My Charming Boss

My Charming Boss
66. Tidak suka


__ADS_3

Dengan senyum mengembang laki-laki itu memilih duduk tepat di hadapan arin, tempat dimana yuni dan gilang duduki sebelumnya


"jadi?" tanyanya kemudian


"dokter bukan orang jahat" jawab arin pelan dengan ragu


Ia terkekeh mendengar jawaban arin "haha kamu ini sangat mengemaskan, maksudku bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya ramah


Arin tersenyum malu "ba..ik, lebih baik dari sebelumnya"


"berarti papaku menjaga dan merawatmu dengan baik" jawabnya


Arin mendongak mendengar kalimat yang telah diucapkannya


"iyya.. um.. dokter anton papanya dokter?" tanya arin memastikan


Laki-laki itu tersenyum mengangguk "ciko, jangan dilupakan oke.. dan ya bisakah kita bicara dengan lebih santai, jangan terlalu formal"


Arin mengangguk "baiklah, dokter anton sangatlah baik" ucapnya


"ku pastikan tidak hanya papa, tapi anaknya ini juga sangat baik" ucapnya tersenyum lebar


"aku percaya, dokter ciko pasti orang baik.. dan sangat ramah" balas arin tersenyum


Sedangkan di sudut koridor, terlihat arkana menghentikan langkah kakinya. Pandangan matanya menelisik tajam saat melihat gadis lolanya tersenyum manis bersama dengan seorang laki-laki


'cih.. mau saja bicara dengan laki-laki lain, senyuman itu milikku.." geram arkana mengepalkan tangannya


'ckk.. tidak lebih tampan dariku'


'laki-laki pendek' umpat arkana dalam hati


Terlihat arkana merapikan dasi dan jas yang melekat di tubuhnya, meski sebenarnya penampilan dirinya sudah terlihat rapi. Dengan cepat arkana menghampiri arin dan berdeham kuat


"ekkhm.."


Karena begitu kuat arin refleks memutar tubuhnya mengikuti arah suara berasal, begitu pula dengan ciko. Arin mendapati arkana yang kini sudah berdiri tegak di belakangnya dengan memasang wajah yang begitu datar bercampur kesal,


"mas arka" belum sempat arin bersuara arkana lebih dulu bicara


"sayang apa yang kamu lakukan disini?" dengan memasang raut wajah yang manis arkana mendekati arin dan mencium pipinya


Tentu saja arin mematung seraya menunduk pelan menyembunyikan rona merah di pipi chubby itu, sedangkan ciko hanya diam menatap arkana datar


Saat arin kembali mendongak hendak menatap arkana, seketika ia menjadi bingung karena wajah arkana yang kembali datar


'mengapa raut wajahnya bisa berubah secepat itu?' pikir arin


"um.. arin tadi sarapan, sekalian menghirup udara pagi mas" jawabnya kemudian


"oh ya?" tanya arkana mendelik menatap ke arah ciko "lalu apa yang dilakukannya disini?"


"oh iya, ini dokter ciko. Dokter anton yang menangani penyembuhan arin selama beberapa hari dirawat adalah papanya dokter ciko mas" jawab arin


"ciko.." ucapnya seraya mengulurkan tangannya

__ADS_1


"arkana" ucapnya dengan datar seraya menyambut uluran tangan ciko, lalu menariknya kembali dengan cepat


Mendengar jawaban arin, arkana meradang 'ckk.. memanfaatkan nama ayahnya untuk menarik perhatian gadisku? tidak akan berhasil' ucap arkana dalam hati


"dokter ciko sangat ramah, sama seperti dokter anton. Semang bisa mengenal dokter ciko dan dokter anton" lanjut arin


Lagi-lagi arkana terbakar saat mendengar bagaimana gadisnya kini memuji laki-laki lain dihadapannya


"terima kasih arin, senang mendapat sanjungan darimu" balasnya tersenyum pada arin


"baiklah kami harus permisi kembali ke ruangan rawat, selamat tinggal" ucapnya tanpa mendengar jawaban dari dokter ciko


Arin hanya tersenyum mengangguk pada dokter ciko. Kini ia hanya diam dalam rangkulan arkana, seraya melangkah masuk ke gedung.. namun tak lama kemudian arkana melepaskan rangkulannya pada arin. Terlihat arkana tetap berjalan tanpa menoleh, karena langkah kaki arkana yang terlalu cepat membuat arin tertinggal dan berjalan di belakang arkana


