang" ucap arkana datar


"mas.. tapi"


"ayo" ucapnya tetap melangkah ke lift apartemen


Saat didalam mobil arin tidak bersuara, melihat arkana dingin membuatnya menjadi takut


Kini mereka berhenti di restoran. Sampai mereka duduk di ruangan private yang arkana pesan.. arin terlihat lebih banyak menunduk


"kemari" ucap arkana menatapnya dalam


Tanpa protes arin duduk di samping arkana


Arkana menghela nafasnya "kenapa tidak menghubungiku? hanya membalas pesan seadanya? berkeliaran sendiri? tidak bertanya padaku? tidak ingin berbagi masalah hm? menganggap semuanya bisa kamu selesaikan sendiri?" tanya arkana dengan nada yang begitu datar namun tegas


Arin mendongak menatap arkana yang terlihat begitu kecewa, marah, dan kesal terhadapnya


"mas"


'aku ingin melihat apa yang akan kamu jelaskan padaku sayang..'


"aku.. aku.. minta maaf.." ucap arin tersendat


"untuk?"


"mona menghilang, aku bingung harus mencarinya dimana?" ucapnya pelan


"hari sudah malam, sekarang makanlah.. pasti kamu belum makan"


Arkana terlihat lekat menatap arin yang saat ini memakan makan malamnya, sesekali gadisnya itu melirik padanya lalu menunduk lagi


'sayang.. kalo mau memandang wajahku pandang saja, kenapa mesti curi-curi' ucapnya tersenyum dalam hati


"um.. sudah" ucap arin pelan dengan meletakkan sendok nasinya


"kita pulang" ucap arkana melangkahkan kakinya keluar, lalu menoleh melihat arin yang masih diam memandang dirinya "masih ingin disini?"


Arin menggeleng


Sebenarnya rasa kesal arkana kini berangsur membaik, namun ia belum puas jika gadis yang duduk menunduk di sampingnya itu belum paham akan kesalahannya


"kamu mau jelaskan sendiri atau kuulangi pertanyaannya?" ucap arkana yang memandang keluar mobil


Arin mendongak melihat arkana tidak ingin menatapnya "maaf.. arin tidak bilang.. arin.. arin mencari mona, arin juga tidak bertanya dan meminta bantuan mas. Sungguh arin tidak berpikir untu.."


"untuk membagi masalahmu denganku"


"bukan.. arin tida.."


"tidak menganggapku ada?"


"mas.." kini air matanya tumpah membasahi pipi chubbynya "bukan begitu maksudku" ucapnya lirih


"lalu?"


"maaf, arin salah.. arin takut mengganggu waktunya mas arka. Arin lihat mas begitu sibuk dari pagi keluar perusahaan, arin juga tidak ingin mas capek membantu arin pergi kesana kemari mencari tahu dimana mona"


Arkana menghela nafas


"sayang.." peluk arkana yang tidak tahan lagi mendiamkan gadisnya ini


"mas hiks.. hiks.."


Gadisnya itu kini menangis sesegukan seraya memeluk dirinya lebih erat


"sayang.. bicarakan semuanya denganku, jangan begini..


memendam atau mencoba menyelesaikan sendiri masalah apa pun itu. Lihat tadi kamu bersama laki-laki pendek itu lagi, hal itu tidak baik.. bisa saja pikiranku negatif menganggapmu curang padaku. Harusnya kamu bicarakan padaku"


Dengan lembut ia menangkup pipi arin


"bukan hanya laki-laki pendek itu saja, tapi dimana kepercayaan kamu terhadapku?, aku merasa kamu tidak membutuhkanku.. itu membuatku berpikiran negatif terhadapmu. So jangan berikan sedikit cela untuk kita salah paham, aku tahu maksudmu, kekhawatiran kamu melihat aku lelah.. but hal seperti ini bisa menjadi masalah untuk kita"


"bukan hanya kamu, tapi untuk mas juga ke depannya, kita jadikan ini sebagai pelajaran bersama hm??"


Dengan lembut ia mengelus pipi chubby yang selalu menggemaskan itu


"maaf.. hiks.. hiks.. arin tak bermaksud begitu"


Arkana tersenyum manis dan mengecup kening arin, "aku selalu ada untukmu sayang, apakah kamu juga begitu?"


Arin mengangguk lalu memeluk arkana "tentu, selalu bimbing.. arin.. jangan pernah pergi.. arin.. sayang mas arka" ucapnya sesegukan


"always sayang.. aku lebih menyayangi kamu gadis lolaku "

__ADS_1


Next episode,,


__ADS_2