'capek' gumam arin mengatur nafasnya kembali


'kenapa jalannya cepat sekali?' tanya arin dalam hati


"mas.." panggil arin yang sedang mengatur nafasnya


Tanpa mempedulikan panggilan arin, arkana tetap berjalan menuju ruangan rawat


"nona, tidak perlu mengejar tuan.. saya akan menemani nona" ucap tomi yang melihat arin ingin mengejar arkana


Arin menghela nafasnya kembali dan tersenyum "terima kasih" ucap arin


"um.. asisten tomi?" tanya arin yang kini berjalan berdampingan dengan tomi


"ya nona?"


Dengan wajah yang khawatir tomi mengajak arin duduk di kursi tunggu koridor rumah sakit


"sebaiknya nona duduk dulu, jangan dipaksakan untuk berjalan" ucap tomi


Arin mengikuti tomi dan duduk dengan mengatur nafasnya secara perlahan


"apakah lebih baik nona?" tanya tomi yang tetap berdiri di hadapan arin


Arin mengangguk mengiyakan


"apa saya perlu mengambil kursi roda untuk membantu nona kembali ke ruangan?" tanya tomi


Arin menggelengkan kepalanya "tidak perlu tomi, terima kasih.." jawab arin seraya berdiri kembali


Tomi ragu untuk membantu memapah arin, jika arkana melihatnya maka akan menjadi masalah besar


"nona saya akan memanggil tuan, nona tunggulah disini sebentar"


"tidak perlu, kita berjalan lebih pelan saja" ucap arin tersenyum


"apa nona yakin?"


"hm.. ayo"


Saat mereka hendak berjalan menuju ruangan rawat arin, arkana terlihat berkacak pinggang menatap arin dan tomi lekat

__ADS_1


'ya tuhan.. ini kabar buruk' ucap tomi dalam hati


"mas.."


Dengan raut wajah yang mengerikan arkana menatap arin lekat lalu membuka pintu ruangan dengan kasar. Arin dan tomi bergantian saling menatap karena terkejut mendengar suara bantingan pintu yang begitu terdengar keras


"apa mas sedang sakit perut?" tanya arin serius


'apa yang dikatakannya?' pikir arkana 'bisa-bisanya gadis lola ini berpikir aku sakit perut'


"siapa sakit perut?" tanya arkana kembali


"mas tadi berjalan dengan cepat, tadi aku kesulitan bernafas kar"


Tanpa mendengar ucapan arin selanjutnya arkana memeluk pinggang arin agar mendekat padanya. Tomi yang memahami keadaan segera berlalu pergi meninggalkan ruangan dengan menutup pintu pelan


Arkana mendorong pelan arin agar bisa ia tatap dengan jelas "maaf ya mas tadi biarin kamu jalan sendirian" ucapnya pelan


Arin tersenyum dan menggelengkan kepalanya "arin jalan dengan asisten tomi tadi, asisten tomi menemin arin jalan pelan"


"okay, lupakan tomi. Sekarang mas tanya kenapa bisa bersama orang tadi" tanyanya


"orang tadi?" arin berpikir


"dokter ciko?" tanya arin


"hm.."


"dokter ciko datang dan menghampiri, bertanya bagaimana keadaan arin sekarang" jawab arin santai


'ck.. modus' gumam arkana


"kenapa?" tanya arin mendongak


"jangan dekat dengannya, dia buruk, membawa pengaruh tidak baik. Mas tidak suka" ucap arkana bersungut


"tapi.. dokter ciko itu baik mas"


"siapa yang tahu apa yang mungkin sedang coki-coki itu rencanakan"


Arin mengernyit "coki-coki? namanya ciko mas bukan coki"


"ah terserah"


'dia kurus seperti cokelat plastik anak-anak,' gumam arkana menarik arin mendekat padanya


"pokoknya jangan dekat dengan laki-laki pendek itu, sayang.. kamu punya mas" ucap arkana kembali memeluk arin seraya menciumi kepala arin


"mas.." ucap arin hendak bicara, namun arkana lebih dulu bicara


"dengar??" tanya arkana


"hm.." jawab arin mengangguk


Next episode,,

__ADS_1


__ADS_2